
Yuri serta papa dan mamanya datang lebih awal ke kediaman Adrian Romanov. Kebetulan sore itu Adrian dan Feodora sedang duduk di taman depan rumah menikmati sore yang cerah. Yuri memeluk erat Feodora sang nenek, sungguh dia sangat merindukan neneknya.
"Hai anak nakal, akhirnya kamu pulang juga."
"Nenek apa kabar."
"Seperti yang kamu lihat, nenek semakin tua tapi belum mempunyai cicit. Entah nenek masih di beri kesempatan melihat cicit nenek lahir atau tidak. "jawab Feodora dengan memasang wajah sendu dan sedikit menitikkan air mata.
Adrian yang melihat isterinya memainkan drama hanya menggelengkan kepala dan tersenyum tipis.
"Nenek masih muda, masih cantik dan akan tetap sehat."
"Nenek akan tetap sehat jika punya cicit secepatnya."
Yuri hanya bisa menghela nafas dan melepaskan diri dari pelukan Feodora dan beralih memeluk Adrian Romanov. Adrian menepuk pundak Yuri pelan, tidak bisa di pungkiri kalau dia juga sangat merindukan cucu satu - satunya.
"Ayo kita masuk dan bicara di dalam, Mateo dan keluarganya juga belum datang." ucap Adrian sambil menggandeng Feodora berjalan masuk di ikuti dengan Mariana, Lucky dan Yuri di belakangnya. Adrian dan Feodora memang masih terlihat mesra meski sudah berusia lanjut.
Setelah mereka masuk dan duduk di ruang tamu pelayan segera menghidangkan minuman dan camilan untuk teman ngobrol.
"Yuri... kakek dan papamu sudah memutuskan untuk mempercepat pernikahanmu dengan El." ucap Adriano membuka pembicaraan mereka.
"Apa??? "
Yuri dan Mariana serentak berteriak karena kaget.
"Kek... bukannya kami akan bertunangan dulu. Lagian kita belum tahu El mau menikah denganku atau tidak."
"Iya yah... kenapa mendadak seperti ini." Mariana terlihat tidak rela jika Yuri menikahi Elia dalam waktu dekat.
"El pasti tidak keberatan... dan kamu Mariana mengapa kamu terlihat tidak menyukai rencana ini? " tanya Adrian sambil menatap Mariana.
"Bu...bukan apa - apa ayah, hanya saja Yuri terlihat belum siap." Mariana menjawab dengan sedikit gugup.
Menjelang malam terlihat dua mobil memasuki halaman kediaman Romanov. Terlihat Mateo, Lucia isterinya serta Eliana keluar dari mobil pertama. Sedangkan dari mobil kedua terlihat Sky dan Rain anak kembar Mateo yang ikut serta.
__ADS_1
Setelah pelayan mempersilahkan mereka masuk, Mateo memasuki rumah Adrian dengan menggandeng tangan Elia sedang Lucia berjalan di belakangnya dengan di gandeng Sky. Terlihat sekali mereka sangat menyayangi Elia dan tidak merasa cemburu karena Mateo memperlakukan Elia seperti anak kandung.
Melihat Mateo sudah datang dan setelah berbasa - basi sebentar Adrian meminta mereka langsung ke meja makan untuk makan malam sebelum membicarakan Yuri dan Elia.
Yuri menatap intens Elia yang malam itu terlihat sedikit lebih dewasa di banding pertemuan terakhir mereka beberapa tahun yang lalu. Elia terlihat cukup cantik dengan dress biru dongker yang kontras dengan kulit putihnya. Wajahnya pun terlihat tanpa make up berlebih.
"Not bed." kata Yuri dalam hati yang diam - diam menilai penampilan Elia.
Mereka pun makan dalam suasana kekeluargaan dengan berbincang ringan. Elia yang duduk berhadapan dengan Yuri terlihat menikmati makanan tanpa sedikitpun menoleh ke arah Yuri yang sering menatapnya.
"Dia mengabaikanku? dasar anak kecil." umpat Yuri dalam hati yang geram karena di abaikan Elia.
Setelah mereka selesai makan Adrian segera memberitahukan kalau pertunangan Yuri dan Elia akan di tiadakan dan langsung akan di adakan pernikahan dalam waktu dekat.
Mateo sedikit keberatan dengan alasan karena Elia masih kuliah. Tetapi karena Adrian dan Lucky meyakinkan kalau Elia masih boleh melanjutkan kuliah Mateo akhirnya setuju. Malam itu juga mereka memutuskan pernikahan akan di langsungkan seminggu kemudian.
Yuri hanya bisa mendesah pasrah dengan keputusan Adrian, Lucky dan Mateo. Sementara Feodora, Mariana dan Lucia hanya bisa mendukung keputusan para lelaki.
"El... bisa kita bicara berdua? " tanya Yuri di sela - sela perbincangan para tetua.
"Kita bicara di taman depan saja." ucap Yuri yang langsung bangkit dari duduknya.
"kek, pa, om... saya mau bicara dengan El sebentar."
Para tetua hanya menganggukkan kepala tanda tidak keberatan. Menurut mereka memang Yuri dan Elia harus mulai berkomunikasi.
Elia segera bangkit dan mengikuti Yuri dari belakang.
Di sinilah mereka di taman depan rumah, duduk saling berhadapan untuk pertama kali.
"Langsung saja El... apa alasan kamu menerima perjodohan ini?" tanya Yuri to the point. "Kita tidak saling mencintai, apa menurutmu pernikahan ini bisa berhasil? "
"Apa saya punya kuasa untuk menolak? Dari kecil saya sudah di tekankan bahwa suatu hari nanti akan menikah dengan kakak."
Yuri mendesah putus asa, apa yang di katakan Elia benar adanya. Dari kecil mereka sudah di beritahu kalau dewasa nanti mereka akan di nikahkan.
__ADS_1
"Jika kakak keberatan, kakak punya kuasa untuk menolak pernikahan ini. " lanjut Elia yang melihat Yuri terlihat putus asa.
"Dan kamu tidak merasa harga dirimu tersakiti jika aku membatalkan perjodohan ini? "
"Tidak selama kakak menolak sebelum terjadi pernikahan di antara kita. Jika kakak menolak ketika kita sudah menikah, saya tidak yakin bisa memaafkan kakak. " Elia berucap dengan tegas.
"Tapi sayangnya saya juga tidak bisa menolak El."
Setelah itu hening tidak ada lagi percakapan mereka berdua, hingga terdengar suara pelayan yang memberitahu kalau Yuri di panggil Adrian.
Tanpa sepatah kata Yuri meninggalkan Elia di taman.
"Butuh pelukan? " terdengar suara dari belakang Elia.
"Kakak." Elia segera menghambur ke dalam pelukan Sky sambil menangis. Sky dengan penuh kasih sayang mengelus punggung Elia.
"Jangan menangis, ada kakak yang akan selalu ada untukmu." ucap Sky sambil menghapus air mata di pipi Elia.
"Bukan maksud kakak menguping, tapi kakak mendengar semuanya. Nanti kakak akan bicara dengan papa agar membatalkan perjodohan konyol ini."
Elia menggeleng sambil melepaskan pelukan Sky.
"Jangan kak, El tidak mau membuat papa kesulitan membicarakan pembatalan dengan kakek dan papa Lucky."
"Tapi El... "
"Kak... Elia tidak apa - apa, jika pernikahan ini bisa membalas budi semua kebaikan papa Lucky dan kakek Adrian, El ikhlas menjalaninya."
Sky kembali meraih Elia ke dalam pelukannya tanpa berkata apa - apa. Tetapi dalam hati dia berjanji akan selalu ada untuk Elia apapun yang terjadi.
"Hai... kalian berpelukan tanpa mengajakku? " terdengar suara Rain yang mendekat dan langsung memeluk Elia dan Sky.
Memang selama para tetua membicarakan pernikahan Yuri dan Elia, Sky dan Rain memilih keluar karena merasa bukan kapasitas mereka untuk ikut bicara.
Tanpa Elia, Sky dan Rain sadari pembicaraan Sky dan Elia di dengar oleh sepasang mata yang berdiri di belakang pot bunga yang rimbun.
__ADS_1
"Jadi karena balas budi."