
Sementara ditempat yang berbeda, Nadine dengan Aqila sibuk mengantar beberapa buku untuk menaruhnya kembali ke perpustakaan saat jam istirahat.
"Gue udah ucapin ulang tahun ke ka Iqbal." ucap Aqila saat mereka sedang berjalan menuju perpustakaan yang berada di lantai dasar tersebut.
Nadine hanya terdiam, dia malah menunduk sedikit. Memang agak sulit Nadine untuk tidak mengucapkan kata selamat ulang tahun itu, karena setiap ulang tahunnya selalu dirayakan berdua. Aqila memang sahabat mereka, namun tidak sedekat Nadine dan Iqbal.
"Apa menurut lo, hadiahnya gue kasih langsung aja?" tanya Aqila.
"Jangan, mending nanti aja. Soalnya dia lagi nemenin pacarnya dirumah sakit." jawab Nadine.
Aqila terdiam, "Oh gitu.." jawabnya pelan.
Nadine menatap wajah sedih sahabatnya itu, walaupun Aqila tidak bercerita tentang perasaannya terhadap Iqbal, tapi gerak-gerik wanita itu memang sudah terbaca memang menyukai Iqbal sudah dari lama.
Selesai menaruh buku, Nadine dan Aqila memilih untuk ke kantin yang dijuluki kantin murah. Memilih menu makan siang kali ini adalah bakso, sedangkan Aqila memilih untuk indomie saja. Beberapa masang mata masih saja menatap tidak suka pada Nadine, dan tentu membuat perempuan itu menjadi tidak nyaman.
"Udah fokus makan aja, anggep mereka patung." kata Aqila.
Nadine tersenyum kaku, lalu memakan makanan bakso yang ia pesan. Memang untuk masalah seperti ini, Aqila yang paling peka. Aqila juga yang membantu jika dalam kondisi apapun, seperti dirinya yang terluka akibat pukulan dari Gionino, maupun waktu yang Aqila siap luangkan untuknya. Nadine hanya berharap persahabatan ini akan awet sampai diri mereka menua, walaupun ada ketakutan dalam hatinya yang entah sebabnya apa.
"La.."
"Hm.." jawab Aqila sambil mengaduk mie itu.
"Terus begini ya, jangan berubah." ucap Nadine pelan.
Aqila terdiam, dia menatap sahabatnya itu. Sahabat yang hanya ia miliki satu-satunya, sahabat yang mengerti Aqila seperti apa, sahabat yang sudah ia anggap seperti adik baginya.
__ADS_1
Senyum Aqila terbit di bibirnya, "Lo juga, jangan sampe persahabatan kita rusak. Oke?" Aqila menautkan jari kelingkingnya yang disambut oleh Nadine.
"Udah ah! Makan, ga usah sedih-sedihan begini yang ada gue makan air mata bukan makan mie."
Nadine terkekeh, dan mereka melanjutkan makan siang bersama.
~'~
Siang harinya, Gionino sudah mendarat dengan selamat dengan perjalanan bisnisnya keluar kota. Siang itu Gionino sama sekali tidak tau dengan kedatangan David, adik iparnya dan sekaligus kamar yang dikhususkan untuk menyimpan barang Cahaya dipindahkan.
Sarita hanya membaca majalan terbaru diruang tamu dengan pemandangan tukang bersih-bersih membawa barang-barang yang tidak terpakai ke dalam gudang yang berada dihalaman belakang. Kali ini Sarita tidak mau lemah, kali ini sudah cukup dirinya menjadi istri bayangan suaminya. Sarita juga paham apa yang terjadi setelah ia lakukan semua ini, tapi dirinya berhak atas rumah tangganya sendiri.
Mobil Gionino masuk ke dalam perkarangan rumah, bi Imah seketika gemetar ketakutan. "Nyonya..." ucap bi Imah memelas. Walaupun umurnya sudah tua, tapi kalau Gionino sudah marah itu tidak memandang umur siapapun akan kena imbas marahnya. Tapi selama bi Imah bekerja selama 17 tahun lebih tiu tidak menerima bentakan dari Gionino dan hanya teguran saja.
Gionino mengucapkan salam sebelum masuk ke dalam rumah itu seketika mengeryitkan dahinya melihat suasana yang cukup ramai, Gionino menatap laki-laki kurus mengangkut lukisan besar dan matanya mengarah pada kamar yang ia mewantinya untuk tidak ada siapapun memasukinya, tapi kini pintu itu sudah terbuka lebar.
"Ya! Kalian kenapa berani sekali!" ucap Gionino dengan suara yang meninggi lalu mendekati para pekerja bangunan itu.
"Lanjutkan saja pekerjaan kalian, jangan dengerin orang itu." kata Sarita yang kini bangkit dan melipat kedua tangannya.
Gionino mengetatkan rahangnya, matanya menatap tidak percaya pada istrinya yang melakukan ini. Gionino menarik lengan Sarita untuk masuk ke dalam kamar mereka, bi Imah yang menatap itu seketika tidak tau harus berbuat seperti apa.
"Duhhh.. Gimana ini.." eluh bi Imah dengan mengusap tangannya.
Sementara di dalam kamar sepasang suami istri itu bersitegang, Sarita menampik lengannya yang dicengkram kuat oleh Gionino.
"Kamu apa-apaan sih mas! Sakit tau ga!" ucap Sarita dengan kesal.
__ADS_1
"Kenapa kamu mengusik ruangan ku dan Cahaya? Kenapa kamu berani sekali saat aku tidak ada dirumah!"
Sarita mendengus, "Aku hanya memindahkannya ke gudang mas, lagipula gudang sudah bersih dan lagipula adik ku ingin tinggal disini!"
Gionino menatap tidak percaya istrinya, bagaimana bisa dia melawan? Apa karena perdebatan dua hari lalu? Sehingga Sarita bisa melawannya dengan cara membuang barang-barang almarhumah istrinya.
Sarita menatap suaminya itu, "Itu hanya lukisan yang aku pindahkan! Bukan aku buang!"
Gionino yang mendengar itu seketika salah tangannya sudah melayang ke udara, Sarita menutup matanya untuk menerima aba-aba tamparan itu. Setelah beberapa detik tidak ada apapun yang dirasakannya, Sarita berani membuka matanya melihat dengan jelas tangan Gionino seakan-akan ingin memberinya tamparan.
Mata Sarita berkaca-kaca, "Kalau kamu tidak mencintai aku, seharusnya kamu tidak menikahi aku!" ucap Sarita pelan.
Tangan Gionino yang berada di udara itu terkepal, lalu mengusap wajahnya dengan kasar. Dari awal juga Gionino ingin hidupnya sendiri, namun saat surat itu dia temukan di tas mendiang istrinya yang bertuliskan untuk jangan hidup sendiri sampai akhir serta menuliskan wasiat atau pesan agar bisa bersama sahabatnya itu yang tak lain adalah Sarita.
Hingga lahirlah putri keduanya dari Sarita, yaitu Hanasya yang membuat Gionino enggan meninggalkan perempuan yang kini menjadi istrinya itu. Gionino lebih sayang pada Hanasya, daripada Sarita maupun Nadine yang tak lain putri pertamanya itu. Hanasya masih butuh sosok ayah disampingnya.
"Apa aku tidak berhak melakukan ini? Apa kamu tidak sadar, bahwa perempuan yang sebenernya dan ada wujudnya sekarang itu aku yaitu istri kamu sendiri." kata Sarita lagi dengan mata yang masih berkaca-kaca. "Kalau kamu tidak mengingkan aku lagi, silahkan ke pengadilan agama mas. Aku akan terima semuanya, dan membawa Hanasya pergi dari sini. Kamu tidak perlu khawatir." lanjutnya lagi.
Gionino menatap tidak percaya perempuan dihadapannya. Selama ini, Sarita tidak pernah menyatakan hal itu. Hal yang bersangkutan dengan perpisahan. Apa perempuan ini menyerah?
*tok tok*
Suara ketuka pintu mencairkan suasana yang memanas itu, Sarita mengusap air matanya yang jatuh karena berkedip. Akhirnya perempuan itu membuka pintunya yang ternyata ada bi Imah disana.
"Semuanya sudah beres nyonya. Tukangnya mau pergi." ucap bi Imah.
Sarita mengangguk, dia meraih tas kecil yang berisi uang lalu keluar dari kamar yang masih menyisahkan Gionino disana. Sementara Gionino keluar ke balkon kamar, dia mengusap wajahnya dengan kasar. Tubuhnya sangat lelah sekali, dan pikirannya semakin berat dengan masalah hadir berurutan seperti ini.
__ADS_1
~'~
Maaf telat posting, biasanya cepet walaupun upload jam setengah 9 malem. Kayaknya editor ku turu guyss, lama tinjau uploadnya:")