Luka Dalam Keluarga

Luka Dalam Keluarga
Bab 34


__ADS_3

Pagi itu, hari libur yang membuat Yudha dan Chika sedang bersamanya dalam satu apartemen. Marliana menatap mereka dari jauh, Yudha mengusap rambut Chika dengan penuh kasih sayang. Marliana yang masih tidak bertegur sapa dengan Yudha hanya tersenyum melihat interaksi ayah dan anak itu dari jauh. Andai posisinya sama, Chika bisa menerimanya dengan baik. Posisi itu akan ada Marliana juga disana, disebelah Chika.


Marliana hanya tersenyum singkat sambil mengaduk sup daging untuk sarapan, memang Yudha suka sekali langsung makan pakai nasi. Sedangkan Marlina tidak bisa, lambungnya menolak jika pagi langsung makan berat.


"Papa! ihhh.." teriakan Chika yang  kencang itu membuat fokus Marlina menatapnya.


"Hahaha... Maaf sayang."


Marliana sungguh senang melihat Yudha dan Chika yang kini sudah mengakrabkan diri lagi, sedangkan dirinya? Masih perlu untuk mendekatkan diri pada Chika. Tapi Chika? Selalu menghindar dan bicara hanya seperlunya.


Setelah semua terhidang di meja makan, Yudha datang menghampiri Marliana yang sedang sibuk sendiri. "Enak-enak semua, sayang. Aku jadi lapar." ucapnya.


Marliana yang sedang mengambil piring itu terdiam, "Hm, makan lah." jawab Marliana datar tanpa menatap wajah suaminya.


Yudha melipat bibirnya. Ternyata, istrinya masih saja cuek tanpa sebab. Chika yang mendengar itu hanya tersenyum penuh kemenangan. Perempuan itu bisa merasakan bahwa kondisi rumah tangga ayahnya sedang tidak baik-baik saja, walaupun dirinya baru sehari tinggal bersama ayahnya dan ibu tirinya itu.


"Oh, Chika. Sini kita sarapan dulu." titah Yudha.


Chika berjalan pelan menuju ruang makan, "Kalian sarapan aja dulu, saya ingin beres-beres." kata Marliana yang berlalu masuk ke dalam kamar. Yudha tentu menatap heran, ingin beranjak tapi tidak enak meninggalkan Chika makan sendiria karena perempuan itu harus minum obat tepat waktu setelah pemulihan.


"Ayo, makan pa." ajak Chika.


Yudha hanya mengangguk, matanya menatap Marliana yang sudah masuk ke dalam kamar. Semuanya terasa hambar, bahkan saat tidur tadi malam saja Marliana memunggungi dirinya. Yudha hanya memeluk istrinya itu dari belakang, dan saat Marliana sudah nyenyak baru Yudha baru membalikan badan Marliana untuk menghadap dirinya.


"Gimana masakannya?" tanya Yudha yang sudah habis setengah porsi.


"Lumayan." jawab Chika sambil mengunyah. Kesukaan ayah dan anak itu sama, sama-sama bisa makan berat di pagi hari.


Yudha tersenyum, "Kata Romero, kamu ingin bekerja?" tanyanya.


"Iya."


"Tapi sayang, bukannya papa sudah menuhin kebutuhan kamu?"


Chika menghentikan makannya, dan meminum 3 teguk air. "Aku hanya ingin memiliki uang sendiri, lagi pula kuliah ku sekarang lagi tidak sibuk." jelas Chika.


"Ya sudah, kamu magang saja di kantor papa yang di Jakarta."

__ADS_1


Chika tersenyum senang sekali, tak lama dari mereka berbincang Marliana pun keluar dari kamar dan duduk di antara suami serta anak tirinya itu. Tentu hal itu membuat Chika heran, dan Yudha lebih heran lagi. Marliana mengoles roti dengan selai coklat hazelnut kesukaannya.


"Kenapa tidak dilanjutkan? Bukannya kalian sedang sarapan?" tanya Marliana.


Chika bergenyit heran, "I-iya kita lagi sarapan." jawab Yudha dengan tergagap.


Chika memasang muka tak sukanya, Marliana yang melihat itu tersenyum. Kali ini dia tidak akan menuruti kemauan anak tirinya itu, pernikahan yang ia bangun bersama-sama dengan Yudha tidak sebentar. Selama ini juga, baik Yudha maupun dirinya tidak pernah melakukan kesalahan, dan menurut Marliana pria yang ia temui bahkan sudah menjadi teman hidupnya itu sudah versi terbaik yang tuhan kirimkan untuk dirinya, walaupun mendapatkannya dengan cara yang salah.


Setelah sarapan usai, Yudha pamit ke dalam kamar sekedar untuk membersihkan tubuhnya. Sisanya ada Marliana dan Chika disana.


"Hm, Chika."


Chika melirik tajam pada ibu tirinya, bagaimana bisa perempuan perebut suami ibunya ini bisa berubah sikap? Padahal Chika merasa, Marliana dan Yudha sedang bersitegang dari hari kedatangannya ke apartemen ini.


Marliana tersenyum, "Oh ya anak tiri ku sayang, tawaran kamu yang kemarin menyuruh saya untuk berpisah dengan papa kamu itu tidak akan pernah terjadi." ucap Marliana.


"Mungkin kamu bertanya-tanya kenapa saya sekarang berubah sikap, dan mungkin aja kamu sadar kalau saya sedang bertengkar dengan papa kamu dari kemarin. Tapi percaya lah Chika, itu hanya saya yang menguji seberapa besar cinta papa kamu pada saya. Buktinya saya mencintai papa kamu dan kamu sebagai putrinya itu tulus dari hati terdalam saya. Jadi, tawaran kamu yang menyuruh saya berpisah dengan papa kamu itu tidak akan pernah terjadi. Karena bagaimanapun kami saling mencintai, dan mama kamu itu cuma bagian masa lalu dari kehidupan suami saya."


Mata Chika berkaca-kaca, dagunya mengetat menahan amarah. Sedangkan Marliana? dagunya terangkat sedikit, dia harus mempertahankan rumah tangganya yang ia jalani. Marliana tidak mau kelihatan lemah sekarang, dia seorang ibu sambung yang harus lebih dominan dalam keluarganya.


"Kalau mama kamu masih tulus mencintai dan menyayangi kamu, dia tidak akan meninggalkan kamu juga sampai saat ini." ucap Marliana pelan.


~'~


Sarita melangkahkan kakinya memasuki rumah yang ia tinggalkan dari kemarin. Sarita hanya ingin menghibur dirinya sendiri, dan dia juga ingin melihat respon suaminya mencarinya atau tidak. Kenyataannya, tidak ada satu pun pesan maupun panggilan telepon yang berdering dari handphonenya.


Sarita menatap Hanasya yang sedang menonton televisi dengan David, "Bunda.." panggil Hanasya.


Sarita menampilkan senyumnya dan menghampiri sang putri, "Sudah makan?" tanyanya.


"Sudah sama om David." jawab Hanasya.


"Memang ayah kemana?"


"Ke kantor, biasanya kan ayah lagi ada evaluasi mingguan tiap sabtu."


Sarita baru teringat akan hal itu, dan akhirnya dia terdiam. "Mba habis darimana?" tanya David yang kini membuka suaranya.

__ADS_1


"Menginap dirumah teman."


David berdecak, dia melihat dengan jelas leher Sarita yang memerah. Dia sudah dewasa, dan David juga tinggal lama di luar negeri membuat hal itu lumrah yang biasa ia temui oleh teman-temannya. David meminta Sarita untuk mengobrol berdua di belakang rumah.


"Kenapa sih?" tanya Sarita dengan nada sewot.


"Mba, selingkuh dari bang Gio?" tanyanya penuh selidik.


"Ti-tidak."


"Mba aku bukan anak kecil lagi dan aku tau persis tanda di leher mba itu, apa mba mau menghancurkan rumah tangga sendiri? Bagaimana nasib Hana nantinya kalau bang Gio tau!"


Sarita menghela nafasnya, "Kamu tau mba melakukan ini juga karena mas Gio! Kamu engga tau apa-apa yang mba alamin selama ini, vid!" pekiknya dan langsung berlalu masuk ke dalam kamarnya.


David mengusap rambutnya dengan kasar, memang selama ini yang ia tau kehidupan rumah tangga kakaknya baik-baik saja. Kata Hanasya juga, mereka lebih banyak menghabiskan waktu bersama-sama, apa ada yang salah disini? Kenapa Sarita membuat David sangat serba salah sekarang?


~'~


Nadine yang sibuk mengelap meja dan membawa beberapa gelas di nampannya itu tidak menyadari ada yang mengawasinya. Iya, Iqbal. Laki-laki yang terus mengamati sahabat kecilnya dari luar kafe tempat Nadine bekerja. Sudah lebih dari 2 hari mereka tidak bertegur sapa, bahkan Nadine benar-benar tidak mengirimkan ucapan ulang tahun padanya.


Iqbal akhirnya memberanikan diri untuk masuk ke dalam kafe, Nadine merangkap sebagai kasir pun akhirnya terbeku ketika melihat Iqbal yang ada dihadapannya.


"Mau pesan apa ka?" tanya Nadine yang menatap layar kasirnya.


Iqbal tersenyum, "Frappuccino satu." jawabnya.


"Minum sini atau bawa pulang?"


"Minum disini."


Setelah transaksi selesai, Nadine mencoba untuk menenangkan dirinya. Setelah pesanan selesai, Nadine juga yang mengantarkan. Iqbal memberikan secarik kertas pada Nadine, dan tentu Nadine mengambil itu lalu memasukkannya ke dalam saku apronnya.


Di meja kasir, Nadine membuka kertas itu.


'Maafkan aku, boleh kita baikan? Kita masih sahabat seperti dulu kan?" - Iqbal.


~'~

__ADS_1


Follow my Instagram: @hi.abcdefghiloveu . Thank u:)


__ADS_2