Luka Dalam Keluarga

Luka Dalam Keluarga
Bab 24


__ADS_3

Nadine menghirup udara yang menurut orang lain itu menyegarkan, tapi bagi dirinya itu tidak karena begitu menyesakkan. Dia menatap Langit yang sudah membiru, menatap dengan senyum yang terukir di bibirnya. Hari ini, hari dimana Iqbal ulang tahun tapi semuanya sudah berubah sejak tadi malam.


Nadine menatap kotak kecil berwarna putih dengan pita merah yang terpasang di atasnya, di dalamnya itu jam tangan yang ia beli dengan uang hasil kerjanya.


"Happy birthday, ka." ucap Nadine dengan air mata yang menggenang di pelupuk mata.


Hanya itu yang ia sampaikan pada hatinya sendiri, biasanya setiap tahun mereka merayakannya berdua dengan kue diameter 10cm yang dibuat oleh Nadine atau dirinya yang berinisiatif untuk membelinya. Ah, rasanya Nadine mengingat kenangan lucu itu hanya menangis haru tapi untuk sekarang dirinya hanya menangis pilu.


Bentakan yang dilontarkan oleh Iqbal masih membekas dalam ingatannya, dia hanya membawa kerepotan dalam hidup pria itu. Maaf dan maaf, hanya kata itu yang bisa Nadine lontarkan sekarang karena begitu banyak dirinya menyusahkan Iqbal dalam langkah hidupnya setelah sang ibu meninggal dunia dan sang ayah yang terus menyiksa dirinya.


Tak terasa, siswa dan siswi sudah ramai sampai di sekolah, Nadine langsung menghapus air matanya dan membereskan semua buku serta kado yang memang sengaja ia bawa.


Saat berada di lorong sekolah, Nadine menatap Rangga dengan beberapa temannya yang termasuk Sarah ada di sebelahnya. Sorotan matanya menjadi dingin, seperti setelan pabriknya di awal dulu. Rangga menatap sekilas Nadine yang berpapasan dengan dirinya, Nadine juga melihat tangan Sarah yang bergelayut manja pada Rangga.


Nadine harus ekstra cuek, perasaannya belum sejauh itu untuk memiliki perasaan yang ia miliki sebagai kekasih. Lagipula hubungan mereka juga harus ditutupi, Nadine tidak mau menjadi masalah karena dirinya sebentar lagi akan lulus dari sekolah bergengsi ini.


Sesampainya di kelas, dia membuka kembali tasnya untuk mengeluarkan beberapa barang yang akan dibahas jam pertama mulai. Saat itu pula, Aqila datang dengan wajah yang mengantuk.


"Pagi." sapanya dengan lemas, seketika wanita itu menelengkup tubuhnya sehingga wajahnya tertidur di atas meja.


"Kayaknya ngantuk banget." celetuk Nadine yang sedaritadi memainkan handphonenya.


"Hm. Gue habis bungkus kado sama ngerjain pr." jawab Aqila dengan suara paraunya serta matanya yang masih tertutup.


Nadine hanya tersenyum dan sedikit menggelengkan kepalanya, bayangan Rangga terlintas dalam pikirannya hingga handphonenya berbunyi menampilkan nomor yang tidak ia kenali itu mengirim pesan padanya.


'Nanti pulang bareng, tunggu sekolah sepi aja.' 

__ADS_1


Nadine tercengang, apa ini Rangga?


Nadine juga membaca pesan itu, dan membalasnya.


'Ini ka Rangga?' - balas Nadine.


'Ya.' - balasnya.


Nadine tersenyum singkat, lalu menyimpan nomor itu dengan nama yang ia sering panggil yaitu 'Ka Rangga'. Pria yang menjadi cinta pertamanya, kata orang-orang cinta pertama itu sungguh menyakitkan, tapi Nadine memilih untuk menghiraukan itu dan dirinya juga ingin mempunyai teman dekat selain Iqbal dan Aqila.


"Oh ya, Nad. Kemarin ga telat kan jemput Hana?" tanya Aqila yang membuyarkan lamunan Nadine.


"Telat, untungnya bokap lagi ada dinas."


Aqila bernafas lega, perempuan itu mengusap pundak Nadine. Ingin rasanya menceritakan apa yang terjadi tadi malam, tapi lidahnya kelu dan memilih untuk diam. Hubungan Nadine dan Iqbal sungguh lagi tidak baik sekarang, dan jika Aqila tau pasti akan banyak pertanyaan yang ia lontarkan.


"Romantis banget gue liat si ka Rangga sama ka Sarah." celetuk salah satu perkumpulan geng di kelas yang berkumpul.


"Hm, gue liat mereka suap-suapan roti tadi di basecampnya."


Nadine yang mendengar itu kupingnya entah kenapa menjadi panas, dia hanya menghela nafasnya. Lagipula Rangga pun bebas melakukan apapun karena memang hubungan mereka yang terjalin itu baru hitungan jam, berhak kah Nadine menjauhkan mereka? Sungguh tidak etis memisahkan kekasihnya dari sahabat-sahabatnya yang sudah lama berteman.


"Kenapa?" tanya Aqila yang membaca raut wajah Nadine yang terlihat bingung.


"Ha? E-engga.. Gue cuma bingung ini cara hitungnya gimana." tunjuk Nadine yang menunjuk salah satu soal.


"Ga biasanya lo ga ngerti ngerjain ini." ucap Aqila.  Tapi, pada akhirnya Aqila membantu Nadine untuk menyelesaikan tugas matematika yang biasanya ia mampu mengerjakan sendiri.

__ADS_1


~'~


Suara tertawa di basecamp belakang sekolah terdiri dari teman-temannya Rangga, ada Sarah dan ketiga temannya yang ikut masuk ke dalam kelompok itu. Sarah mengusap wajah Rangga dengan penuh kasih sayang, selama ini Sarah selalu mengejar pria yang ada di sampingnya itu tapi sampai sekarang pun hubungan mereka tidak jelas arahnya kemana.


Sarah menggerutu setelah tau Nadine lah yang mendapatkan Rangga, pria kaya yang sepadan dengannya. Rangga yang sangat suka dengan sentuhan kecil itu memaklumi Sarah yang mengusap rambutnya, wajahnya, maupun tangannya.


"Jadi gimana? Gue yakin lo ga bakal pakai hati kan?" tanya Jiko yang berada di samping Gita.


"Engga lah! Ngapain juga harus pakai hati?"


Sarah hanya diam, ada perasaan lega dan ada rasa kesal karena hanya Nadine yang tidak tersentuh oleh tangannya. Biasanya setiap kali ada wanita yang mendekati prianya, Sarah akan langsung menyuruh teman-temannya itu membawa ke kamar mandi belakang sekolah yang sangat kotor dan terbengkalai. Tamparan, jenggutan rambut, serta coretan yang membuat wajah perempuan itu terlihat sangat jelek, mampu membuat perempuan itu tidak bertahan lama di sekolahnya.


Pihak sekolah hanya berani menegur Sarah, tapi kekuatan orangtuanya lah yang membuat mereka tidak bisa berbuat lebih jauh. Tuntutan hukum pun kalah, pokoknya di mata mereka Sarah benar-benar tidak bisa dilawan.


Bel sekolah bertanda masuk pun berbunyi, Sarah dan lainnya pun masuk ke dalam kelasnya masing-masing, sedangkan Rangga dan teman-temannya pun ke kelasnya melewati kelas Nadine yang ternyata sedang sibuk berdiskusi namun matanya menatap sekilas Rangga yang tersenyum tipis.


Ah, rasanya meleleh sekali!


Aqila menyenggol lengan Nadine, dan akhirnya mereka berdua berdiskusi bersama untuk menyelesaikan pekerjaan sekolah yang akan dibahas hari ini. Memang kebiasaan Nadine seperti itu, walaupun terkadang dirinya menempati rangking ke tiga dikelas itu pasti karena kesibukannya akan bekerja yang sangat padat jadwalnya.


Berbeda dengan Aqila yang masih teguh menempatkan posisinya di rangking 1 dikelas. Walaupun terbilang berpakaian seenaknya, tapi Aqila benar-benar pintar di bidang matematika, maupun bahasa inggris serta bahasa jerman yang wajib di sekolah kami ini.


"Gimana? Paham?" tanya Aqila.


Nadine mengangguk, dan tak lama guru korespondensi pun masuk ke dalam kelas hingga jam pelajaran pun berakhir.


•••

__ADS_1


__ADS_2