
Pagi harinya Yuri dan Elia di jadwalkan untuk fitting baju pengantin di butik yang di tunjuk Feodora. Yuri menjemput Elia di rumah Mateo dengan memasang wajah lebih datar dan dingin dari biasanya. Tidak terlihat rona bahagia karena akan menikah.
Sesampainya di rumah Mateo terpaksa Yuri menunggu untuk beberapa saat karena Elia belum selesai bersiap.
Yuri duduk di ruang tamu di temani Lucia karena Mateo dan si kembar sudah berangkat ke kantor.
"Silahkan di minum teh nya nak, sebentar lagi El turun." ucap Lucia begitu pelayan yang menyajikan minum serta camilan undur diri.
"Terimakasih tante." Yuri segera meminum teh yang ada di depannya.
"Tante tahu perjodohan ini berat untuk kalian jalani, jika kamu tidak menginginkan Elia tolong ambil sikap dari sekarang sebelum terlambat untuk mundur. El memang bukan anak kandung tante, tapi dia matahari di keluarga ini."
"Sebenarnya apa yang menjadi alasan perjodohan ini tan...tolong kasih tahu Yuri."
Lucia memandang Yuri sebelum menjawab.
"Bukan kapasitas tante untuk menjawab, hanya kakek dan papamu yang punya wewenang menjawab. Satu yang tante minta, jangan pernah membuat El menangis, atau kamu akan menyesal."
Tepat setelah Lucia selesai bicara Elia tampak menuruni tangga dan berjalan ke arah Lucia dan Yuri.
"Sudah siap? "
"Sudah kak."
"Tante, saya pamit dulu." pamit Yuri sambil bangkit dari duduknya.
"Mah... El pergi dulu ya." pamit Elia sambil merangkul Lucia dengan manja.
"Iya sayang, kalian hati - hati ya."
Lucia mengantar kepergian Yuri dan Elia sampai depan rumah. Yuri membukakan pintu mobil untuk Elia dan hal itu membuat Lucia sedikit tersenyum dan berdoa semoga Yuri memperlakukan Elia dengan baik.
Bagaimana pun juga Yuri, Sky dan Rain tumbuh bersama dan Lucia sudah sangat hafal dengan perangai Yuri yang temperamental dan dingin.
Sementara itu suasana dalam mobil sunyi karena baik Yuri maupun Elia tidak ada yang memulai percakapan. Elia memilih melihat pemandangan lewat kaca samping dan Yuri fokus melihat jalan.
Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit mobil Yuri memasuki halaman sebuah butik ternama. Begitu masuk butik mereka di sambut langsung oleh Melia pemilik butik.
__ADS_1
"Halo....Selamat datang calon pengantin." sapa Melia ramah sambil memberikan ciuman ke pipi Yuri dan Elia secara bergantian. Feodora sudah menghubungi Melia kalau cucunya akan datang untuk fitting gaun pengantin, sehingga Melia menyambutnya secara langsung.
"Wah Yuri... calon isterimu masih muda banget."
Yuri hanya mendesis kesal mendengar ucapan Meli yang secara tidak langsung mengatakan kalau dia sudah tua.
"Sudah gak usah banyak bicara Mel, cepat tunjukkan koleksi bajumu! " perintah Yuri sebelum Melia bicara lebih banyak lagi.
"Kalian pingin gaun yang seperti apa? "
"Terserah... suruh dia memilih sendiri apa yang dia suka." jawab Yuri dengan suara yang terdengar dingin dan terkesan tidak perduli.
Hati Elia terasa di tusuk pisau mendengar ucapan Yuri yang terkesan basa bodoh.
"Ayo sayang, kita pilih gaun yang cocok buatmu." ucap Melia sambil menarik tangan Elia ke sebuah ruangan.
"Yuri memang seperti itu, ucapannya pedas dan orangnya dingin serta pemarah. Tapi pada dasarnya dia orang baik." lanjut Melia setelah mereka berada di ruangan ganti.
"Kakak kenal baik dengan kak Yuri? " tanya Elia yang ingin tahu lebih lanjut tentang Yuri.
"Kenal baik sih enggak, cuma kami satu kelas waktu SMA, kebetulan teman satu meja."
"Kak tolong pilihkan yang sederhana saja, El tidak suka gaun yang ribet dan terkesan heboh." pinta Elia setelah melihat beberapa gaun yang bagus tapi tidak sesuai dengan seleranya.
Setelah Melia beberapa kali memperlihatkan gaun koleksinya akhirnya Elia menjatuhkan pilihan pada gaun yang sederhana namun terkesan elegan. Gaun yang berwarna putih dengan panjang sampai mata kaki. Benar saja setelah gaun itu di coba Elia, terlihat pas dengan badan Elia yang terkesan ramping.
"Wow...kamu cantik sekali El. Ayo kita keluar agar Yuri bisa menilai."
"Apa itu perlu kak? " tanya Elia terkesan ragu - ragu untuk memperlihatkan gaun pilihannya pada Yuri.
"Tentu perlu agar si kulkas itu tahu kalau calon isterinya cantik."
Melia segera menarik tangan Elia agar keluar dari ruang ganti.
"Yuri."
Yuri yang tadinya sibuk dengan gadgetnya segera mengalihkan pandangan ke arah Melia yang memanggilnya. Bola matanya nyaris melompat keluar ketika melihat Elia terlihat cantik dengan gaun pengantinnya.
__ADS_1
"****... kenapa jadi cantik sih." umpat Yuri dalam hati.
"Bagaimana, cantik bukan? " tanya Melia yang melihat Yuri tidak mengalihkan pandangan dari Elia.
"Biasa saja." jawab Yuri acuh tak acuh sambil mengalihkan pandangan ke arah lain.
Elia yang mendengar jawaban Yuri hanya bisa menundukkan kepala. Hal itu sudah dia duga kalau Yuri tidak akan antusias menilai gaun pilihannya. Namun entah mengapa mendengar jawaban Yuri hati El merasa dirinya tidak di inginkan.
Elia segera kembali ke ruang ganti untuk melepas gaun di bantu oleh pegawai Melia. Sementara Melia membantu Yuri memilih baju dan jas menyesuaikan gaun Elia.
Setelah menemukan yang sesuai Yuri segera melakukan pembayaran dan mengajak Elia keluar.
"El pulang naik taksi saja kak." ucap Elia begitu mereka berada di halaman butik.
"Kenapa? "
"El mau mampir ke suatu tempat dan tidak ingin merepotkan kakak."
"Terserah." jawab Yuri dengan dingin sambil masuk ke mobilnya. Setelah itu meninggalkan Elia yang masih berdiri di parkiran butik.
Elia menghela nafas dan segera mencegat taksi yang kebetulan lewat. Elia tidak langsung pulang melainkan pergi ke sebuah restoran.
Begitu sampai di restoran dia langsung menuju ke sebuah ruangan yang ada di lantai dua. Para pegawai restoran hanya saling pandang karena biasanya gadis itu datang dengan wajah ceria dan menyapa mereka dengan ramah. Tetapi kali ini Elia datang dengan raut wajah yang berbeda.
Dalam ruang kerja yang lumayan mewah Elia menjatuhkan tubuhnya di kursi. Matanya memandang foto sepasang suami isteri dan seorang bayi dalam gendongan si isteri.
"Ma... pa...kuatkan El dalam menjalani pernikahan dengan kak Yuri." ucap Elia sambil mengelus foto tersebut dengan menitikkan air mata. Lelah karena menangis Elia akhirnya jatuh tertidur dengan menelungkup di atas meja.
Karena sampai hari menjelang sore Elia belum keluar ruangan, manager restoran segera menghubungi Sky kalau El berada di restoran dari siang dan belum memesan makanan sama sekali.
Sky yang kebetulan sedang dalam perjalanan pulang segera putar arah menuju restoran.
"Buatkan makanan kesukaan El dan bawa ke atas! " perintah Sky pada manager restoran yang menyambut kedatangannya.
"Baik tuan."
Begitu membuka pintu ruangan Sky melihat El tertidur dengan sisa air mata di sudut matanya. Dengan penuh kasih sayang Sky mengusap kepala Elia agar bangun.
__ADS_1
"Kakak? " ucap Elia yang terbangun karena merasakan usapan di kepalanya.
"Hai... "