
"Brak...."
Seluruh karyawan yang mengikuti meeting melonjak kaget ketika sang CEO menggebrak meja tanda tidak puas dengan presentasi dari salah satu karyawan. Sementara karyawan yang sedang presentasi di depan sudah gemetar ketakutan dengan wajah pucat pasi.
Hal ini sudah terjadi sejak seminggu yang lalu, hampir semua laporan dan proposal karyawan tidak ada yang benar menurut CEO mereka.
"Meeting kita undur setelah makan siang dan kamu perbaiki lagi proposal mu! " perintah Martin asisten pribadi CEO. Dia sudah sangat paham kalau suasana hati bos nya sedang tidak baik - baik saja sehingga berimbas kepada pekerjaan dan orang - orang sekitar.
"Baik tuan." jawab para karyawan sebelum meninggalkan ruangan. Mereka bisa bernafas sedikit lega karena tertolong oleh Martin.
Setelah para karyawan keluar Yuri menatap Martin dengan putus asa.
"Apa yang harus ku lakukan Martin? "
"Pulang dan hadapi tuan."
Yuri mendesah dengan putus asa. Andai tidak ada perjodohan konyol dari kecil mungkin dia tidak akan terperangkap dalam rencana pernikahan yang di rancang kakek dan papanya.
"Tapi aku tidak mencintainya Martin."
Dalam hati Martin tergelak, bagaimana tuannya itu tahu arti cinta sementara tidak pernah pacaran. Selama ini satu - satunya perempuan yang dekat dengan Yuri hanya Malika sepupu dari mamanya.
"Saran saya, tuan menerima perjodohan ini dan belajar mencintai nona Elia. Saya yakin jodoh yang di pilih tuan besar adalah yang terbaik buat anda." jawab Martin sok bijak, padahal dia juga bujang jomblo.
"Tau apa kamu soal cinta, pacar saja tidak punya." ucap Yuri sambil bangkit dan berjalan keluar ruangan.
"Eh sama kan seperti bos, kita berdua jomblo akut. sesama jomblo kok menghina." gerutu Martin dalam hati sambil mengikuti tuannya keluar ruangan.
"Di larang menggerutu! "
"Eh... tidak tuan."
Setelah sampai di ruangannya Yuri berjalan ke arah jendela dan melihat pemandangan di bawah yang menampilkan lalu lintas kota Moskwa.
Sudah hampir tiga tahun Yuri Romanov memilih menetap di kota itu dan memimpin salah satu perusahaan kakeknya Adrian Romanov daripada meneruskan perusahaan milik papanya yang di Indonesia. Padahal kakek dan neneknya memilih meninggalkan Rusia dan menetap di Indonesia mengikuti papanya Yuri yang menikah dengan orang Indonesia.
Masih jelas dalam ingatan Yuri seminggu yang lalu papanya memintanya pulang untuk membicarakan rencana pertunangannya dengan Eliana yang akan di laksanakan dalam waktu dekat. Sejak saat itulah pikirannya kacau dan emosinya seperti tidak terkendali. Yuri belum ingin bertunangan apalagi menikah. Dia tidak punya perasaan apa - apa dengan Elia.
__ADS_1
"Martin! "
"Ya tuan." Martin yang sedang menyiapkan makan siang menengok ke arah Yuri menunggu perintah selanjutnya.
"Siapkan pesawat, nanti malam saya akan pulang."
"Baik tuan, sekarang silahkan makan siang dulu."
"Hem...temani saya makan."
"Baik tuan."
Setelah itu mereka berdua makan dengan tenang. Martin Lucas sudah hampir tiga tahun menjadi asisten pribadi Yuri sehingga sudah sangat memahami kemauan Yuri. Apalagi mereka saling mengenal sejak masih kuliah. Yuri yang introvert dan tidak punya teman semasa kuliah. Waktunya lebih banyak di habiskan di perpustakaan daripada bergaul seperti teman - temannya.
Sementara Martin adalah anak miskin yang mendapat beasiswa karena kecerdasannya. Martin sering merasa rendah diri untuk bergaul sehingga lebih banyak menghabiskan waktu di perpustakaan. Di situlah awal mula mereka bertemu, berteman dan akhirnya setelah lulus Yuri menawarkan pekerjaan sebagai asistennya.
Setelah makan Martin segera mempersiapkan semua keperluan kepulangan Yuri. Sementara Yuri menghadiri meeting yang tertunda di dampingi oleh sekertaris nya.
Malam kepulangan Yuri pun tiba, Martin dengan setia mengantar bosnya sampai ke pesawat.
"Saya titip perusahaan selama saya pergi." ucap Yuri menepuk pundak Martin sebelum masuk pesawat.
"Baik tuan."
Eliana Wijaya adalah anak angkat dari asisten papanya. Entah apa yang mendasari perjodohan yang di atur kakek dan papanya sedari mereka masih kecil. Yuri bahkan tidak tahu seperti apa wajah Eliana sekarang. Terakhir mereka bertemu ketika Yuri wisuda dan Elia di ajak kakeknya untuk ikut datang.
Eliana yang waktu itu masih klas satu SMA terlihat malu - malu dan tidak banyak bicara. Bahkan Elia tidak berani menatap wajah Yuri, melirik pun tidak. Elia hanya akan bicara ketika papa, kakek dan neneknya mengajaknya bicara.
"Apa Elia juga tidak menginginkan perjodohan ini? " monolog Yuri dalam hati.
"Hah dia kan masih anak kecil, mana paham dia."
Lelah dengan segala pemikirannya Yuri memilih kembali memejamkan mata.
Setelah melewati perjalanan yang lumayan panjang akhirnya pesawat Yuri mendarat di bandara Internasional Soekarno-Hatta. Begitu keluar dari bandara sudah ada sopir yang menyambut kedatangannya.
"Selamat datang tuan muda." sambut sang sopir sambil menundukkan kepala dan mengambil alih koper yang di bawa Yuri.
__ADS_1
Yuri hanya menjawab dengan menganggukkan kepala dan masuk ke mobil bagian penumpang.
Setelah meletakkan koper Yuri di bagasi sopir segera melakukan kendaraan meninggalkan bandara.
Sepanjang perjalanan Yuri di sibukkan dengan memeriksa laporan yang di kirim Martin lewat email. Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam akhirnya mobil memasuki gerbang rumah kediaman Lucky Romanov.
Begitu keluar dari mobil Yuri sudah di sambut oleh Mariana Romanov dengan pelukan hangat. Wajah cantik semakin kelihatan berseri - seri dengan kedatangan putra semata wayangnya.
"Selamat datang sayang." ucap Mariana sambil melepaskan pelukannya.
"Terimakasih ma."
Sejenak Yuri memperhatikan sekeliling rumah yang sudah lama tidak dia injak. Tidak banyak yang berubah, hanya ada sebuah taman dengan aneka bunga di halaman bagian samping.
Yuri tersenyum tipis karena sudah bisa menebak jika itu taman buatan mamanya. Sejak dulu Mariana suka berkebun, bahkan memiliki kebun mini di belakang rumah.
"Papa belum pulang ma?" tanya Yuri begitu masuk ke dalam rumah dan mendudukkan diri di sofa ruang tamu.
"Papa biasanya pulang jam empat sayang." jawab Mariana sambil memandang teduh pada Yuri. "Lebih baik kamu istirahat sebentar di kamar, nanti malam kita makan malam di rumah kakekmu."
"Makan malam di rumah kakek? ada acara apa ma? "
Mariana memandang Yuri sebelum menjawab pertanyaannya.
"Membicarakan kelanjutan perjodohan mu dengan Eliana."
"Secepat ini? "
"Dengar sayang, jika kamu tidak menginginkan perjodohan ini kamu bisa membicarakan dengan kakek dan papamu."
Yuri menatap mamanya dengan perasaan aneh. Dia merasa mamanya tidak menyetujui perjodohan itu terlihat dari perkataannya.
"Mama mendukung Yuri membatalkan perjodohan ini? "
"Tentu saja sayang."
"Boleh Yuri tahu alasannya ma? "
__ADS_1
"Ah... itu... mama tidak perlu alasan, hanya saja mama mendukung Yuri." jawab Mariana sedikit gugup.