
Dokter Rian berdiri lalu berjalan mendekat, dan memberikan resep pada teman dekatnya itu.
"Anak mu, tekanan batin yang luar biasa. Memang apa yang kamu perbuat? Sampai semuanya terjadi seperti ini?" tanya Rian. "Bahkan tubuhnya banyak lebam.".
Mendengar hal itu Gionino menelan silvanya, "Maksud mu apa, Rian? Kamu menuduh ku melakukan kekerasan, hah?!" kilahnya yang berusaha untuk menutupi semuanya.
David hanya tercengang mendengar itu, terlebih bi Imah yang berdiri di depan kamar Nadine itu hanya menutup mulutnya. Ingin memberikan suara saja dirinya tidak bisa.
"Tidak, aku hanya ingin memastikan saja. Anak mu butuh pendamping semacam psikolog dan psikiater."
"Tugas mu sebagai dokter hanya memeriksa pasien dan karena itu lah aku memanggil mu, bagaimana kondisinya?"
Rian menghela nafasnya, dia menatap tubuh Nadine sekilas lalu menatap Gionino yang emosinya masih saja tidak stabil seperti dulu.
"Hanya tekanan saja, beristirahat baik membuat dia pulih dan aku melihat tubuhnya banyak luka lebam. Aku akan resep kan obat dan kamu bisa menebusnya di apotek."
Setelah Gionino menerima secarik kertas itu, dan memberikan pada David seraya menyuruh adik iparnya membelikan obat. Bi Imah pun mengantar dokter Rian untuk keluar lagi dari rumah tuannya itu.
David yang turun dari lantai 2 pun menatap kakaknya yang memasang wajah biasa saja, bahkan sedang asik memainkan gadgetnya. Ada apa dengan keluarga ini? Kenapa dirinya seperti harus banyak tau? Baru beberapa hari saja, David sudah tidak habis pikir dengan keluarga kakaknya yang ia anggap harmonis.
"Mau kemana?" tanya Sarita yang melihat David melintas di depannya.
"Nebus obat." jawab pria itu.
Sarita hanya diam, dan David pun keluar mengendarai motornya. Sementara di kamar, Nadine yang akhirnya sadar pun hanya terdiam menatap langit-langit kamarnya. Dia mengingat beberapa jam yang lalu, tubuhnya masih sakit bahkan bergerak pun masih sakit sekali. Tak lama kamarnya diketuk, dan muncul lah bi Imah membawa nampan berisi bubur.
"Sudah baikan?" tanya bi Imah pelan mengusap dahi Nadine setelah menaruh nampan disisi nakas tempat tidurnya.
Pertanyaan itu membuat Nadine menangis, dan memeluk bi Imah dengan terisak. Bi Imah hanya mengelus punggungnya pelan, hatinya sama hancurnya jika kejadian kekerasan itu terulang lagi. Bahkan bi Imah sering mendengar setiap Gionino menyiksa Nadine, selalu wanita itu meminta pada ayahnya sendiri untuk menghilangkan dirinya selama-lamanya.
~'~
Saat Rembulan dan Panji berpapasan bertemu, mereka saling bertatapan. Mata Panji begitu menyinarkan kerinduan yang sangat dalam, sama dengannya Rembulan. Karinda menatap ibunya, dia menggoyangkan tangan ibunya.
"Mama..."
__ADS_1
Seketika Rembulan menatap anaknya, dan Panji menatap putri kecil yang sedang Rembulan pegang. Ternyata benar, Rembulan melahirkan anak yang wajahnya sangat mirip dengan Rembulan.
"Apa ini anak kamu?" tanya Panji.
Sudah lama Rembulan tidak mendengar suara Panji, tentu untuk pertama kalinya mereka bertemu kembali membuat hati Rembulan bergetar. Suara yang sangat ia rindukan, kini sudah ia dengar bahkan sosoknya pun ada dihadapannya.
Saat Rembulan ingin menjawab, mereka teralihksn oleh sosok yang memanggil Panji.
"Mas ..." panggil suara perempuan yang datang menghampiri kami.
Hati Rembulan kembali nyeri melihat perempuan itu bergelayut manja dilengan Panji, hatinya masih terasa sama. Perasaannya tetap sama, mencintai pria itu seperti dulu. Tapi, sepertinya Panji sudah melupakannya dan kini sudah mendapat penggantinya.
"Kalau gitu saya permisi." pamit Rembulan.
"Tunggu, mba." cegah perempuan itu yang membuat langkah kaki Rembulan terhenti.
"Mba, Rembulan ya?"
Rembulan yang masih memakai masker pun bergenyit heran. Pasalnya, dia tidak mengenal perempuan itu, tapi perempuan itu mengenal dirinya.
Karinda lagi-lagi menarik-narik tangan ibunya, "Mama.. Ayoo, tante Jihan dan Farid nunggu.".
Rembulan mengangguk pada Karinda, "Maaf sebelumnya, tapi saya bukan Rembulan. Saya permisi." katanya.
Lagi dan lagi Panji terdiam, matanya tidak salah. Dia tau persis wajah, dan matanya Rembulan. Dengan memakai masker saja, Panji tau. Hubungan mereka juga tidak sebentar, melainkan hampir 10 tahun bersama-sama.
"Bagaimana bisa aku tidak mengenal kamu? Kamu masih Rembulan yang dulu, jangan menghindar. Saya mencari kamu kemana-mana." ucap Panji yang kini membuka suaranya.
Posisi Rembulan rumit sekali sekarang, dia tidak tau harus apa. "Saya minta maaf, seharusnya saya menerima kamu apa adanya saat itu. Saya seharusnya tidak meninggalkan kamu, pada saat itu yang sedang terpuruk." lanjutnya lagi.
Genggaman tangannya pada Karinda semakin menguat, "Maaf, saya tidak mengerti apa yang anda bicarakan. Saya dan putri saya permisi.". Rembulan melangkahkan kakinya keluar dari resto itu, dan langsung menuju Jihan yang sudah menunggu di parkiran.
"Kok lama?" tanya Jihan.
"Aku tadi bertemu seseorang, maaf kalau lama. Sekarang mau pulang?"
__ADS_1
Jihan mengangguk, perempuan itu melakukan ritual salam perpisahan dengan cium pipi kanan dan kiri.
"Aku juga mau cium mama bulan.." ucap Farid.
Rembulan terkekeh, dia melepaskan maskernya dan berjongkok untuk menerima ciuman di pipinya oleh bocah lucu yang sudah ia anggap seperti keponakannya sendiri. Setelah mobil Jihan sudah meninggalkan area rumah makan tersebut, kini giliran Rembulan dan Karinda yang berjalan menuju mobilnya.
"Saya sudah duga, itu kamu. Kenapa kamu menghindar?"
Deg.
Rembulan lupa memakai maskernya saat menyadari dihadapannya Panji, mantan kekasih yang sudah ia akhiri hubungannya 7 tahun yang lalu. Panji menatap wajah Karinda, dia mendekat pada anak itu dan menyamakan tingginya.
"Kamu anak mama Bulan?" tanya Panji. Melihat situasi itu, membuat Karinda terdiam ketakutan yang akhirnya membuat anak itu sedikit mundur dibelakang tubuh ibunya.
Rembulan menggendong Karinda, "Jangan bikin putri ku takut, sebaiknya kamu pulang. Hubungan kita sudah berakhir lama, tuan Panji."
Panji menatap tatapan dingin Rembulan, Karinda terus memeluk leher ibunya yang tertutup hijab. Di mata Panji, Rembulan sudah banyak berubah bahkan lebih cantik ketika perempuan itu sudah menjadi ibu. Andai dulu, ia tidak meninggalkan perempuan itu. Andai dulu, ia masih ada disisinya dan menerima semuanya. Mereka pasti akan menikah, Karinda akan hadir di tengah-tengah mereka. Maaf, Rembulan.
Rembulan mengusap punggung Karinda, dan berjalan menuju mobilnya untuk meninggalkan area restoran itu. Ada rasanya sesak di dalam hatinya ketika dirinya bertemu lagi dengan Panji setelah 7 tahun berlalu. Melupakannya membutuhkan waktu yang sangat lama, lama sekali. Tapi, kenapa tuhan mempertemukan kami kembali? Ada apa sebenarnya?
~'~
Sementara disisi lain, Marliana dan satu pelayan yang memang ditugaskan untuk membersihkan rumah serta memasak di dapur begitu sibuk untuk memotong beberapa bahan makanan yang akan diolah untuk makan malam bersama dengan keluarga kekasih anak tirinya. Acara ini dadakan yang direncanakan oleh Yudha, karena ia ingin mengenal lebih jauh tentang keluarga yang mungkin saja menjadi besannya tersebut.
Yudha terus mengetuk kamar Chika, anak perempuan satu-satunya itu tak kunjung keluar kamar dari pagi.
"Keluarga Iqbal ingin makan malam bersama kita, kamu tidak ingin bertemu dengan mereka?" ucap Yudha sedikit meninggikan suaranya.
Chika membuka pintunya, matanya yang bengkak sehabis bangun tidur membuat Yudha sedikit terkejut. Dia mengusap wajah putrinya, dan merapikan rambut yang sedikit acak-acakan.
"Keluarga pacar mu akan malam disini, kamu siap-siap dulu sayang." kata Yudha.
Setelah Chika menutup pintunya, Yudha menghampiri Marliana yang memasak. Ada kegundahan dalam hati mereka, "Aku hanya gugup saja mas, apalagi aku bukan orangtua Chika. Kalau mereka tau bagaimana? Apa mereka akan menerima anak kita? Apa mereka akan menerima masa lalu kita?"
•••
__ADS_1
Follow my Instagram: @hi.abcdefghiloveu ~