
Ketika Yuri terpuruk dan hancur, keadaan Elia juga tidak jauh berbeda. Bila Yuri terpuruk karena perusahaannya hancur maka Elia terpuruk karena setelah menikah di tinggalkan Yuri begitu saja. Elia merasa malu bila ada orang yang mengetahui kondisi pernikahannya.
Setelah meninggalkan rumah keluarga Romanov, Elia tidak keluar kamar selama hampir satu minggu. Bahkan untuk makan pelayan yang mengantarkannya ke kamar. Selama menyepi di kamar dia berusaha menyusun rencana hidupnya.
"Baiklah El saatnya menentukan sikap, semangat." ucap Elia dalam hati.
Pelayan yang akan mengantarkan sarapan tertegun karena melihat Elia menuruni tangga dengan penampilan yang sudah rapi.
"Tidak usah di antar ke kamar bi, saya mau sarapan di meja saja." ucap Elia dengan wajah di buat seceria mungkin. Dia tidak ingin pelayan yang di kirim papa mertuanya melaporkan keadaannya yg tidak baik - baik saja.
"Bibi sudah sarapan belum? "
"Belum nona."
"Kalau begitu ayo temani El sarapan."
"Ta... tapi... "
"Kalau bibi menolak, saya juga tidak akan sarapan."
"Baiklah nona."
Di sela - sela sarapan Elia bertanya tentang bibi pelayan karena belum sempat bicara banyak dengan yang bernama bibi Mery itu. Ternyata bibi Mery adalah pengasuh Yuri waktu kecil dan merupakan pelayan kepercayaan Lucky selain Arthur.
Bibi Mery bisa merasakan kalau nona mudanya adalah orang yang berhati tulus. Apalagi meski mereka baru berinteraksi selama seminggu tetapi nona mudanya dengan mudah mengajaknya makan bersama.
Setelah sarapan Elia pamit akan keluar dan meminta bibi Mery untuk tidak menyiapkan makan siang dengan alasan akan sibuk di luar selama seharian.
__ADS_1
Elia melajukan mobilnya ke arah restoran miliknya. Setelah sampai dia segera masuk ke ruang kerja di ikuti oleh orang kepercayaannya. Cukup lama mereka membahas beberapa hal yang berkaitan dengan restoran milik Elia. Pembahasan mereka berhenti ketika Sky dan Rain tiba - tiba masuk ke ruang kerja tanpa mengetuk pintu. Mereka seperti di buru hantu karena berlari dari parkiran dan membuka pintu dengan kasar. Orang kepercayaan Elia terkejut dan hampir melompat ketika pintu di buka dengan kasar. Tetapi begitu tahu siapa yang datang dia segera pergi keluar setelah mengangguk hormat kepada kakak - kakak Elia.
"Kau baik - baik saja El?" Sky memperhatikan Elia dari atas sampai bawah, meneliti kondisi adiknya.
"Baik saja kak, jangan khawatir. Terus kenapa kalian seperti di kejar hantu sih? "
"Itu karena tidak biasanya kamu mengundang kakak kemari bersamaan." Rain menjawab sambil menjatuhkan pantat di sofa.
"Lantas ada apa kamu mengundang kami kemari? " tanya Sky yang mengikuti Rain duduk di sofa panjang yang menghadap ke meja kerja Elia.
Setelah menghela nafas untuk mengusir rasa sesak di dada, Elia menceritakan semua yang terjadi setelah menikah. Termasuk kepergian Yuri yang tiba - tiba.
Rain dan Sky yang mendengar perlakuan buruk Yuri pada adik kesayangan mereka terlihat marah. Bahkan Rain bertekad akan menghajar Yuri bila bertemu dengannya. Dia tidak perduli siapa Yuri.
Melihat kemarahan kedua kakaknya membuat Elia segera memberi pengertian kalau sekarang dia sudah baik - baik saja dan menerima semuanya dengan lapang dada. Elia menjelaskan kalau ini sudah menjadi jalan hidup yang harus dia alami.
Meski sangat marah dan tidak terima tetapi Sky dan Rain berusaha menuruti permintaan Elia agar tidak melakukan kekerasan fisik pada Yuri.
"Bantu El pergi dari sini tanpa ada orang yang tau dimana El berada kak."
"Kamu tidak boleh pergi El! bagaimana papa dan mama serta nyonya dan tuan besar jika kamu pergi. " Sky menentang keras keinginan Elia yang ingin pergi jauh dari mereka.
"Biarkan El pergi kak, dia berhak menentukan hidupnya sendiri mulai sekarang." Rain mencoba memberi pengertian pada Sky. Dia sangat menyayangi Elia, begitu pula kakaknya. Tetapi mereka tidak boleh egois dengan memaksa Elia bertahan di kota itu. Menurut Rain mungkin dengan pergi jauh hidup Elia akan lebih bahagia.
"Tapi Rain... "
"Kita akan sering mengunjunginya dan memberi pengawal untuk menjaganya kak."
__ADS_1
"Baiklah El, kapan kamu ingin pergi? "
"Secepatnya kak."
"Bagaimana dengan nasib pernikahanmu? "
"Aku belum bisa memutuskan kak, bantu aku pergi dulu untuk menenangkan diri. Karena bila aku masih disini lambat laun orang - orang akan mengetahui dan itu akan mempermalukan papa mama."
"Baiklah besok kakak akan mengabari kapan dan kemana kamu akan pergi." Meski tidak rela tetapi Sky berusaha memahami keinginan adik yang sangat dia sayangi.
Hari menjelang malam ketika Elia kembali ke rumah dengan keadaan letih. Setelah dari restoran tadi Elia segera ke mansion Feodora karena kangen dengan neneknya. Elia dan Feodora menghabiskan waktu berdua dengan mengobrol dan memasak makanan kesukaan Adrian. Meskipun mereka heran karena Elia tidak datang dan di jemput Yuri.
Setelah melepas rindu dengan Feodora dan Adrian, Elia pamit pulang. Elia memeluk Feodora erat seakan enggan berpisah. Feodora merasa sedikit aneh dengan pelukan Elia tetapi memutuskan tidak bertanya dan mengambil kesimpulan kalau Elia masih merindukannya.
"Kakek dan nenek jaga kesehatan ya, jangan lupa minum vitamin dan istirahat yang cukup."
"Tentu saja kami akan tetap sehat, agar panjang umur dan bisa melihat cicitku lahir dan bermain bersamanya." jawab Adrian mengacak rambut Elia penuh kasih sayang.
Elia hanya menanggapi ucapan Adrian dengan senyum palsu. Andai kan mereka tahu apa yang terjadi mungkin wajah ceria itu tidak ada.
"Do'akan saja kek." ucap Elia dengan menahan rasa sesak dalam hati. Dia merasa sedih karena tidak dapat mewujudkan keinginan Feodora dan Adrian.
Sepanjang perjalanan pulang Elia berusaha menahan tangisnya. Bukan hal mudah untuk meninggalkan kota itu dan juga orang - orang yang menyayanginya. Tetapi dia harus pergi agar bisa mengobati luka di hatinya. Sungguh dia ingin menjauh dari semua hal yang berhubungan dengan Yuri.
Dia pun sengaja memblokir no telp Yuri karena tidak ingin tahu lagi apapun tentangnya. Meski dia merasa percuma memblokir Yuri karena belum tentu Yuri menyimpan no hpnya apalagi menghubunginya.
Besok rencananya Elia akan mengunjungi rumah orang tua angkatnya. Entah besok dia akan berterus terang atau tidak tetapi dia sudah sangat merindukan masakan Lucia dan pelukan hangat Mateo. Dua orang yang sangat Elia sayangi melebihi apa pun.
__ADS_1
Setelah membersihkan diri Elia mulai memilih beberapa baju yang akan di bawanya pergi. Tidak lupa dia memasukan foto kedua orang tuanya ke dalam koper. Hanya foto itu yang dia punya sebagai pengobat rasa rindu. Setelah selesai Elia berdiri di balkon kamar dan memandang jauh ke depan.
"Selamat tinggal Yuri."