Luka Dalam Keluarga

Luka Dalam Keluarga
Bab 28


__ADS_3

Iqbal menatap perempuan yang sedang tertidur dengan selang infus yang masih terpasang, penyangga di tangannya pun masih terpasang. Iqbal hanya lelah dengan hari ini, di hari ulangtahunnya yang harusnya dirayakan bahagia, kini bercampur sedih. Nadine yang masih marah padanya, adiknya yang ternyata di diagnosa buta warna oleh dokter, serta Chika yang tak lain kekasihnya sendiri itu pun jatuh sakit akibat kecelakaan.


Iqbal menghela nafasnya, dia merebahkan tubuhnya ke sofa. Dia memandang langit-langit rumah sakit itu, kenangan yang amburadul itu sekilas terlihat.


"Kenapa semuanya jadi begini?" gumam Iqbal dalam hatinya yang menangkup kedua tangannya ke muka.


*Flashback*


Sesampainya dirumah sakit, Iqbal langsung dipeluk oleh sang ibu. Raut wajahnya yang bisa Iqbal lihat itu sangat sedih sekali, Iqbal hanya mengusap punggung ibunya sambil membuat dirinya juga tenang.


"Ada apa ma? Farid kenapa?" tanya Iqbal yang sudah mulai agak tenang.


Jihan saat hendak membuat pembicaraan itu tiba-tiba dokter keluar dengan Hadi yang menggendong Farid, setelah banyak pemeriksaan dokter sudah memberikan diagnosanya saat Hadi berbicara didalam ruangan itu. Mata binar yang seharusnya senang itu berubah menjadi sedih, bagaimana tidak sedih jika seorang ibu mendapatkan kabar bahwa anaknya buta warna.


Iqbal yang mendengar itu hanya terdiam, "Apa bisa disembuhkan dok?" tanya Iqbal.


Dokter menghela nafasnya, "Tidak bisa, tapi dek Farid hanya bisa menggunakan kaca mata khusus." jawab sang dokter.


"Papa sudah memesannya dari luar negeri, kemungkinan akan sampai 2 minggu lagi."  sahut Hadi.


Farid yang sibuk mendengarkan tanpa mengerti akhirnya meminta pindah gendong oleh sang ibu, Jihan memeluk putra kecilnya dengan erat. Ini hal yang aneh, menurut dokter buta warna itu hasil genetik. Tapi, dari kedua keluarga itu tidak ada sama sekali yang mengalami hal tersebut. Selama ini juga Farid tidak diberikan gadget, Jihan tidak pernah mengijinkan anaknya yang berbau layar dekat seperti handphone.


"Abang.. Aku mau eskrim." 


Disaat suasana tegang itu ceketukan Farid yang membuat Iqbal tersenyum, "Ayo, kita beli ke kantin rumah sakit." 


Bocah 6 tahun itu diturunkan dari gendongan, Iqbal menggandeng adiknya. Hadi menatap Jihan yang masih larut dalam kesedihan, dia rangkul dan mengusap pundak jihan.

__ADS_1


"Farid tidak apa-apa, dia anak yang hebat karena memiliki ibu hebat seperti kamu." bisik Hadi.


Jihan mendongak, menatap sang suami dengan matanya yang berkaca-kaca. "Kalau kamu tidak sibuk terus, kita tidak akan telat mengobatinya dan tidak akan separah sekarang, mas." ucap Jihan yang melepaskan tangan Hadi yang berada di pundaknya itu, lalu berjalan menyusul anak-anaknya.


Hadi hanya menghembuskan nafasnya, dia duduk di depan ruangan yang belum pergi dari situ. Dia mengusap wajahnya dengan kasar, memang selama ini Hadi terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Walaupun Jihan mengikutinya dimana ia tinggal, tapi namanya seorang pria pembisnis pasti Hadi banyak keluar kota untuk membangun proyek penginapan lagi.


*Flashback end*


Chika tiba-tiba terbangun, dia menatap wajah Iqbal yang seperti menanggung beban yang sangat berat. Apa ia yang membuat beban itu? Beban yang begitu berat buat Iqbal. Setelah orangtuanya pergi, Chika akhirnya bisa tidur dan sebelum tidur Chika dengan sengaja memuntahkan makanan pemberian ibu tirinya yang ia telan.


Perawat masuk untuk mengganti infusan yang sudah habis, tentu membuat Iqbal sadar kalau Chika ternyata sudah terbangun.


"Besok sudah bisa pulang ya mba Chika." ucap perawat itu. Chika hanya tersenyum kecil lalu mengangguk.


Iqbal beranjak mendekati Chika, "Besok kamu engga usah anter aku pulang, sudah ada Romero, bee." ucap Chika.


Iqbal hanya mengangguk, dia memilih untuk diam saja. Chika yang membaca raut wajah kekasihnya itu akhirnya memberanikan diri untuk bertanya apa yang terjadi, namun jawaban Iqbal tidak ada apapun.


Iqbal menatap paper bag itu, dia menatap Chika dengan tatapan bingung. "Aku engga kemana-mana kok, aku juga udah siapin hadiah kamu dari lama jadi aku minta bantuan Remero untuk mengambilkan hadiah ini di apart."


Chika mengkode dari alisnya untuk Iqbal mengambil hadiah itu, akhirnya Iqbal membuka paper bag yang berisi jam tangan merk terkenal. Bahkan kalau di rupiahkan sekitar puluhan juta.


"Chika.. Ini terlalu.."


"Ga usah nolak, aku kasih itu sebagai hadiah dan bukannya orang ulang tahun itu berhak untuk menerima hadiah apapun?"


Iqbal terdiam, memang sifat Chika kadang menjengkelkan tapi kadang juga seperti sekarang ini. Iqbal hanya memandang wanita itu, dia tidak tau harus berbuat apa karena wanita yang sedang duduk dengan bersandar di brankarnya memang terlalu royal.

__ADS_1


"Tapi maaf, aku engga bisa nerima ini." ucap Iqbal yang menaruh kembali paper bag ke atas nakas kecil dikamar rumah sakit itu.


Chika terdiam, dia menatap pemberian hadiahnya yang Iqbal taruh. Rasanya nyeri sekali melihat kekasihnya itu menolak pemberiannya, ini kali kedua Chika memberikan hadiah sebagai stattusnya sebagai kekasih dari Iqbal. Dari dulu Chika selalu memberi hadiah baju, yang itu tidak murah juga sekitaran 300ribu lebih. Iqbal menolak karena itu hasil dari orangtua Chika, dia merasa tidak enak karena Chika memberikannya hadiah dari hasil yang ia tabung.


"Setelah sembuh, aku akan kerja. Sama kayak sahabat kecil kamu itu, kamu selalu nerima pemberian dia karena hasil jerih payahnya kan?" ucap Chika pelan sambil memandang jam tangan yang terpasang dilengan kekasihnya itu, Iqbal menatap wanita itu yang tiba-tiba menampilkan senyumnya.


"Aku akan kerja bee, aku pengen lihat kamu pakai barang hasil jerih payah aku." kata Chika, "Bukan dari orang lain." lanjutnya lagi.


Jam tangan yang terpasang di lengannya itu adalah hadiah pertama kali saat Nadine bekerja dan memberikan barang sebagai hadiah ulang tahun yang sebenarnya selama ini perempuan itu selalu memberi Iqbal kue, meniup lilin bersama-sama, hingga memotong serta memakannya berdua sebelum Chika hadir ditengah-tengah mereka.


"Jangan gitu, aku cuma pengen hadiah yang engga mahal kayak gini. Kalau papa kamu tau, beliau pasti marah ke kamu bukan ke aku, Chika."


Chika hanya terdiam, dia menundukkan kepalanya. Iqbal kembali mendekat, pria itu menggenggam tangan perempuan itu yang terpasang infus.


"Kamu engga perlu kerja, kamu fokus aja dulu ke kesehatan kamu. Bisa kan?"


Chika mengangguk, Iqbal langsung mengusap puncak kepala Chika. "Mau ke taman?" tawar Iqbal yang berusaha untuk mengalihkan rasa sedih kekasihnya itu.


Tentu, Chika yang merasa suntuk akhirnya berbinar dan mengangguk. Sudah lama sekali dia tidak keluar dari ruangan rawatnya, ruangan yang membuatnya tidak bisa bergerak dengan bebas karena beberapa alat terpasang di tubuhnya.


~'~


Sementara di sekolah yang sudah anak murid berhamburan menyisahkan Aqila dan Nadine yang masih berada dikelasnya. Aqila yang menunggu jemputan akhirnya sang supir datang, sedangkan Nadine langsung menuju ke belakang sekolah karena sudah ada yang menanti disana.


Nadine tersenyum mendapati pria yang ia cari duduk di atas motornya, pria yang cukup populer di sekolah itu sudah menjadi milik Nadine si kutu buku. Entah simpang siur yang dulu Nadine dengar tentang Rangga menjalin hubungan sebentar membuat dirinya mengenyahkan pikiran buruk itu, Nadine mengenal Rangga pria yang baik karena beberapa kali mereka sudah jalan bersama.


Bukannya setiap orang mempunyai sisi baik dan sisi buruk? Kemungkinan Rangga atau pria yang lain mempunyai sisi itu, tapi setelah menelaah membuat Nadine beranggapan bahwa Rangga cukup baik di matanya.

__ADS_1


•••


follow my Instagram: @hi.abcdefghiloveu . Thank u😊


__ADS_2