
Deg.
Mendengar kata gudeg membuat ingatan Yuri melayang pada Elia yang sangat menyukai gudeg. Dulu sewaktu kecil mereka berempat Sky, Rain, Yuri dan Elia beberapa kali di bawa Adrian berlibur ke Yogyakarta. Masih jelas dalam ingatan Yuri setiap hari Adrian dan Elia makan gudeg tanpa ada rasa bosan.
"Gudeg? Makanan apa itu? " tanya Sean kebingungan.
"Coba kamu browsing Sean! Aku sungguh menginginkannya. " rengek pudel dengan nada memelas.
"Kamu gak lagi hamil kan? " tanya Sean penasaran.
"Hah... hamil? Jelas tidak Sean. Pokoknya kalau balik kamu harus bawa gudeg. Tidak ada tapi - tapian. Titik... bye Sean." Sean hanya bisa melongo mendengar omongan pudel yang sedikit memaksa. Tidak biasanya gadis itu merengek padanya. Biasanya gadis itu hanya merengek minta sesuatu pada Sky.
Dengan wajah kebingungan Sean menatap Yuri seakan minta di jelaskan perihal makanan yang bernama gudeg. Yuri segera mengambil ponselnya dan mengetik sesuatu. Setelah itu dia menunjukkan gambar gudeg pada Sean.
"OmG... makanan apa itu? dimana harus beli? "
"Kapan kamu akan pulang ke Singapura?"
"Tiga hari lagi."
"Saya akan mencarikan gudeg pesanan teman isterimu. Besok saya kabari jika sudah mendapatkannya."
"Ya Tuhan... terimakasih Yuri, anda malaikat penolong saya." ucap Sean penuh rasa terimakasih karena dia tidak perlu repot mencari makanan tersebut.
"Dengan satu syarat... " ucap Yuri dengan penuh senyum licik.
"Apa itu? "
"Pertemukan saya dengan pudel jika nanti saya berkunjung ke Singapura."
__ADS_1
Sean tersenyum simpul mendengar syarat dari Yuri. Bukan syarat yang mudah karena pudel pasti tidak akan mau menemui Yuri.
"The real bisnisman hah?... "
"Di dunia ini tidak ada yang gratis bukan? "
Dalam hati Sean membenarkan perkataan Yuri. Jarang ada orang yang tulus membantu sesama, pasti ada alasan di balik tindakan seseorang. Apalagi mereka berdua sama - sama terjun di dunia bisnis, otomatis segala hal selalu penuh perhitungan.
"Mengapa anda tertarik dengan teman Kara?"
"Sudah saya bilang suaranya mengingatkan pada isteri saya, mungkin hanya mirip saja. Tolong ceritakan tentang dia! "
Pandangan Sean menerawang jauh sebelum menatap Yuri yang terlihat siap mendengarkan.
"Saya berhutang budi pada pudel, karena dia Kara akhirnya mau menikah. Saya dan Kara di jodohkan, dia anak angkat kepala pelayan di mansion. Demi kebahagiaan mama dan papa, saya menyetujui perjodohan itu. Kara juga demi orang tua angkatnya mau menerima perjodohan. Namun ketika mendekati hari pernikahan Kara menjadi insecure dan ragu untuk menikah." cerita Sean terjeda karena dia menyalakan rokok dan menghisapnya.
"Kenapa? "
"Maksudnya? "
"Gadis itu di jodohkan dengan anak pemilik perusahaan dimana ayah angkatnya bekerja. Setelah menikah tidak sampai dua puluh empat jam gadis itu sudah di tinggalkan oleh suaminya tanpa penjelasan apa pun. Hanya pria pengecut yang bisa melakukan hal laknat seperti itu."
Hati Yuri tiba - tiba merasakan sakit yang amat sangat karena mendengar cerita Sean. Jantungnya berdebar kencang karena merasa dirinya suami laknat tersebut.
"Gadis itu juga gadis biasa seperti Kara, bagi orang lain mungkin tidak ada yang istimewa. Tetapi bagi orang tua saya, Kara sangat istimewa sehingga mereka menjodohkan kami. Begitu pun gadis itu, pasti punya hal istimewa hingga di jodohkan dengan pria brengsek itu."
Sean menghisap rokoknya sambil menatap Yuri.
"Kara takut jika kejadian pudel itu terjadi pada dirinya. Dia berniat membatalkan pernikahan meski tahu akibatnya akan mempermalukan orang tua kami. Orang tua saya dan ibunya Kara bahkan gagal meyakinkan jika kejadian itu tidak akan menimpanya. Bahkan saya pun tidak bisa membuatnya percaya bahwa saya bukan pria brengsek. Kara merasa rendah diri dengan status anak angkat dan ekonomi yang jauh di bawah saya. Padahal keluarga kami bukan orang yang memandang harta sebagai tolak ukur dalam mencari pendamping."
__ADS_1
"Lalu apa yang membuat Kara akhirnya mau menikah? "
"Gadis itu meyakinkan Kara jika tidak semua pria seperti suaminya. Apalagi selama bertunangan saya tidak pernah memperlakukan Kara dengan tidak baik meski belum mencintainya. Sangat jauh berbeda dengan pudel yang selalu mendapat tatapan tajam dan ucapan kasar dari suaminya. Pudel bahkan mengancam Kara jika tidak mau melanjutkan rencana pernikahan kami maka pudel yang akan menikah dengan saya. Finally... Kara mau menikah dengan syarat saya tidak akan meninggalkan dia atau mengungkit soal status ekonomi kami yang berbeda."
Cerita Sean kembali terjeda karena dia meminum kopi dan menghisap rokoknya.
"Keluarga kami sangat berterima kasih dengan pudel, karena itu mama memberikan kamar khusus untuk pudel jika sewaktu - waktu menginap. Bahkan dia tidak pernah mau masuk ke kamar pribadi saya dengan Kara meski saya tidak ada. Menurutnya itu wilayah pribadi suami isteri, tidak pas jika dia masuk kesitu. Seperti saat ini, jika dia menginap, Kara lah yang ikut tidur di kamar pudel."
"Apa ada hal selain itu? " tanya Yuri yang semakin penasaran dengan sosok yang di panggil pudel tersebut.
"Banyak... dari pudel Kara belajar banyak hal. Salah satunya Kara tidak pernah menghamburkan uang untuk hal yang tidak penting. Dia mengikuti gaya hidup pudel yang meski menjadi menantu orang kaya tetapi hidup sederhana. Meski suaminya meninggalkan pudel tetapi mertuanya tetap memperhatikan kehidupan dan keuangannya. Bisa saja dia hidup mewah dan berfoya - foya, tetapi itu tidak dia lakukan."
"Siapa nama aslinya dan kenapa bisa di panggil pudel? "
"Wow... anda ternyata sangat penasaran tuan muda. Entah mengapa saya menjadi curiga kalau anda tertarik dengan orang yang belum pernah anda temui." ucap Sean sambil memandang Yuri dengan penuh selidik.
"Sudah malam, saya pamit dulu." pamit Yuri sambil berdiri setelah memasukan ponsel ke sakunya tanpa menunggu jawaban Sean.
"Sampai jumpa Sean."
"Ana... namanya Ana Wijaya. Dia di panggil pudel karena dia imut dan lucu."
Perkataan Sean membuat Yuri yang sudah melangkah pergi menghentikan langkahnya. Wijaya... nama itu seperti nama panjang Elia. Mungkin hanya kesamaan nama saja pikir Yuri.
"Thanks." ucap Yuri tanpa menengok ke arah Sean dan melanjutkan langkah keluar dari cafe.
Sean hanya memandang punggung Yuri yang kian menjauh dengan senyum misterius. Setelah menghabiskan kopi pesanannya Sean segera beranjak pergi kembali ke hotel.
Ketika sudah sampai di kamar hotel ketika akan meletakan ponsel di nakas, Sean melihat ada pesan dari Kara.
__ADS_1
"Sayang kenapa kamu bertemu dengan pria brengsek itu? Awas jika kamu punya rencana aneh."
Bukannya membalas pesan Kara, Sean malah tersenyum karena isterinya itu selalu mengancam dirinya. Bukannya marah tetapi Sean malah merasa gemas dan makin merindukan isterinya.