Luka Pernikahan

Luka Pernikahan
5. Pesta Perusahaan


__ADS_3

Elia mematung di depan cermin yang menampilkan dirinya memakai gaun malam berwarna merah maron tanpa lengan dengan panjang di bawah lutut. Dia tidak menyukai pakaian model seperti ini. Tetapi karena ada pesta perayaan ulang tahun perusahaan Romanov terpaksa Elia memakainya. Apalagi gaun itu kiriman Feodora, Elia tidak ingin mengecewakan nyonya besar yang dari dulu selalu menyayanginya.


"Apa yang kamu pikirkan sayang?" terdengar suara lembut Lucia di belakangnya.


"El gak percaya diri pakai baju seperti ini ma."


Lucia membalikan badan Elia dan menatapnya teduh.


"Dengar sayang, mulai hari ini kamu harus mulai membiasakan diri memakai baju seperti ini karena setelah menikah nanti akan banyak acara resmi yang harus kamu hadiri bersama Yuri."


Seketika ekspresi Elia menjadi sendu. Mendengar ucapan Lucia dia bisa menyimpulkan jika sebentar lagi dia harus mengucapkan selamat tinggal pada celana jeans robek dan kaos oblong over sizenya.


"Sudah jangan di pikirkan, sekarang ayo turun. Calon suamimu sudah menjemput."


"Bukankah El akan datang bersama mama dan papa? "


"Tidak sayang, kamu akan datang bersama Yuri."


"Bolehkah El satu mobil dengan papa dan mama saja? "


"Tidak boleh."


Lucia segera menarik tangan Elia untuk keluar dari kamar. Sampai di bawah Elia melihat Yuri yang sedang berbicara dengan Mateo. Melihat Elia sudah turun, mereka pun segera berdiri dan berjalan keluar untuk berangkat.


Melihat Mateo dan Lucia sudah masuk ke mobil keluarga Mateo, Elia reflek mendekat dan akan ikut masuk. Namun suara dingin Yuri membuatnya mengurungkan niat.

__ADS_1


"Jangan berulah El, jika kamu tidak ingin keluargamu malu."


Elia berbalik dan melihat sopir Yuri membuka pintu dan Yuri memberi isyarat agar dia segera masuk ke mobil. Mendengar hal itu dengan kepala tertunduk Elia segera masuk di ikuti Yuri yang duduk di sebelahnya.


Sepanjang perjalanan baik Yuri maupun Elia tidak saling bicara. Elia memilih memandang lurus ke depan sementara Yuri sibuk dengan ipad nya. Tidak sampai satu jam akhirnya mereka tiba di halaman hotel tempat berlangsungnya pesta yang sudah ramai dengan tamu undangan dan para wartawan yang datang.


"Jaga sikapmu selama pesta! " ucap Yuri sebelum sopir membukakan pintu mobil. Begitu mereka turun Yuri segera memberikan lengannya agar di rangkul oleh Elia. Paham dengan maksud Yuri, Elia pun segera merangkul lengan kekar Yuri dan menegakkan wajahnya saat mereka masuk ke dalam lobi hotel. Melihat sikap Elia, Yuri sedikit tersenyum karena puas. para wartawan langsung mengabadikan moment putra mahkota Romanov yang datang dengan seorang gadis. Mereka hanya di beri kesempatan mengambil foto di luar tanpa wawancara dan masuk ke ruangan.


Begitu sampai di hall hotel terlihat Lucky sedang terlibat pembicaraan dengan rekan bisnisnya. Sementara Mariana terlihat duduk berbincang dengan Malika yang malam itu terlihat seksi dan cantik.


Mateo dan Lucia yang berjalan di belakang Elia melepaskan pegangan tangannya karena Mateo segera mendekati Lucky dan bersiap di belakangnya jika sewaktu - waktu di butuhkan Lucky.


Yuri, Elia dan Lucia melangkah mendekati meja dimana Mariana duduk.


"Selamat malam nyonya." sapa Lucia dan Elia bersamaan pada Mariana.


Yuri segera menarik kursi untuk tempat duduk Lucia dan Elia, sebelum akhirnya menarik kursi untuk dirinya sendiri.


" Terimakasih." ucap Elia dengan tulus.


Malika yang sedari tadi melihat kedatangan Yuri sama sekali tidak melepaskan pandangan dari wajah Yuri. Hal itu membuat Elia sedikit merasa terganggu. Tidak berapa lama terlihat kedatangan Adrian dan Feodora.


"Wah...kau cantik sekali sayang." puji Feodora pada Elia. "Benar kan tebakanku kalau gaun ini cocok untuk El." lanjut Feodora yang bicara pada Adrian.


"Ah iya... aku sependapat denganmu." balas Adrian.

__ADS_1


"Selamat malam nenek dan kakek." sapa Elia yang segera berdiri dan memeluk Feodora dan Adrian secara bergantian.


"Selamat malam nyonya dan tuan besar." Lucia juga berdiri dan menyapa Feodora dan Adrian.


"Selamat malam Lucia." balas Feodora sambil menatap sekeliling dan matanya menyipit begitu melihat Malika ikut duduk di meja keluarga inti. Dia tahu siapa gadis itu dan tidak menyukainya.


"Ah nona Malika, sepertinya anda salah tempat duduk." ucap Feodora dengan tatapan mengintimidasi. "Meja ini hanya khusus untuk keluarga Romanov."


Malika yang tadinya penuh percaya diri karena duduk di dekat Mariana segera menunduk malu dengan muka merah padam dan mengepalkan tangan. Dia tidak menyangka jika Feodora akan mengatakan hal itu di depan Yuri.


"Tapi bu... " Mariana mencoba membela Malika dan merasa wajar jika Malika ikut duduk satu meja dengan mereka.


"Mariana mungkin dia anak saudaramu, tetapi bukan di sini tempatnya. Apalagi dia memandang wajah calon suami orang sampai meneteskan air liur. Memalukan!" Feodora memotong perkataan Mariana dengan ucapan pedas. Adrian yang sudah hafal mulut pedas isterinya hanya mengelus pundak Feodora. "Apa yang kamu tunggu nona Malika? Segera tinggalkan meja ini! "


Malika segera bangkit dan berjalan dengan menundukkan wajah karena sangat malu di usir oleh Feodora. Namun dia sempat melirik sinis ke arah Elia.


Elia yang melihat sorot mata Malika merasa aneh karena merasa Elia tidak menyukainya.


Setelah Feodora, Adrian duduk tidak lama kemudian Lucky juga datang untuk bergabung karena acara akan di mulai. Serangkaian acara di lewati dengan meriah hingga tiba saat Lucky menyampaikan pidatonya. Lucky maju ke panggung dengan di dampingi Mariana, setelah menyampaikan beberapa hal penting Lucky membuat pernyataan yang membuat heboh para undangan. Lucky meminta Yuri dan Elia untuk bergabung dengannya. Setelah Yuri dan Elia bergabung, Lucky memperkenalkan Elia sebagai calon nona muda Romanov dan Lucky akan segera pensiun setelah Yuri menikah dan menyerahkan seluruh urusan perusahaan pada Yuri.


Pernyataan Lucky yang mengatakan bila Elia adalah calon nona muda Romanov membuat para gadis patah hati. Meski Yuri tidak tinggal di negara ini tetapi mereka tahu siapa Yuri dari berita. Yuri tidak hanya putra mahkota Romanov tetapi dia juga pemuda yang tampan dan tidak pernah terlihat menggandeng seorang wanita hingga pernyataan Lucky menjawab pertanyaan kenapa selama ini dia sendiri. Ternyata karena sudah di jodohkan dari kecil.


Malika yang duduk di pojok ruangan merasa iri dan tidak suka dengan Elia yang menurutnya beruntung meski cuma anak angkat asisten Lucky. Susah payah dia mendekati Mariana dan berharap beruntung.


"Wah...wah lihat siapa yang duduk di sini." terdengar suara seorang wanita muda yang tiba - tiba sudah ada di depannya dengan senyum penuh ejekan.

__ADS_1


"Bukan urusanmu."


__ADS_2