
Yuri ragu untuk memasuki kamar pribadinya mengingat dia akan bertemu dengan Elia. Entah mengapa ada perasaan malu bertatap muka langsung dengan isterinya, apalagi dulu dia meninggalkannya begitu saja. Tetapi mengingat kamar itu miliknya, Yuri menguatkan hati untuk membuka pintu kamar.
Begitu pintu terbuka Yuri melihat kamarnya rapi seperti biasa. Barang - barangnya pun masih utuh tanpa bergeser dari tempatnya. Ketika Yuri mengedarkan pandangan tidak tampak satu pun barang selain punyanya. Dengan langkah sedikit tergesa Yuri menuju walk in closed dan dia terkejut ketika tidak melihat satupun baju dan barang milik Elia. Tiba - tiba saja hatinya merasa tidak enak. Apalagi ketika teringat sambutan dingin papanya di bawah tadi.
"Apa mungkin dia pindah ke kamar lain?" tanya Yuri dalam hati.
Yuri memindai kembali sekeliling kamarnya, tidak ada yang aneh dan berubah. Setelah itu Yuri memutuskan untuk mandi karena badannya terasa lengket.
Ketika makan malam tiba Yuri kembali heran karena tidak mendapati Elia disana.
"Sam, Martin...ayo makan yang banyak. Jangan sungkan." ucap Mariana sebelum mengambilkan makanan suaminya. Sejak kedatangan mereka tadi, Mariana dan Lucky menerima Sam dan Martin dengan tangan terbuka. Bahkan ketika Yuri menyuruh sopir untuk mengantar mereka ke salah satu apartemen, Mariana sangat keberatan.
"Baik nyonya." jawab Martin dan Sam secara bersamaan.
Mereka tidak mengira jika di terima dengan baik di rumah orang tua Yuri. Bahkan mereka masing - masing menempati kamar yang mewah di sebelah kamar Yuri. Dan yang lebih membuat mereka terkejut adalah ketika pelayan mengatakan kalau mereka sudah di tunggu di ruang makan.
Selanjutnya mereka makan dengan tenang. Meski lapar tetapi Yuri tidak bisa mengenyahkan pikiran tentang Elia. Sungguh dia penasaran dimana gadis itu.
"Pa, ada yang mau Yuri bicarakan dengan papa." kata Yuri ketika melihat papanya telah selesai makan dan berdiri untuk meninggalkan ruang makan.
"Papa tunggu di ruang kerja." jawab Lucky sambil berlalu pergi tanpa memandang ke arah Yuri.
Yuri sedikit mendesah melihat perlakuan papanya yang sangat berbeda dari biasanya.
"Papamu sangat marah dengan apa yang kau lakukan, tapi percayalah kemarahan papa hanya sementara."
Mariana yang melihat anaknya sedikit murung berusaha menghibur.
"Oh ya ma, kemana Elia?" Kenapa dari tadi Yuri tidak melihatnya? "
"Hanya papamu yang bisa menjawab." jawab Mariana dengan wajah sedikit muram. Dia ingat ancaman Lucky jika membicarakan soal Elia dengan Yuri.
Setelah makan malam selesai Yuri segera bergegas ke ruang kerja ayahnya, sementara Sam dan Mateo memutuskan untuk beristirahat di kamar.
"Masuk! "
__ADS_1
Terdengar suara Lucky dari dalam ketika Yuri mengetuk pintu ruang kerja papanya. Setelah membuka pintu Yuri melihat papanya yang berdiri menghadap keluar jendela dengan merokok. Yuri terkejut ketika melihat papanya merokok, setahunya Lucky menjalani pola hidup sehat tanpa rokok dan alkohol.
"Papa merokok? "
"Apa yang ingin kau bicarakan? " Lucky balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan Yuri.
"Perusahaan di Rusia habis tidak tersisa pa, maaf Yuri tidak bisa mempertahankan perusahaan kakek."
"Lalu? "
Yuri terkejut ketika papanya tidak bertanya lebih lanjut tentang kebangkrutan perusahaan seperti sudah mengetahuinya.
"Yuri ingin bekerja di perusahaan papa jika papa mengijinkan. Begitu pula Sam dan Martin."
Lucky berbalik dan berjalan ke arah meja kerjanya. Setelah duduk dia memandang Yuri dengan lekat. Yuri yang di pandang papanya segera duduk di seberang meja.
"Siapkan surat lamaran kerja kalian dan bawa ke bagian HRD. Papa tidak tahu posisi apa yang cocok untuk kalian."
Yuri mencelos mendengar jawaban Lucky. Dia pikir Lucky akan memintanya memimpin perusahaan seperti setahun yang lalu.
"Kenapa? tidak mau? " tanya Lucky yang melihat perubahan raut muka Yuri.
"Jika tidak ada lagi yang kamu bicarakan, keluarlah!"
Yuri kembali mencelos mendengar Lucky mengusirnya. Dia seperti tidak mengenali papanya lagi. Dulu Lucky sangat suka jika Yuri berada di ruang kerjanya. Mereka akan bertukar pikiran soal perusahaan sampai lupa waktu. Tetapi sekarang papanya seakan tidak ingin dia disana terlalu lama.
"Em... kalau boleh tahu Elia dimana pa?" tanya Yuri yang sudah tidak tahan untuk mengetahui keberadaan isteri yang tidak dia inginkan itu.
Lucky menatap Yuri dengan sinis. "Untuk apa kamu menanyakannya? "
Yuri tertunduk karena tidak bisa menjawab pertanyaan papanya.
"See... kamu sendiri tidak punya jawaban, lalu untuk apa aku menjawabnya."
"Tapi pa... "
__ADS_1
"Keluar! aku punya banyak pekerjaan." ucap Lucky memotong perkataan Yuri tanpa menatapnya.
Dengan lesu Yuri berdiri dan melangkah keluar dari ruang kerja papanya. Begitu dia membuka pintu Yuri berpapasan dengan Arthur di depan pintu yang membawa nampan berisi kopi untuk Lucky.
"Tuan muda." Arthur menyapa Yuri dengan sedikit menundukkan kepala. Yuri membalas sapaan Arthur dengan tersenyum.
Setelah Yuri keluar Arthur segera masuk ke dalam. Tidak berapa lama kemudian Arthur keluar, namun dia terlihat terkejut melihat Yuri masih berdiri di luar.
"Paman bisakah kita bicara sebentar? "
"Bisa tuan muda, mari kita bicara di taman belakang saja."
Yuri hanya mengangguk dan segera berjalan menuju ke taman belakang. Sementara Arthur kembali ke dapur untuk membuat kopi terlebih dahulu untuk Yuri dan dirinya sendiri. Setelah selesai dia segera menyusul Yuri di taman belakang.
"Silahkan di minum tuan muda." Arthur meletakan secangkir kopi di depan Yuri kemudian duduk di depannya.
"Terimakasih paman."
"Apa yang ingin tuan muda bicarakan? " tanya Arthur sambil menyesap kopinya.
"Tentang Elia paman, dimana dia sekarang? kenapa aku tidak melihatnya di rumah ini."
"Mengapa tuan muda menanyakan nona muda?" Bukankah tuan muda tidak menginginkannya?" Arthur gantian bertanya dengan wajah yang tiba - tiba terlihat sendu. Masih segar dalam ingatannya bagaimana Elia datang dan kemudian meninggalkan rumah itu.
"Hanya ingin tahu paman." kata Yuri asal menjawab.
"Jika hanya itu alasannya lebih baik tuan muda tidak perlu tahu apapun tentang nona muda. Maaf masih ada sesuatu yang harus saya kerjakan, permisi tuan muda." Arthur segera berdiri dan bersiap membawa cangkir kopinya pergi. Yuri yang melihat Arthur akan pergi segera memegang tangan Arthur.
"Jangan pergi dulu paman, tolong beritahu tentang Elia."
Dengan lembut Arthur melepaskan pegangan tangan Yuri dan menatap Yuri dengan senyum remeh.
"Berikan saya alasan yang lebih bagus dari alasan tadi dan saya akan menjawab semua pertanyaan tuan muda."
Yuri tertegun mendengar ucapan Arthur karena dia cuma merasa penasaran dengan keberadaan Elia.
__ADS_1
"Dimana dia tinggal sekarang paman? " Yuri belum menyerah meski Arthur sudah melangkah pergi.
"Yang jelas tidak di rumah orang yang tidak menginginkannya." jawab Arthur tanpa membalikkan badan dan terus melangkah pergi.