
Satu tahun kemudian...
Hampir satu tahun Yuri berusaha bangkit dari kebangkrutan, tetapi setiap dia memulai usaha selalu gagal. Semua usaha sia - sia, selalu saja ada hal yang menjadi kendala. Semesta seakan tidak memberi kesempatan dirinya untuk bangkit lagi. Martin dan Sam yang masih setia menemaninya pun tidak habis pikir kenapa sangat sulit untuk membuka usaha lagi. Yuri tidak sadar jika semua itu terjadi karena campur tangan Lucky. Jika saja Yuri peka seharusnya dia merasa aneh karena Lucky serta kakek dan neneknya tidak pernah menghubungi dirinya padahal dia telah meninggalkan Elia.
Melihat Martin dan Sam yang ikut kesusahan karenanya Yuri memutuskan untuk pulang ke Indonesia. Setidaknya disana dia bisa bekerja di perusahaan papanya begitu pula Martin dan Sam jika mereka berdua tetap ingin mengikutinya.
"Sam... Martin ada yang ingin kusampaikan pada kalian." Yuri memutuskan membicarakan rencananya saat makan malam.
Martin dan Sam tidak menjawab hanya menatap Yuri dengan penuh penasaran.
"Aku sudah memutuskan untuk pulang ke Indonesia. Jika kalian tetap ingin bersamaku, ayo ikut denganku. Mungkin aku bisa membuat kalian bekerja di perusahaan papa."
"Saya ikut tuan muda." tanpa ragu Martin langsung memutuskan. Apalagi dia yatim piatu jadi tidak ada yang membuatnya berat meninggalkan negara kelahirannya.
Yuri beralih menatap Sam yang seperti sedang berfikir. Martin juga mengarahkan pandangan pada Sam yang duduk di sebelahnya.
"Saya juga akan ikut tuan muda, tetapi saya minta waktu untuk berpamitan dengan ibu saya." akhirnya Sam membuka mulutnya. Ada rasa berat untuk meninggalkan ibunya tetapi Sam juga ingin berpetualang jauh mumpung masih muda. Apalagi ada kesempatan karena Yuri mengajaknya untuk turut serta.
"Baiklah, besok temui ibumu untuk meminta ijin. Tetapi jika ibumu tidak memperbolehkan sebaiknya kamu tetap di sini."
"Siap tuan muda."
"Kapan kita akan pergi ke Indonesia tuan muda? " tanya Martin meminta kejelasan waktu keberangkatan agar bisa mempersiapkan semuanya.
"Seminggu lagi."
"Terus bagaimana dengan mansion ini tuan muda?" tanya Sam yang merasa sayang jika mansion itu di tinggalkan dalam keadaan kosong tanpa ada yang mengurusi.
__ADS_1
"Aku sudah menghubungi bekas kepala pelayan di mansion ini dan dia bersedia mengurus dan menjaganya."
Setelah di rasa tidak ada yang perlu di bahas mereka makan dalam diam.
Usai makan malam dan membereskan bekas makanan, mereka langsung masuk ke kamar masing - masing tanpa berkumpul di ruang santai seperti biasa.
Seperti malam - malam sebelumnya Yuri kesusahan untuk tidur. Sejak perusahaannya bangkrut mental Yuri down dan berpengaruh pada pola tidurnya. Bahkan dia sering mengkonsumsi obat tidur.
Seperti malam ini meski sudah tengah malam tetapi matanya sulit terpejam. Hingga Yuri memutuskan untuk duduk merokok di balkon sambil melihat gelapnya malam.
Saat dia merokok sambil memejamkan mata tiba - tiba wajah cantik Elia melintas di pikirannya.
"El... " tanpa sadar Yuri menyebut nama Elia. Setelah setahun meninggalkan dan melupakan Elia tiba - tiba Yuri teringat dengan Elia.
Tiba - tiba saja dia juga penasaran dengan kehidupan Elia paska menikah dengannya. Apakah Elia menunggunya atau justru meninggalkannya. Tetapi Yuri lebih meyakini kalau Elia tidak mungkin meninggalkannya karena saat ini pasti dia hidup mewah dan bergelimang harta sebagai nona muda Romanov. Apalagi ada kakek nenek serta papanya yang selalu menyayangi Elia.
Setelah mendapatkan ide itu wajah Yuri berseri - seri dan tidak sabar kembali ke indonesia. Tanpa dia tahu akan ada kejutan besar yang menantinya di Indonesia yang akan membuatnya ingin mati saja.
Sementara itu di kamar lain terlihat Sam dan Martin sedang terlibat pembicaraan serius. Memang tadi setelah makan malam Sam dan Martin masuk ke kamar masing - masing. Tetapi satu jam kemudian Martin mendatangi kamar Sam.
"Kau gila Sam, jika tuan muda tahu pasti akan membunuhmu." Martin menatap Sam dengan pandangan berapi - api.
"Tuan muda tidak akan tahu jika kamu menutup mulutmu itu bodoh." balas Sam tidak kalah dengan Martin.
Pandangan matanya tidak kalah tajam dengan tatapan Martin. Baru kali ini pula Martin mengetahui sisi lain mantan asistennya itu. Biasanya Sam terlihat lugu dan cenderung takut tetapi yang dia lihat malam ini sangat jauh berbeda.
"Kau... ah kau pengkhianat Sam! " Martin memilih menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Sungguh dia tidak menyangka jika Sam mantan asistennya bisa berkhianat pada Yuri.
__ADS_1
Martin mendatangi kamar Sam karena tidak bisa tidur dan bermaksud mengajak Sam untuk minum kopi bersama. Tetapi dia tertegun di depan kamar Sam yang pintunya tidak tertutup rapat ketika mendengar Sam berbicara dengan seseorang melalui telefon.
"Ya aku pengkhianat Teo, tetapi belum saatnya kamu tahu alasanku. Lebih baik kamu lupakan apa yang kamu dengar tadi."
"Sejak kapan Sam?" tanya Martin setelah mereka diam beberapa saat.
"Sejak tuan muda kembali kesini." jawab Sam sambil menyulut rokoknya.
"Siapa kamu yang sebenarnya Sam?"
"Aku Samuel mantan asistenmu."
"Kamu tahu bukan itu maksudku."
"Ah Martin... lebih baik kamu jangan banyak bertanya, itu hanya sia - sia dan akan membuatmu makin penasaran. Belum saatnya kau tahu." Sam menjawab sambil menyeringai ke arah Martin.
Dengan langkah lunglai Martin keluar dari kamar Sam. Saat dia melintas di depan kamar Yuri, Martin berhenti sejenak dan menatap pintu yang tertutup rapat.
"Jika anda mengetahui apa yang dilakukan Sam, hajar saja dia. Cabik - cabik saja wajah lugunya itu tuan muda." ucap Martin dalam hati.
Keesokan harinya Yuri dan Martin hanya sarapan berdua karena pagi - pagi sekali Sam sudah pergi. Bisa jadi ke rumah ibunya atau ketempat lain.
Meski Martin merasa diamnya seakan mengkhianati Yuri tetapi dia tidak berani mengatakan apa yang di dengarnya semalam. Martin ingin menyelidiki terlebih dahulu agar mendapatkan bukti kuat.
Seminggu kemudian Yuri, Martin dan Sam meninggalkan Moskwa dengan menggunakan pesawat komersil. Bahkan mereka duduk di kelas ekonomi demi menghemat pengeluaran.
Begitu sampai di Indonesia pun tidak ada sopir yang menjemput Yuri karena Yuri tidak mengabari kalau akan pulang. Akhirnya mereka bertiga naik taksi yang mangkal di dekat bandara. Yuri sedikit merasa heran karena Martin dan Sam terlihat tidak bicara satu dengan yang lain selama dalam perjalanan.
__ADS_1
"Well... well lihat siapa yang datang."