
Esok harinya, Iqbal begitu sibuk rapat untuk adanya camping yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat di kampusnya, setelah usulannya diterima. Tugas bendahara pun bergerak dengan memperkirakan biaya, dari bahan makanan, sampai ke penyewaan mobil.
"Anak BEM akan ikut semua." ucap Dino.
"Bagus, kalau gitu kita buka pendaftaran yang mau ikut aja."
Dino dan lainnya hanya mengangguk, koutanya hanya tersisa 70 orang lagi untuk mahasiswa biasa. Ada beberapa dosen dan ikut juga pada perkemahan ini, perkemahan yang diadakan setahun sekali membuat mereka berbondong-bondong untuk ikut dengan cepat karena sedikit.
"Untuk salah satu mahasiswa sekiranya membayar iuran 850rb, kira-kira mereka mau ga ya?" ucap Vigo, "Soalnya konsumsi dari kita semua, jadi gimana menurut lo bal?" tanya Vigo lagi.
"Lo kan udah hitung semuanya, ya berarti segitu lah. Bus di sewa sampai 3 hari kan?"
Vigo menganggukkan kepalanya, "Yaudah. Mudah-mudahan cukup." balas Iqbal.
Selanjutnya mereka membuat pengumuman yang akan di tempelkan dalam mading fakultasnya, untuk dosen yang ikut pun hanya disarankan membayar setengahnya dengan itung-itung membantu mahasiswanya juga dalam kegiatan ini.
Dino akhirnya melipir pada Iqbal, "Gimana keadaan pacar lo?" tanyanya yang sambil membuka makalah.
"Baik, hari ini dia udah boleh pulang." jawab Iqbal yang sibuk dengan laptopnya.
"Walaupun ngeselin, tapi kalau engga ada dia itu hidup lu serasa sepi ya bal?"
Iqbal terkekeh, "Justru gue tenang, no. Dia engga buat masalah."
Dino tertawa, dia menepuk punggung Iqbal karena ada benarnya juga Iqbal berkata seperti itu. Hampir setiap hari Chika selalu membuat masalah, entah yang kecil di perbesar atau yang sudah besar malah di perbesar lagi sama dia. Sampai orang-orang di kampus ini bilang bahwa Chika itu pembuat masalah.
"Tapi gue salut sama lo." ucap Dino.
"Kenapa salut?"
"Lo nemenin saat Chika lagi kena musibah begini, yang gue denger temen-temen malah ga jenguk ya? eh dateng deh.. Cuma 1.."
Iqbal tersenyum kecut, "Iya, Novi. Cuma dia yang dateng buat jenguk." jawab Iqbal.
Dino hanya mengangguk saja, pertemanan yang sebenarnya akan terungkap saat kita mengalami musibah. Sama halnya yang di alami Chika, perempuan itu memilik 4 teman dan hanya 1 yang masih ingat kondisinya. Poor Chika..
__ADS_1
~'~
Laki-laki muda yang berumur 31 tahun itu sedang sibuk mengurus administrasi rumah sakit, Lion Romero. Pria yang merangkap sebagai asisten sekali orang kepercayaannya Yudha. Memang agak lelah, tapi demi hidupnya yang nyaman membuat Romero akhirnya bisa mengatasi semuanya.
"Semua totalnya 55 juta pak." ucap orang administrasi rumah sakit tempat Chika, anak atasannya di rawat.
Romero mengeluarkan black card, dan seusai mengurus administrasi. Romero langsung melangkahkan kakinya menuju ruangan Chika yang sudah rapih tapi masih dengan panyangga di tangannya.
"Sudah?" tanya Romero.
"Sudah, paman." jawab Chika.
Romero akhirnya masuk membawa tas berisi pakaian Chika, "Hari ini tuan Yudha menyuruh untuk ke apartemennya. Kamu harus tinggal bersama mereka, sampai sembuh total." ujarnya.
Chika yang mendengar itu memelas pada Romero, "Bisa kah aku menolaknya? ini sudah ketentuan ayah mu."
Chika menatap mata biru milik Romero yang begitu indah, keturunan Spanyol - Indonesia itu memiliki daya tarik ketika Chika menatap matanya. Tubuhnya yang kekar serta tinggi mengesankan pria itu sangat amat berwibawa. Chika sempat bertanya dalam benaknya, dari mana ayahnya mendapatkan Romero?
"Baik kalau gitu, aku juga sebagai boneka disini tidak bisa apa-apa selain nurut."
Tangan kiri Romero merangkul pundak Chika, sedangkan tangan kanannya memegang tas yang berisi pakaian selama Chika sakit. Beberapa hari ke depan, dia akan kumpul bersama dengan ayahnya tentu bersama perempuan yang ia tidak bisa menerima keberadaannya.
"Paman, apa tempat tinggal mu di spanyol itu indah?" tanya Chika yang membuka suaranya.
"Hm, kalau kamu mau kesana. Aku akan atur jadwal ku agar bisa menemani mu disana."
Chika menggelengkan kepalanya, "Aku hanya ingin honeymoon disana, jika nanti aku dan Iqbal menikah." ucapnya.
Romero mengencangkan pegangan setirnya, entah perasaan seperti apa. Tapi saat mendengar kata itu Romero menjadi tidak suka. Pria itu kini mengendalikan emosinya, entah kenapa setiap dirinya mendengar nama pria lain dalam mulut Chika membuatnya sangat kesal sekali.
"Memang kamu yakin jodoh mu itu pacar mu?" tanya Romero.
"Iya, memang siapa lagi? Atau paman jodoh ku? Tapi itu tidak mungkin kan, karena paman lebih pantas menjadi paman ku." celetuk Chika yang terus menatap kaca depan mobil.
Remero hanya tersenyum kecut mendengar hal itu, selama ini dirinya tidak pernah berkencan dengan siapapun karena ada hati yang ia jaga rapat-rapat hingga Romero memutuskan untuk fokus bekerja.
__ADS_1
Tak terasa mobil Romero masuk ke dalam apartemen yang menjulang tinggi, apartemen elit dengan pengusaha kaya raya yang bisa menyewa atau bahkan membeli unit apartemen itu.
Romer terus memapah tubuh Chika hingga masuk ke dalam apartemen yang ternyata sudah disambut oleh Marliana di dalam sana, perempuan itu mengambil alih tubuh Chika untuk membawanya ke dalam dan mendudukinya diruang tamu.
"Papa kamu lagi mandi, kamu tunggu disini ya sayang." ucap Marliana mengusap surai rambut Chika yang hitam.
Chika hanya diam, Romero tampak sibuk memasukkan tas yang berisi baju bersih ke dalam kamar yang berada tidak jauh dari ruang tamu. Pria itu sangat cekatan, membuat Chika menjadi mengandalkannya. Romero seperti ayahnya, ketika Yudha tidak ada disampingnya sedari dirinya masuk ke menengah pertama.
~'~
David yang baru terbangun di jam 8 pagi itu menautkan alisnya melihat Nadine yang sedang makan diruang makan, beberapa hari tinggal disini membuat tapi tidak sekalipun melihat Nadine makan di meja itu. Dia sempat bertanya pada ponakannya, Hanasya tentang Nadine yang tidak sarapan bahkan makan malam bersama dan jawabannya karena takut telat ke sekolah dan kalau malam itu dia sibu bekerja.
David duduk di samping Nadine yang piringnya masih penuh dengan nasi goreng, Nadine menatapnya dengan sedikit menunduk.
"Ga usah takut, maaf kalau pertemuan kita kemarin itu ga nyaman." ucapnya.
Nadine hanya mengangguk, dan tak lama bi Imah datang membawa segelas air putih. "Loh den David, tidak bekerja?" tanya bi Imah.
"Saya sabtu dan minggu libur bi, senin baru kerja lagi."
Bi Imah tentu hanya bergumam saja, suasan rumah pagi itu cukup sepi. Sarita belum pulang dari kemarin, sedangkan Gionino masih didalam kamarnya karena biasanya pria itu akan ke kantor siang hari. Nadine melihat ayahnya keluar dari kamar pun hanya menunduk, sambil mengaduk nasi yang masih banyak tersisa di piringnya.
"Loh bang, ga ke kantor?" tanya David.
"Nanti siang." jawab Gionino pada David lalu mengambil gelas sambil memainkan handphonenya.
*byuurrr*
Semburan air dari Gionino membuat kami yang berada di ruang makan itu terkejut, dengan cepat Gionino langsung masuk ke dalam kamarnya. Hal itu membuat Nadine dan David berpandangan, ada apa sebenarnya? Apa ada masalah di kantor?
"Tolong tahan anak itu! Saya akan segera ke sana." ucap Gionino dalam teleponnya dan langsung memasang jas yang sudah menggantung di lemari kamarnya itu.
"Ya! Kau ini! Aku atasan mu disana yang menyuruh mu! Kenapa tidak mengikuti omongan ku?" bentak Gionino hingga terdengar sampai ke ruang makan.
Nadine terdiam, dia makin menunduk ketika mendengar jika ayahnya sedang bernada tinggi seperti itu. David hanya santai memakan buah-buahan yang ada di atas meja makan tersebut, memang anak itu tidak tau situasi.
__ADS_1
Hingga akhirnya Nadine menatap ayahnya pergi tanpa adanya salam pamitan, dan langsung masuk mengendarai mobilnya. Nadine hanya menghela nafasnya, entah apa masalah yang terjadi dikantor membuat Nadine tidak bisa berbicara apapun untuk bertanya.
~'~