Luka Dalam Keluarga

Luka Dalam Keluarga
Bab 37


__ADS_3

Jihan yang sudah sampai di salah satu restoran yang sudah Rembulan pesan, restoran yang ada tempat private sehingga hanya mereka berdua yang bisa disana. Jihan terus menggenggam tangan putranya, restoran itu ada saung dan danau yang begitu banyak ikan perliharaan disana.


"Aku ingin kasih makan ikan, mama."


Jihan tersenyum, "Iya, nanti ditempat kita makan juga ada ikannya kok."


"Beneran, mama?" tanya Farid.


Jihan mengangguk, hingga salah satu pelayan berhenti ditempat yang bertuliskan 'Private'. Jihan lalu menghamburkan diri memeluk Rembulan yang sudah banyak berubah, disebelahnya tepat Karinda yang memperhatikan ibunya berpelukan.


"Cantik sekali, Karinda." puji Jihan yang mengusap pipi Karin.


"Terimakasih tante, tante juga cantik."


Jihan yang mendengar itu hanya terkekeh.


"Kenalin, ini Farid anak tante." ucap Jihan yang memperkenalkan anaknya pada Karinda. Tentu anak itu menyambut baik.


"Aku ingin melihat ikan!"


"Itu disana, aku juga ingin melihat ikan." jawab Karinda. Akhirnya anak-anak melihat ikan dengan pengawasan pelayan disana yang memang khusus untuk merawat ikan-ikan disana.


Jihan menghela nafasnya, lalu bercengkrama dengan Rembulan. "Gimana hasilnya? Apa sudah sembuh total?" tanya Jihan.


"Sudah, walaupun aku sudah tidak mempunyai rahim. Tapi aku bersyukur, pernah melahirkan Karinda. Kalau kejadian 7 tahun lalu aku mengambil keputusan yang nekat, pasti aku akan menyesali semuanya."


Jihan mengusap punggung tangan Rembulan, kalau mengingat yang dulu-dulu tentu sedih serta kecewa bercampur mejadi satu. Untungnya Jihan bisa mencegah semuanya, Karinda sekarang tumbuh menjadi anak yang cantik, pintar, dan sangat aktif. Walaupun 3 tahun lamanya Karinda berjauhan dengan ibunya, anak itu bisa menerima Rembulan dengan lapang dada. Rembulan juga menjadi ibu yang baik untuk putrinya.


Jihan menatap sekilas Farid dan Karinda yang tertawa bersama itu. "Apa dia pernah mencari ayahnya?"


Rembulan menggelengkan kepalanya, "Kemarin aku sempat bertemu dengan Gionino, untungnya dia tidak mengenali aku."


"Serius? Kamu harusnya berhati-hati."


Rembulan mengangguk, "Ya, nanti-nanti aku akan berhati-hati. Aku hanya takut semua yang kita rahasiakan terbongkar semuanya, padahal ka Cahaya merahasiakan ini agar keamanan ku tetap terjaga juga." Jihan mengerti semuanya, dia juga terlibat dalam hal ini.


"Apa kamu sudah mendapat dalang dari semua pembunuhan Cahaya?"

__ADS_1


"Sudah, tapi aku belum tau pasti dia dimana." jawab Rembulan.


"Kalau kamu sudah mengetahuinya, jangan sungkan untuk memberitahu aku. Aku juga tidak bisa diam saja pada orang yang sudah membuat sahabat ku meninggal."


Rembulan menatap dalam Jihan, dia juga sama. Tapi sakit hati Rembulan jauh lebih besar dari jihan. Separuh jiwanya sudah pergi, sahabat kecil serahimnya sudah pergi selama-lamanya karena perempuan yang sudah membuat Cahaya meninggalkan dunia.


Setelah makan-makan sudah selesai, Jihan dan Rembulan yang memakai maskernya kembali pun akhirnya keluar dari ruangan itu. Jihan yang berjalan duluan ke parkiran, dan Rembulan yang mengantar Karinda ke kamar mandi hendak kembali ke parkiran pun tak sengaja berpapasan dengan seseorang yang sangat ia kenal.


"Bulan.." ucapnya.


"Panji.."


~'~


Iqbal yang sudah mengantar Nadine pun akhirnya kembali ke rumahnya, karena malam nanti Iqbal di undang makan malam oleh keluarga Chika. Pria itu sempat menolak, namun orangtua Chika memaksa dengan alasan untuk memperat hubungannya.


"Ajak ayah dan ibu mu ya, saya ingin mengenal lebih jauh."


Hanya itu yang dikatakan oleh Yudha. Iqbal akhirnya mau tidak mau menerima ajakannya itu.


"Hmm, nak."


"Kita mau di undang sama keluarga pacar kamu yang kemarin kecelakaan itu?" tanya Hadi.


"Iya pa, malam ini."


"Memangnya hubungan kalian seserius itu?"


Iqbal yang merebahkan badan itu pun bangkit, dan duduk menghadap ayahnya. "Maksudnya?"


"Papa hanya ingin kamu serius dalam pendidikan dulu, setelah melanjutkan S2 atau sudah mapan soal pekerjaan baru kamu boleh memikirkan hal yang berkaitan dengan menikah." terangnya.


"Aku belum mengarah ke sana kok pa, aku juga ingin bekerja dan meneruskan kuliah. Jadi, papa tenang saja."


Hadi menepuk pelan pundak putranya, walaupun mereka sering berselisih paham. Tapi, kalau dinasehati Iqbal menerima dan menjalankan dengan benar. Hadi sebagai orangtua sepenuhnya percaya dan membebaskan putranya, namun harus menjaga moral serta kepercayaan orangtuanya.


~'~

__ADS_1


Sementara disisi lain, David yang mendengar teriakan itu akhirnya berlari menuju kamar Nadine, pria itu hanya terpaku menatap tubuh Nadine yang pucat. Beberapa menit lalu wajah Nadine biasa saja, tapi setelah pelajaran yang diberikan oleh Gionino membuat hatinya mencelos.


Dari sana David bisa memahami sifat dingin, serta takutnya Nadine dengan laki-laki. Ternyata Gionino lah penyebabnya, pantas saja David susah mendekat pada Nadine karena Gionino yang bersikap kasar pada Nadine.


"Apa yang bang Gio lakukan? Kenapa bang Gio melakukan ini pada putri kandung abang sendiri?!"


Gionino yang mendengar itu emosinya kembali tersulut, "Tau apa kamu? Saya hanya ingin memberi dia pelajaran! Agar tata krama itu terjalin pada orangtuanya!"


"Apa dengan kekerasan?"


Gionino terdiam, rahangnya mengetat menahan emosi. Bahkan sudah 10 menit dokter pribadinya belum sampai juga, membuat David terus memojokkan seorang Gionino.


Hanasya yang sudah ada didepan kamar Nadine pun masuk, dia menatap kakaknya yang ada di atas ranjang. Wajahnya yang sembab, menandakan bahwa Nadine tidak baik-baik saja.


"Ayah mukul kakak lagi?" tanya Hanasya dengan mata yang berkaca-kaca.


Selama ini, selama Nadine dipukul oleh Gionino tidak pernah pingsan dan baru kali ini juga Gionino berteriak meminta bi Imah menelepon dokter.


"Lagi?" sahut David penuh dengan tanda tanya dibenaknya.


Hanasya mencoba untuk membangunkan Nadine, "Kaa... hiks... Bangun ka.." isaknya. Nadine tetap tidak merespon. Gionino mengusap wajahnya kasar.


"Bi! Dokternya mana!" teriaknya lagi.


"Se-sebentar tuan, ada di depan tuan." jawab bi Imah.


Sarita yang melihat keripuhan sore itu hanya terdiam di ruang tamu, perempuan itu memilih untuk diam bahkan menengok kondisi anak tirinya saja tidak. Tak lama dari itu, bi imah mengantar dokter pribadi keluarga Lumia masuk ke dalam kamar Nadine.


Bi Imah hanya terkejut dan menutup mulutnya setelah tau kondisi Nadine yang tidak baik-baik saja.


"Lama sekali!" gerutu Gionino, yang dibalas tatapan sengit dari dokter laki-laki yang tak lain adalah sahabatnya.


Rian memeriksa kondisi Nadine, semuanya tekanan batin yang terlalu berat. Rian juga melihat tangannya yang terdapat banyak goresan, tentu ia sangat kenal dan banyak pasien yang datang padanya dengan kondisi yang sama. Depresi, kemungkinan gejala Nadine sekarang sudah dalam tahap depresi. Rian menghela nafasnya, dia bingung harus menjelaskan seperti apa.


Dokter Rian berdiri lalu berjalan mendekat, dan memberikan resep pada teman dekatnya itu.


"Anak mu, tekanan batin yang luar biasa. Memang apa yang kamu perbuat? Sampai semuanya terjadi seperti ini?"

__ADS_1


•••


Visual Nadine dan Rangga sudah ada di ig @hi.abcdefghiloveu yaa, aku masih butuh saran kalian untuk visual pemain lainnya dalam tokoh cerita ini~ :)


__ADS_2