Luka Pernikahan

Luka Pernikahan
4. Rencana Yuri


__ADS_3

Yuri melajukan mobilnya ke arah perusahaan papanya tanpa merasa bersalah pada Elia karena telah bersikap ketus. Dia harus mencari tahu alasan perjodohan itu.


Sampai di perusahaan dia langsung menuju lantai atas dimana ruangan Lucky berada. Mateo yang baru saja keluar dari ruangan Lucky sedikit terkejut melihat Yuri berada di sana. Seingatnya hari ini Yuri dan Elia melakukan fitting baju pengantin.


"Paman." sapa Yuri dengan sedikit kaku dan merasa khawatir kalau Mateo akan memberondongnya dengan berbagai pertanyaan tentang Elia. "Apa papa ada di dalam? "


"Oh ada... silahkan masuk tuan muda."


"Panggil Yuri saja paman."


Mateo hanya mengangguk dan berlalu pergi karena ada yang harus di kerjakan


Tanpa mengetuk pintu Yuri masuk ke ruangan Lucky. Lucky yang sedang sibuk mempelajari berkas segera mengalihkan pandangan ke arah pintu yang terbuka.


"Apakah kau sudah kehilangan sopan santunmu Yuri Romanov? " tegur Lucky dengan tegas dan tatapan tajam. Dia paling tidak suka dengan orang yang masuk ke ruangannya tanpa permisi tidak perduli bahwa itu anak dan isterinya.


"Maaf pa." Yuri menunduk karena menyesal kenapa tidak mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk. Pikirannya benar - benar kacau hingga melupakan sopan santun. Yuri juga menganggap itu hal yang sepele karena di Rusia dia biasa masuk ke ruangan Martin tanpa mengetuk pintu. Yuri lupa kalau Martin dan Lucky dua orang yang berbeda.


"Kamu itu calon pemimpin di perusahaan ini, apa kata para karyawan jika tahu kelakuanmu seperti ini." Lucky masih saja memarahi Yuri meski sudah minta maaf.


"Apa yang membawamu kemari, bukankah seharusnya kamu dan El fitting baju pengantin? " tanya Lucky setelah Yuri duduk di depannya.


"Pa, bisakah pernikahan ini di batalkan? " pinta Yuri dengan suara penuh permohonan.


"Beri papa satu alasan mengapa kamu minta di batalkan. Apa El kurang cantik? kurang menarik? "


"Bukan soal itu pa, tetapi kami tidak saling mencintai pa dan El masih terlalu muda, apa bisa dia mengimbangi Yuri sebagai pemimpin perusahaan? "


Lucky menatap tajam putranya yang seakan meremehkan Eliana.

__ADS_1


"Yuri jangan lupa papa dan mamamu ini menikah juga karena perjodohan. And see... pernikahan kami berhasil. Cinta bisa tumbuh setelah menikah asal kalian berdua berkomitmen untuk saling menerima. Soal mampu dan tidaknya El mendampingimu jangan khawatir, dia sudah di didik sebagai nona muda Romanov dari beberapa tahun yang lalu."


"Tapi pa... "


"Papa tidak bisa mengabulkan permintaan pembatalan dengan alasan konyol yang kamu sampaikan."


Yuri tertunduk lesu dan tidak bisa berkata - kata lagi.


"Cobalah untuk menerima El, papa dan kakek tidak mungkin memilihkan jodoh yang tidak baik untukmu."


"Boleh Yuri tahu alasan perjodohan ini pa? "


"Tidak."


Yuri semakin putus asa karena tidak mendapat jawaban atas pertanyaan satu itu. Merasa kedatangannya sia - sia Yuri memilih pamit untuk pulang.


Sebelum membuka pintu untuk keluar terdengar suara Lucky yang membuat Yuri seketika berhenti.


Tanpa menjawab Yuri keluar ruangan dengan wajah terlihat marah. Para karyawan yang melihat aura marah pada wajah Yuri hanya menunduk. Yuri merasa hidupnya sudah seperti robot yang di jalankan menurut remote kontrol. Kapan dan dengan siapa dia menikah dan apa yang harus di kerjakan semua sudah di tetapkan papa dan kakeknya.


Yuri memutuskan untuk pulang ke rumah karena tidak ada tujuan ke tempat lain. Dia sudah lama meninggalkan kota ini dan tidak punya teman yang bisa di kunjungi.


Sampai di rumah dia melihat Mariana sedang berbincang dengan Malika di ruang tamu.


"Sayang kamu sudah pulang, mama kira kamu akan pulang sore."


"Semua urusan sudah selesai, Yuri ke kamar dulu ma, capek mau istirahat."


"Eh... tapi ada Malika lho sayang, kalian sudah lama tidak bertemu bukan? Apa tidak kangen dengannya?"

__ADS_1


Mendengar perkataan mamanya, Yuri mengerutkan keningnya karena merasa aneh. Apalagi ketika melihat kearah Malika gadis itu tersenyum malu - malu.


"Maaf ma, Yuri lagi ingin istirahat." ucap Yuri sambil melangkah naik tangga meninggalkan Mariana dan Malika yang terlihat sangat kecewa. Bahkan Yuri tidak menyapa Malika sama sekali.


"Maafkan Yuri ya nak, dia masih masih capek karena baru kemarin pulang."


"Iya tante, tidak masalah." ucap Malika dengan tutur kata lembut meski tangannya mengepal."


Malika berada di kediaman Mariana cukup lama, sesekali matanya melirik ke tangga berharap Yuri turun dari kamarnya. Namun harapan tinggal harapan, karena sampai dia berpamitan Yuri tidak keluar kamar.


Sementara Yuri yang berada di dalam kamarnya sedang merokok di balkon. Hanya rokok yang jadi pelampiasannya saat iniini karena di rumah ini tidak ada minuman alkohol sama sekali. Mariana tidak suka jika Lucky atau Yuri minum alkohol. Yuri sama sekali tidak memandang ke bawah ketika mobil Malika meninggalkan halaman.


Yuri sedang membayangkan Elia dan mencoba menemukan apa yang istimewa dari gadis itu sehingga papa dan kakeknya menjodohkan mereka. Tetapi sampai beberapa saat dia tidak menemukan apa - apa. Menurutnya Elia hanya gadis kecil yang manja dan tidak bisa apa - apa. Wajahnya juga kelewat polos dan lugu. Dalam penilaian Yuri pasti Elia tidak bisa apa - apa dan hanya akan merepotkan nya.


Setelah menghabiskan beberapa batang rokok, Yuri tersenyum smirk setelah menemukan ide di kepalanya.


"Baiklah aku akan menikahimu gadis kecil dan kita lihat nanti apa yang akan kamu lalui."


Karena menolak juga tidak mungkin sebab bisa membuat malu dan murka papa, kakek dan neneknya. Apalagi beberapa persiapan sudah mulai di lakukan. Lebih baik dia membuat rencana apa yang akan dia lakukan setelah menikah.


Setelah itu Yuri mengetik pesan kepada Martin kalau dia masih cukup lama berada di Indonesia karena akan menikah. Selain itu dia memberi perintah apa saja yang harus Martin lakukan selama Yuri belum pulang ke Rusia.


Martin yang sedang bertemu sekalian makan siang dengan klien seketika tersedak ketika membaca pesan dari tuannya.


"Tuan Martin anda baik - baik saja? " tanya kliennya sambil mengulurkan gelas.


"Terima kasih, saya baik - baik saja." jawab Martin sambil menerima gelas dan meminumnya.


"Kemarin aja emosian pakai drama menolak segala, cih....begitu pulang dan ketemu langsung nona Elia jadi ngebet kawin... eh nikah." Dalam hati Martin mentertawakan tuannya. Tanpa Martin ketahui Yuri telah membuat rencana yang akan membuatnya kerepotan dan kalang kabut kedepannya.

__ADS_1


"Tuan baik - baik saja? " tanya si klien yang heran dengan Martin setelah tadi tersedak sekarang jadi senyum - senyum sendiri setelah membaca pesan di gadgetnya.


"Oh saya baik - baik saja, mari silahkan di lanjutkan makannya."


__ADS_2