Luka Dalam Keluarga

Luka Dalam Keluarga
Bab 22


__ADS_3

Iqbal hanya mengumpat setelah melihat Nadine pergi bersama pria, respon Nadine seperti ini membuatnya sangat serba salah. Akhirnya Iqbal memilih untuk pergi ke rumah sakit, kalau di ingat lusa adalah ulang tahunnya yang setiap tahun memang Iqbal tidak pernah merayakannya.


Saat membuka pintu, melihat sang ibu yang tak lain adalah ibunya Iqbal yaitu Jihan sedang mengusap rambut Chika.


"Mama ..." ucap Iqbal pelan.


Jihan hanya tersenyum, matanya sendu sedih karena diam-diam wanita itu manangis sedaritadi.


"Habis dari mana? Chika nyariin kamu dari tadi."


Iqbal pun menutup pintu, dan duduk di sofa yang tak jauh dari pintu tersebut. Dia merebahkan tubuhnya dan menatap langit-langit kamar serba putih. Jihan yang melihat itu berjalan mendekati sang putra.


"Jangan tinggalin Chika, dia tadi ketakutan banget untungnya ada mama dan papa datang tadi pas kamu ga ada." bisik Jihan mengusap rambut putranya.


Iqbal menatap wanita yang tertidur di brankar rumah sakit itu dari kejauhan. Ada rasa bersalah juga, kenapa rasa ini ada dibenak Iqbal sekarang? Dulu Iqbal paling mudah mengacuhkan Chika dan mementingkan Nadine, sekarang baginya Chika yang paling penting dari segi kondisinya juga.


"Cari angin doang ma, aku udah titip Chika ke suster kok." ucap Iqbal yang kini tubuhnya duduk di sofa.


Jihan duduk disebelah anaknya, anak dan ibu itu masih terus menatap Chika yang tertidur. Jihan seketika menghembuskan nafasnya.


"Papa mana?" tanya Iqbal.


"Dia ada dirumah, adik kamu minta pulang."


Iqbal hanya bergumam saja, "Mama mau pulang? Biar Iqbal yang anter." ucapnya.


Jihan menggelengkan kepalanya, "Bang, mama mau bicara sama kamu.. Di luar.."


Jihan dan Iqbal duduk di depan ruangan Chika. Seketika tetesan air mata Jihan keluar, dia hanya ingat apa yang terjadi dengan sahabatnya dulu yang terbujur kaku di atas brankar rumah sakit. Luka lamanya pun akhirnya terbuka kembali.


"Kenapa ma? Kenapa nangis?"


Jihan mengusap air matanya, "Mama hanya ingat kejadian dulu yang membuat ingat dengan Cahaya." jawabnya, "Oh ya bang, mama dan papa sepakat untuk tinggal di Jakarta. Walaupun nantinya papa kamu akan terus bolak balik Jakarta dan Bali.".


Iqbal hanya terdiam menatap ibunya itu, "Dari kecil kamu jarang bersama kami, dengan kejadian ini membuat mama sadar akan kurangnya kasih sayang. Mama takut kamu akan berbuat tindakan yang membuat kami sedih seperti tindakan yang dilakukan sama Chika." jelasnya.


Iqbal tersenyum tipis, tangannya yang bertaut itu ia pandangi. Memang sejak SMP hidupnya memilih untuk tidak mengikuti orangtuanya, orangtuanya juga tidak memaksa dan menitipkan pada pengasuh Iqbal sedari kecil.

__ADS_1


"Oh ya bang, ulang tahun kamu yang 19 tahun mau mama rayakan." ucap Jihan.


"Jangan dulu ma, Chika kondisinya masih belum membaik." tolaknya.


"Iya, mama juga tau dan acara itu mama akan buatkan setelah Chika sembuh. Oh ya, ajak Nadine juga."


Iqbal menunduk dan mengangguk saja sebagai respon. Bagaimana bisa dirinya bertemu setelah semuanya terjadi? Iqbal merasa Nadine akan menjauh darinya, rasanya sangat bingung jika dirinya diposisi sekarang.


~'~


Ucapan Rangga membuat Nadine membeku, baru kali ada yang mengajaknya seperti itu. Terlebih anak orang terpandang, dan anak yang terkenal di sekolah.


"Gimana kalau kita pacaran?" celetuk Rangga lagi.


Nadine yang mendengar itu berdeham, dia mencoba untuk menyadarkan apa yang terjadi barusan adalah bercanda dari seorang Rangga. Bagaimana bisa pria yang sudah mempunyai kekasih, malah menyatakan perasaan sukanya pada perempuan lain?


Rangga meraih tangan Nadine dengan posisi pria itu masih bertengger di atas motornya, dia mengelus punggung tangan Nadine. Tentu mendapat respon seperti itu Nadine menatap heran pada Rangga.


"Gimana? Mau?" tanya Rangga untuk mendapatkan kepastian.


Nadine tidak tau bahwa menerima perasaan itu adalah salah satu reward Rangga mendapatkan mobil dari Jiko. Rangga juga percaya bahwa Nadine akan menerimanya. Nadine menatap tangannya, dan melepaskannya.


Rangga hanya terdiam mendapatkan penolakan pertama kali dari seorang wanita. Sebenarnya apa yang kurang darinya? Tampan? Jelas! Pintar? Oh sudah pasti!


"Kenapa?" tanya Rangga yang berusaha tenang.


Nadine menunduk, "Ka Rangga pacarnya ka Sarah kan? Kenapa ka Rangga menyatakan perasaan pada ku?"


"Tidak, dia terlalu obsesi saja dan lagipula kami berteman dari kecil." jawab Rangga dengan santai.


Nadine menatap mata pria itu, dia mencari apa itu kebenaran atau kebohongan?


"Gimana?" tanya Rangga lagi.


Nadine menunduk, akhirnya dia mengangguk "Iya aku mau, ka." jawab Nadine.


Rangga adalah pria satu-satunya yang menyatakan perasaannya pada Nadine, walaupun ada rasa ketakutan dalam hatinya tapi beberapa hari melihat sikap Rangga yang ternyata tak seburuk itu. Entah Nadine yang bodoh atau memang dia yang terlalu berpikir positif.

__ADS_1


Rangga tersenyum, dia mengusap puncak kepala Nadine dan akhirnya pamit untuk pulang. Ini saatnya untuk Nadine tidak ingin merepotkan Iqbal lagi, dan lagi pula dengan begini hubungan Iqbal dan Chika akan baik-baik saja. Nadine menghela nafasnya lalu masuk ke dalam rumah, saat hendak membuka pintu rumah sudah bertengger David di depannya yang membuat Nadine terlonjak kaget.


David mengulurkan tangannya seraya berkenalan, Nadine menatap tangan itu dan menatap pria itu dengan wajah ketakutan. Baru kali Nadine bertemu orang asing di rumahnya sendiri, sekalipun itu saudara pasti tidak pernah menginap. Sedangkan David? Pasti disini akan lama..


"David." ucap David yang kini membuka suaranya, tangan itu masih senantiasa terulur tanpa Nadine membalasnya.


Nadine menghembuskan nafasnya pelan, mengatur ritme jantung yang berdetak tidak beraturan saat terkejut beberapa menit yang lalu. Akhirnya Nadine bisa menerima uluran itu, David tersenyum miring.


"Nadine, k-ka.." ucap Nadine dengan gugup.


David melepaskan tautan tangan itu, dia akhirnya berjalan untuk ke ruang keluarga melanjutkan tontonannya. Nadine menatap tidak percaya, akhirnya Nadine pun berlari kecil untuk ke kamar dan mengunci kamar itu dari dalam.


"Menakutkan!" lirih Nadine mencengkram dadanya, tubuhnya menahan pintu.


Mungkin Nadine hanya tidak terbiasa, sekalipun keluarga Sarita menginap itu pun hanya ibunya dan itu pun tidak akan lama. Sebaliknya dengan keluarga Gionino, hanya ibunya yang menginap tidur bersama dengan Nadine. Sungguh sangat nyaman sekali.


Nadine mengunci kamarnya dengan suara dua kali itu terdengar, dia hanya berjaga-jaga dengan prasangka buruk yang menghinggapi otaknya. Setelah melaksanakan bersih-bersih sebelum tidur, Nadine mengecek handphonenya yang ternyata tidak ada notifikasi dari siapapun dan hanya ada chat grup tempatnya bekerja.


"Oh mungkin udah tidur.." gumam Nadine yang mendadak terlintas Rangga. Pria yang beberapa saat lalu menyatakan perasaannya, pria yang tidak percaya bahwa dirinya kini menjadi pacar Rangga.


~'~


Di sisi lain, Rangga yang sedang berkumpul dengan teman-temannya sehabis mengantar Nadine dan disana pun ada Sarah yang duduk di sebelah Rangga.


"Gimana? Kenapa lo nyuruh kita untuk kumpul?" tanya Jiko.


Rangga mengeluarkan handphonenya, dia tersenyum miring setelah memencet tombol hasil rekaman yang dimana ia jadikan bukti bahwa dirinya berhasil mendapatkan tantangan yang Jiko tawarkan.


"Anjir!" gerutu Jiko setelah mendengar rekaman itu.


Beberapa temannya yang lain begitu heboh, tapi berbeda dengan Zaidan hanya terdiam,dia sungguh tidak tertarik dengan ini.


"Tapi gue perlu seminggu lagi kan buat jalanin ini?" tanya Rangga.


Jiko mengangguk, "HAHAHA Jiko kayaknya lo salah sasaran buat taruhan dan mobil terbaru lo itu akan hilang." ejek Dimas. Jiko yang tidak terima akhirnya bergelut.


Sarah hanya diam menahan untuk tidak menangis, dia memandang kesal setelah dirinya ikut turut mendengarkan rekaman itu. Apa artinya dirinya selama ini?

__ADS_1


•••


__ADS_2