
Katanya, sebelum kita dilahirkan akan diberikan gambaran bagaimana kita hidup didunia. Tapi kenapa Nadine setuju untuk dilahirkan? Masa kecil Nadine yang begitu sangat bahagia, mempunyai orangtua, kakek dan nenek, serta mempunyai teman sebayanya, dan mempunyai kakak walaupun bukan kakak kandungnya yang begitu sangat menyayangi dirinya.
Semakin tumbuh dewasa, tuhan memperlihatkan bagaimana Nadine tumbuh dengan tanpa adanya perhatian. Kasih sayang dari ibunya terhenti saat umurnya masih kecil untuk pergi selama-lamanya meninggalkan dunia, kasih sayang ayahnya juga terhenti saat kerjadian saat itu. Hanya ada satu orang yang ia bisa rasakan kasih sayang, bibi perawatnya yang sudah ia anggap seperti ibu kandungnya sendiri dan masih ada merawatnya hingga umurnya sudah 16 tahun. Nadine bersyukur, dia mempunyai bi Imah dan lebih bersyukur bunda Sarita melahirkan Hanasya yang membuat Nadine menjadi seorang kakak.
Hidup Nadine berubah setelah ada Hanasya, dia lebih banyak mengalah demi kebahagiaan adiknya dan terus melindungi adiknya. Sekalinya Hanasya menangis, Gionino tidak segan untuk memarahi bahkan memukl dengan gesper yang ia pakai. Awalnya sakit, tapi semakin kesini Nadine bisa menerima sakit itu. Mungkin banyak dari kalian yang kontra akan adanya sikap ini pada wanita, itu tidak berlaku untuk ayah yang terus membenci putrinya.
Gionino terus menerus menyuruh Nadine untuk tidak ada di dunia. Jika dirinya kalut dalam kemarahan, dibalik itu semuanya tanpa sepengetahuan ayahnya bahkan orang terdekatnya sekalipun Nadine juga banyak melakukan percobaan untuk pergi dari dunia, Tapi tuhan menyuruh Nadine untuk bertahan lebih lama. Bisa dilihat dari luka tangan yang begitu banyak hingga ke pundak, sehingga tidak ada tempat dikedua lengan itu.
Setiap saat membuka matanya hanya ada ketakutan yang ia dapatkan, ketakutan akan bentakan dari ayahnya, teriakan. Nadine terus menetralkan nafasnya yang tersengal-sengal akibat mimpi buruk yang terus menghantuinya setiap pagi selalu mimpi yang sama. Nadine hanya takut untuk kontrol ke dokter psikolog, di umurnya saat itu mungkin akan membuatnya orang-orang akan memandangnya gila atau tidak waras.
Beberapa bulan setelah mama Cahaya meninggal, Nadine mendekati sang ayah yang termenung di ruang tamu. Rumah yang begitu sepi membuat suara jangkrik yang terdengar disana.
"Ayah..." panggil Nadine yang mencoba mendekat.
Gionino masih diam dan matanya menatap kosong yang ada didepannya, "Ayah, kata tante Jihan. Nadine sudah bisa masuk sekolah, ayah." ucap Nadine yang duduk disebelah ayahnya dan mengguncang tangannya pelan.
Gionino yang merasa terganggu pun mendesah, dia menatap marah pada putrinya. "Bisa tidak, tidak usah ganggu?!" sentaknya.
Bi Imah yang mendengar itu langsung mendekat dan menggendong Nadine yang langsung menangis, usianya yang terbilang masih kecil pun sudah dapat bentakkan kasar dari Gionino.
Hari hari berlalu, sifat Gionino yang dulu kini hadir dengan versi yang lebih kejam. Kehilangan istri membuatnya tidak menerima takdirnya, memang semuanya akan pergi tapi bukankah ini terlalu cepat bagi Gionino? Bahkan putra kecil yang selama ini di nanti-nanti tidak sempat untuk dilahirkan.
Sejak saat itu jarak Nadine dan Gionino begitu jauh, hingga akhirnya Gionino mulai berbicara dengannya saat Nadine menggambar sesuatu di ruang tamu dengan bi Imah menemaninya.
"Itu siapa ayah?" unjuk Nadine pada perempuan cantik yang Gionino bawa.
"Istri ayah, mulai sekarang kamu memanggilnya bunda Sarita."
Nadine yang awalnya tidak suka, lama kelamaan menjadi menerima. Dia juga membutuhkan sosok ibu disampingnya, setelah ibu kandungnya meninggal dunia beberapa bulan lalu. Tapi sifatnya sama saja, Nadine tidak menerima kasih sayang itu. Nadine merasa hidupnya sendirian, bahkan karena perempuan itu Gionino bisa menyakiti Nadine.
•••
__ADS_1
Bi Imah hanya menangis mengingat kejadian beberapa tahun lalu, dia mengusap rambut Nadine yang sudah ia anggap seperti putrinya sendiri.
"Sabar non. Bibi yakin, semuanya akan indah suatu saat nanti." paraunya.
Nadine yang mendengar itu malah tambah terisak, saat sudah tenang baru lah bi Imah menyuapi Nadine untuk makan dan minum obat. Nadine hanya menghabiskan beberapa suap saja, sisanya ia tidak habiskan. Setelah bi Imah memberi Nadine obat, barulah handphone Nadine berdering menampilkan nama Rangga disana.
"Halo ka.."- Nadine dengan suara seraknya.
"Tidak menghubungi ku, Kamu habis tidur?" - Rangga.
Nadine meremas spreinya, bibirnya kelu saat ingin menceritakan semuanya. Dia memilih untuk berbohong.
"Iya ka, maaf tadi sehabis beli buku aku ketiduran." - Nadine.
"Oh, nanti jam 8 malam ada acara? Aku ingin ngajak kamu ke suatu tempat." - Rangga.
"Ga ada, emang mau kemana ka?" - Nadine.
"Sekarang aja bisa ga ka? Aku hanya ingin cari angin." - Nadine dengan pelan.
Rangga terdiam, "Hm, aku jemput 10 menit lagi." - jawabnya.
Nadine menutup teleponnya, dia tersenyum samar. Nadine akhirnya bangun dengan pelan, rintihan masih menghiasi bibirnya karena punggungnya yang masih perih.
~'~
Yudha menghampiri Marliana yang memasak. Ada kegundahan dalam hati mereka, "Aku hanya gugup saja mas, apalagi aku bukan orangtua Chika. Kalau mereka tau bagaimana? Apa mereka akan menerima anak kita? Apa mereka akan menerima masa lalu kita?"
Yudha terdiam sejenak, ada benarnya yang dikatakan Marliana. Kemungkinan terburuk, hubungan mereka akan tidak terjalin lagi. Tidak, Yudha tidak ingin Chika merasakan sakit lagi. Kali ini putrinya harus bahagia, bagaimanapun caranya.
"Kamu tidak harus pikirkan itu, aku yang akan memikirkan semuanya. Kita hanya menutup itu, dan tugas kita sekarang menyambut mereka dengan baik."
__ADS_1
Marliana menatap suaminya, keyakinan itu yang sukses membuat Marliana tidak memikirkan hal yang buruk. Kalau saja masa lalu bisa diubah, pasti Chika akan hidup bahagia dan Marliana tidak akan seputus asa ini untuk memikirkan yang terbaik demi masa depan anak tirinya itu. Walaupun Marliana dibenci, tidak berhak kah seorang ibu tiri masih menyayangi anak tirinya?
~'~
Disisi lain, Iqbal masih sibuk dengan adanya acara camping. Walaupun sudah dirumah, tapi grup kampus begitu banyak laporan yang ia terima. Bahkan kata Dino, ada fakultas lain yang ingin bergabung namun sayangnya sudah full bahkan sudah ada yang membayar dihari pertama mereka menyebarkan edaran tersebut.
"Bang.." panggil suara perempuan yang begitu pelan, yaitu Jihan yang melongok dibalik pintu kamarnya dengan kepala kecil dibawahnya yaitu Farid tersenyum.
Iqbal yang melihat itu terkekeh, memang ada saja kelakuan ibu dan anak kecil itu.
"Masuk aja sih ma."
Jihan dan Farid masuk ke dalam kamar dengan duduk di samping kasur, Farid yang sudah bermain dengan robotnya ditengah kasur pun membuat Iqbal mendekat.
"Kamu serius amat bang, ada acara penting ya?"
Iqbal mengangguk, "Ada acara camping sebulan lagi, ma. Makanya abang sibuk banget balesin chat mereka."
Jihan hanya mengangguk, "Kata papa, malam ini kita mau ke rumah Chika ya? Kamu sudah siap-siap?"
"Sudah ma, tenang aja hehe."
Jihan tersenyum, dia mengusap rambut putranya. Rasanya ingin sekali bercerita tentang Rembulan pada Iqbal, namun waktunya belum tepat.
"Bang, kamu sudah seserius itu hubungannya dengan Chika? Bukannya kamu ingin bekerja dulu sehabis lulus kuliah?" tanya Jihan.
"Aku juga ga seserius itu kok ma, lagipula ini hanya makan malam biasa aja."
Jihan mengangguk saja, "Mama sih berharap keluarga Chika dari keluarga baik-baik, sayang. Karena mama dan papa berharap yang menjadi pasangan hidup kamu itu perempuan yang baik."
Iqbal lupa, dia belum menceritakan latar belakang Chika dan keluarganya. Kalau Jihan dan Hadi tau, apa yang akan mereka lakukan? Mereka akan menerima Chika atau tidak?
__ADS_1
~'~