
Makan malam pun sudah terlaksana dengan baik, mereka dari 2 keluarga sedang berbincang-bincang ringan. Farid lebih memilih main sendiri, dan Chika masih berupaya untuk mengajak bocah kecil itu bermain, namun hasilnya nihil. Farid memang tipe anak yang tidak gampang dekat dan langsung akrab dengan orang baru.
"Farid, mau liat mobil-mobilan tante Chika? Ada banyak loh." ajak Chika. Tentu, tawaran itu dijawab gelengan kepala oleh Farid.
"Sudah lah, Chik. Kamu masih sakit, ngapain ngajak main Farid? Dia bisa main sendiri kok."
Chika yang mendengar kata-kata Iqbal pun memilih untuk duduk di sofa, pria itu sibuk dengan handphonenya. "Kamu ngebuat acara lagi ya di kampus, bee?" tanya Chika.
Iqbal mengangguk, "Aku boleh ikut? Aku cuma pengen ikut acara itu." ucap Chika.
Belum sempat menjawab, handphone Iqbal berbunyi. Chika melirik dan mendapati nama Nadine disana, benar-benar tidak tepat! Kenapa harus menelpon sekarang?! Perempuan itu merusak semuanya kalau Iqbal mengangkatnya.
"Jangan di angkat, bee. Ini acara keluarga kita loh." cegah Chika.
Iqbal yang mendengar itu bergenyit, "Ini penting, siapa tau Nadine lagi ada masalah karena engga biasanya dia telepon malem begini."
Iqbal akhirnya berdiri lalu sedikit menjauh dari Chika, tentu perempuan itu kesal dan sedih ditambah wajah Iqbal berubah menjadi khawatir. Orangtua mereka yang melihat wajah Iqbal berubah panik pun menjadi heran, beda dengan Chika yang berusaha menahan mati-matian untuk tidak menangis saat Iqbal benar-benar pergi meninggalkan peretmuan keluarga mereka.
Chika akhirnya pergi masuk ke dalam kamar, Jihan dan Hadi melihat Chika pergi pun tentu menjadi meminta maaf atas apa yang terjadi karena putranya pergi entah kemana.
~'~
Gionino yang geram pun meremas ponselnya, dia menatap CCTV yang menggambarkan putrinya keluar dengan seorang pria yang ia duga pacar anaknya karena perlakuan mesra dari pria yang takĀ ia kenal itu melebihi Iqbal yang hanya sahabat putrinya saja, padahal dia belum sembuh benar sudah berani untuk keluar rumah. Dengan suara tinggi Gionino memanggil Hanasya dan tentu bocah itu langsung menemui ayahnya yang ada di kamarnya, Hanasya lalu menelepon sang kakak agar cepat pulang.
Nadine meminta supir taksi untuk menurunkannya disebuah jalan yang tidak begitu ramai setelah sudah memutar-mutar tidak jelas 1 jam lebih, Nadine turun dan duduk dibangku disamping jalan. Semuanya seperti tidak berharga lagi bagi dirinya, dia kehilangan semuanya. Nadine menelepon Iqbal, hanya itungan 2 menit pria itu sudah mengangkat teleponnya. Isakkan Nadine semakin kencang ketika Iqbal bertanya apa yang terjadi, dia juga meminta share location.
"Sebentar lagi aku sampai, tenang ya."
Tak butuh waktu lama juga Iqbal datang, dia terengah-engah dan Nadine langsung memeluknya.
__ADS_1
"Ssttt udah.. cup cup.. (sambil menepuk-nepuk kepala Nadine pelan) Kenapa? Malem begini kok keluar?"
Nadine hanya diam, dia terus tidak menggubris. Iqbal membalas memeluknya, pakaian jas masih melekat ditubuhnya. Pria itu terus menenangkan sahabat kecilnya dan meninggalkan acara yang orangtua Chika buat demi Nadine. Setelah tenang, Nadine dan Iqbal duduk dibangku trotoar itu.
"Badan kamu hangat, Nadine. Kamu sakit? Kok keluar? Jauh lagi keluarnya dan malem begini." tegurnya.
Nadine hanya menunduk, "Maaf ka, aku hanya capek karena debat sama ayah dan jadinya aku pergi sejauh ini." ucapnya bohong.
Iya, Nadine belum menceritakan dirinya punya kekasih sebelumnya, dan kalau tau pria itu menyakiti dirinya pasti Iqbal akan berbuat yang tidak-tidak sepertinya dulu saat teman sekolah Nadine berulah dan teman Nadine pun jadi kena pukulan oleh Iqbal.
Iqbal hanya menghela nafasnya, "Sekarang gimana? Mau pulang aja?".
Nadine mengangguk, "Tapi maaf, aku ga bawa motor. Kita naik taksi aja ya.". Nadine sama sekali tidak menolak dan hanya menurutinya saja.
Setibanya Nadine dirumah, tentu mendapat pandangan tajam dari sang ayah. Entah keberanian apa dalam diri Nadine yang membuat wanita itu berjalan melewati ayahnya tanpa sepatah kata pun yang keluar dari bibirnya untuk langsung menuju kamarnya, entahlah dia rasa sudah lelah dengan semuanya. Nadine mengunci pintu kamarnya dengan rapat, air matanya tumpah lagi setelah apa yang terjadi hari ini.
~'~
Gionino mencoba mendekat pada perempuan yang sibuk bercanda dengan anak kecil perempuan, dia mengerjapkan matanya untuk memastikan apa yang ia lihat benar.
"Cahaya.." ucapnya lirih dengan berkaca-kaca.
Rembulan yang mendengar itu terdiam menatap laki-laki yang sudah ada dihadapannya. Bodoh, kenapa ia bisa teledor ketahuan dengan Gionino?
"Cahaya.. Istri ku.."
Gionino langsung mendekat dan memeluk Cahaya yang terbalut hijab itu. Tentu perempuan itu bukan Cahaya, tapi Rembulan. Anak kecil yang bersamanya menatap dirinya dengan heran, Karinda tau persis pria yang dulu sempat ia temui dan masih teringat jelas dalam ingatannya.
"Maaf saya bukan Cahaya, jadi lepaskan atau saya teriak?!" ancam Rembulan yang berontak.
__ADS_1
Gionino yang mendengar itu menatap wajah yang ia anggap istrinya itu tanpa melepaskan tangan yang berada dipundaknya, Gionino meneliti wajah itu yang sama persis dengan Cahaya walaupun dengan balutan hijab. Gionino tentu menangis haru setelah tau istrinya kembali ke hadapannya, ia dekap dengan erat tubuh kecil yang is anggap Cahaya.
"Sayang.. Kamu kembali? Kamu kembali untukku?" tanyanya dengan tidak percaya.
Rembulan akhirnya bisa melepaskan diri dari dekapan itu, tatapan benci dan risih terbit di mata Rembulan yang indah.
"Aku bukan Cahaya! Kamu ngigau atau gimana?!" ucapnya dengan marah.
"Om, ini mama bulan, mama Karin." sahut Karinda yang kini bersuara.
Gionino menatap Karinda yang tepat disamping Rembulan, dia mencoba untuk melihat wajah itu, wajah yang ia anggap Cahaya.
"Kenapa sama persis? Kamu seperti Cahaya, walaupun berhijab. Aku tidak mungkin salah orang, dan tidak mengenali kamu, istriku."
Rembulan menahan segala emosionalnya,"Aku bukan Cahaya! Saya tegaskan sekali lagi pak Gionino, saya bukan Cahaya!"
Gionino yang tidak mengenalkan namanya pun terdiam, dia mencerna apa yang dikatakan perempuan dihadapannya barusan.
"Tunggu, kamu bahkan mengenal saya. Jika kamu sendiri saja bukan Cahaya, kenapa kamu mengenal saya?"
Rembulan merutuki dirinya sendiri, dia juga baru sadar. Karinda hanya menatap dua orang dewasa itu berdebat, anak itu bahkan tidak mengerti apa yang mereka bahas.
"Ayo Karin, kita pulang." alihnya, menarik tangan putrinya dengan pelan untuk pergi keluar dari taman tersebut.
Gionino yang merasa janggal pun mengikuti mereka, hingga akhirnya Rembulan berhenti lalu menatapnya dengan tidak suka. Gionino tentu menjadi tau, tatapan itu bukan tatapan mata Cahaya. Istrinya menatapnya penuh cinta, sedangkan wanita yang sangat mirip dengan almarhum istrinya itu berbeda, ada kesedihan bahkan kemarahan dalam mata itu.
~'~
Follow my Instagram: @hi.abcdefghiloveu , thank u :)
__ADS_1