
"Dalam mimpimu... " ucap Sky dengan suara dan senyum penuh ejekan. "Kamu pikir setelah perlakuanmu selama ini El masih mau bertahan? El tidak sebodoh yang kamu kira tuan muda."
"Aku akan memperbaiki semuanya." balas Yuri dengan tegas dan tanpa keraguan sedikit pun.
"Dengan cara apa? Bahkan aku yakin selama ini kamu tidak tahu dia ada dimana dan tidak berniat mencarinya. So... berhenti membual."
"Tahu apa kamu? " ucap Yuri dengan suara datar tapi penuh dengan kemarahan.
"Tentu saja tahu semuanya, jangan lupa aku kakak dari Elia. Daripada tuan muda membual lebih baik persiapkan dirimu untuk melepaskan ikatan pernikahan dengan adikku! " jawab Sky dengan nada tak kalah datar.
Monica menyentuh lengan kekasihnya agar lebih tenang dan tak terpancing.
"Sayang... tenangkan dirimu." bisikan Monica membuat emosi Sky sedikit mereda.
"El memang bukan adik kandungku, tetapi kami menyayanginya. Tetapi kamu dengan tidak punya hati menikahinya lalu meninggalkannya seperti dia tidak berharga sama sekali. Seandainya kamu tahu pengorbanan yang telah dilakukan orangtuanya, kamu menangis darah pun tidak akan bisa menandingi pengorbanan mereka untuk keluargamu. Terutama untuk mamamu yang angkuh itu." ucap Sky sambil berdiri dan menarik lembut tangan kekasihnya agar berdiri juga.
"Maaf Sean, aku dan Monica pergi lebih dulu." lanjut Sky sambil menggandeng Monica meninggalkan tempat itu.
"It's okey dude... " jawab Sean yang mengerti alasan Sky pergi lebih dulu.
"Tunggu!" teriak Yuri yang membuat Sky menghentikan langkahnya.
"Apa maksud perkataanmu tadi? "
"Tanyakan pada papamu! " jawab Sean tanpa menoleh dan melanjutkan langkah.
Yuri kembali duduk dengan lemas, otaknya mencoba mencerna ucapan Sky tentang pengorbanan orang tua Elia, tentang mamanya. Sebenarnya apa yang terjadi. Kepalanya menjadi berdenyut nyeri ketika di ajak berfikir.
Sean yang melihat keadaan Yuri sedikit iba. Tetapi dia juga tidak tahu harus bicara apa.
"Maaf jika ini mengganggu anda tuan Sean." ucap Yuri yang sedikit tidak enak karena bersitegang dengan Sky di depan rekan bisnisnya.
"Oh it's okey...No problem tuan Yuri. Bagaimana kalau kita pergi ke club saja, mungkin bisa membuat anda rileks." tawar Sean pada Yuri.
"Maaf tuan Se... "
"Sean...panggil Sean saja!"
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu panggil saya Yuri saja."
Sean mengangguk tanda setuju, bagaimana pun mereka seumuran.
"Maaf Sean, saya tidak terbiasa pergi ke club." Yuri menolak dengan halus. Dia memang pernah beberapa kali pergi ke club. Menurutnya di sana dia akan bertambah pusing karena suara dentuman musik yang keras. Dia lebih suka suasana yang cenderung lebih tenang.
"oh oke.. kita ngobrol di sini saja juga asyik." Sean menghargai penolakan Yuri karena memang tidak semua orang suka pergi ke club.
Baru saja Sean akan menyalakan rokok, ponselnya yang di atas meja tiba - tiba berdering. Terlihat tulisan honey calling.
"Maaf saya mengangkat telpon sebentar."
"Silahkan!"
"Ya honey."
"Sayang lihat siapa yang ada di sampingku! " terdengar suara seorang perempuan di seberang sana.
"Oh halo pudel." sapa Sean begitu melihat wajah seorang perempuan di samping isterinya.
"Kalian ada di mansion? " tanya Sean yang tidak asing dengan background di belakang wanita yang di panggil pudel. Dia bisa menebak jika sekarang mereka berada di kamar yang khusus di peruntukan buat pudel jika menginap.
"Ah iya...ini isteri tercintamu menculik ku untuk di ajak menginap disini. Katanya dia kesepian karena kamu pergi terlalu lama." jantung Yuri semakin berdetak kencang ketika mendengar suara itu lagi. Andai dia tidak malu mungkin akan pindah kesamping Sean agar melihat wajah wanita itu.
"Oh benarkah honey? Padahal aku masih lama di sini. Wanita disini cantik - cantik dan seksi lho honey. " ucap Sean menggoda isterinya yang bisa dia pastikan sebentar lagi pasti berteriak.
"Seeeaaannn... awas kalau kamu berani selingkuh aku akan menyusulmu kesana dan akan ku potong sosis kebanggaanmu itu lalu akan kubuang ke selokan." terdengar teriakan isteri Sean penuh dengan ancaman sesuai perkiraan Sean.
Bukannya ketakutan tetapi Sean malah tertawa terbahak - bahak karena berhasil mengerjai isterinya. Yuri yang mendengar teriakan istri Sean reflek merapatkan pahanya karena tiba - tiba merasa ngeri. Tentu saja dia tahu apa yang di maksud sosis oleh isteri Sean.
"Honey bagaimana aku bisa selingkuh jika memilikimu saja sudah cukup bagiku. Lihat aku sedang minum kopi dengan rekan bisnisku. Ayo sapa dia honey!" ucap Sean setelah tawanya mereda sambil mengarahkan kamera ponselnya kearah Yuri.
Yuri pun tersenyum dan mengangguk ke arah ponsel Sean yang menampilkan wajah ayu khas wanita Indonesia. Sayang sekali wanita yang di sebut pudel tidak nampak di sana.
Terlihat isteri Sean terkejut ketika melihat Yuri, namun dengan cepat dia mengatasinya dengan tersenyum dan mengangguk membalas Yuri.
"Halo tuan." sapa isteri Sean dengan sopan.
__ADS_1
"Halo nyonya, salam kenal saya Yuri." balas Yuri dengan tak kalah sopan.
"Salam kenal juga tuan, saya Kara. Isteri Sean."
Setelah berbicara sebentar dengan Sean, Kara mengakhiri panggilan dengan alasan sudah mengantuk, padahal Sean tahu jika itu hanya alasan Kara yang sebenarnya ingin bergosip dengan pudel.
"Bagaimana rasanya menikah? " tanya Yuri dengan suara sedikit lemah.
"Bahagia." jawab Sean dengan suara mantab. "Hai bukankah anda juga sudah menikah?"
"Iya saya sudah menikah tetapi pergi sebelum menjalaninya dengan benar. Itulah penyesalan terbesar dalam hidupku."
Sean hanya terdiam karena tidak tahu harus bicara apa.
"Siapa perempuan yang anda panggil pudel tadi? Oh maaf bukan saya menguping tetapi saya mendengar."
"Oh pudel... dia teman kuliah Kara yang sudah di anggap seperti saudara. Kenapa, anda penasaran? "
"Suaranya mengingatkan pada El, isteri saya." jawab Yuri dengan penuh keyakinan."Tolong ceritakan tentang pudel."
"Tidak mungkin jika pudel isteri anda, karena tidak mungkin seorang tuan muda seperti anda akan memperlakukan wanita dengan buruk seperti suami pudel."
"Jadi pudel seorang janda? "
"Hampir... karena dia sedang memantapkan hati untuk menggugat cerai suaminya."
Mendengar kata cerai seketika hati Yuri terasa perih karena teringat kata Sky jika Elia sebentar lagi akan menggugatnya.
"Apa yang terjadi?" tanya Yuri yang penasaran pudel. Namun belum sempat Sean menjawabnya, ponsel Sean kembali berdering.
"Hai honey, kenapa telpon lagi. Katanya mau tidur, masih kangen hem.. " tanya Sean begitu wajah cemberut Kara muncul di layar ponselnya.
"Ck... ini si pudel mau minta sesuatu sama kamu sayang."
"Hai Sean... bisakah besok kamu bawakan gudeg kaleng bila balik kesini? " terdengar suara pudel meminta pada Sean.
Deg.
__ADS_1