Luka Pernikahan

Luka Pernikahan
6. Hari Sial Malika


__ADS_3

Malika berusaha untuk tidak memandang dengan tatapan kesal pada gadis yang berdiri di hadapannya. Dia berusaha menyembunyikan kekesalannya dengan tersenyum.


"Kemana wajah angkuhmu tadi nona bahan kecap? Bukankah tadi kamu duduk dengan keluarga inti Romanov? Kenapa sekarang berada di pojokan dan sendirian? Ah...atau kamu di usir karena bukan siapa-siapa." Franti berbicara dengan nada meremehkan. "Saranku, jangan mimpi terlalu tinggi, bila jatuh bukan hanya sakit tapi juga remuk."


"Apa maksudmu nona Franti?" wajah Malika pura - pura berubah penuh kebingungan.


"Tidak usah memasang wajah polos nona Malika." Franti menatap tajam pada Malika. "Kamu mungkin bisa menyembunyikan niatmu yang sesungguhnya dari tante Mariana, tapi tidak dariku."


"Apa maksudmu? "


"Haruskah aku perjelas?" jawab Franti yang kemudian meninggalkan Malika dengan tersenyum miring.


Perkataan Franti semakin membuat Malika semakin terbakar amarah. Marah karena dirinya tidak seberuntung Elia yang cuma gadis lugu. Tanpa menunggu acara selesai dia segera meninggalkan pesta. Sungguh dia tidak sanggup terus berada di tengah pesta tapi sendirian Namun baru saja dia keluar dari pintu dia sudah bertubrukan dengan seseorang.


"Kalau jalan lihat - lihat dong, punya mata itu di pakai. Dasar kampungan. " maki Malika tanpa melihat orang yang di depannya karena membungkuk mengambil tas tangannya yang terjatuh.


"Ehem... "


"Tu...tuan Daniel? " Malika terperanjat dan berubah pucat begitu melihat siapa yang ada di depannya. Di lihatnya Daniel sedang menyeringai ke arahnya.


"Sial... baru juga lepas dari adiknya sudah ketemu dengan kakaknya." umpat Malika dalam hati.


"Ya ini saya Daniel, orang yang anda umpat kampungan nona Malika. "

__ADS_1


"Ma... maaf saya kira tadi bukan anda."


"Bukan berarti kalau yang kamu tabrak bukan saya terus kamu bisa memaki - maki seenaknya. Ck... saya baru tahu ternyata ini lah versi asli seorang Malika Prasetya." ucap Daniel sambil melangkah masuk ke ruangan pesta. Meninggalkan Malika yang terdiam mematung.


"Sial... sial." umpatnya terus dalam hati.


Daniel Lavia adalah kakak dari Franti Lavia, pemilik perusahaan tempatnya bekerja. Sialnya lagi dia bekerja sebagai sekertaris Daniel atas permintaan Mariana pada Daniel. Entah bagaimana nasibnya setelah kejadian ini, bisa jadi dia mendapat teguran atau lebih parah lagi kehilangan pekerjaan.


Tidak ingin semakin pusing memikirkan kejadian itu Malika memilih melanjutkan langkah keluar dari ball room hotel.


Saat ini yang dia butuhkan adalah pelampiasan dari semua rasa marah. Hingga pilihannya adalah pergi ke club seperti yang sudah - sudah. Apalagi kedua orang tuanya tidak terlalu memperhatikan semua tingkah lakunya jadi Malika merasa bebas.


Malika mengemudi dengan kecepatan tinggi tanpa perduli dengan keselamatan dirinya dan orang lain sesama pengguna jalan raya. Dia tidak perduli jika ada pengendara lain yang mengumpat nya.


Begitu tiba di club Malika segera masuk dan duduk di depan bartender. Dia memesan minuman seperti biasa hingga mabuk berat. Malika tidak hanya meracau menyebut nama Yuri tetapi dia juga mengumpat Elia sebelum akhirnya menangis. Hingga tak berapa lama kemudian dia tertidur dengan menelungkup di atas meja.


"Dia temanku, biar aku yang mengurusnya." kata pria tersebut.


"Tapi tuan, nona ini tadi datang sendirian." ucap si bartender yang ragu karena pria itu baru datang setelah Malika mabuk berat.


"Ah iya tadi aku terjebak macet karena itu datang terlambat, tapi kami tadi sudah janjian kok." jawab si pria berusaha meyakinkan bartender.


Awalnya bartender tersebut merasa ragu tetapi ketika ada tamu yang memesan minuman, mau tak mau si bartender meninggalkan Malika dengan pria itu.

__ADS_1


Setelah si bartender pergi pria tersebut segera menggendong Malika dan membawanya keluar dari club.


Keesokan paginya Malika terbangun dan merasakan kepalanya pusing.


"Kenapa kamarku terlihat berbeda ya." kata Malika yang baru saja membuka mata. Setelah menatap sekeliling dan dia merasa aneh karena kamarnya menyerupai kamar hotel.


Malika berusaha mengingat apa yang terjadi semalam. Dari pesta di perusahaan Romanov terus beradu mulut dengan Franti, kemudian menabrak Daniel hingga pergi ke club.


Deg.


Seketika jantung Malika berdetak kencang ketika mengingat terakhir dia berada di club, minum terus tidak ingat apa yang terjadi.


Malika segera duduk, namun alangkah terkejutnya dia ketika mendapati tubuhnya polos tanpa baju dan terdapat banyak bercak tanda merah di dadanya. Bahkan bajunya terlihat berserakan di lantai.


"Tidaaaaaakkkk." Malika menggelengkan kepala dan berteriak setelah sadar dengan apa yang telah terjadi. Seseorang telah melecehkannya ketika sedang mabuk dan dia tidak tahu siapa orangnya.


Malika segera bangkit dan membersihkan diri di kamar mandi. Setelah berpakaian dia keluar dari kamar hotel dan pergi ke resepsionis untuk menanyakan atas nama siapa kamar semalam. Alangkah terkejutnya Malika karena kamar tersebut di pesan atas namanya dan di bayar dengan uang cash. Rupanya selain meniduri nya orang yang membawanya ke hotel juga mengobrak-abrik isi tasnya. Ktp nya bahkan tidak berada di dalam dompet seperti biasa meski ada di dalam tas. Belum lagi uang cash nya berkurang senilai harga kamar hotel yang di pakainya.


Malika semakin marah karena pihak hotel tidak mengijinkannya melihat cctv agar tahu siapa pria tersebut. Meski Malika membawa nama Romanov, pihak hotel kekeh tidak akan memberikan rekaman cctv padanya. Pihak hotel pun tidak mau tahu ketika dia bercerita di bawa kesitu dalam keadaan tidak sadar. Malika hanya di sarankan lapor polisi jika yang dia katakan itu benar. Bila Malika lapor polisi dan pihak kepolisian meminta rekaman cctv makan pihak hotel akan memberikannya.


Akhirnya Malika memilih pulang dengan menggunakan taksi daripada lapor polisi. Selain tidak ada bukti dia juga tidak mau keluarganya tahu apa yang menimpanya. Karena jika dia lapor polisi otomatis Yuri mengetahui apa yang menimpanya dan bisa jadi Yuri jijik dengan dirinya. Meski Malika sudah tidak perawan lagi tetapi dia tidak ingin Yuri mengetahuinya.


Sampai di rumah Malika bersyukur karena tidak bertemu dengan mama dan papanya yang sudah berangkat kerja di rumah sakit.

__ADS_1


Setelah berganti baju dan berdandan Malika segera memesan taksi dan berangkat bekerja. Selama dalam perjalanan dia mencari alasan kenapa datang terlambat. Apalagi Daniel adalah orang yang tegas dan jarang mentolerir kesalahan karyawan. Belum lagi Malika harus menahan malu karena sudah menghina Daniel di pesta semalam.


"Ah betul - betul hari sial, semua gara - gara Elia si gadis kampungan itu." Malika terus saja menyalahkan Elia atas apa yang terjadi padanya.


__ADS_2