Luka Pernikahan

Luka Pernikahan
10. Tindakan Lucky


__ADS_3

Yuri yang tiba di Rusia di jemput langsung oleh Martin di bandara. Mereka tidak langsung pergi ke perusahaan seperti rencana semula, Yuri memilih beristirahat di apartemen miliknya terlebih dahulu. Bahkan Yuri belum berniat mengaktifkan handphone miliknya yang dia matikan sebelum pesawat tinggal landas. Dia belum siap memberi alasan kepergiannya jika papa serta kakek neneknya menghubunginya.


Begitu masuk apartemen Yuri memilih segera mandi dan ingin segera tidur. Martin sendiri memilih untuk tetap di apartemen Yuri dan melanjutkan pekerjaannya di sofa ruang tamu sambil menunggu perintah Yuri yang kadang tiba - tiba.


Tidak terasa sampai menjelang malam Yuri belum keluar dari kamarnya. Martin yang tadinya fokus pada laptop segera mengambil handphone untuk memesan makan malam untuk tuannya. Setelah pesanan datang Martin segera menatanya di meja makan. Menjadi asisten Yuri menuntut Martin harus bisa segala hal dan peka dengan keinginan Yuri yang perfectionis.


Setelah makan malam siap Martin segera mengetuk pintu kamar Yuri.


"Tuan, makan malam sudah siap." ucap Martin ketika Yuri membuka pintu kamar dengan wajah bantal.


"Hem... " jawab Yuri yang kembali masuk ke kamar untuk mencuci muka agar kelihatan lebih segar. Sesungguhnya dia masih sedikit jet lag, tetapi perutnya sudah demo minta di isi.


"Duduklah, temani saya makan! " perintah Yuri pada Martin.


"Baik tuan."


Mereka berdua makan sambil berbincang tentang masalah perusahaan selama Yuri pergi. Meski penasaran tetapi Martin menahan diri untuk tidak bertanya kenapa Yuri kembali ke Rusia lebih cepat.


Setelah selesai makan malam mereka melanjutkan obrolan di ruang tamu hingga rasa kantuk menyerang. Martin dan Yuri masuk ke kamar masing - masing.


Yuri terbangun karena mendengar ketukan di pintu padahal hari masih terlalu pagi.


"Apa kamu cari mati? " teriak Yuri yang kesal setelah membuka pintu dan melihat Martin di depan kamarnya.


"Maaf tuan, tetapi ini sangat penting. Perusahaan ada masalah tuan! " jawab Martin dengan ketakutan melihat aura kemarahan Yuri.


"Masalah apa? "


"Sebagian besar para investor tiba - tiba membatalkan kerja sama dengan perusahaan kita dalam pembangunan hotel tuan."


"Bagaimana bisa hah? "


Tanpa mandi Yuri dan Martin segera berganti baju dan bergegas pergi ke perusahaan. Martin melajukan kendaraan dengan kecepatan tinggi. Tiga puluh menit kemudian mereka sampai di perusahaan dan di sambut wajah panik Samuel sekertaris Martin di lobi perusahaan.


Mereka bertiga segera bergegas naik ke ruangan Yuri.

__ADS_1


"Jelaskan! " perintah Yuri sambil menatap tajam kearah Sam.


Sam menjelaskan masalah yang terjadi dengan gemetar.


"Kenapa bisa terjadi tiba - tiba dan secara bersamaan? " keluh Martin sambil memijat kepalanya. Sudah di pastikan mereka harus bekerja keras dalam mengatasi masalah tersebut.


"Berapa kerugian yang kita alami? "


"Sangat besar tuan, meski mereka membayar pinalti tetapi tidak dapat menutup biaya pembangunan hotel - hotel kita."


"****....Martin, hubungi kembali para investor yang membatalkan kerja sama dengan kita. Cari tahu alasannya! " perintah Yuri yang panik karena ini hal yang baru pertama kali di alaminya.


Tanpa menjawab Martin segera berlalu dari ruangan Yuri menuju ruangannya. Sementara itu Sam mengikuti Martin dari belakang. Dia tahu Martin lebih membutuhkan dirinya daripada Yuri. Selain itu berlama - lama satu ruangan dengan Yuri yang sedang marah dan panik hanya akan membuatnya ketakutan.


Yuri terduduk lemas di kursi kerjanya. Ini adalah hal yang baru pertama kali di alaminya. Dulu saat perusahaan masih di pegang kakeknya pun belum pernah ada cerita para investor membatalkan kerja sama. Bahkan di perusahaan papanya saja belum pernah terjadi.


"Memalukan."


Sementara itu jauh di negeri seberang Lucky tersenyum puas sekaligus getir setelah mendengar kabar dari orang suruhannya kalau perusahaan yang di pegang Yuri di ambang kebangkrutan. Secara diam - diam orang suruhan Lucky merayu beberapa investor untuk membatalkan kerjasama dengan perusahaan Yuri dan berpindah pada perusahaan Lucky yang di percayakan padanya.


Mariana yang melihat suaminya tidak seperti biasa menjadi menerka - nerka dalam hati. Mungkinkah kepergian Yuri yang tiba - tiba membuat suaminya menjadi lebih pendiam. Tetapi untuk bertanya lebih lanjut Mariana menunggu waktu yang tepat.


Keesokan harinya Mariana di buat terkejut dengan kepergian Elia dari rumahnya. Setelah sarapan bersama Elia berpamitan dengan cara baik - baik meski Mariana tidak terlalu menanggapinya. Bahkan Mariana bisa melihat wajah Lucky yang semakin mendung semenjak Elia meninggalkan rumah.


"Pa... " panggil Mariana setelah mengetuk dan membuka pintu ruang kerja Lucky.


Lucky yang sedang termenung di meja kerjanya menoleh karena panggilan isterinya.


"Ada apa ma? "


"Papa sedang sibuk? boleh mama masuk pa?"


"Masuklah ma! "


Mariana masuk dan duduk di sofa yang menghadap langsung ke arah Lucky.

__ADS_1


"Papa sedang ada masalah? "


"Tidak."


"Benarkah? " tanya Mariana penuh selidik.


Lucky yang sudah tahu kemana arah pembicaraan isterinya menghela nafas sambil menatap isterinya dengan perasaan campur aduk.


"Kenapa mama tidak menyukai Elia? " bukannya menjawab tetapi Lucky malah gantian mengajukan pertanyaan pada Mariana.


Mariana yang tidak siap dengan pertanyaan Lucky mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Pa... mama ingin tahu apa yang terjadi dengan papa bukan ingin membicarakan anak itu."


"Tetapi bagaimana jika yang terjadi dengan papa ada hubungannya dengan El? "


"Papa bersedih karena Yuri meninggalkannya?"


"Ya."


"Tetapi Yuri tidak menginginkan anak itu pa."


"Begitu juga mama kan? "


"Ma... mama." Mariana tidak bisa menjawab karena kenyataannya memang seperti itu. Meski sejak Elia di adobsi oleh Mateo dan Lucia mereka sering bertemu tetapi dia tidak pernah perduli dengan gadis kecil itu. Walau pun dadanya sering berdesir aneh jika menatap bola mata gadis itu.


"Elia sudah pergi karena anakmu mencampakkan nya dan mama pun tidak akan melihatnya lagi di rumah ini maupun di rumah Mateo. Papa tahu mama tidak pernah menyukai anak itu. Suatu saat jika mama dan Yuri mengetahui alasanku, ayah dan ibu menjodohkan Yuri dan Elia, semoga penyesalan kalian masih berguna."


"Maksud papa? "


Lucky tidak menjawab pertanyaan Mariana dan memilih berdiri dan berjalan ke arah jendela untuk melihat pemandangan di luar. Mariana yang merasa di abaikan Lucky memilih keluar dari ruang kerja suaminya. Tetapi baru saja dia melangkah menuju pintu terdengar suara Lucky yang membuatnya menoleh.


"Elia yang sah sebagai nona muda Romanov saja suka rela keluar dari rumah, papa harap keponakanmu tersayang itu juga segera angkat kaki dari rumah ini! Keberadaannya membuat mataku sakit."


Terdengar suara tegas Lucky yang membuat Mariana tidak bisa membantah lagi.

__ADS_1


__ADS_2