Luka Dalam Keluarga

Luka Dalam Keluarga
Bab 23


__ADS_3

Perempuan berhijab yang begitu sibuk di dapur apartemennya sedari pagi, pelukan dibelakang tubuhnya membuat perempuan itu berhenti sejenak dari aktifitas yang begitu fokus. Pria yang sibuk menghirup wangi dari pundak itu adalah kebiasaan dari Yudha.


"Kamu sedang bikin makanan untuk ku?" tanya Yudha yang masih menghirup wangi istrinya.


"Iya mas, sama bikin makanan buat anak ku Chika. Pasti dia bosan makan makanan rumah sakit." jawab Marliana.


Yudha melepaskan pelukan itu, dia seketika sedih karena Marliana sudah menganggap putrinya sebagai anaknya juga, tapi tidak dengan Chika yang masih saja membenci ibu sambungnya itu. Yudha membalikan tubuh istrinya untuk menghadapnya, dan seketika ia peluk dengan erat.


Cinta Yudha selama 10 tahun lebih ini tidak pernah berkurang untuk Marliana, bahkan terus bertambah dan tidak pernah ada kata bosan. Marliana mampu mengerti suaminya. Walaupun mereka belum juga dikaruniai buah hati, cinta dan usaha terus mereka laksanakan serta di imbangi oleh doa serta usaha baik medis maupun tradisional.


"Romero yang akan mengantar makanan itu ke rumah sakit-"


Marliana menggelengkan kepalanya, "Aku yang akan mengantar makanan itu sendiri, kamu mau ikut dengan ku kan mas?"


Yudha menelan silvanya yang begitu susah ia telan, bayangan Chika yang menolak istrinya pasti akan terjadi.


"Aku mohon mas, sebelum kondisi Chika membaik dan sebelum kita pulang lagi ke Semarang aku hanya ingin menjalin hubungan baik dengan Chika." lirihnya.


Yudha menatap mata istrinya, dan akhirnya mengalah dengan catatan mereka akan ke rumah sakit bersama. Yudha juga berharap Chika akan memaafkan dirinya atas kejadian kemarin.


"Bagaimana?" tanya Marliana yang tak kunjung mendapatkan jawaban dari sang suami.


"Boleh, tapi aku akan melanjutkan aktifitas ku yang tadi." jawab Yudha tersenyum.


Dahi Marliana berkerut, "Minum kopi?" tanyanya.


Yudha malah tertawa, dia mencium gemas pipi istrinya yang semakin gembul itu. Melihat perubahan tubuh Marliana yang menurutnya semakin berisi itu membuat dirinya sangat senang, Yudha beranggapan bahwa Marliana senang hidup dengannya.


"Memeluk kamu dari belakang, aku suka wangi tubuh mu kayak wangi bayi." jawab pria itu.

__ADS_1


Marliana hanya menggelengkan kepalanya dan tersipu malu, akhirnya tubuh perempuan itu kembali beraktivitas untuk memasak ayam gulai dan beberapa sayur mayur yang ia masak sebagai capcay. Kata Yudha itu sayuran kesuakaan anaknya.


"Aku mau cicip." sahut Yudha.


Marliana mengambil sendok kecil, Marliana memberi sesendok kuah agar dicicip kepada kepala yang masih bertengger dipundak itu.


"Bagaimana?"


Yudha mengangguk, "Enak! makanan kamu selalu terenak." pujinya sambil mencium pipi istrinya lalu berjalan ke dalam kamar. Marliana hanya tersenyum malu, gelengan kepalanya membuat dirinya tidak bisa berkata-kata.


Hidup bahagia impiannya seperti ini, saat kedua orangtuanya meninggal karena kecelakaan membuat Marliana sangat bersyukur di hadiahi suami yang begitu baik. Untuk kakaknya yaitu Putra, sudah ada yang mengurus di rumahnya yang berada di Semarang. Iya, Putra ikut dengan Marliana dan untungnya Yudha menerima itu.


Setetes air mata haru itu pun ia usap, entah kenapa akhir-akhir ini Marliana gampang terharu dan terbawa perasaan.


"Jangan sedih, seharusnya kamu senang Liana!" batin Marliana yang menetralkan suasana itu.


Marliana terus menyelesaikan makanan yang sudah dingin karena ia tinggalkan mandi sebentar, dia taruh ke dalam kotak makan yang ia beli di swalayan  tepat dibawah apartemen yang mereka tinggali, membentuk hati di tengah makanan itu serta memberikan hiasan makanan disana dengan harapan Chika akan tambah nafsu makan.


Gumaman itu terdengar di telinga Yudha yang hendak memanggil sang istri, lagi dan lagi ia harus menahan sedihnya. Tapi seorang Yudha menutupi kesedihannya dengan memasang wajah yang biasa saja.


"Sudah beres?" tanya Yudha.


"Sudah, ayo mas."


Pasangan suami istri itu pun akhirnya ke lobby apartemen, mengendarai mobil itu untuk ke rumah sakit yang jarak mereka tempuh hanya 8 menit saja. Memang dekat, dan memang Yudha sengaja memilih apartemen itu dekat dengan rumah sakit anaknya.


Saat membuka Yudha membuka pintu, menampilkan sesosok perempuan dan pria yang ada di dalam ruangan itu. Ada Hadi, dan Jihan. Tidak ada Iqbal, mungkin sedang kuliah.


"Pagi.." sapa Marliana yang tersenyum ramah.

__ADS_1


Binar mata Jihan memancar, dan senyum ramahnya terpasang. Tapi tidak dengan Chika, dia membuang mukanya sungguh hatinya sangat jengkel sekali sekarang ketika kedua orang yang tidak ia harapkan itu datang.


"Kalian siapa ya?" tanya Jihan.


"Saya papanya Chika yaitu Yudha, dan ini istri saya Marliana." jawab Yudha.


Jihan dan Hadi menjabat tangan mereka, cukup lama sekitar setengah jam mereka mengobrol hingga akhirnya Jihan dan Hadi pamit untuk pulang ke rumahnya. Jihan cukup lega karena orangtua Chika sudah datang dan Jihan sangat senang kenal langsung dengan keluarga Chika.


Marliana yang masih duduk di sofa menatap Chika yang menatap jendela, Yudha sedang mengantar Jihan dan juga Hadi. Sehingga keheningan menyelimuti ruangan itu.


"Tante bawa makanan buat kamu. Kata papa Yudha, kamu suka capcay ya? Pasti makan makanan rumah sakit-"


Saat tubuh Marliana ingin bangkit, "Pergi! Jangan temui saya lagi!" ucap Chika dengan datar, wajahnya tetap sama terus menatap jendela.


~'~


Nadine yang sekarang sudah mempunyai kekasih memilih untuk tetap menggunakan kendaraan ojek online untuk mengantarkan dirinya ke sekolah, bi Imah juga sudah membuat bekal seperti biasa. Nadine sudah mengirim pesan pada Rangga agar hubungan mereka disembunyikan.


"Aku berangkat sekolah dulu ya, bi." ucap Nadine yang keluar dari rumah.


Setelah menaiki ojek yang ia tumpangi, tetap saja hanya buku yang menemani Nadine sepanjang perjalanannya ke sekolah. Nadine hanya bisa berpasrah saat ayahnya nanti pulang, saat CCTV itu terekam jejak dirinya dan Rangga malam itu.


"Sudah sampe, ka." ucap tukang ojek itu.


Nadine melihat sekitar sekolah yang masih sepi, kebiasaannya memilih untuk ke taman sekolah sambil membawa bukunya yang dari tadi ia baca. Menghirup udara yang begitu sejuk, ah rasanya tidak terasa dirinya akan meninggalkan sekolah ini setahun lagi. Menjadi dewasa, dan bekerja serta kuliah.


Nadine hanya ingin umurnya panjang, Nadine hanya ingin melihat adiknya tumbuh menjadi gadis yang cantik, Nadine hanya ingin impiannya terwujud yaitu menjadi dokter muda. Dokter adalah impian Cahaya, ibunya. Namun semuanya pupus ketika sang ayah memintanya untuk mengambil jurusan ekonomi.


Nadine mengambil foto kecil dibalik kertas buku yang ia baca itu, senyumnya terbit.

__ADS_1


"Mama... Nadine sekarang punya pacar, Nadine ga akan merepotkan ka Iqbal dan keluarganya lagi."


••••


__ADS_2