Luka Dalam Keluarga

Luka Dalam Keluarga
Bab 25


__ADS_3

"Om! Bangun!" ucap Hanasya yang membangunkan David pagi hari dengan guncangan ditubuh pria itu, sudah 10 menit Hanasya mencoba untuk membangunkannya, tapi belum juga bangun.


David memakai kamar Hanasya sementara, lagipula di rumah ini ada 4 kamar dan salah satunya sebisa mungkin kenangan Cahaya tidak ada lagi dalam ruangan itu dan akan digantikan oleh David yang menempati kamar itu.


"Ih, om ditunggu bunda buat sarapan. Kata bunda, bukannya hari ini om kerja ya?"


Mendengar hal itu membuat David melotot, serasa hawa yang ngantuk itu sirnah seketika. Hanasya yang melihat David yang tiba-tiba terbangun itu terkejut, dan pamannya itu akhirnya masuk ke dalam kamar mandi yang memang semasing kamar memiliki kamar mandi khusus didalamnya.


Hanasya akhirnya turun menuju meja makan, Sarita sibuk mengisi bekal Hanasya dengan nasi goreng. Melihat putrinya yang sudah hadir kembali itu membuat Sarita menampilkan senyumnya, senyum yang begitu tulus pada putri yang ia kandung dan ia besarkan itu. Sarita selalu menjadi ibu yang hebat bagi Hanasya, dan di mata Hanasya pun begitu.


"Udah di bangunin belum?" tanya Sarita yang memasukkan kotak bekal ke dalam tas khusus terpisah.


"Lagi mandi, bun. Aku bilang om David kerja hari ini malah melotot dan langsung mandi."


Sarita hanya menggelengkan kepalanya dan terkekeh, baru sehari di Jakarta memang tidak mudah. Apalagi David langsung bekerja, dan masih mengalami jetlag.


"Bi.." panggil Sarita.


Bi Imah yang mendengar itu pun dengan cepat muncul ke ruang makan.


"Ada apa nyonya?"


"Tolong kamar yang itu.." ucap Sarita menunjuk salah satu kamar yang tidak terpakai, tentu kelihatan dari ruang makan. Bi Imah mengikuti arah telunjuk itu, ruangan yang dimana tempat tuan Gionino menyimpan sejuta kenangan bersama mantan istrinya dikamar itu, kamar yang tidak terlalu besar namun cukup untuk mereka tinggali kala masih bersama.


"Iya, ada apa dengan kamar itu?"


"Masih ada kasurnya kan, bi?" tanya Sarita memastikan.


Bi Imah hanya mengangguk, sedangkan Hanasya sibuk dengan sarapannya. "Tolong suruh orang bersihkan karena banyak barang dan takutnya bi imah tidak kuat mengerjakan itu semua, soalnya David juga akan tinggal disini bersama kami." ucap Sarita.


Bi Imah seketika menegang, selama ini dirinya saja tidak pernah masuk ke dalam kamar itu setelah nyonya pertamanya yaitu cahaya meninggal dunia dan sejak saat itu siapapun tidak diperbolehkan oleh tuan besarnya masuk ke dalamnya, bahkan menyentuh gagang pintunya saja tidak boleh.

__ADS_1


"T-tapi nyonya.."


Sarita mengetatkan rahangnya, dia menghirup udara dalam ruangan itu dalam-dalam, menahan emosi di pagi hari dihadapan anaknya. Bi Imah yang membaca rautan muka itu pun akhirnya memilih untuk menyetujuinya, walaupun dalam hatinya pun ketar ketir jika tuan besarnya akan pulang nanti malam. Hanya doa yang bi Imah bisa panjatkan sekarang.


~'~


Jihan yang begitu sibuk menemani putra kecilnya menggambar dengan Hadi yang sibuk juga oleh laptopnya membuat suasana rumah itu menjadi sunyi, cuma di isi oleh suara burung yang menghiasi suasana tersebut.


"Mas." panggil Jihan pada suaminya.


Hadi hanya bergumam sebagai jawaban, dan mata terus fokus dengan ketikan yang entah itu kerjaan atau yang lainnya Jihan tidak tau. Jihan hanya tersenyum samar mendapat respon itu.


Dulu Jihan seorang pramugari disalah satu maskapai terbaik di Indonesia bersama dengan Cahaya. Namun, setelah dirinya memutuskan untuk menikah akhirnya Jihan resign dari tempat kerjanya mengikuti jejak suaminya yang tinggal di Bali. Meninggalkan pekerjaan, demi mengurus suami dan anak adalah salah satu impiannya setelah menikah.


Hingga pernikahan yang sudah beranjak 19 tahun ini membuat hubungan menjadi hambar. Hadi begitu sibuk bekerja, sedangkan Jihan hanya sibuk mengurus rumah dan putranya yang kecil.


"Ma.." panggil Farid.


"Iya, kenapa sayang?"


"Ini warna hijau kan?" tanya Farid yang menunjukkan salah satu crayon berwarna kuning.


Jihan menelan silvanya, sudah beberapa kali Farid salah memilih warna. Sudah mau 3 bulan Farid belum bisa membedakan warna, hal itu membuat Jihan sedikit berpikiran yang tidak-tidak karena saat Iqbal seumur Farid itu bisa mengenal warna. Tapi kenapa Farid berbeda?


Jihan mengambil kedua warna hijau, lalu menyuruh Farid menatap warna yang ia pegang.


"Ditangan kanan mama ini warnanya hijau apa?" tanya Jihan.


Farid mengeryitkan dahi, "Yang mama ambil itu warna kuning." jawab bocah itu.


"Ini hijau muda, Farid. Emang kamu mau gambar apa?"

__ADS_1


Farid menunjuk pohon yang ia gambar, "Kata mama, pohon harus digambar warna hijau kan?" Jihan hanya mengangguk sebagai respon, "Tapi kenapa Farid melihat warna yang dipegang mama itu warna kuning?"


Jihan mengusap puncak kepala sang putra, dia akhirnya meminta untuk Farid menggambar sesuka hatinya. Gambar itu akan ia bawa saat tes mata nanti bersama dokter yang akan menangani Farid. Jihan menghampiri suaminya yang begitu sibuk.


"Mas, aku ingin berbicara sebentar saja." ucap Jihan.


Hadi yang menatap istrinya yang sudah ada di hadapannya pun melepaskan kacamata bacanya, dan mengikuti sang istri agak menjauh dari ruang keluarga yang masih terdapat Farid disana.


"Kondisi mata Farid makin parah, mas. Apa kamu tidak tau itu?!" kata Jihan.


Hadi menghela nafasnya, "Kita bawa ke dokter mata." jawabnya.


Jihan hanya ternganga sedikit, "Kapan? Kamu selalu sibuk! Lihat! Farid semakin parah mas." desisnya dengan mata yang berkaca-kaca.


Hadi mendekat, dia memegang pundak Jihan yang terlihat sangat panik dan mengusapnya dengan lembut. Jihan membuang pandangannya yang berembun, menahan sedih dengan apa yang di alami oleh putranya.


"Aku akan membuat janji bersama dokter hari ini, kamu jangan sedih dan maafkan aku. Hm?"


Mendengar hal itu Jihan akhirnya terisak, tubuhnya bergetar dan tidak mau menatap suaminya. Hadi yang melihat itu hanya menghela nafasnya pelan, dia membawa tubuh ramping istrinya ke dalam pelukannya. Istri yang begitu sabar selama 19 tahun ini hidup bersamanya, istri yang begitu setia mendampinginya kemanapun ia pergi, istri yang begitu pintar dan cocok untuk bertukar pikiran dengannya, dan istri yang selalu mengeluarkan pendapat serta memperbaharui tempat penginapan sampai sekarang selalu ramai pengunjung.


"Tenang lah sayang, aku akan menghubungi dokter mata kenalan ku." ucap Hadi mengusap punggung istrinya.


"Aku tidak mau sesuatu terjadi pada Farid, mas." isaknya yang memperat pelukannya.


Menjadi seorang ibu adalah hal yang tidak mudah, mendidik seorang anak, dan sakit jika melihat anaknya seperti apa yang di alami oleh Farid. Kecurigaan serta instingnya sebagai ibu, Jihan akui memang tidak pernah salah.


Keterlembatan dalam berjalan, namun Farid bisa berbicara di umurnya yang menginjak 1 tahun lebih walaupun hanya memanggil 'Mama', 'Papa', maupun 'Abang'. Dulu Jihan selalu melarang Farid untuk mengucek matanya, dia berpikir kalau Farid hanya kelilipan debu. Tapi saat umurnya 3 setengah tahun, Farid bisa menerangkan warna yang Jihan ajarkan. Tapi saat beranjak ke 5 tahun Farid berubah, dengan warna yang selalu ia pegang itu salah.


Akhirnya Hadi membawa Jihan ke ruangan keluarga mereka, salah satu tangan Hadi melingkar di pinggang istrinya. Melihat gambar yang diwarnai oleh Farid membuat mereka saling pandang.


•••

__ADS_1


__ADS_2