
Elia menepati janjinya pada Arthur untuk pulang sebelum jam makan malam. Setelah memarkirkan mobilnya di garasi Elia segera masuk ke rumah dengan menyeret kopernya. Mariana dan Malika yang sedang mengobrol di ruang tamu serentak menatap Elia dengan pandangan berbeda. Mariana dengan wajah datar serta dingin dan Malika dengan tatapan mencemooh.
"Wow lihatlah nyonya muda yang tidak di inginkan datang dengan membawa barang rongsokan." ucap Malika dengan sinis dan terkesan meremehkan.
'Jaga bicara anda nona Malika! " tegur Arthur yang tiba - tiba datang dari dalam dan mengambil alih koper Elia. "Mari nona muda, saya antar ke kamar."
Arthur sengaja memanggil Elia dengan nona muda di depan Malika agar dia tahu kedudukan Elia di rumah itu.
Elia mengangguk hormat pada Mariana sebelum melangkah mengikuti Arthur.
Malika yang di tegur Arthur merasa tidak terima. Dia menatap Mariana seolah minta bantuan.
" Tante... "
"Malika tolong bicara mu di kontrol, kalau om mu melihatmu kasar seperti itu tante tidak menjamin kamu aman."
"Tante membela perempuan tidak jelas itu?"
"Bukan membela sayang, tetapi tante tidak ingin kamu mendapat masalah." jawab Mariana sambil mengusap pelan kepala Malika dengan penuh kasih sayang. Bagaimana pun juga Malika adalah anak saudaranya yang sudah dia anggap seperti anak sendiri. Meski dia tahu Malika orang yang sombong dan angkuh.
Sementara itu Arthur mengantar koper Elia sampai masuk ke dalam kamar Yuri.
"Biar nanti pelayan yang membereskan buku - buku mu El."
"Tidak perlu paman, El sudah biasa membereskan keperluanku sendiri.'
Arthur hanya menganggukan kepala sebelum beranjak keluar. Namun sebelum dia sampai di pintu Elia menghentikan langkahnya.
" Paman... em.. apa Malika juga tinggal di rumah ini? "
"Tidak El, setahu paman dia tinggal di apartemen. Kenapa? "
"Tidak apa - apa paman." jawab Elia dengan senyum penuh kelegaan karena tidak akan satu rumah dengan gadis itu. Elia merasa tidak punya salah pada Malika, tetapi entah mengapa gadis itu selalu bersikap kasar padanya.
Waktu makan malam pun tiba, Lucky dan Mariana sudah duduk di meja makan. Tidak ketinggalan Malika juga duduk untuk ikut makan malam atas permintaan Mariana.
__ADS_1
"Arthur tolong panggil Yuri dan Elia untuk segera turun! " perintah Lucky pada Arthur yang selalu siap di dekat Lucky.
Arthur memberi kode pada salah satu pelayan untuk memanggil Elia. Tidak berselang lama tampak Elia datang ke meja makan. Lucky yang melihat Elia segera menyambutnya dengan senyum penuh kelembutan.
"Lho mana Yuri, kenapa kamu turun sendirian? " tanya Lucky yang tidak melihat Yuri di belakang Elia.
"Kak Yuri belum pulang pa." jawab Elia dengan suara pelan.
"Belum pulang? memang kemana dia? "
"El tidak tahu pa karena sepulang dari hotel kak Yuri pergi lagi tanpa bilang mau kemana."
"Maaf tuan tadi siang tuan muda berangkat ke Rusia." jawab Arthur yang sebenarnya mau memberitahu kepergian Yuri pada Lucky setelah makan siang.
"Apa??? " Lucky berteriak dengan keras karena kaget mendengar Yuri telah kembali ke Rusia tanpa pamit. "El... Yuri tidak mengajakmu pergi?"
Elia yang juga syok mendengar Yuri telah pergi hanya menjawab dengan menggelengkan kepala. Seketika suasana makan malam menjadi hening. Semua seperti kehilangan selera makan.
"Sudah lebih baik kita makan dulu pa, nanti mama akan menghubungi Yuri." ucap Mariana mencoba mencairkan suasana. Bohong kalau dia tidak terkejut, tetapi sebagai isteri dia khawatir kalau Lucky sampai melewatkan makan malam yang akan membahayakan tubuhnya.
Elia masih termangu dan tidak mengambil makanan. Kepergian Yuri seakan menamparnya, dia malu dan merasa di buang.
Elia tidak menjawab dan hanya menganggukkan kepala sebelum mengambil makanan.
Sementara itu Malika sama sekali tidak berbicara, namun terlihat wajahnya berseri - seri. Sebuah rencana tiba - tiba terlintas dalam pikirannya. Dia melirik sinis kearah Elia.
Mereka makan dengan diam, Elia yang sudah selesai duluan memilih pamit ke kamar. Sampai di kamar Elia termenung menatap koper yang belum dia buka. Setelah berfikir beberapa saat dia memutuskan untuk tidak membongkar kopernya.
Beberapa saat kemudian terdengar suara pintu di ketuk.
"El... tuan Lucky menunggumu di ruang kerja." ucap Arthur begitu Elia membuka pintu.
"Ayo paman antar kamu kesana."
Tanpa sepatah kata Elia mengikuti Arthur menuju ruang kerja Lucky yang berada di lantai bawah.
__ADS_1
"Masuk! " terdengar suara Lucky dari dalam ketika Elia mengetuk pintu. Begitu masuk seperti biasa Elia di sambut wajah teduh dan suara lembut Lucky.
"Papa minta maaf ya El, sebagai orang tua papa merasa malu dan gagal mendidik Yuri." ucap Lucky dengan suara tercekat. "Papa malu karena dia telah meninggalkan kamu tanpa kata dan papa merasa gagal mendidiknya menjadi laki - laki yang bertanggungjawab. Pernikahan kalian memang karena perjodohan, tetapi tidak seharusnya dia melakukan ini padamu."
Elia masih terdiam dan belum mengatakan apapun untuk menanggapi perkataan Lucky.
"Papa akan menyeret anak itu untuk pulang kesini lagi El, papa janji."
"Jangan pa, biarkan kak Yuri dengan pilihannya."
"Apa maksudmu El? "
"Kak Yuri meninggalkan El karena sudah mewujudkan keinginan papa, kakek dan nenek. Sekarang biarkan kak Yuri mewujudkan keinginannya sendiri pa. Sedari awal papa juga tahu kan kalau kak Yuri menolak perjodohan ini? El sudah memutuskan pa."
"Memutuskan apa El? "
"El berada di rumah ini karena kak Yuri yang membawa kesini. Tetapi kak Yuri meninggalkan El tanpa kata, oleh karena itu malam ini juga El akan pergi pa."
"El.... "
"Tolong biarkan El pergi pa, El mohon."
"Kamu akan pergi kemana El? Pulang lagi ke rumah Mateo? Papa malu dengan Mateo dan juga Lucia." Lucky menutupi wajah dengan kedua tangannya.
"Tidak pa, El tidak akan pulang kesana karena itu akan membuat papa dan mama sedih."
"Lalu kamu mau kemana? "
"Pulang ke rumah mommy dan Dady."
"Tidak bisakah kamu tetap di sini nak, tetap di rumah ini. Tolong beri papa waktu untuk membawa Yuri pulang." Lucky masih berusaha mempertahankan keberadaan Elia di rumahnya. Bagaimana pun juga Elia adalah menantu di keluarga Romanov.
"Maaf pa, Elia tidak bisa."
Akhirnya dengan berat hati Lucky membiarkan Elia pergi dengan syarat perginya besok pagi dan tidak memutuskan kontak dengannya. Dalam hati Lucky berjanji akan memberi pelajaran kepada putra tunggalnya itu.
__ADS_1
Setelah Elia keluar dari ruang kerjanya, Lucky segera menghubungi seseorang.
"Hancurkan perusahaan yang di pegang Yuri Romanov tanpa sisa." ucap Lucky yang tanpa menunggu jawaban dari lawan bicaranya segera menutup telfonnya.