Luka Pernikahan

Luka Pernikahan
Posisi di Perusahaan


__ADS_3

Martin memijit kepalanya yang pening karena tidurnya terganggu. Baru saja memejamkan mata tetapi tiba - tiba seseorang mengetuk pintu kamarnya.


"Ada apa tuan muda?" tanya Martin ketika melihat Yuri yang mengetuk pintu kamarnya.


Tanpa menjawab Yuri langsung menerobos masuk ke kamar Martin dan duduk di sofa.


"Ya Tuhan... tidak sopan sekali. Sudah mengganggu tidurku dan masuk tanpa permisi. Mentang - mentang ini rumahnya." gerutu Martin dalam hati. Dengan sedikit sempoyongan karena mengantuk dia berjalan ke arah ranjang dan duduk disana.


"Bisakah kau melacak keberadaan seseorang?" tanya Yuri dengan suara lemah.


"Siapa tuan muda?"


"Istriku."


Mateo membelalakkan mata tidak percaya dengan apa yang di dengarnya. Tiba - tiba saja rasa kantuk nya menguap entah kemana.


"Kenapa melotot?"


"Hanya merasa aneh kenapa tiba - tiba tuan muda ingin bertemu nyonya muda. Bukankah tuan muda tidak menginginkannya?"


"Aku ingin tahu keadaannya."


"Baiklah, mana no hpnya? Saya akan melacaknya."


"Aku tidak punya, jika punya sudah kulakukan sendiri."


Martin rasanya ingin menenggelamkan diri di laut mendengar ucapan Yuri. Bagaimana dia mencari seseorang sementara dia orang baru di negara ini yang belum tahu seluk beluknya.


Seakan tahu apa yang di pikirkan Martin, Yuri segera berdiri. "Tunda dulu mencari isteriku, besok persiapkan dirimu dan Sam untuk ke perusahaan papa."


"Ke perusahaan, untuk apa tuan muda? "


"Untuk mencari pekerjaan bodoh, memangnya kamu mau jadi pengangguran disini? Rumah ini bukan penampungan pengangguran." Ucap Yuri sambil melangkah keluar kamar Martin dan membanting pintu.


Martin mengelus dada karena terkejut dengan suara pintu yang di banting Yuri.


"Sepertinya tuan muda sedang pms dan pikun. Dia lupa kalau dirinya juga pengangguran."


Martin terkikik geli dan menjatuhkan kepalanya ke bantal untuk tidur kembali. Tidak berapa lama kemudian terdengar dengkuran halus.


Keesokan paginya Martin dan Sam sudah siap dengan baju yang rapi. Setelah sarapan mereka berangkat ke perusahaan tanpa di antar sopir. Yuri memilih mengemudikan mobil sendiri. Lucky sudah berangkat pagi - pagi sekali bahkan tidak sempat sarapan di rumah.

__ADS_1


Begitu sampai di perusahaan mereka langsung menuju ruang HRD. Hampir semua karyawan bertanya - tanya siapa dua orang bule yang berjalan bersama anak pemilik perusahaan. Tidak sedikit karyawan perempuan yang terpesona dengan Martin dan Sam yang berwajah lumayan tampan dengan tubuh tegap tinggi. Meski pesona Yuri tidak terkalahkan tetapi para karyawan tahu jika Yuri sudah menikah.


Begitu sampai Yuri mengetuk pintu ruang HRD, meskipun dia anak pemilik perusahaan tetapi dia harus tetap menjaga kesopanan.


"Masuk!" terdengar suara dari dalam yang meminta mereka masuk.


Begitu masuk mereka di sambut senyum ramah Ardi selaku HRD.


"Selamat datang tuan muda." sapa Ardi dengan mengulurkan tangan dan di sambut oleh Yuri.


"Silahkan duduk! "


Setelah semua duduk Ardi segera menatap ke arah Martin dan Sam seakan menyelidik.


"Mereka mantan asistenku." kata Yuri yang sedikit risih dengan kelakuan Ardi.


"Saya tahu tuan muda, tuan Lucky sudah memberitahu saya." jawab Ardi dengan tenang.


"Lalu kenapa kamu masih menatap aneh pada mereka?"


Ardi terlihat tetap tenang dan tersenyum sebelum menjawab.


" Saya terbiasa menilai calon karyawan dari penampilan luar dan keahlian."


"Baiklah kalau begitu, saat ini posisi yang tersedia di perusahaan adalah staf manager pelaksana proyek untuk pak Martin. Sementara untuk pak Samuel di bagian staf keuangan."


Yuri menatap Martin dan Sam untuk mengetahui apa mereka menerima posisi itu atau tidak. Terlihat baik Martin maupun Sam menganggukkan kepala tanda setuju. Ardi yang mengetahui hal itu tersenyum puas. Meski baru bertemu pertama kali dengan kedua orang itu tetapi Ardi sudah sering mendengar cerita dari Lucky jika Martin dan Sam sangat berkompeten dalam bekerja.


"Bagaimana pak Martin? Apa anda menerima posisi tersebut? "


"Ya, saya menerima." Martin menjawab dengan tegas karena baginya apa pun pekerjaannya itu lebih baik daripada menganggur di negeri orang.


"Pak Sam? "


"Saya juga menerima."


"Untuk tuan muda, posisi yang ada saat ini tinggal manager pelaksana proyek." kata Ardi sambil menatap Yuri dengan wajah serius karena takut Yuri akan marah dan tidak menerima posisi tersebut. Bagaimana pun juga Yuri anak pemilik perusahaan.


"Tidak masalah dan jangan panggil aku tuan muda." jawab Yuri tegas. Dia tahu papanya sedang menguji dirinya dengan memberikan posisi yang tidak terlalu tinggi.


"Baiklah kalau begitu, selamat bergabung dengan perusahaan RV. Anda bertiga akan mulai bekerja besok pagi, so persiapkan diri kalian." Ardi berdiri dan mengulurkan tangan kepada Yuri, Martin dan Sam.

__ADS_1


Setelah keluar dari ruangan HRD Yuri berniat untuk ke ruangan Lucky. Dia menyuruh Martin dan Sam menunggunya di lobi perusahaan. Namun baru saja dia akan masuk ke lift tiba - tiba Mateo keluar dari lift yang sama. Mereka saling berpandangan untuk beberapa saat sebelum akhirnya Mateo memutus pandangan dan berlalu dari hadapan Yuri.


"Papa... " panggil Yuri sambil mencekal lengan Mateo.


"Ada yang bisa saya bantu tuan muda." ucap Mateo dingin sambil melepaskan cekalan tangan Yuri.


"Bisakah kita bicara sebentar pa?" tanya Yuri penuh harap.


"Tidak ada urusan di antara kita yang harus di bicarakan. Dan... tolong panggil saya paman seperti biasa. Telinga saya geli mendengar anda menyebut saya " papa"."ucap Mateo sebelum melangkah pergi tanpa menghiraukan Yuri.


Yuri yang mendengar ucapan Mateo hanya bisa melihat punggung Mateo yang kian menjauh. Baru dia sadari jika perbuatannya telah mengubah semua orang. Dahulu Mateo begitu hangat dan menyayanginya seperti menyayangi Sky dan Rain.


Ah mengingat Rain dan Sky mungkin secepatnya dia harus menemui kakak Elia. Setelah Mateo tidak terlihat Yuri segera masuk ke lift yang akan membawanya ke ruangan papanya


Sampai di depan ruangan Lucky, Yuri di sambut oleh seorang pemuda yang dia prediksi sebagai sekretaris Lucky. Lucky memang tidak lagi memperkerjakan sekertaris perempuan sejak sekertaris nya yang dulu meninggal dunia.


Pemuda itu mengangguk hormat pada Yuri sebelum menanyakan maksud kedatangan Yuri.


"Selamat pagi tuan."


"Apa papa ada di dalam? "


"Oh ada tuan, sebentar saya akan memberitahu tuan Lucky terlebih dahulu."


Yuri hanya mengangguk dan melihat ke sekitar. Dilantai itu hanya ada dua ruangan, yaitu ruangan Mateo dan ruangan Lucky. Meski terlihat lengang tetapi Yuri tahu jika ada beberapa bodyguard yang menjaga lantai tersebut.


"Silahkan tuan muda, tuan Lucky menunggu anda." suara sekertaris Lucky membuyarkan pikiran Yuri.


Tanpa berkata apapun Yuri langsung masuk ke ruangan Lucky. Terlihat papanya sibuk dengan dokumen yang menumpuk di atas meja.


"Ada apa? " tanya Lucky tanpa melihat kearah Yuri yang duduk di depannya.


"Besok Yuri mulai bekerja disini pa."


"Oh.. di bagian apa?"


"Manager pelaksana proyek."


"Oh... selamat bekerja, jika tidak ada lagi yang di bicarakan keluarlah."


Yuri menghela nafas karena kembali seperti di usir papanya. Tetapi sebagai seorang mantan CEO dia juga paham kalau Lucky sangat sibuk.

__ADS_1


"Baik pa, Yuri pamit."


__ADS_2