
Marliana memutuskan untuk masuk ke dalam kamar seusai dirinya menyiapkan sarapan untuk suami dan anak sambungnya, Marliana didalam hanya termenung memikirkan sikapnya seharian ini. Marliana mencoba untuk menenangkan pikirannya, dia harus mempertahankan apa yang sudah menjadi miliknya.
Marliana menatap foto pernikahan yang terpasang di kamarnya, foto 10 tahun lalu yang dimana dirinya dan Yudha mengikrarkan janji suci pernikahan. Janji untuk tidak saling meninggalkan, janji untuk selalu ada baik susah maupun seneng, janji akan menjaga keutuhan rumah tangga. Memang cara mereka salah, tapi mereka belajar dari masa lalu dan saling memperbaiki.
Lalu, Yudha yang tidak mempunyai salah apapun. Apa Marliana pantas meminta cerai pada suaminya itu? Bahkan perbuatan itu sangat keji jika dirinya meminta hal itu. Yudha sosok suami yang baik, dia bisa menerima kekurangan dirinya dan kekurangan keluarganya. Yudha juga sosok yang bertanggung jawab, sama sekali dia tidak pernah membentak Marliana selama pernikahan yang dijalani. Bahkan tidak pernah memojokkan Marliana soal kehamilan, justru Yudha lah yang terus mendukung Marliana.
Marliana akhirnya memilih untuk memperbaiki semuanya, dia tidak ingin hanya karena Chika semuanya menjadi hancur. Ini cobaan pernikahannya yang di uji melalui Chika, kali ini dia harus mengerti bahwa semuanya tidak harus sesuai dengan apa yang ia mau.
•••
Sore hari yang cerah, Nadine akhirnya selesai shift pertamanya dan matanya melihat ke arah Iqbal yang masih ditempat yang sama dengan kopi yang terus ia beli. Pria itu masih fokus mengerjakan sesuatu di laptopnya, Nadine hanya memperhatikannya sesekali sambil mengasir atau membereskan meja.
Jawaban yang Iqbal berikan dalam bentuk kertas belum Nadine jawab, akhirnya Nadine berlalu masuk ke dalam untuk mengambil barang-barangnya.
"Aku pulang dulu ya!" ucap Nadine pada teman-temannya yang sudah berada di kasir.
"Ya! hati-hati." sahut mereka.
Nadine tersenyum, dan seketika melihat tempat duduk yang ditempati Iqbal kosong. Nadine berpikira bahwa pria itu sudah pulang. Setelah keluar dari kafe, pria itu ternyata bertengger di atas motornya.
"Apa kabar?" tanyanya.
Nadine menjadi kikuk, dia menatap ke segala arah. Iqbal yang melihat itu hanya tersenyum kecil, dia mendekati Nadine.
"Maaf, kalau kemarin sempet ngebentak kamu karena situasinya lagi ripuh banget waktu itu."
"Ya gpp kok." jawab Nadine yang akhirnya membuka suaranya.
"Di maafin?"
Nadine mengangguk, Iqbal yang terlampau senang memeluk Nadine dengan erat. "Sekarang mau kemana? Mau di anter?" tanya Iqbal.
"Aku mau cari buku bahasa inggris." jawabnya, "Ga usah ka, aku bisa pesen ojek." lanjut Nadine lagi.
Iqbal akhirnya menarik tangan Nadine dengan pelan, dia memasangkan helm warna biru laut yang Iqbal sengaja beli khusus untuk perempuan itu.
"Kita ke toko buku." ucapnya, "Naik."
Nadine akhirnya naik ke motor, sikapnya tidak seperti biasanya tapi hal itu cukup membuat Iqbal sangat tenang karena hubungannya dengan sahabat kecilnya itu sudah baik-baik saja sekarang. Nadine memilih untuk menyembunyikan rahasia bahwa dirinya memiliki kekasih sekarang, bagaimanapun Nadine tidak bisa bersikap seperti dulu lagi pada Iqbal.
__ADS_1
Sesampainya ditoko buku terbesar dan terkenal di Jakarta. Nadine turun dari motor Iqbal yang sudah terparkir. Pria dan wanita itu terus menyusuri lorong demi lorong tempat buku itu, sampai akhirnya dia menemukan rak yang berisi bahasa inggris.
"Kamu mau tes TOEFL?" tanya Iqbal yang melihat Nadine menenteng 4 buku bahasa.
"Ya, ka."
"Kamu lulusnya bukannya masih lama?" tanya Iqbal lagi.
"Iya, tapi pengen belajar dari sekarang aja." jawab Nadine yang berjalan untuk menuju kasir.
Iqbal terdiam tidak berbicara lagi, hingga akhirnya Nadine membayar semua buku itu di kasir lalu mereka pergi. Sepanjang jalan menuju motor yang terpakir di area toko buku tersebut, Nadine dan Iqbal sama-sama dia, mereka sibuk dengan pikirannya sendiri. Kecanggungan di antara mereka masih terasa, bahkan kalau Iqbal tidak memulai pembicaraan, mereka tidak akan ada topik.
"Apa om Gio masih mukul kamu?" tanya Iqbal yang memasukkan kedua tangannya ke masing-masing saku jaket kulitnya.
Nadine menatap Iqbal, "Tidak, sudah beberapa hari ini ayah tidak melakukan itu."
Iqbal menghela nafasnya, "Kalau ada apa-apa telepon ya." ucapnya lagi.
Seketika Nadine mengingat kejadian dimana dia sangat-sangat membutuhkan Iqbal, tapi semuanya berbeda sekarang. Iqbal mempunyai orang yang lebih diprioritaskan, bukan dirinya lagi.
"Hm." gumam Nadine.
"Aku lagi ditoko buku, mau pulang." - Nadine.
"..."
"Iya, nanti aku telepon ka Rangga." - Nadine.
Telepon itu terputus, dan Iqbal menatap penuh selidik pada Nadine. Tapi Nadine masih diam saja, tidak berbicara apapun tentang pria yang menelponnya didepan Iqbal. Sepanjang jalan pun mereka hanya diam, tapi Nadine membuka topik kala itu.
"Gimana keadaan ka Chika?" tanya Nadine yang mendekat agar terdengar.
"Udah baikan, dia juga udah pulang kemarin."
Nadine hanya mengangguk saja, ada rasa lega dihatinya saat Iqbal menjawab seperti itu. Pasti Iqbal juga kalut dalam beberapa hari kemarin, ada rasa sesal juga karena Nadine tidak mengerti situasi saat itu.
~'~
Gionino akhirnya pulang ke rumah, melihat istrinya yang sedang diam di kamar membuat keduanya enggan untuk berbicara, tentu hal itu membuat Sarita sangat jengkel. Sejak kejadian dimana dirinya memindahkan semua barang Cahaya, pria itu menjadi dingin dan cuek kembali.
__ADS_1
Gionino melepaskan dasinya dan menaruh ke keranjang kotor, matanya tidak menatap istrinya yang sedang duduk dikasur. Bahkan menanyakan kabarnya kemarin tidak ada dirumah saja, Gionino malah diam saja. Akhirnya pria itu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Sarita yang menahan jengkel itu akhirnya memilih untuk keluar dari kamarnya, dan bergegas untuk ke ruang tamu. Melihat hal itu Hanasya yang sedang keluar dari kamarnya sehabis mengerjakan tugas membuat heran.
"Bun, bunda kenapa?" tanya Hanasya yang mendekat dan duduk disamping ibunya.
Sarita yang mendengar itu mengusap wajah putrinya, dia menatap lekat-lekat wajah putrinya yang beranjak remaja itu.
"Tidak, bunda tidak apa-apa, sayang." jawab Sarita.
Sarita yang mendengar itu hanya terdiam, mata menatap Nadine yang ternyata sudah pulang. Nadine memberi salam pada ibu tirinya itu, dan sikap Sarita hanya diam saja.
"Kakak beli apa?" tanya Hanasya.
"Buku." jawab Nadine.
"Aku mau liat!"
Hanasya langsung merampas belanjaan Nadine, wanita itu tidak bisa apa-apa karena ada sang ibu tiri disana. Hanasya mengambil salah satu buku.
"Kakak mau tes TOEFL?" tanyanya.
Nadine menelan silvanya dengan susah payah, selama ini keluarganya saja tidak tau kalau dia mengikuti tes seperti itu. "Setau Hana, tes kayak gini kebanyakan buat beasiswa. Berarti ka Nadine mau lanjut kuliah?" ucapnya, "Bun, ka Nadine mau lanjut kuliah bun." ucap Hanasya pada ibunya.
Nadine menatap ibu tirinya yang menampilkan senyum remehnya, melihat itu membuat Nadine tentu sakit hati.
"Bisa apa kamu? Kamu mau tes segala, mau raih beasiswa? Memang bisa? Otak kamu memang cukup untuk menampung tes itu hah?" tanya Sarita menutup majalah yang ia baca.
"Nadine tidak perlu membuktikan semuanya kan? Bukannya kalian yang menginginkan aku pergi dari sini?" kata Nadine dengan nada yang bergetar. "Tes seperti ini juga atas usaha ku sendiri, uangnya juga atas aku sendiri bukan dari bunda maupun ayah." lanjutnya.
Sarita bangkit dan menghampiri putri dari temannya itu, dia menyimpulkan anak rambut Nadine ke belakang telinganya. "Sombong sekali kamu! Ibu dan anak sama saja! Tidak tau diri dan tidak punya perasaan!" tekannya pelan.
Mata Nadine berkaca-kaca, "Jangan bawa-bawa mama ku!" ketusnya dan mendorong tubuh Sarita hingga terjatuh ke lantai. Hanasya yang melihat itu terkejut, David yang berada dikamar bawah pun keluar dari kamarnya.
"NADINE!!!"
~'~
Follow my Instagram: @hi.abcdefghiloveu , thank u :)
__ADS_1