
Beberapa hari setelah pesta perusahaan akhirnya pesta pernikahan Yuri dan Elia di laksanakan. Meski pun Yuri meminta tidak ada pesta yang megah tetapi Feodora dan Adrian tetap menyelenggarakan pesta dengan mewah. Lucky pun mendukung semua keputusan ayah dan ibunya. Sementara Mariana mau tak mau juga mendukung mertuanya meski dalam hati tidak rela anaknya menikahi Elia. Apalagi Mariana melihat Yuri pun tidak menolak seperti hari kemarin meski tidak antusias seperti calon pengantin pada umumnya.
Sedangkan Elia juga seperti Yuri, menuruti semua keinginan Feodora karena tidak ingin membuat Feodora bersedih.
Setelah mengucap janji suci pernikahan dan pemasangan cincin Yuri dan Elia berdiri di pelaminan untuk menerima ucapan selamat dari para tamu.
Elia berusaha menampilkan senyum terbaiknya, sementara Yuri tetap dengan wajah datarnya. Meski tidak pernah menatap wajah Elia tapi sudut mata Yuri sering mencuri pandang. Dia mengakui jika malam ini Elia begitu cantik, anggun dan berkelas.
Gio, Daniel dan Franti terlihat mendekat untuk memberi selamat pengantin baru.
"Selamat bro... akhirnya nikah juga." ucap Gio sambil memeluk Yuri dengan hangat.
"Terima kasih." balas Yuri dengan suara biasa saja.
"Jangan terlalu dingin, kasihan kakak ipar." bisik Gio dengan suara meledek.
"Hem... "
"Selamat ya kakak ipar." ucap Gio beralih menjabat tangan Elia.
"Terimakasih kak."
Daniel yang berdiri di belakang Gio juga memberi ucapan selamat.
"Selamat ya bro, setelah ini aku tunggu launching ponakan darimu." ucap Daniel dengan wajah tengil. Yuri tidak menanggapi tapi memberikan tatapan tajam pada Daniel.
"Selamat ya kak, cepat buatin aku ponakan yang banyak ya kakak ipar." ucap Franti sambil memeluk Elia. Dia cuma memberi selamat kepada Elia dan melewati Yuri begitu saja. Yuri yang sudah hafal dengan tingkah laku Franti hanya menggelengkan kepala.
"Eh... " Elia tidak tahu harus menjawab apa hanya tersenyum samar. Mempunyai anak belum ada dalam bayangannya, bahkan nasib pernikahan tanpa cinta ini entah kelanjutannya.
__ADS_1
Selama pesta Elia lebih banyak tersenyum dan basa basi dengan tamu undangan yang memberikan ucapan selamat. Elia sadar sekarang dirinya nona muda Romanov, jadi dia tidak ingin ada orang yang merendahkannya.
Yuri pun kaget dengan perubahan Elia dari gadis pendiam dan lugu menjadi wanita berkelas. Dalam penglihatannya selama pesta Elia selalu menegakkan kepala dan tidak pernah menunduk. Tanpa Yuri ketahui jika sang nenek lah yang telah mendidik Elia selama ini. memberi wejangan apa yang harus dilakukan dan tidak di lakukan. Bahkan Feodora juga mendatangkan guru les kepribadian ke rumah Mateo.
Setelah melewati serangkaian acara dan hampir tengah malam akhirnya pesta usai. Yuri terlihat masih berbincang dengan para sepupunya tentang seputaran bisnis mereka.
"Oya Niel, aku dengar kamu butuh sekertaris baru." ucap Gio pada Daniel.
"Iya."
"Loh bukannya sudah ada Malika sebagai sekertaris? " tanya Yuri sedikit bingung."Apa kamu butuh sekertaris lebih dari satu? "
"Ah dia sudah ku pecat tepat setelah acara pertunanganmu kemarin."
"What? Kenapa? "
"Maksudmu? " tanya Yuri yang semakin bingung dengan jawaban Daniel.
"Intinya dia tidak lemah lembut seperti yang terlihat selama ini."
"Manipulatif? " tanya Gio yang ikut penasaran.
"Ya... seperti itu, meski aku tahu dia sepupumu dan aku juga gak enak dengan tante Mariana tapi aku juga harus tegas bukan jika sudah merasa tidak nyaman bekerja sama dengan seseorang." jawab Daniel sedikit menjelaskan dengan Yuri. Bagaimanapun Malika masih sepupu Yuri dan Daniel tidak mau Yuri merasa tersinggung.
"Tidak masalah, kamu bosnya. Senyamannya kamu saja, mama pasti juga mengerti. " ucap Yuri yang tidak ingin membuat Daniel merasa bersalah.
Sementara itu Elia terlihat duduk bergabung bersama Lucia dan keluarga inti Romanov ketika di tinggalkan Yuri sendirian di atas pelaminan.
Tidak lama kemudian Yuri datang dan ikut bergabung dengan keluarganya.
__ADS_1
"Sayang, terlepas dari apa alasan kalian menikah nenek harap kamu bisa memperlakukan Yuri sebagai suamimu." pesan Feodora dengan menggenggam tangan Elia.
"Mama juga minta kamu untuk menjadi isteri yang berbakti pada suami." Lucia ikut menasehati Elia. "Dan pesan tante padamu Yuri, sekali lagi tolong jangan sakiti El. Jika kamu tidak menginginkannya kembalikan dia pada kami secara baik - baik."
"Baik tante." jawab Yuri yang tidak ingin mendengar ucapan Lucia lebih banyak lagi.
Sementara Mariana yang mendengar nasehat Feodora dan Lucia pada Elia dan Yuri merasa sedikit tersentil karena tidak mengucapkan selamat apalagi memberi pesan pada Elia.
"Sudah malam, sebaiknya bawa istrimu beristirahat! " perintah Lucky yang melihat wajah lelah Elia.
"Baik pa, ayo El kita pergi! "
"Kakek, nenek, papa, mama El pamit dulu ya." pamit Elia kemudian berdiri dan mengikuti Yuri yang berjalan lebih dahulu meninggalkan ball room dan masuk lift yang akan membawa mereka ke kamar pengantin di hotel tersebut. Selama di lift tidak ada perbincangan di antara keduanya. Baik Yuri maupun Elia hanyut dalam pikiran masing - masing.
Setelah sampai di kamar mereka, keduanya masih diam. Ada rasa canggung yang menghinggapi hati masing - masing. Hingga Elia yang pertama kali mengajak bicara.
"Kakak atau El yang mandi duluan? "
"Terserah." jawab Yuri yang terlihat mulai sibuk dengan ponselnya.
Elia hanya bisa menghela nafas dan mengambil baju ganti di kopernya dan berlalu menuju kamar mandi. Setelah membersihkan diri selama setengah jam lebih Elia keluar dan mengeringkan rambut agar tidak masuk angin.
Yuri yang melihat Elia sudah selesai mandi segera bergegas ke kamar mandi. Tubuhnya sudah terasa lengket dan lelah minta di istirahatkan. Yuri hanya mandi seperlunya tanpa berendam. Begitu keluar dari kamar mandi dia melihat baju gantinya sudah di siapkan Elia. Sedangkan Elia sudah terlihat terlelap di ranjang, wajahnya terlihat lelah.
"Secepat itu tertidur? Kebo apa orang sih." ucap Yuri sambil mengenakan piyama kemudian berbaring di samping Elia. Namun hingga beberapa saat matanya tidak juga terpejam bahkan rasa kantuknya seperti menguap. Akhirnya Yuri memutuskan untuk merokok di balkon kamar menunggu rasa kantuk datang lagi.
Elia terbangun dari tidurnya karena merasa kedinginan akibat angin yang berhembus dari pintu balkon yang terbuka. Ingin bangkit dan menutup pintu tapi rasanya enggan bangun. Ketika dia menoleh kesamping dan mengedarkan pandangan ke seluruh kamar tapi tidak menemukan keberadaan Yuri.
"Bahkan di malam pertama pun kamu sudah tidak sudi tidur denganku kak." Elia bermonolog sedih dalam hati. Takut terlalu banyak pikiran Elia memilih menaikan selimut sampai dada dan melanjutkan tidur. Tanpa Elia tahu kalau Yuri sempat tidur beberapa saat di sampingnya.
__ADS_1