
Jihan yang sibuk menatap ponselnya itu terus bertukar pesan pada seseorang, seseorang yang bisa mengobati rasa rindunya pada sahabatnya yang telah tiada. Iya, Rembulan. Komunikasi mereka masih berjalan lancar sampai saat ini, perempuan itu masih heran betapa cerdiknya Rembulan masih menutup identitas pada semuanya. Bahkan saat tau Rembulan mempunyai anak dan anak itu hasil dari Gionino membuat jantung dirinya seperti hendak copot.
*7 tahun lalu*
"Gila! Kok bisa sih? Jangan di gugurin." ucap Jihan saat sampai dirumah Rembulan.
"Gimana bisa? Gue ga menginginkan anak ini, ji."
Jihan hanya menghela nafasnya, menatap wajah sahabat adiknya yang frustasi dan beberapa botol soda sudah habis terbuka itu sebagai bukti memang anak itu tidak di inginkan.
"Anak itu ga salah apa-apa, memang itu terbuat dari kesalahan. Tapi, bukannya dia berhak hidup?"
Rembulan menatap perempuan yang kini sudah menjadi teman dekatnya, memang anak yang ia kandung itu tidak salah apapun. Jihan yang saat itu sama mengandung, dan hanya terpaut 2 bulan saja cukup terkejut menerima kabar bahwa Rembulan hamil. Selama ini, gaya pacaran Rembulan bisa dibilang normal dan selama ini juga Jihan melihat pasangan Rembulan itu pria yang sangat baik.
"Coba inget, saat lo minum berkaleng-kaleng soda. Apa anak itu mati?" ucap Jihan yang membuat Rembulan menatap kaleng yang jauh dari jangkuannya, ada 20 kaleng yang ia minum 2 hari ini. Matanya berkaca-kaca, "Dia mau hidup, dia mau lo jadi ibunya, dia mau dibesarkan sama mamanya. Dia ga bersalah dan terlebih lagi anak itu ga berdosa, Rembulan." lanjut Jihan pelan.
Rembulan masih bergeming menatap kaleng yang ada tidak jauh dari dirinya, "Lan, banyak diluar sana yang susah untuk dapetin anak. Gue tau, ini cara yang salah. Tapi tuhan udah ngasih kepercayaan ini sama lo, jadi harus dijaga."
Rembulan mengusap perutnya, tangisannya menjadi pecah. Jihan memeluk perempuan itu dan mengusap punggungnya, Rembulan menceritakan semuanya bahwa anak yang ia kandung adalah anak Gionino yang cukup membuat Jihan terkejut.
"Jangan di gugurin, barangkali anak kita sepasang dan kita jodohin." celetuk Jihan yang melepaskan pelukan itu. Rembulan hanya tertawa kecil sambil mengusap air matanya.
*Flashback end*
Jihan memang kecewa dengan apa yang terjadi pada Rembulan, nasib malang yang terus-menerus datang pada perempuan itu. Rembulan sudah tidak mempunyai rahim, untungnya dia tidak pernah menyesal karena sudah mempunyai putri seperti Karinda. Jihan juga sangat lega karena kejadian yang dulu itu tidak terjadi, dia juga tidak bisa membayangkan psikologis Rembulan jika tidak ada Karinda saat ini.
"Mama.." panggil Farid.
"Sudah selesai?" tanya Jihan.
Farid mengangguk, hari ini Jihan sudah berencana untuk bertemu Rembulan dan Karinda untuk pertama kalinya setelah 3 tahun mereka tidak bertemu. Baju casual namun rapih itu terlihat cocok dipakai oleh anak seumuran Farid.
Jihan mengendarai mobilnya sendiri dengan Farid yang duduk dikursi sebelahnya, anak itu selalu bersemangat jika ada yang mengajaknya jalan-jalan. Jihan juga ingin sekali bercerita banyak, dan menumpahkan rindunya pada kembaran sahabatnya itu. Jihan sangat bersyukur, Cahaya memiliki duplikat alias kembaran yang sehingga dirinya bisa berjumpa walaupun berbeda tapi wajah mereka sangat mirip identik.
__ADS_1
~'~
Yudha yang sudah berpakaian santai dihari libur itu pun sedang menonton berita di televisi bersama Marliana.
"Apa aku keterlaluan, mas?" tanya Marliana menatap wajah suaminya.
"Tidak, kamu sudah menjadi ibu dari Chika. Semua berhak kamu lakukan untuk mendidik Chika." jawab Yudha yang merangkul pundak istrinya dan mengusapnya.
Yudha sudah mendengar semuanya yang dibicarakan oleh Marliana pada Chika, ternyata alasan itu lah yang membuat Marliana mendiamkan dirinya kemarin. Yudha cukup senang dengan pernyataan itu, karena Marliana begitu mencintai dirinya.
"Dia kurang kasih sayang seorang ibu, bahkan kasih sayang yang aku berikan pun terlambat. Intinya Chika, memang kekurangan kasih sayang dari orangtuanya." ucap Yudha.
"Hm, aku akan memberikan kasih sayang itu. Tapi dengan cara yang tegas dahulu, tidak apa-apa kan mas?"
Yudha mengangguk, dia memperat rangkulannya itu. Dia memang tidak salah memilih istri dan ibu sambung untuk Chika. Yudha hanya berharap Chika akan secepat sadar, bahwa ibu tirinya lah yang terbaik.
~'~
"Kakak kok dorong bunda?!" protes Hanasya yang tidak terima.
"Ayah.." lirihnya menatap Gionino yang kini sudah berdiri dihadapannya Nadine.
David maju melihat kondisi yang sudah semakin panas, tangan Gionino menarik pergelangan Nadine dengan sangat kasar. "Bang! Jangan kasar sama anak sendiri!" tegur David mulai membuka suaranya ketika melihat tarikan yang kasar sampai Nadine sedikit merintih.
"Tau apa kamu sama urusan saya? Anak ini sudah kurang ajar sama ibu sambungnya sendiri!"
"Iya bang, tapi jangan dengan cara kasar dong!"
Cengkraman itu semakin kuat, Nadine hanya terpekik pelan menahan agar tidak membuat situasi semakin ricuh.
"Urus kakak mu! Biar aku yang urus anak ini!" perintahnya.
Gionino menarik Nadine masuk ke dalam kamarnya, David dan kedua orang yang tersisa yaitu Hanasya dan Sarita menatap mereka. David terus menatap Gionino yang menyeret paksa Nadine ke kamarnya, wajahnya sudah memerah.
__ADS_1
"Aarrgghhh! Ayaahh.. Ak-aku tidak salah.. hiks.." isaknya ketika gesper itu melanyang ke punggung Nadine.
"Setelah apa yang saya lihat, kamu masih membela diri mu sendiri? hah?!" sentaknya.
Punggung Nadine bergetar, dia menangis dan Nadine terus meminta ampun, tapi Gionino yang tercampur emosi sedari kemarin melampiaskannya pada Nadine.
"Aahhkk.. Ay-yahh.." Rintihnya yang memegang kedua lutut.
Gionino tidak memberikan kesempatan Nadine untuk berbicara dan dia terus memberikan pukulan bertubi-tubi, Gionino yang dulu sangat penyayang kini sudah berubah.
*Cletak* suara gesper yang begitu nyaring dan tubuh ringkih Nadine yang lama kelamaan melemas itu akhirnya tertidur dengan posisi meringkuk dilantai kamarnya sendiri yang begitu dingin.
"Kalau saya melihat kamu bersikap seperti tadi, saya tidak segan-segan -"
"Membunuh ku? Kenapa ayah tidak membunuh ku saja?" ucapnya pelan namun terdengar oleh Gionino. Padahal sejak tadi Nadine meminta ampun, tapi tidak digubris sama sekali oleh ayahnya itu.
"Kalau ayah terus menyiksa ku perlahan seperti ini tentu tubuh ku akan sakit, kenapa tidak membunuh ku saja yah? Jangan seperti ini, aku ingin bersama mama. Aku lelah, yah. Sungguh.." rintihnya yang masih membelakangi serta memeluk kedua lututnya.
Gionino mengepalkan tangannya, dia menatap tubuh putrinya. Mereka sudah lama tidak pernah berkomunikasi, bahkan berbicara saja tidak. Tidak seperti dulu saat umur anaknya 5 tahun yang sedikit-sedikit Nadine bercerita, Gionino juga selalu membacakan dongeng sebelum tidur padanya. Hal itu yang membuat Nadien rindu, sangat amat rindu.
"Ayoo yah, kenapa diam saja? Bukannya kata ayah, aku tidak berhak hidup?" tanya Nadine yang kini berusaha untuk berdiri, dengan rintihan yang terus keluar dari bibirnya.
Dia berjalan menuju ayahnya yang masih terpasang amarah disana, air matanya tumpah. "Apa segitu bencinya ayah pada ku? Apa tidak ada rasa sayang yang dulu ayah selalu berikan pada ku? Apa salah ku yah? Apa?! hiks.. hiks.."
Gionino masih terdiam, Nadine terus menangis di dadanya dan dia memeluk Gionino walaupun balasan tidak diterima.
BUGH..
Nadine yang sangat shock berat itu akhirnya jatuh pingsan dengan Gionino yang menangkap tubuh putrinya, baru kali ini Nadine pingsan setelah dirinya melakukan kekerasan itu. Gionino terus memukul pelan pipi putrinya yang tidak merespon, akhirnya ia taruh diatas tempat tidurnya.
"Bi! Panggilkan dokter!"
~'~
__ADS_1