Luka Pernikahan

Luka Pernikahan
11. Kehancuran Yuri


__ADS_3

Yuri tidak pernah menyangka jika perusahaan yang di pimpin nya akan tumbang dalam semalam.


Martin yang berusaha sekuat tenaga pun tidak bisa membujuk investor untuk melanjutkan kerjasama mereka. Mereka memilih membayar pinalti daripada melanjutkan kerjasama dengan perusahaan Yuri. Meskipun pinalti yang di terima Yuri lumayan besar tetapi tetap tidak bisa menutup kerugian.


"Tuan... bagaimana kalau tuan meminta bantuan tuan besar? " Martin mencoba memberi solusi pada Yuri. Ini adalah solusi terakhir dan terbaik menurut Martin.


"Tidak Martin, aku tidak mungkin meminta bantuan papa. Aku sudah mengecewakan papa dan sekarang mengecewakan kakek. Jual saja semua aset yang ada dan bayarkan gaji serta beri pesangon pada semua karyawan."


"Baik tuan."


Setelah itu hanya ada keheningan di antara mereka berdua.


"Setelah semua selesai kau juga harus segera mencari pekerjaan Martin. Aku sudah tidak bisa memberimu gaji."


"Tidak tuan, saya akan tetap bersama tuan meski tidak di gaji."


Yuri tertawa meski tawanya sarat akan keputusasaan dan kesedihan.


"Kamu akan menjadi pengangguran sepertiku Martin? Jangan bodoh!"


"Biar saya bodoh tuan, tetapi sejak tuan menolong saya dulu sudah jadi sumpah saya untuk setia pada tuan apa pun kondisinya." jawab Martin tegas karena dia memang sudah bertekad akan terus mengabdi pada Yuri.


"Terserah kau saja."


Beberapa hari kemudian Martin berhasil menjual aset - aset Yuri dan memberikan gaji terakhir serta pesangon kepada semua karyawan. Bahkan Yuri terpaksa kembali tinggal di mansion Adrian karena apartemennya terpaksa ikut di jual. Martin membuktikan ucapannya bahwa akan tetap di samping Yuri meski tidak di gaji. Bahkan dia ikut tinggal di mansion Adrian. Sam pun juga ikut - ikutan Martin dengan tetap setia pada Yuri dan ikut tinggal di mansion.


Beruntung masih ada dua mobil yang tidak ikut terjual. Satu mobil lama Yuri dan satunya mobil Adrian yang di gunakan Jika dia pulang ke Moskaw. Jika mobil itu ikut terjual Yuri tidak bisa membayangkan bagaimana kemarahan kakeknya. Meski bukan tergolong mobil keluaran terbaru tetapi lumayan mewah.

__ADS_1


Setelah perusahaan yang di pegang bangkrut hampir satu bulan lamanya Yuri mengurung diri di kamar. Yuri marah, kesal dan kecewa pada dirinya sendiri yang tidak becus mengatasi permasalahan perusahaan. Dia melampiaskan semuanya dengan meminum minuman keras dan berharap semua hanya mimpi. Bahkan dia enggan bicara meski Martin dan Sam selalu mengajaknya bicara. Martin yang selalu setia pada tuannya setiap hari mencoba menghibur dan membangkitkan semangat Yuri. Hingga akhirnya Yuri mau keluar kamar dan mulai bisa di ajak bicara.


Apalagi sejak mereka bertiga tinggal di mansion, semua pekerjaan rumah mereka lakukan sendiri. Semua pelayan di berhentikan karena Yuri sudah tidak bisa membayar mereka.


Hidup Yuri sebagai tuan muda Romanov berubah drastis. Dari semua yang apa - apa di layani menjadi apa - apa harus bisa di lakukan sendiri. Awalnya semua terasa berat bagi Yuri dan dia baru menyadari bahwa pekerjaan pelayan begitu berat. Sekarang dia merasa bersalah karena dulu sering marah dan membentak pelayan yang menurutnya melakukan kesalahan. Dalam hati dia berjanji kedepannya akan lebih menghargai pekerjaan orang lain.


Setelah beberapa bulan menjadi pengangguran Yuri belum bisa berfikir akan melakukan apa. Bahkan ketika Mariana menghubungi Yuri memilih untuk tidak menerimanya. Dia tidak ingin mamanya bersedih setelah mengetahui keadaannya. Meski dia yakin bila kabar kehancuran perusahaan yang di pimpinnya pasti sudah sampai di telinga keluarganya. Satu hal yang membuat Yuri heran mengapa papa serta kakek dan neneknya tidak ada yang menghubunginya.


"Tuan bagaimana kalau kita mencoba usaha baru?" Martin yang sudah bosan makan dan tidur mencoba memberi saran kepada Yuri.


Saat itu Yuri, Martin dan Sam sedang sarapan bersama.


"Panggil nama saja, saya bukan tuan kalian lagi! Menurutmu usaha apa?"


"Bagaimana kalau kita buka cafe? Sam cukup ahli dalam meracik kopi. Dia juga bisa mencuci gelas dan piring. Kita bisa memperkerjakan dia."


" Terimakasih." ucap Sam setelah minum. "Tetapi saya tidak bisa meracik kopi."


"Terus selama ini yang membuatkan saya kopi di perusahaan siapa?" tanya Martin penasaran karena seingatnya Sam yang selalu membuatkan kopi.


"Siapa lagi kalau buka OB, saya cuma membawa ke mejamu."


Martin termenung karena jika membuka cafe dan merekrut barista berarti ada pengeluaran gaji. Sementara membuka cafe juga butuh biaya yang tidak sedikit.


Pembicaraan mereka bertiga pun berakhir tanpa hasil. Yuri memilih pergi dan duduk di taman samping sambil merokok. Pikirannya menerawang jauh ke Indonesia, tiba - tiba dia merindukan pelukan neneknya yang bisa menenangkan bila dia sedang ada masalah. Tetapi Yuri tidak yakin kalau neneknya masih mau memberikan pelukan setelah dia mengecewakannya.


Martin yang melihat Yuri duduk termenung segera mendekat dan duduk di sampingnya. Dia mengulurkan sebotol minuman kaleng pada Yuri yang langsung di buka dan di minum Yuri.

__ADS_1


"Ada yang aneh." ucap Yuri memulai percakapan setelah mereka berdua larut dalam pikiran masing - masing.


"Apa? "


"Menurutmu mengapa papa tidak menghubungi kita? Padahal berita ini pasti sudah sampai ke papa dan kakek."


Otak cerdas Martin segera menelaah perkataan Yuri dan memang dia merasa aneh jika Lucky sama sekali tidak menghubungi mereka.


"Oh ****! " Martin menatap Yuri dengan tajam.


"Kesalahan apa yang anda lakukan? Sepertinya anda sudah menyinggung tuan Lucky dan tuan besar."


"Apa maksudmu? " Yuri menatap Martin dengan wajah kebingungan.


"Rasanya ada yang janggal jika para investor membatalkan kerja sama secara bersamaan jika tidak ada sesuatu."


"Kamu menuduh papa ada di balik semua ini? " tanya Yuri dengan wajah tidak terima akan tuduhan Martin. Meski jauh di lubuk hatinya dia juga mencurigai papa dan kakeknya. Tetapi dia tidak ingin mereka terlihat buruk di mata Martin.


"Saya mencurigai bukan menuduh. Siapa saja bisa jadi tersangka. Apalagi tuan besar punya kekuasaan untuk melakukannya."


"Jika papa dan kakek yang melakukannya, menurutmu apa alasannya? "


"Anda pasti sudah membuat tuan besar kecewa, entah itu apa. Hanya anda dan tuan besar yang tahu."


Yuri tidak menimpali perkataan Martin karena perkataan Martin bisa jadi benar adanya. Meskipun dia belum menyadari apa kesalahannya. Yuri bahkan masih berharap bukan papa atau kakeknya yang menjadi dalang kehancuran perusahaannya.


"Aku belum ingin mencari tahu siapa pelaku dan apa motifnya menghancurkan perusahaan. Saat ini jangankan mencari informasi yang biayanya tidak sedikit, uang untuk bertahan hidup saja kita tidak tahu cukup apa tidak. "

__ADS_1


__ADS_2