Luka Pernikahan

Luka Pernikahan
8. Yuri Pergi


__ADS_3

Pagi harinya Yuri dan Elia bersiap meninggalkan hotel dan pulang ke rumah orang tua Yuri. Tidak ada pembicaraan apa pun di antara keduanya dari semalam. Mereka seperti dua orang asing yang tinggal dalam satu ruangan. Bahkan tidurpun saling memunggungi tanpa ada ritual malam pertama selayaknya pengantin baru.


Meskipun mereka sarapan bersama dan Elia pula yang memberesi pakaian Yuri. Elia sadar diri jika Yuri tidak menginginkan dirinya, sehingga dia memilih diam daripada salah bicara.


Begitupun selama dalam perjalanan mereka tetap tidak bicara. Sesampainya di rumah orang tua Yuri mereka di sambut paman Arthur ketua pelayan.


"Selamat datang tuan muda Yuri dan nona El." sapa Arthur dengan membungkukan badan.


"Terimakasih paman." Elia menjawab sambil tersenyum.


"Paman Arthur, tolong antarkan dia ke kamar!" perintah Yuri pada Arthur sebelum dia berbalik menuju mobil dan pergi tanpa pamit.


"Baik tuan muda, mari nona El." Arthur segera beranjak menuju tangga di ikuti Elia yang berjalan di belakangnya.


Kamar Yuri berada di lantai dua sementara kamar kedua orang tuanya berada di lantai bawah.


"Silahkan masuk nona, semua perlengkapan dan kebutuhan nona sudah ada di dalam."


"Terima kasih paman."


"Jika nona membutuhkan sesuatu bilang saja, nanti akan saya siapkan." kata Arthur sebelum meninggalkan kamar Yuri.


Elia segera masuk ke kamar Yuri yang terkesan sangat mewah. Bagaimana tidak mewah, Yuri anak satu - satunya dan di limpahi harta melimpah sejak kecil. Tidak banyak foto Yuri yang di pajang, hanya beberapa foto ketika Yuri masih kecil dan ketika dia wisuda.


Setelah meletakkan tas di sofa, Elia memilih duduk di balkon dan menikmati keindahan taman bunga di bawah sana. Dia bingung mau melakukan apa karena tidak ada jadwal kuliah.


Mengingat statusnya yang masih kuliah, Elia jadi teringat kalau belum membawa baju dan juga buku - buku kuliahnya. Elia segera bangkit dan keluar kamar untuk mencari Arthur. Baru saja dia menuruni tangga terlihat seorang pelayan mendekatinya.


"Ada yang bisa saya bantu nona? " tanya pelayan dengan sangat sopan.


"Ah iya bi... dimana paman Arthur? " tanya Elia pada pelayan wanita yang terlihat seumuran dengan paman Arthur.


"Saya panggilkan sebentar nona."


"Iya bi, terimakasih."


Elia tidak perlu menunggu lama karena lima menit setelah pelayan itu pergi, Arthur terlihat datang tergesa - gesa menghampirinya.

__ADS_1


"Ada yang bisa saya bantu nona? " tanya Arthur begitu sampai di depan Elia.


"Paman...saya cuma mau bilang kalau mau pulang untuk mengambil baju dan buku - buku kuliah."


Arthur tersenyum samar mendengar permintaan ijin nona mudanya.


"Semua keperluan nona sudah di persiapkan di walk in closet. Untuk buku - buku kuliah biar nanti sopir yang mengambilnya."


"Sudah di persiapkan? " tanya Elia dengan wajah bingung.


"Betul nona muda, nyonya besar sudah mempersiapkan semua keperluan nona muda dari beberapa hari yang lalu."


"Nenek.... " Elia menyebut lirih Feodora dengan mata sedikit berkaca - kaca karena merasa terharu. Tidak mungkin jika Yuri yang menyediakan bukan? Mengingat hal itu Elia tersenyum kecut.


"Ada lagi yang nona perlukan? " tanya Arthur setelah melihat Elia termenung.


"Bisakah paman memanggilku El saja?" pinta Elia dengan wajah memohon.


"Baiklah El."


"Terima kasih paman. Tapi ijinkan aku saja yang mengambil buku - buku di rumah ya paman."


"Tidak perlu di antar paman karena nanti sekalian aku bawa mobilku."


Arthur tidak habis pikir dengan nona mudanya, di garasi ada banyak mobil dan ada sopir yang siap sedia mengantar dia kemana pun. Tetapi nona mudanya ini seolah tidak tertarik sama sekali.


Akhirnya setelah mempertimbangkan beberapa hal Arthur mengijinkan Elia pulang ke rumah Mateo dengan syarat di antar sopir. Arthur juga mengantar Elia sampai di mobil dan berpesan agar sebelum jam makan malam Elia sudah kembali.


Tidak lama setelah Elia pergi terlihat mobil Yuri memasuki halaman. Yuri yang tidak memakai sopir segera turun dan dengan tergesa - gesa masuk ke dalam rumah.


"Paman, tolong siapkan koper saya sekarang juga!" perintah Yuri pada Arthur.


"Tuan muda mau pergi kemana?"


"Pulang ke Rusia."


"Tapi nona mud... "

__ADS_1


"Saya pergi sendiri paman." ucap Yuri memotong perkataan Arthur tanpa mau mendengarkan apa yang akan Arthur katakan.


Tanpa bicara lagi Arthur segera masuk ke kamar Yuri dan mengepak baju yang akan Yuri bawa.


"Nona muda sedang pulang mengambil buku kuliah." ucap Arthur sambil menutup koper Yuri. "Apa tuan muda tidak mau menunggunya? "


"Tidak." jawab Yuri sambil berjalan keluar dari kamar di ikuti Arthur yang menyeret koper di belakangnya.


Tanpa sepatah kata Yuri langsung memerintahkan sopir yang selalu siap sedia mengantar tuannya untuk segera berangkat. Dia hanya memandang sekilas ke arah balkon kamarnya. Arthur yang melepas kepergian Yuri hanya bisa mengelus dada.


"Semoga anda tidak akan menyesal tuan muda." ucap Arthur lirih. Dalam hati Arthur merasa sedih dan kasihan dengan nasib Elia. Dia memang jarang bertemu dengan gadis itu tetapi mengingat jalan hidupnya Arthur sangat menyayangi Elia.


Sementara itu Elia yang pulang dan baru tiba di sambut dengan wajah kebingungan Lucia.


"Sayang? "


Elia tersenyum sambil memeluk erat mamanya, dia tahu mamanya pasti berfikir yang tidak - tidak.


"El mau ambil buku - buku kuliah ma." bisik Elia yang membuat Lucia menjadi tenang.


"Kenapa tidak di antar Yuri? "


"Kak Yuri ada urusan penting ma, jadi El di antar sopir."


"Tapi... "


"El ke kamar dulu ya ma." Elia segera berlalu karena takut Lucia bertanya lebih lanjut.


Elia masuk ke kamarnya dan memilih buku - buku yang akan dia bawa. Tidak lupa dia juga mengepak beberapa baju dan sepatu juga tas. Meski menurut Arthur semua keperluannya telah tersedia tetapi entah mengapa dalam hati dia merasa kurang nyaman.


Lucia yang tadinya akan ke kamar pribadinya memutuskan untuk ke kamar Elia terlebih dahulu. "Sayang... bolehkah mama masuk? " tanya Lucia setelah mengetuk pintu.


"Masuk aja ma." balas Elia dari dalam kamar.


Lucia segera membuka pintu dan masuk. Dia memilih duduk di ranjang sambil memperhatikan Elia yang sibuk mengepak barang. Melihat Elia yang akan segera meninggalkan rumah membuat hati Lucia sedih, meskipun dia sudah merelakan Elia menikah dan ikut keluarga suaminya. Namun di sudut hatinya yang paling dalam dia merasa kehilangan.


Elia memang tidak terlahir dari rahimnya, tetapi dari bayi dia yang mengurusnya sepenuh hati. Kasih sayang yang dia berikan pun sama dengan yang dia berikan pada Sky dan Rain.

__ADS_1


"Semoga kebahagiaan selalu menyertai mu sayang."


__ADS_2