Luka Dalam Keluarga

Luka Dalam Keluarga
Bab 31


__ADS_3

*flashback on*


"Terimakasih sudah merawat saya, dokter." ucap perempuan yang kini duduk di brankar dengan pakaian yang sudah rapih.


Dokter perempuan yang mengurusnya selama beberapa bulan ini pun tersenyum, dia juga tidak menyangka bahwa pasiennya bisa sembuh dengan riwayat penyakit yang bisa dibilang kronis yaitu kanker rahim. Hingga akhirnya Rembulan memutuskan untuk mengangkat rahimnya dengan pertimbangan yang sungguh matang.


Iya, namanya Rembulan. Perempuan yang usianya sudah menginjak 38 tahun, perempuan yang wajahnya sama persis dengan Cahaya. Iya, Rembulan adalah kembaran Cahaya. Hubungan mereka sangat baik, Cahaya juga sudah menjadi kakak yang baik untuk dirinya. Kalau Cahaya masih hidup, pasti umur mereka akan sama dan membesarkan anak-anaknya bersama.


Sayangnya, Cahaya tidak menceritakan apapun tentang Rembulan. Rembulan juga saat itu sedang studi di luar negeri, hingga akhirnya saat kembali tepat umurnya 27 tahun Rembulan menemukan makam kakaknya yang membuat lututnya sangat lemas sekali. 


"Tolong jaga anak ku dan suami ku ya setelah kamu pulang dari swiss, maaf aku tidak pernah menceritakan semuanya pada mas Gio tentang kamu." 


Hanya kata-kata itu yang Rembulan ingat saat beberapa hari sebelum kematian Cahaya. Rembulan pikir Cahaya hanya bercanda, tapi kenyataannya benar. 


"Hm, aku akan jaga mereka dari jauh. Maaf aku tidak bisa dekat mereka." ucap Rembulan pelan sambil mengusap nisan kayu yang masih baru itu. 


Rembulan meneruskan usaha ayahnya, yaitu mengelola rumah sakit terbesar yang tepat di pusat kota Jakarta. Hingga akhirnya tahun ke enam Rembulan resmi menjabat sebagai pemimpin, Rembulan juga rutin mengikuti langkah Gionino maupun Nadine yang kini sudah memiliki keluarga baru. Tapi, Gionino selalu terpuruk dan melampiaskannya pada minum minuman keras yang berada di club.


Setau Rembulan yang sering di ceritakan oleh Cahaya itu memang suaminya begitu sangat mencintainya, Rembulan juga tau sekarang apa penyebab abang iparnya seperti itu. Rembulan masuk ke dalam club yang begitu remang-remang, untungnya dirinya bisa sedekat itu hanya Gionino dalam kondisi mabuk saja, selebihnya Rembulan tidak berani.


Rembulan hanya meringis menatap Gionino yang menangis memanggil Cahaya, tentu membuat Rembulan sedih juga. Setelah membawa ke dalam kamar pesanannya, Gionino yang menatap dalam rabunnya itu bisa menatap dengan jelas bahwa didepannya Cahaya.


"Cahaya... Sayang..." ucap Gionino yang mulai limbung berjalan mendekati Rembulan. "Kemana saja hah? Kamu tidak merindukan suami mu ini?" racaunya.


Rembulan melotot, apa dirinya akan ketahuan? Apa yang akan terjadi? Rembulan tidak bisa berpikir atau bergerak saat itu!


Gionino yang sudah berhadapan kini menangkup wajah Rembulan, "Kamu datang? Aku sangat rindu, sayang." racau Gionino yang memeluk tubuh Rembulan.


Hingga akhirnya malam naas pemaksaan itu terjadi, beberapa kali Rembulan meminta dilepaskan dan menyingkirkan tubuh besar Gionino dalam kungkungannya, tapi tidak bisa. Hal berharga yang sudah ia jaga sampai saat itu pun akhirnya sirnah, Rembulan memakai pakaiannya kembali dengan tertatih, rambutnya yang acak-acakan pun dirinya tidak peduli, Rembulan hanya ingin pulang sekarang setelah tubuhnya merasa remuk.


Pagi harinya Gionino terbangun, tubuhnya segar kembali ke sedia kala walaupun sedikit pusing karena efek minuman alkohol yang begitu banyak ia teguk malam itu. Merasakan hawa kamar yang asing membuatnya terperenjat, dia tidur tidak memakai apapun dan bahkan pakaiannya pun berserakan kemana-mana. Hingga akhirnya Gionino menyibak selimut yang ada noda merah disana. Tentu Gionino bergeming.


"Tadi malam bukan Cahaya?"  gumamnya mengusap wajahnya dengan kasar, sambil merutuki dirinya yang tidur bersama perempuan yang melepas keperawanan karena dirinya. 


Hanya dalam pikirannya, lalu siapa yang menjadi korbannya? Kenapa Gionino merasa bahwa tadi malam Cahaya datang padanya.

__ADS_1


Sementara ditempat lain, Rembulan menangis tersedu-sedu terduduk dilantai dapur rumahnya. Seharusnya permintaan itu ia tolak sejak awal kalau ternyata akan seperti ini. Rembulan meminum obat anti hamil dengan upaya anak itu tidak hadir dalam rahimnya. 


"Maafkan aku ka, aku tidak bisa lagi menjaga suami ka Cahaya. hiks.." kata Rembulan menutup wajahnya dengan kedua telapaknya. "Maaf ka.. Kamu pasti sedih disana? Maafkan aku.." isak Rembulan.


*3 minggu kemudian*


Hingga akhirnya Rembulan memuntahkan isi perutnya di wastafel rumah sakit, sudah lebih dari 5 kali dia memuntahkan isi perutnya. Bahkan membuat Panji heran menatap sang kekasih.


"Kamu tidak apa-apa, honey?" tanya Panji memijat tengkuk Rembulan.


Hubungan mereka terjalin saat Rembulan studi di luar negeri hingga sudah terjalin 9 tahun lebih, tapi mereka belum siap untuk ke jenjang pernikahan. 


"Mungkin telat makan, karena pekerjaan beberapa hari ini banyak sekali." jawab Rembulan.


"Bisa jadi, kalau gitu aku aku kembali ke kantor ya."


Rembulan mengangguk, perempuan itu menatap cermin dan melihat perutnya. Menjadi dokter umum, membuat dirinya tau gejala apa yang ia alami. Rembulan buru-buru mengambil tespek yang sudah dipesan 1 Minggu yang lalu.


••


Rembulan saat menengah atas mulai mengambil jurusan keperawatan di luar negeri, hingga akhirnya saat kuliah mengambil jurusan kedokeran. Rumah sakit itu berdiri dari keluarga ayahnya Cahaya dan Rembulan, mereka sepakat untuk menyembunyikan identitas Rembulan saat Cahaya menikah, bahkan baik Jihan pun sepakat akan itu. Rembulan memilih untuk melanjutkan studinya sampai S2, dan kembali pulang dengan tujuan untuk meneruskan rumah sakit milik keluarganya.


Tapi saat tau kenyatannya bahwa Cahaya meninggal dunia akibat kecelakaan yang menewaskan kakaknya hingga bayi dikandungannya, membuat hatinya berdenyut sakit. Baru ingin bertemu lagi, tapi sudah dipisahkan hingga tidak bisa bertemu lagi. 


••


Kembali ke Rembulan mengecek tespek yang ternyata hasilnya garis dua yang benar-benar jelas, Rembulan meremas perutnya. Bagaimana ini semua terjadi? Tubuhnya ambruk jatuh ke lantai. Seharusnya anak ini hadir saat dirinya menikah dengan Panji, tapi anak ini hadir dengan status yang tidak sah.


Bagaimana kalau orangtuanya tau? Pasti Rembulan akan di usir, bahkan di coret dari kartu keluarga. 


Rembulan menghubungi rekan kerjanya yang berprofesi dokter kandungan.


"Sa, ada obat penggugur kandungan?" tanya Rembulan yang langsung duduk di ruangan sahabatnya itu.


Sachi hanya terperangah menatap sahabatnya, "Lo gila? Udah tau itu obat ilegal!" pekiknya. 

__ADS_1


Rembulan terisak, Sachi mencoba untuk mencerna semuanya. "Gue hamil sa, gue ga menginginkan anak ini." ucap Rembulan.


Sachi yang mendengar itu tentu terkejut bukan main, karena setau dirinya itu Rembulan sangat menganut 'No *** Before Married'. 


"Itu anak Panji?" tanya Sachi pelan.


Rembulan menggelengkan kepalanya, "Ada ga sa? Atau ada saran dari lo sebagai dokter kandungan?" 


"Coba makan nanas muda, sama minum yang bersoda. Maaf lan, gue ga bisa ngasih obat itu. Lo kan pemilik rumah sakit ini, dan lo tau obat itu dilarang masuk dan beredar di semua rumah sakit, kalau engga ada keadaan genting banget."


"Maksud lo, situasi gue sekarang emang ga genting?!" ketus Rembulan dengan parau.


"Lan, kalau kandungan lo bermasalah semisal janinnya ga berkembang atau cacat, obat itu legal kita gunakan untuk menyelamatkan nyawa ibunya. Lihat aja sebulan kedepan, anak yang dikandung lo seperti tadi gue bilang baru gue akan tindak." jelas Sachi. "Sekarang makan yang gue saranin aja dulu, gue ga mau rumah sakit dan reputasi lo buruk." lanjutnya lagi.


Akhirnya, Rembulan selama 3 hari meminum apa yang disarankan oleh Sachi. Tapi tidak ada reaksi apapun, ini artinya apa? Apa Rembulan harus merawat anak dari kakak iparnya itu?


Keputusan yang berat bagi Rembulan, merawat anak yang bahkan dirinya belum menikah. Akhirnya Rembulan mengajak Panji bertemu untuk berbicara yang sangat penting.


"Aku mau kita akhirin semuanya sampai disini, ji." ucap Rembulan pelan disebuah kafe yang memiliki beberapa seat yang begitu menarik, malam itu begitu banyak lampu yang terpasang mengesankan indahnya kafe itu.


Panji terbeku, "Maksud kamu? Kamu ga lucu, Re." jawabnya dengan terkekeh.


"Aku hamil, aku selingkuh dari kamu selama ini, ji. Maaf."


Rembulan terpaksa untuk berbohong, dia tidak mau mengecewakan Panji karena pria itu terlalu baik padanya. Panji yang mendengar itu tentu terdiam, dia akhirnya pergi meninggalkan Rembulan yang setelahnya menangis tersedu-sedu. Hubungan mereka akhirnya kandas, padahal Rembulan dan Panji sudah merencanakan dengan matang untuk pernikahannya tahun berikutnya yang tepat 10 tahun mereka berpacaran.


Rembulan akhirnya bilang pada ayahnya, memang ada raut kekecewaan dari wajahnya. Namun, nasi sudah menjadi bubur yang akhirnya ayahnya itu menerima untuk Rembulan membesarkan anaknya. 


Hingga akhirnya Rembulan melahirkan putri cantik yang ia beri nama 'Karinda Agustina Lumia'. Sengaja ia sematkan nama marga belakang orang yang sudah merenggut semua hidupnya, Rembulan menatap wajah bayi kecilnya yang tanpa dosa itu. 


Tapi sayang, Rembulan hanya merawat Karin saat umurnya 3 tahun. Ia titipkan anak itu ke panti asuhan selagi dirinya menjalani perawatan. Banyak pertentangan dengan Rembulan menaruh Karin ke panti asuhan, tapi dengan hal ini menurut Rembulan terbaik. Hingga akhirnya Rembulan menemui Karin untuk membawanya pulang kembali. Sungguh sangat bahagia sekali, melihat wajah Karin yang sedikit mirip dengan Gionino itu dan untungnya putrinya itu tidak memiliki warna mata yang sama dengan pria itu.


*Flashback off*


~'~

__ADS_1


Rembulan terus menggandeng tangan Karinda, mereka berjalan-jalan ditaman saat sore hari. Walaupun dulu Rembulan sempat tidak menginginkan anak ini, tapi seiring waktu cinta dan kasih sayang itu tumbuh saat melihat Karinda memanggilnya 'mama', saat Karinda menangis meminta Rembulan memeluknya. Naluri seorang ibu muncul dengan sendirinya, Rembulan sangat bersyukur dengan kehadiran Karinda yang membuat semuanya menjadi lebih baik. Selama itu pula Karinda tidak pernah bertanya tentang ayahnya, baginya ibunya lah yang paling penting sekarang.


__ADS_2