Luka Dalam Keluarga

Luka Dalam Keluarga
Bab 40


__ADS_3

Nadine keluar dari kamarnya dan turun dari tangga, David yang masih menonton tv dengan Hanasya pun memusatkan fokusnya pada perempuan yang sedang menuruni anak tangga dengan pelan. Hal itu membuat Hanasya menghampiri sang kakak.


"Ka Nadine, mau kemana?" tanya Hana.


Nadine hanya diam dan tidak menanggapi omongan adiknya, dia terus berjalan. David hanya diam memperhatikan, sedangkan Sarita pun sama wanita yang keluar dari kamarnya pun hanya menatap sekilas Nadine yang sudah berpakaian rapih.


"Loh non, mau kemana?"


"Mau keluar dulu bi, aku mau cari angin." jawab Nadine pelan.


Mendengar suara klakson membuat Nadine berjalan dengan pelan untuk menuju depan gerbang yang sudah ada Rangga, kekasihnya disana. Rangga yang melihat wajah Nadine yang pucat pias pun hanya mengusap pipinya.


"Kamu sakit? Badannya panas begini. Kenapa setuju buat keluar?"


Nadine tersenyum kecil, biarlah biar CCTV itu merekam semuanya dan ayahnya melihat. Nadine hanya butuh bahagia, bukan?


"Aku cuma suntuk ka dikamar." jawab Nadine, "Ayo, katanya mau ngajak ke suatu tempat?"


Rangga pun memasang helm pada Nadine, ada keraguan dalam hatinya karena melihat kondisi Nadine yang ternyata sedang sakit. Setelah sudah di motor, Nadine langsung memeluk pria itu dengan erat. Menikmati hawa sejuk disore hari membuat Nadine tidak menahan air matanya, dia terisak lagi ketika mengingat hal beberapa jam yang lalu.


Rangga yang mendengarai motor itu merasakan ada yang berbeda dari Nadine, Rangga terus berkutat dengan pikirannya sendiri sambil terus mengendarai motor tersebut untuk ke basecamp tempat teman-temannya berkumpul. Rangga tidak tau hal ini akan terjadi.


Sesampainya ditempat basecampnya, Nadine turun dan melihat situasi sekitar yang hampir sama dengan basecamp tempat teman Iqbal berkumpul.


"Ini basecamp siapa ka?" tanya Nadine.


"Temen-temen."


Nadine terbeku, kenapa Rangga mengajaknya kesini? bukannya ke tempat lain? Bahkan Nadine saja belum siap untuk bertemu dengan teman-teman Rangga yang statusnya sudah berubah.


Nadine memilih untuk berjalan dibelakang Rangga, ternyata basecamp jauh lebih bagus dari milik teman Rangga karena ada meja bar serta baristanya disana yang sibuk bikin minuman. Nadine menunduk setelah tau mata teman-temannya Rangga menatapnya.


Walaupun sepasang mata menatapnya tidak enak, Nadine hanya mengintil dibelakang Rangga. Hingga akhirnya nadine izin untuk ke toilet karena dia menerima telepon dari adiknya.

__ADS_1


"Ka Nadine." - Hanasya.


"Kenapa?" - Nadine.


"Pulang ka, disuruh ayah. Ayah kayaknya lagi marah banget." - Hanasya.


Nadine yang mengangkat teleponnya dan mendengar Hanasya bilang seperti itu membuat kepalanya berdenyut, baru saja sampai dan pasti karena Gionino melihat CCTV dirinya pergi. Entah apa yang terjadi, lagipula Nadine merasa belum nyaman untuk mendekatkan diri pada teman-temannya Rangga. Saat sampai didepan lorong yang masuk ke dalam ruangan tengah Nadine terhenti.


"Kenapa lo bawa dia?" tanya Sarah dengan nada yang ketus membuka suaranya pertama kali saat kami datang.


"Kenapa? Bukannya ini rencana kita? Gue cuma pengen dia percaya aja, kalau hubungan ini beneran terjadi dan setelah 4 hari gue akan putusin cewek culun itu."


"Tapi gue engga suka, Rangga. Kan lo udah janji ga bakal ngebawa perempuan itu ke tempat kita."


"Yaampun, sar. Dia ngelakuin itu juga demi ngasih bukti sayembara kali, dan satu lagi yang nyuruh Rangga bawa cewek culun itu gue." sahut Ziko.


Rangga mendesah, dia menyesap minumannya. "Bener tuh, sabar Sarah sayang. Gue cuma ngasih bukti ke Ziko dan lainnya, gue gamau kehilangan mobil terbaru itu."


Nadine yang mendengarpun terdiam, dia meneteskan air matanya. Ternyata tidak ada cinta yang tulus buat dirinya, ternyata benar Rangga yang dulu tidak menyapanya bahkan tidak meliriknya entah kenapa pria itu menyatakan perasaannya dalam waktu singkat. Nadine juga bodoh, bisa kemakan semua rayuannya dan kencan-kencan kecil yang ia lakukan bersama Rangga.


PLAK.


Tamparan keras mengenai pipi pria itu, "Dasar cowok brengsek! Lo ga usah repot-repot mutusin gue, karena mulai saat ini hubungan kita putus!" isak Nadine yang langsung keluar dari basecampnya.


"Nadine, dengerin dulu." ucap Rangga yang berusaha untuk mengejar Nadine. Namun saat Rangga sudah dekat, Nadine langsung masuk ke dalam taksi.


"AAARRRGGHH! SIALAN!"


~'~


Di sisi lain, Iqbal, Hadi dan Farid sudah berpakaian rapih pun menunggu Jihan yang sibuk merias dirinya yang sudah ada 20 menit. Hal itu yang membuat Hadi terus menatap jam tangannya terus, dan berbeda dengan Iqbal yang menatap handphonenya untuk membalas pesan-pesan grup, ditambah Farid yang sibuk bermain sendiri.


"Ma, yaampun udah mau setengah jam loh ini." eluh Hadi.

__ADS_1


"Iya pa, sebentar lagi. Aku cuma pakai lipstik kok ini."


Hadi menghebuskan nafasnya dengan kasar, sedangkan janjian makan malam sekitar jam 7 malam yang dimana mereka harus datang lebih awal agar menghindari macet.


5 menit kemudian, Jihan keluar dengan dress dibawah lutut berwarna abu-abu. Hadi menatap istrinya tanpa berkedip, membuat Iqbal mengagetkannya.


"Biasa aja kali pa, mama emang secantik itu."


Jihan yang mendengar pujian putranya hanya tersenyum, Hadi hanya tersenyum kala melihat wajah Jihan yang masih cantik dan tidak pernah membosankan walaupun sudah ingin menempuh 20 tahun pernikahan.


"Waaww mama cantik banget pake dress hitam!" seru Farid.


Mendengar seruan putra kecilnya membuat Jihan menampilkan wajah sedih, Iqbal yang membaca situasi pun akhirnya langsung menggendong adik kecilnya keluar dari rumah untuk menuju mobil. Hadi merangkul dan mengusap pundak istrinya.


"Sabar sayang, jangan sedih. Nanti make up 1 jamnya luntur." bisik Hadi yang mendapat cubitan kecil dari istrinya itu.


Tidak terasa perjalanan mereka menuju apartemen keluarga Chika sampai juga, apartemen yang mereka kira kecil ternyata seperti rumah dan luas sekali bahkan ada private pool disana. Keluarga Iqbal disambut hangat oleh Marliana dan juga Yudha, tentu Jihan sangat senang.


"Mau minum apa?" tanya Marliana.


"Air putih tidak apa-apa." jawab Jihan.


"Oh tidak-tidak, aku menyiapkan minuman yang segar. Orange juice gimana?"


"Boleh, tapi untuk mas Hadi kopi aja."


Marliana mengangguk, akhirnya dia memanggil asisten rumah tangga untuk menyiapkan apa yang mereka perlukan. Bertepatan dengan itu, Chika keluar dan menyalami mereka lalu duduk disebelah Iqbal. Kecanggungan yang dirasa membuat Chika memilih untuk diam, Iqbal juga sibuk bermain dengan adiknya yang sedaritadi memintanya untuk bermain.


"Oh jadi mba Marliana ini ibu tiri Chika?" tanya Jihan yang membuat Chika menelan silvanya.


"Iya mba, saya menikah dengan mas Yudha saat Chika berumur 7 tahun."


Jihan tersenyum lalu mengelus pundak Chika, "Pasti kamu bahagia mempunyai ibu tiri sebaik ini ya."

__ADS_1


Ada rasa gugup Marliana yang hadir disana, Chika hanya diam dan membalasnya dengan tersenyum. Dia tau bahwa keluarga Iqbal pasti akan mengulik masa lalunya, demi putra mereka. Ah, Chika hanya bisa berdoa semoga tidak akan terjadi apapun setelah ini tentang hubungannya dengan Iqbal.


~'~


__ADS_2