Luka Pernikahan

Luka Pernikahan
Ana


__ADS_3

Di belahan bumi yang lain terlihat dua orang gadis cantik sedang bergosip di sebuah kamar mewah. Terlihat berbagai macam camilan dan minuman kaleng berserakan di atas karpet.


"Ra kapan Sean pulang?" tanya Ana sambil mengunyah camilan.


"Entah, tadi waktu telfon tidak sempat tanya, kenapa del? "


"Ish del... del... emang namaku perkedel apa. Huh...dasar santan." ucap Ana dengan wajah cemberut.


"Habis kamu kan lucu dan imut seperti moly."


"Tolong bilang ke Sean kalau aku pingin di bawain gudeg ya Ra, please! "


Kara menatap Ana dengan heran karena tidak biasanya gadis itu meminta sesuatu pada Sean.


"Tumben banget sih kamu minta ke Sean?"


"Soalnya kalau mau minta ke kak Sky belum tahu kapan dia balik kesini. Gak boleh ya kalau aku minta ke Sean? "


"Eh... bukan gitu Na, boleh kok kamu minta ke Sean. Aku hubungi Sean ya nanti kamu bilang sendiri ke dia."


Kara segera mengambil ponselnya dan kembali menghubungi sang suami yang baru beberapa saat lalu dia telfon.


"Hai honey, kenapa telpon lagil? Katanya mau tidur, masih kangen hem.. " tanya Sean begitu wajahnya muncul di layar ponsel Kara.


"Ck... ini si pudel mau minta sesuatu sama kamu sayang." ucap Kara dengan wajah pura - pura cemberut dan memberikan ponselnya pada Ana yang di terima Ana dengan antusias.


Kara masuk ke kamar mandi meninggalkan Ana dan Sean yang bercakap - cakap via ponsel. Sepuluh menit kemudian ketika keluar Kara melihat Ana sudah membaringkan badan di ranjang.


"Bagaimana del, Sean bilang apa? " tanya Kara sembari membaringkan badan di samping Ana.


"Enggak bilang apa - apa, aku cuma pesan terus aku tutup telfonnya." jawab Ana tanpa merasa bersalah.


Kara yang mendengar hal itu malah tertawa terbahak - bahak karena membayangkan wajah bingung suaminya. Ah hanya membayangkan wajah Sean saja tiba - tiba Kara menjadi sangat rindu.


"Terimakasih ya del." ucap Kara dengan tulus tanpa menghadap ke arah Ana.


"For what?"


"Karena sudah meyakinkan ku untuk mau menikah dengan Sean."


"Apa kamu bahagia Ra? "


"Sangat... sangat bahagia."


Ana menoleh ke arah Kara dan menggenggam tangannya.

__ADS_1


"Aku ikut bahagia Ra, Sean pria yang baik. Kata kak Sky, Sean belum pernah berhubungan dengan wanita manapun."


"Semoga kamu juga segera menemukan kebahagiaan sepertiku." ucap Kara sambil membalas genggaman tangan Ana.


Namun seketika Kara ingat dengan wajah rekan bisnis Sean yang baru saja dia sapa tadi.


"Boleh aku tanya sesuatu? "


"Tanya saja."


"Apa kamu tidak ingin bertemu dengan suamimu sebelum mengajukan perceraian?" tanya Kara dengan hati - hati takut menyinggung Ana.


"Tidak Ra, buat apa. Aku takut semakin sakit hati jika melihat wajahnya."


"Terus kapan kamu akan mengajukan perceraian?"


"Setelah kak Sky balik kesini, dia bilang akan membicarakan masalah itu dengan papa dulu."


"Bagaimana jika suamimu tidak ingin bercerai? "


"Impossible... udah ah ayo tidur, ngapain bahas calon mantan." ucap Ana sambil memunggungi Kara dan memejamkan mata.


Mendengar ucapan Ana, Kara pun tidak jadi mengatakan jika suami Ana menjadi rekan bisnis Sean. Akhirnya Kara mengikuti Ana memejamkan mata dan tidak lama kemudian tertidur pulas.


Tanpa Kara ketahui ternyata Ana hanya pura - pura tidur. Rasa kantuk yang tadi menyerang tiba - tiba menguap karena Kara membahas tentang suaminya.


Banyak rencana yang dia siapkan setelah perceraian selesai. Salah satunya pergi jauh dari Singapura dan memulai hidup baru dengan status baru. Tidak ada keinginan sedikit pun untuk kembali menetap di Indonesia mengingat suaminya tinggal disana.


"Kakek, nenek, papa Lucky, mama, papa, kak Rain...semoga kalian selalu baik - baik saja. Aku sangat merindukan kalian." jerit Ana dalam hati dan dengan air mata yang menetes di pipi.


Ketika pagi tiba Kara merasa aneh karena tidak menemukan Ana di kamar. Tidak biasanya gadis itu keluar kamar sebelum dirinya bangun. Setelah mencuci muka Kara keluar dari kamar Ana.


"Apa kalian melihat Ana? " tanya Kara pada para pelayan yang sedang sibuk di dapur menyiapkan sarapan.


"Oh... nona Ana sedang lari di halaman belakang nona." jawab salah seorang pelayan.


Tanpa bicara lagi Kara menuju halaman belakang yang luasnya seperti lapangan sepak bola. Dari pintu dia bisa melihat jika Ana sedang berlari mengelilingi lapangan. Kara kembali masuk dan mengambil air putih di kulkas kemudian beranjak ke luar lagi.


"Ini... minumlah."


Kara mengulurkan sebotol air putih pada Ana yang sedang selonjoran di atas rumput.


"Thanks."


"Kamu bangun lebih pagi, ada apa? "

__ADS_1


"Nothing."


"Are you sure? "


"Hem... "


Kara memperhatikan wajah Ana dengan intens. Dapat dia lihat ada lingkaran hitam di bawah mata yang menandakan gadis itu kurang tidur.


Setelah beberapa saat menikmati udara segar di belakang mansion kedua gadis itu memutuskan untuk masuk dan mandi sebelum sarapan.


Kara yang masuk ke kamar pribadinya segera menghubungi Sean.


"Morning honey." sapa Sean dengan suara serak dan wajah yang terlihat masih mengantuk. Terlihat dia masih bergelung di bawah selimut tebal. Hanya wajah dan pinggang polos tanpa baju yang terlihat.


"Pagi sayang." balas Kara dengan wajah bersemu merah karena melihat badan seksi suaminya.


"Kenapa hem? "


"Sayang yang semalam itu benar - benar Yuri kah? "


"Iya honey."


Kara mendesah pelan sambil memandang wajah suaminya di ponsel sebelum bertanya dengan nada serius.


"Apa yang kamu rencanakan sayang? "


"Wah isteriku yang cantik penasaran rupanya. Tidak ada rencana apa - apa sayang, hanya urusan bisnis saja. Perusahaan Yuri yang membangun cabang hotel kita."


Sean memandang wajah cantik isterinya yang terlihat kurang puas dengan jawabannya. Entah mengapa melihat wajah cantik isterinya yang belum mandi malah membuatnya bergairah. Bahkan rasa kantuk nya menguap tiba - tiba.


"Honey... "


"Ya sayang... "


"Jangan terlalu memikirkan masalah pudel, oke! Biar dia menyelesaikannya sendiri. Kita cukup memberikan dukungan saja."


"Em... baiklah sayang." jawab Kara meski dengan nada tidak yakin. Mana mungkin dia membiarkan Ana menyelesaikan masalahnya sendiri.


"Honey lebih baik kamu memikirkan hal lain." ucap Sean dengan senyum yang terlihat nakal.


"Hal lain? "


"Yup... misal lingerie warna apa yang akan kamu kenakan dan gaya apa untuk menyambut kepulanganku."


"Dasar suami mesum." teriak Kara sambil memutuskan sambungan ponselnya. Meski sudah menikah hampir setahun tetapi Kara masih risih jika membahas urusan ranjang. Saat ini Kara yakin jika di seberang sana suaminya pasti sedang tertawa terbahak - bahak.

__ADS_1


"Yang di bahas awal apa, endingnya pasti selakangan."


__ADS_2