Luka Pernikahan

Luka Pernikahan
Di gugat Cerai?


__ADS_3

Tidak terasa sudah beberapa bulan Yuri bekerja sebagai karyawan di perusahaan Romanov. Sedari awal bekerja dia harus menangani beberapa proyek besar. Karena tidak ingin mengecewakan papanya, Yuri bekerja keras bahkan sering lembur.


Jangankan untuk mencari tahu soal Elia, untuk mengunjungi kakek dan neneknya pun dia tidak punya waktu. Sehingga di akhir pekan Yuri seperti orang yang sudah kehabisan tenaga sehingga dia manfaatkan untuk tidur. Bahkan tidak jarang akhir pekan dia harus keluar kota.


Mateo dan Samuel juga sama - sama sibuk, mereka hanya bertemu di waktu sarapan saja. Mereka masih tinggal di mansion Romanov karena Mariana tidak mengijinkan mereka untuk pindah dengan alasan takut Yuri ikutan tinggal di luar mansion.


Hubungan Lucky dan Yuri belum sepenuhnya membaik. Lucky masih irit bicara dan jika pun bicara hanya tentang masalah perusahaan. Yuri berusaha memahami perubahan sikap papanya, bagaimanapun juga dia sadar ini adalah kesalahannya.


"Pak... maaf sekarang anda di minta datang ke ruangan CEO." ucapan sekretarisnya mengalihkan pandangan Yuri dari laptopnya.


"Hem... " jawab Yuri yang sesaat kemudian segera bangkit dan berjalan keluar ruangan.


Sementara itu Arum sekretarisnya berjalan di belakangnya. Menjadi sekretaris Yuri sangat menguji kesabaran, Yuri jarang bicara dan sekalinya bicara sangat menyakitkan. Jika saja Yuri bukan anak pemilik perusahaan mungkin Arum sudah mencakar habis wajahnya, tidak peduli setampan apa Yuri.


"Kenapa kamu ikut? " tanya Yuri tanpa membalikkan badan.


"Maaf pak, tapi saya harus ikut kemanapun bapak pergi karena saya sekretaris bapak."


"Terserah."


Begitu sampai di depan ruangan Lucky, Yuri berpapasan dengan Sky yang baru keluar dari ruangan Lucky. Sejenak mereka bertatapan sebelum akhirnya Sky memutus pandangan dan beranjak pergi.


"Tunggu! "


Sky yang sudah melangkah hanya berhenti tanpa membalikkan badan atau menoleh.


"Dimana Elia? "


Sky membalikkan badan dan menatap Yuri dengan tajam.


"Suami macam apa yang menanyakan keberadaan istrinya pada orang lain. Terlihat sekali jika bukan suami yang bertanggung jawab." jawaban Sky meremehkan Yuri dan penuh sindiran.


"Kamu tidak berhak menghakimiku, cukup katakan dimana istriku! "


"Saya ralat tuan muda, calon mantan istri karena saya jamin sebentar lagi adik saya akan menggugat cerai anda."


Yuri terkejut mendengar perkataan Sky jika Elia akan menggugat cerai dirinya.


"Tidak akan ada perceraian." tegas Yuri dengan mata berapi - api.

__ADS_1


"Kenapa tidak? " belum puas mempermalukan adikku? " Sky merasa geram dan maju mencengkeram erat kerah baju Yuri.


Yuri hampir saja mendorong Sky jika saja pintu ruangan Lucky tidak terbuka. Terlihat Lucky berdiri di depan pintu dan menatap Sky dan Yuri dengan tajam. Tanpa mereka berdua tahu sekretaris Lucky memberitahu Lucky jika Sky dan Yuri bertengkar.


"Masuk! " perintah Lucky pada keduanya.


Demi menghormati Lucky, Sky melepas kasar cengkeraman tangannya di kerah Yuri. Setelah itu masuk kembali ke ruangan Lucky. Di belakangnya Yuri mengikuti dengan wajah penuh kemarahan.


"Apa yang kalian lakukan hah? ini kantor bukan arena pertandingan. Memalukan!" ucap Lucky penuh kemarahan ketika Sky dan Yuri sudah duduk di depannya.


"Maafkan saya tuan." ucap Sky penuh penyesalan. Sementara Yuri tetap menutup mulut.


"Ada masalah apa? "


Baik Yuri maupun Sky memilih diam tidak menjawab pertanyaan Lucky.


"Katakan atau aku akan mencari tahu sendiri! " ancam Lucky yang mulai jengah dengan diamnya Sky dan Yuri.


Setelah menghela nafas Sky memutuskan untuk menceritakan semuanya. Lucky yang mendengar jika Elia akan menggugat cerai Yuri sangat terkejut tetapi sebisa mungkin menyembunyikan ekspresinya. Sudah lama dia tidak mengunjungi menantu yang sudah dia anggap seperti putrinya sendiri. Tiba - tiba Lucky merindukan Elia.


"Baiklah Sky, kamu boleh keluar!" tanpa memberi tanggapan apapun Lucky meminta Sky keluar dari ruangannya.


Setelah Sky keluar, Lucky segera melemparkan berkas ke hadapan Yuri.


Melihat Yuri yang diam saja tanpa menyentuh berkas di depannya, Lucky merasa sedikit aneh.


"Kenapa pa?" tanya Yuri dengan suara lemah.


"Bicara yang jelas! "


"Kenapa papa selalu menghindari pembicaraan soal Elia, kenapa pa?"


"Untuk apa membicarakan dia? Beri satu alasan yang tepat! "


Yuri hanya bisa menunduk karena dia juga bingung dengan hatinya.


"See... kamu sendiri tidak punya alasan, so untuk apa kita membicarakan dia. Satu hal yang harus kamu tahu, papa akan mendukungnya jika dia benar ingin bercerai darimu. Cukup sudah papa membuatnya menderita dengan menjodohkannya denganmu. Papa akan membiarkan dia mengejar kebahagiaannya sendiri." ucap Lucky dengan sendu, hatinya selalu diliputi rasa bersalah pada Elia.


"Tidak pa... Yuri tidak akan pernah menceraikan Elia." tegas Yuri dengan wajah penuh keyakinan meski dia belum menemukan alasannya.

__ADS_1


"Kembali ke ruanganmu dan pelajari berkas itu! " ucap Lucky yang tidak ingin terlalu jauh membahas tentang Elia.


Dengan wajah lesu Yuri mengambil berkas tersebut dan melangkah keluar ruangan. Begitu dia keluar terlihat Arum sekretarisnya berdiri di dekat pintu menunggunya. Tanpa bicara apa pun Yuri melangkah kembali ke ruangannya. Arum dengan setia mengikutinya dari belakang. Yuri sebenarnya merasa jengah dengan tingkah laku sekretarisnya itu.


Begitu sampai di ruang kerjanya Yuri segera menghempaskan tubuhnya ke kursi dan memijit pelipisnya. Berkas yang tadi di bawanya cuma di lemparkan ke atas meja.


Arum yang ikut masuk keruangan Yuri merasa heran karena tidak biasanya Yuri terlihat kacau.


"Bapak baik - baik saja? " tanya Arum penuh rasa khawatir.


"Tolong panggilkan Martin sekarang!" bukannya menjawab Yuri malah memberi perintah.


"Baik pak." Arum kemudian melangkah keluar.


Tidak berapa lama kemudian Martin masuk setelah mengetuk pintu.


"Tuan memanggil saya?"


"Bisakah kamu menyingkirkan sekretaris sialan itu! aku merasa terganggu dan tidak terbiasa bekerja dengan perempuan."


"Lalu siapa yang akan membantu pekerjaan tuan disini?"


"Tidak bisakah kamu saja yang melakukannya seperti waktu kita masih di Moskwa? "


Martin tidak menjawab pertanyaan Yuri, dia malah fokus pada keadaan Yuri yang terlihat kacau. Dia bisa menebak apa yang membuat kacau, tentu bukan sekretarisnya tetapi masalah lain.


"Sebenarnya ada apa tuan muda? Saya yakin ini tidak ada hubungan dengan Arum."


"Elia akan menggugat cerai."


"Tuan muda sudah bertemu dengan nona Elia?"


Yuri menggeleng lemah dan terlihat tertekan.


"Aku bertemu dengan Sky, kakaknya Elia."


"Tuan ingin bercerai dari nona Elia? "


"Dulu iya tetapi sekarang tidak Martin. Aku ingin memperbaiki semua kesalahan yang kuperbuat."

__ADS_1


Mateo mengangguk tanda mengerti ucapan Yuri. Bagaimanapun dia orang yang selalu di samping Yuri dan tahu semua tentangnya.


"Kalau begitu kita harus menemukan nona Elia sebelum surat gugatan cerai sampai di tangan tuan muda."


__ADS_2