Luka Dalam Keluarga

Luka Dalam Keluarga
Bab 30


__ADS_3

Nadine terdiam, dia menutup matanya saat suara raungan itu sampai ke telinganya. Yang berteriak sekarang bukan Gionino, tapi Sarita. Ibu tiri yang sudah masuk ke dalam hidupnya dan hidup keluarganya. Ibu tiri yang melahirkan anak dari ayah Nadine.


Sarita kini sudah tepat di depan Nadine, "Kamu habis darimana? Kamu tau, anak saya sudah 1 jam menunggu kamu! Dasar anak tidak tau diri!" bentakkan serta cacian itu terdengar sangat jelas.


Bi Imah yang mendengar itu hanya memperhatikannya dari dapur dengan perasaan yang gelisah, hatinya pun turut sedih dengan apa yang terjadi hari ini. Untungnya Gionino sedang tidak ada di rumah, entah pergi kemana saat setelah sepasang suami istri itu bertengkar.


"Ma-maaf bun, Nadine tadi main-"


"Main? Bisa-bisanya kamu main?!" ucap Sarita dengan suara yang masih tinggi, matanya melotot tajam.


Nadine makin menundukkan wajahnya, air matanya lagi-lagi menetes. Begini lah penderitaan Nadine, jika tidak ada sang ayah yang mengomelinya dan sudah pasti Sarita akan mengomelinya walaupun tidak pernah menyiksanya seperti Gionino yang melukai tubuhnya dengan gesper miliknya.


"Tugas kamu itu setelah pulang sekolah, ya menjemput Hanasya! Dan bisa-bisanya kamu main? Anak saya kalau di culik bagaimana? Apa kamu tidak berpikir anak saya ketakutannya seperti apa?!"


Nadine hanya diam, air matanya terus mengalir tanpa henti. Tubuhnya bergetar hebat, hingga dirinya tersadar ada guncangan yang membuat Nadine membuka matanya.


"Non, tidak apa-apa?" tanya bi Imah dengan wajah panik.


Nadine yang masih menangis itu menelisik isi rumahnya, dirinya berdiri memang tidak jauh dari ruang tamu semuanya tidak ada termasuk bunda Sarita. Berarti tadi cuma mimpi? Tapi seperti nyata sekali.


Bi Imah mengusap wajah Nadine dengan raut yang masih panik, "Nyonya dan tuan tidak ada disini, non Nadine jangan takut ya." ucap bi Imah pelan.  Mendengar hal itu tiba-tiba saja tangisan Nadine pecah, dia memeluk bi Imah yang sudah ia anggap seperti ibunya sekaligus neneknya sendiri.


"Ssssttt.. Udah non, semuanya baik-baik aja." ucap bi Imah pelan, suara pun ikut bergetar menahan agar tidak menangis. Tangisan Nadine tentu sangat menyayat hatinya, traumanya tentu sangat membekas dalam ingatannya.


Bi Imah memperhatikan Nadine saat pulang tadi, hinggap perempuan itu berdiri sambil tubuhnya bergetar dan menutup matanya dengan rapat. Bi Imah langsung mendekat, dan mengguncang tubuh perempuan itu dengan pelan agar tersadar.


"Hanasya mana bi? Pasti dia nangis kan aku lupa jemput tadi?" tanya Nadine.


Bi Imah menggelengkan kepalanya, "Lagi les, untung ada temannya tadi yang mengajak non Hana berangkat bersama dari sekolah."

__ADS_1


Mendengar hal itu tidak tau harus seperti apa, antara lega atau sedih. Mimpi barusan seperti nyata sekali, kalau benar terjadi Nadine tidak bisa bayangkan bagaimana punggungnya atau bagian mana lagi yang akan terluka lagi. Usapan bi Imah ke punggung cukup membuat Nadine tenang, hingga akhirnya dia lah yang menemani Nadine untuk ke kamar.


Lewat kamar yang tak asing dengan ruangan yang terbuka membuat raut wajah Nadine bertanya-tanya pada bi Imah.


"Nyonya Sarita ingin memakai kamar ini untuk den David, jadi bibi bersihkan."


"Jadi pria itu tinggal disini?" tanya Nadine pelan, Bi Imah tentu mengangguk.


"Lalu foto dan lukisan mama dimana?" tanya Nadine lagi.


"Di gudang, karena itu mereka bertengkar dan pergi entah kemana."


Nadine kembali berkaca-kaca melihat kamar yang sekarang sudah terbuka kembali, suasanannya seperti dulu dan tidak ada perubahan. Dulu, Nadine jika ketakutan atau tidak mau tidur sendiri, pasti akan tidur bersama mereka di kamar itu.


~'~


Di sisi lain, Yudha sedang bertengger di depan kamar karena sudah 2 jam lebih Marliana tidak keluar. Yudha terus mengetuk kamar itu dengan pelan, sepertinya istirnya itu marah padanya karena sedaritadi diam dan sekarang seakan memperjelas semuanya. Sebenarnya apa yang terjadi?


Tidak ada sahutan apapun, membuat Yudha merasakan khawatir. Apa yang Marliana dan Chika bicarakan? Sampai istrinya itu tidak keluar dari kamarnya.


"Apa aku ada salah? Kalau iya, aku minta maaf sayang. Kamu boleh menghukum ku, kamu boleh memukul ku."


Sementara Marliana di dalam sana hanya menangis, lampu dikamarnya pun sengaja ia matikan. Keputusan ini sangat berat untuknya, dan kemungkinan Yudha tidak akan setuju dengan pernyataan ini. Mereka juga sudah melewati banyak hal hingga sampai ke titik ini itu sangat tidak mudah.


Setelah jam menunjukkan jam 5 sore, Yudha yang terpaksa memesan makanan untuk makan malam mereka karena sepertinya Marliana masih berdiam diri di dalam kamarnya.


Yudha memandang pintu kamar berwarna coklat itu dari dapur, menghela nafasnya. Handphonenya berbunyi menampilkan Romero disana.


"Pak, bisa ke kantor sebentar? Ada beberapa masalah dan tandatangan bapak perihal kerjasama." - Romero.

__ADS_1


Yudha hanya bergumam sebagai jawaban, lalu mengetuk kembali kamar istrinya itu.


"Sayang, aku ke kantor. Kamu jangan masak karena aku sudah membeli makanan dan sudah aku masukan dalam kulkas." ucap yudha, "I love u." lanjutnya.


*Krik..krikk*


Hanya sunyi yang Yudha dengar, biasanya Marliana selalu membalasnya dengan keluar kamar lalu memeluknya dengan erat serta memberikan pesan-pesan sebelum dirinya pergi bekerja. Tapi sekarang berbeda, bahkan mendengar suaranya saja tidak dan keluar dari kamarnya saja tidak. Yudha terus melangkah menuju basement dan mengendarai mobil untuk ke kantor.


Marliana akhirnya keluar dari kamar, dia berjalan menuju dapur untuk melihat makanan yang ternyata ada 5 bungkus makanan yang masih tertutup rapat.


"Apa aku harus meninggalkan mas Yudha demi Chika? Apa ini yang terbaik untuk kami? Tapi, mas Yudha sudah begitu baik pada ku." gumam Marliana sambil mengusap air matanya.


Marliana menatap kertas note yang tertempel di kulkas, dia membacanya dengan air matanya yang lagi-lagi menetes.


'Sayang, aku sudah membelikan kamu makanan. Aku ke kantor dulu ya sebentar. Maaf kalau hari ini aku membuat mu kesal, bisa kah kamu memaafkan aku? Buka pintunya yaa, aku sangat merindukan mu.'


Marliana menatap handphonenya, dia mengirim suatu pesan pada seseorang. Dia berharap ini semua yang terbaik, Chika akan kembali baik padanya dan menganggap ibu sekaligus teman untuknya. Marliana akan terus merebut hati anak tirinya itu, dia juga tidak boleh terlihat lemah. 10 tahun bersama Yudha bukan lah waktu yang sebentar, kami saling mencintai dan tidak seharusnya Marliana bersikap seperti tadi dengan mengurung dirinya sendiri.


~'~


Di samping itu, seorang perempuan cantik sedang sibuk menguncir seorang anak perempuan. Senyumnya tidak terlepas ketika dirinya sembuh dari sakit, lalu memilih untuk menjemput anaknya yang ia titipkan sejak 3 tahun lalu di panti asuhan.


"Sudah cantik, karin sayang." kata perempuan itu.


Karin berbalik lalu memeluk ibunya, "Terimakasih, mama Bulan."


Iya, perempuan itu bernama Bulan. Perempuan yang mengambil Karin kembali, perempuan yang memiliki sakit auto imun, serta beberapa kejadian dimasa lalu yang membuat anaknya itu ditempatkan di panti asuhan. Untung sekali, Karin sangat pengertian pada dirinya dan selalu menunggunya untuk kembali.


~'~

__ADS_1


•••


Follow my Instagram: @hi.abcdefghiloveu , thank u❤️.


__ADS_2