Luka Pernikahan

Luka Pernikahan
Tidak Berguna


__ADS_3

Beberapa minggu setelah kepulangan Sean ke Singapura, Sean mendapat pesan dari Yuri jika dia akan berkunjung ke mansionnya sekaligus berkunjung ke perusahaan cabang yang ada di negara itu. Setelah berfikir cukup lama Sean merasa mungkin ini waktunya bagi Elia dan Yuri bertemu untuk menyelesaikan masalah diantara mereka berdua. Jika pun akhirnya Yuri dan Elia berpisah setidaknya mereka pernah duduk berdua dan mencoba menyelesaikan masalah.


"Honey." panggil Sean pada Kara saat mereka sedang sarapan berdua.


"Ya sayang? ada yang kamu butuhkan?"


Sean tersenyum mendengar pertanyaan isterinya yang selalu memperhatikan kebutuhannya.


"No... tidak ada, hanya saja ada yang harus kamu ketahui."


"Apa itu sayang? "


"Yuri akan datang ke negara ini."


"Apa? " teriak Kara dengan panik, dalam pikirannya dia harus segera menyembunyikan Elia seaman mungkin agar tidak bertemu Yuri.


"Honey, sudah saatnya mereka bertemu dan bicara." ucap Sean seakan tahu apa yang isterinya khawatirkan.


"Tapi sayang... "

__ADS_1


"Honey sudah saatnya mereka bertemu dan bicara untuk menentukan kelanjutan hubungan mereka." ucap Sean tegas tanpa menunggu kata keberatan yang akan di ucapkan isterinya.


"Baiklah, tapi apa kak Sky juga tahu akan hal itu? "


"Belum nanti aku akan menghubungi Sky saat di kantor."


Setelah itu tidak ada percakapan lagi di antara mereka, hanya suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring. Sesekali Sean menatap Kara sambil tersenyum tipis. Dia bersyukur waktu itu tidak menolak perjodohan dengan Kara karena ternyata isteri yang di pilihkan orang tuanya adalah yang terbaik. Meski masih muda tetapi bisa melayani, menurut dan memahami dirinya.


Setelah sarapan selesai Sean segera bangkit dan berjalan keluar. Kara mengikuti di belakang Sean sambil membawakan tas kerja suaminya. Sean mencium kening Kara sebelum masuk kedalam mobil.


Sementara itu di Indonesia Yuri tengah berada di mansion Adrian. Setelah sekian lama akhirnya dia punya keberanian mengunjungi kakek dan neneknya.


Meski Adrian dan Feodora bersikap biasa tetapi Yuri merasa ada dinding pembatas di antara mereka. Walaupun mereka membahas berbagai hal tetapi baik Adrian maupun Feodora tidak pernah membahas masalah Elia.


"Maaf untuk apa? " tanya Adrian dengan ekspresi wajah kebingungan.


"Maaf karena telah menyakiti El."


Hening... tidak ada tanggapan apapun dari Adrian maupun Feodora. Tetapi Yuri dapat melihat jika Feodora menitikkan air mata.

__ADS_1


"Kami yang harusnya minta maaf kepadamu karena memaksamu menikah dengan El. Maafkan kami."


"Tidak....papa, kakek dan nenek tidak bersalah. Tidak seharusnya Yuri bersikap seperti itu. Yuri menyesal kek."


"Sekarang kamu bebas menentukan hidupmu, kakek dan nenek tidak akan ikut campur tangan lagi. Hanya satu yang kami minta, tolong permudah urusan El kalau dia meminta cerai darimu. Jika kamu berhak bahagia, begitu pula El."


Yuri menggelengkan kepalanya, bukan ini yang dia mau. Dia datang untuk memperbaiki hubungan dengan kakek dan neneknya serta Elia.


"Tidak kek, Yuri tidak akan menceraikan El."


"Kenapa?"


"Yuri akan menerima El dan memulai hubungan dari awal." jawab Yuri dengan wajah sendu penuh penyesalan.


"Sejak kapan seorang Yuri menjilat ludahnya sendiri? Bukankah dulu kamu menolak dengan berbagai alasan? " Adrian menatap remeh pada Yuri seakan tidak percaya dengan jawaban Yuri.


"Perlu kamu ketahui, niatmu itu sudah tidak berguna sama sekali."


"Tidak berguna?"

__ADS_1


"El sudah memutuskan untuk tidak terlibat lagi dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan keluarga Romanov."


"Apa?" Yuri terlonjak kaget mendengar perkataan Adrian.


__ADS_2