
Setelah sarapan usai, Nadine mencuci piring bekasnya dan berlalu ke kamar sebelumnya mengecek Hanasya yang masih terlelap karena waktu libur seperti ini memang sering dimanfaatkan untuk tidur lebih lama. Nadine hanya tersenyum melihat wajah adiknya yang masih tertidur, dan setelahnya Nadine baru benar-benar masuk ke dalam kamar. Tentu, tidak lupa untuk menguncinya dengan rapat.
Nadine yang membuka laptopnya pun melanjutkan beberapa tes bahasa inggris, dan beberapa tes bahasa lainnya untuk kebutuhannya saat kuliah di luar negeri nantinya serta mencari tempat beasiswa yang full mencakup semuanya. Nadine bertekad setelah lulus nanti, dirinya tidak akan menyusahkan orangtuanya lagi. Terlebih ayahnya, Gionino. Pria itu sangat menginginkan dirinya pergi dari pandangannya sejauh mungkin, hingga tidak pernah terlihat didepannya lagi. Kejam memang, tapi Nadine harus bisa menghadapi dunia ini.
Setelah cukup lama berkutat dengan laptop, handphonenya berdering menampilkan nama Jihan disana.
"Halo tante." - Nadine.
"Halo ka Nad, ini Farid bukan mama yang nelepon." - Farid.
Seketika senyum Nadine mengembang mendengar jawaban Farid.
"Iya sayang, ada apa kamu telepon tante?" - Nadine.
"Gpp, Farid kangen aja sama tante. Tante ga kangen sama Farid?" - Farid.
"Kangen dong, kangen banget!" - Nadine.
"Ke rumah bang Ibal ya, ka. Kita main disini." - Farid.
Seketika Nadine terbeku, ternyata tante Jihan dan om Hadi sudah berada di Jakarta. Kalau seperti ini, apa Iqbal tidak berbicara tentang mereka yang bertengkar?
"Halo, tante Nadine." - ucap Farid diseberang sana.
"Oh iya, nanti tante kalau punya waktu kesana ya sayang." - Nadine.
Setelah telepon berakhir, Nadine berkutat dengan pikirannya sendiri. Dia menutup laptopnya, lalu beranjak melihat jam dinding dikamarnya. Biasanya kalau libur, jam kerja Nadine normal dimulai jam 10 pagi. Memang dia sengaja melakukan itu untuk bisa menabung juga, hingga tabungannya terbilang lebih dari cukup untuk hidup di negeri orang.
Setelah sudah rapih semuanya, Nadine keluar dari kamarnya dan bergegas untuk pergi ke tempat kerja.
"Mau kerja?" tanya David yang duduk di ruang keluarga sambil memegang remote ditangannya.
Nadine yang turun selangkah dari tangga itu akhirnya menyahut, "Hm." jawabnya.
"Oh kalau gitu hati-hati."
Nadine hanya mengangguk saja, kecanggungan mereka memang benar-benar terasa. Tapi David terlalu cepat akrab sekali, dan itu membuat Nadine menjadi tidak nyaman. Terlebih laki-laki yang menurutnya masih asing tersebut. Ojek online pun menunggu di depan rumahnya untuk menuju kafe.
__ADS_1
Nadine menatap jalanan yang begitu padat, saat di lampu merah Nadine menatap satu keluarga yang berada didalam mobil sedang bercanda. Spontan melihat itu Nadine tersenyum berkaca-kaca, untungnya Nadine sempat merasakan hal itu sejak dirinya kecil. "Indah sekali, semoga anak itu akan selalu merasakan kebahagiaan dari orangtuanya." batin Nadine yang mengusap sudut air matanya.
Memang Nadine tumbuh tanpa adanya kasih sayang dari orangtua, tapi dia akan bertekad untuk mengasihi adiknya lebih dari apapun dan berjanji Hanasya tidak akan kekurangan apapun, sehingga adiknya tidak akan bernasib sama pada dirinya. Nadine seketika menatap beberapa sayatan yang ada dilengannya sebagai tanda dia bisa bertahan sejauh ini, itu sebabnya Nadine memakai lengan panjang terus menerus baik di sekolah maupun di rumah.
~'~
Gionino mengusap wajahnya dengan kasar, melihat kaca depan bank tempatnya bekerja begitu banyak coretan. Dia berniat untuk ke kantor siang hari, tapi saat mendapatkan laporan kaca kantornya tercoret membuat Gionino naik darah dan ditambah bocah itu katanya langsung dibawa pergi oleh orangtuanya yang hanya bermodalkan kata maaf.
"Kan sudah saya bilang, kalau hari sabtu itu jangan dibuka rolling doornya!" tegur Gionino pada salah satu satpam yang bekerja di hari itu.
"Maaf pak, saya berniat menyuruh Dandi buat bersihin kaca ini dan saya tidak tau bahwa nasabah yang ada janji untuk menarik uang itu membawa anaknya kesini."
Gionino menghela nafasnya dengan kasar, Dandi pun datang dengan tergopoh-gopoh membawa ember kecil berisi air serta lap seperti kanebo untuk membersihkan kaca tersebut. Sementara anak kecil yang mereka maksud sedang memperhatikan mereka dari belakang mobil yang terparkir tidak jauh dari bank Gionino.
"Kata mama, apapun masalahnya Karin ga boleh takut dan harus Karin hadapin." gumam bocah itu.
Karin melangkahkan kakinya menuju ke tiga laki-laki yang sibuk melakukan aktifitas tersebut, ada yang mengelap, ada yang memantaunya, dan ada yang membantunya. "Pokoknya kalau minggu depan harus ditutup rolling doornya!" tekan Gionino.
Karin menarik ujung kerah tangannya Gionino yang berkecak pinggang, Gionino menatap yang menarik tangannya dan seketika terdiam. Matanya yang bulat, rambutnya yang ikal mengingatkannya pada Nadine saat kecil, mirip sangat mirip sekali.
"Om.." sapa Karin.
"Orangtua kamu kemana?" tanya Gionino yang kini suaranya melembut.
"Di dalam, mama Karin lagi ambil uang." jawab Karin, "Maaf ya om, yang melakukan coretan itu Karin. Karin udah berusaha untuk hapus kok, tapi engga bisa." lanjutnya lagi.
Gionino lagi-lagi hanya terdiam, kenapa anak ini seperti tidak asing baginya? dan rasanya seperti ada sesuatu yang bergejolak dalam hatinya, untuk menegurnya saja tidak bisa. Gionino berjongkok untuk menyamaratakan tingginya, lalu mengusap rambut anak itu.
"Hm, tidak apa-apa. Om, tidak marah. Tapi jangan ngelakuin hal ini lagi ya." ucapnya.
Karin tersenyum dan mengangguk dengan semangat. Tak berselang lama, pintu kaca itu terbuka menampilkan seorang wanita yang memakai masker di wajahnya. Seketika jantung Rembulan berdetak melihat anaknya bersama Gionino.
"Karinda!" panggilnya.
Kedua manusia itu berbalik, menatap Rembulan. Karin berlari kecil, dan langsung menggenggam tangan Karinda dengan erat. Rembulan memberikan gestur untuk pamit, dia tidak mau terlalu intens dan takut akan ketahuan oleh Gionino mengenai identitasnya.
"Tunggu.."
__ADS_1
Rembulan yang mendengar itu hanya mengutuk dirinya sendiri, Rembulan akhirnya berbalik. Gionino menatap mata perempuan yang ada dihadapannya, dan menyerahkan sesuatu pada Rembulan.
"Jatuh." ucap Gionino.
Rembulan menatap tangan yang menyerahkan dompetnya, "Terimakasih banyak." balas Rembulan dengan singkat.
Karin tersenyum, "Dadah om, sampe ketemu lagi ya!" kata Karin.
Rembulan menatap putrinya yang melihat interaksi barusan, entah kenapa dadanya seperti nyeri dan langsung membawa anaknya masuk ke dalam mobil yang terparkir diparkiran bank tersebut. Melihat Gionino yang menjalani hidupnya biasa saja membuat Rembulan menahan sesak di dadanya, setelah masuk ke dalam mobil seketika melepaskan maskernya dan membuka sedikit kaca mobilnya untuk mengais udara yang begitu menyesakkan.
"Mama.."
Rembulan berusaha untuk tenang, "Mama tidak apa-apa, mama harap kamu tidak berbicara pada orang asing lagi." ucapnya.
Karin hanya menunduk, dia memainkan kuku-kuku kecilnya. "Karin tidak sengaja mencoret kaca, tapi paman itu baik. Dia maafin Karin, dan kata mama juga Karin harus bisa menghadapi masalah? Masalah itu Karin yang buat lalu Karin juga udah minta maaf." ujarnya.
Setelah mendengar hal itu Rembulan mencoba untuk duduk mengarah pada putrinya, "Hm, maafin mama. Mama terlalu takut kehilangan Karin lagi." ucapnya pelan.
"Kenapa harus kehilangan lagi? Kan mama udah milikin Karin lagi."
Rembulan memeluk putrinya, dia hanya takut jika suatu saat mimpi buruknya akan terjadi. Setelah semuanya sudah membaik, Rembulan mengendarai mobilnya meninggalkan area bank untuk pulang.
Sementara Gionino masih terdiam diruangannya, dia masih memikirkan anak yang menurutnya tidak asing. Gionino masih memikirkan mata anak itu yang sama seperti Cahaya, istrinya.
~'~
Ditempat lainnya, seorang wanita sedang menikmati waktunya yang ia lepaskan sementara dari peran ibu untuk satu hari ini. Perempuan itu menatap langit dari balkon kamar apartemennya dengan jubah mandi yang masih melekat dalam tubuhnya.
"Kau tidak mau mandi?" tanya seseorang di dalam kamar.
"Tidak, badan ku masih sakit."
"Kalau gitu aku pijit di dalam kamar mandi." sahut pria itu.
Perempuan itu hanya terkekeh, "Kamu mandi saja, aku tidak akan tertipu lagi!."
Setelah mendengar pintu tertutup, perempuan itu masih menatap langit. Hari ini dia melakukan hal yang dulu ia lakukan sebelum menikah, dan mengingat hal itu hanya menghela nafasnya sejenak. Memang berat, tapi namanya hati yang dipermainkan harus ada pembalasannya juga, bukan? Biar hatinya sama-sama merasakan namanya sakit.
__ADS_1
~'~
Follow my Instagram: @hi.abcdefghiloveu , thank youu:)