Luka Dalam Keluarga

Luka Dalam Keluarga
Bab 26


__ADS_3

Marliana yang sedaritadi hanya diam sepanjang perjalanannya menatap keluar jendela mobil itu ternyata sedang menangis namun tidak terisak, selama ini dirinya tidak merasakan sesakit ini. Apa dulu istri Yudha sesakit ini? Atau bahkan lebih sakit, saat dirinya tau bahwa suaminya menikah lagi?


Chika sudah besar, tumbuh dengan hidupnya yang sendirian. Marliana dan Yudha menyerahkan semua tanggungjawab itu pada Romero, sang asisten sekaligus orang kepercayaannya untuk menelisik kehidupan putri satu-satunya itu.


Yudha hanya diam dengan fokus mengendarai mobilnya tersebut untuk menuju apartemennya, sepanjang jalan Yudha berusaha untuk mengorek informasi apa yang terjadi, namun sang istri tetap diam dan selalu bilang 'tidak apa-apa'. Yudha akhirnya terdiam, suasana mobil itu semakin dingin karena tidak ada obrolan apapun.


Sesampainya di apartemen, Marliana langsung keluar setelah mobil tersebut terparkir sempurna di area basement. Hal itu membuat Yudha terdiam, apa yang sebenarnya terjadi? Apa Chika mengatakan sesuatu sehingga Marliana bersikap seperti ini?


Sementara disisi lain, Marliana masuk ke dalam apartemennya. Ingatan dimana Chika mengatakan sesuatu yang menyakitkan, kalau dipikir-pikir memang dirinya pantas menyandang status itu.


---


Marliana sibuk menata makanan yang ia bawa, makanan yang katanya kesukaan anak tirinya itu. Wajah datar menyelimutinya, bahkan matanya tidak menatap Marliana, andai dia tau bahwa tatapan sayang itu sangat tulus dalam hatinya.


"Bisa tidak tante pergi dari hidup kami?" ucap Chika dengan datar, wajahnya tetap memandang arah luar jendela besar rumah sakit.


Seketika aktifitas Marliana terhenti, dia menatap anak tirinya itu. "Maksudnya?" sahut Marliana.


"Gara-gara tante, pernikahan orangtua ku berantakan. Karena hal itu, aku tidak bisa merasakan kasih sayang papa dari tante yang berhasil merebutnya dari mama." jawab Chika.


Seketika Marliana terdiam, tangannya melepaskan aktifitas yang sedaritadi sudah dilakukan. Entah dimana Yudha berada, mungkin sedang berbincang sebentar dengan orangtua kekasih Chika barusan.


"Mama ku pergi, gatau kemana. Tante juga berhasil membawa pergi papa ku, sampai-sampai aku sudah sebesar sekarang papa baru menengok ku saat sakit parah seperti ini." ujar Chika. "Tante itu perebut semuanya, tante sadar ga kalau tante merubah papa sampai tidak mau menemui ku, membuat mama kandung ku sendiri pergi dari hidup ku juga! Aku sendirian, apa tante bisa pergi dari hidup kami?" 


Chika akhirnya menatap ibu tirinya itu, Marliana menatap Chika dengan sangat dalam. Mata yang ia tatap itu, tatapan kebencian bahkan seakan-akan tidak ada ruang kasih sayang untuk dirinya. Tangannya terkepal sangat kuat, kalau dipikir-pikir memang dirinya sumber masalah disini, membuat impian keluarga gadis 7 tahun dulu kala itu berantakan.

__ADS_1


Marliana menghirup oksigen dalam ruangan itu sebanyak-banyaknya, menahan air matanya agar tidak menetes. Setelah tenang, dia mulai berbicara kembali dengan nada yang biasa lalu menampilkan senyum palsu.


"Hm, tante akan pikirkan. Jika memang itu yang membuat kamu bahagia, tapi tante punya permintaan sama kamu kalau keinginan kamu itu berhasil." 


"Apa?"


"Kamu harus menjadi anak yang baik, kamu akan tinggal selamanya dengan papa kamu tanpa adanya saya disisi kalian. Satu lagi, kamu harus makan makanan yang tante buat, mau?" 


Sejujurnya hati Marliana sedih, tapi Chika disini lah yang lebih sakit. Anak itu ada benarnya, dirinya lah yang membuat semuanya seperti sekarang. Akhirnya Chika mau makan makanan yang Marliana berikan, suapan demi suapan itu hanya berhasil masuk 5 suap membuat Marliana tersenyum lalu mengusap puncak kepala Chika dengan mata yang berkaca-kaca.


Setelah membereskan, Yudha masuk ke dalam ruangan Chika. Memulai dengan permintaan maaf, akhirnya membuat suasana antar anak dan ayah itu mencair. Jangan tanya Marliana, dia memilih untuk diam di sofa sambil memandangi interaksi keduanya yang berada dihadapannya.


---


Dulu Yudha memutuskan untuk membawa Marliana ke Semarang, upaya itu untuk mencegah Tiara tidak hadir serta mengganggu dalam kehidupan pernikahannya. Yudha yang tadinya berencana untuk membangun rumah tangga itu diluar negeri, namun Marliana tidak setuju karena masih ada keluarganya yang harus ia kunjungi setiap saat walaupun tidak terlalu sering. Lagipula Yudha masih ada putrinya yang harus ia pantau.


~'~


Iqbal yang begitu fokus mendengakan materi yang dosen terangkan, satu kelas hanya di isi oleh 20 mahasiswa dalam mata kuliah tersebut. Walaupun masalah yang berdatangan berurutan membuat Iqbal mengatur fokusnya dikuliah yang menjelang siang itu.


Setelah salah satu mata kuliah selesai, Iqbal langsung melipir ke kantin bersama Dino untuk diskusi kegiatan camping bersama. Camping yang di adakan oleh BEM fakultasnya, Iqbal hanya sebagai sekretaris yang bertanggung jawab untuk bagian tempat serta acara-acara yang di adakan pada camping tersebut.


Camping yang di adakan sekitar sebulan lagi, nama tempat yang butuh persetujuan itu sangat susah. Kekurangan dan kelebihan selalu diterima oleh Iqbal dan Dino sebagai penanggungjawab acara tersebut.


"Lo yakin mau disini?" tanya Dino.

__ADS_1


Iqbal mengangguk, "Tempatnya luas, muat lah sekitar 100 orang lebih dan tenda juga bisa di isi 20 lebih lah." jawabnya.


Dino menatap gambar yang ada di laptop Iqbal, sebuah hutan yang memang tidak begitu menyeramkan. "Ada air terjun, dan kebun teh juga ga jauh dari sana." ucap Iqbal lagi.


Dino mengangguk, "Gue sih setuju aja, tapi harus acc sama Sammy dulu. Udah print belom?"


Iqbal mengambil sesuatu didalam tasnya, beberapa lembar kertas yang berisi proposal dan satu flashdisk untuk bahan presentasi. "Gue yakin anak-anak lain di faklutas lainnya akan berebut buat ikut. Tapi inget, kuotanya cuma 75 orang karena anggota BEM kita ada sekitar 15 orang." kata Iqbal.


Dino mengangguk saja sambil membolak-balik perlembar proposal itu, Iqbal menyeruput tehnya sambil sesekali melihat orang yang berlalu-lalang didepan mereka. Setiap camping yang mereka adakan itu setiap semester dengan tempat yang berbeda, kadang tidak sepenuhnya Iqbal yang memberikan rekomendasi tempat untuk stay cationnya ada beberapa anggota lain yang berminat.


"Gue ke Sammy dulu ya." ucap Dino setelah membaca semua proposal itu dan mempelajarinya.


Iqbal menatap ponselnya yang ternyata ada beberapa ucapan dari teman-temannya, ada orangtuanya juga. Ah Iqbal sampai lupa kalau hari ini adalah ulang tahunnya, ulang tahun yang setiap tahunnya selalu dirayakan oleh dirinya dan juga Nadine. Tapi semuanya berbeda, Iqbal tidak menerima pesan apapun dari Nadine, tapi hanya ada ucapan Aqila yang ia terima.


Pasti Nadine sangat marah dengan tindakannya kemarin, bentakan yang membuat Nadine tidak berkata apapun tapi dalam dirinya sangat marah padanya. Buktinya sudah jelas disini, dia tidak mengucapkan apapun tentang hari ulang tahunnya.


*dreett dreett*


Iqbal mengangkat telepon dari ibunya yang memintanya untuk ke rumah sakit, hal itu membuat Iqbal langsung bergegas ke tempat yang sudah Jihan berikan. Jarak yang ditempuh hanya 30 menit, hingga akhirnya Iqbal melihat sang ibu dengan duduk di depan ruangan yang ia tau itu tempat adiknya diperiksa.


"Ma .." panggil Iqbal dengan nafas yang terengah-engah.


Jihan menatap putra pertamanya, lalu memeluknya dengan erat menumpahkan segala kesedihan yang sudah lama ia tahan. Iqbal terdiam, dia membalas pelukan hangat ibunya itu dengan mengusap punggungnya.


"Ma, Farid baik-baik saja kan?"

__ADS_1


~'~


__ADS_2