
beberapa Minggu ku jalani dengan bayangan sita yang selalu hadir setiap hari sabtu.aku seakan frustasi dengan keadaan ini.ingin segera terlepas.tapi bila aku lepas mas Krisna apa yang harus katakan pada orang tuaku.tak mungkin aku ungkap semua.itu hanya akan menambah luka bagi keluargaku.
hari ini tak seperti biasa aku tak melihat pak Hasan,majikan laki - laki ku keluar kamar hingga hampir siang hari.karena khawatir ku beranikan diri untuk bertanya pada Bu Lastri majikanku yang perempuan.
"bapak gak keluar kamar Bu.beliau baik - baik saja kan ?"tanyaku penasaran
"bapak sakit mbak.bafannya panas dadanya sesak "jawab Bu Lastri sedikit cemas.
"ya allah.biasanya minum obat apa Bu?sudah minum obat ?"aku tak bisa menutupi kecemasanku.mengingat usia beliau yang sudah lanjut.
"bapak memang sakit jantung mbak.biasanya kami kontrol ke dokter.diantar lani.tapi kan bapak lagi marah sama lani "terang ibu.
memang beberapa hari lalu terdengar keributan di ruang tengah.entah masalah apa yang membuat anak dan bapak itu tak lagi saling menyapa sekarang
"tapi kan sekarang kondisinya bapak lagi sakit bu.apa tidak sebaiknya ibu telfon mbak lani?"aku memberanikan diri memberi saran
"entahlah mbak.ibu juga bingung.nanti kalo bapak tau tambah ngambek ibu juga yang susah "ucapnya penuh dengan kebimbangan.ada gurat kesedihan di sana.aku jadi iba melihatnya
"iya juga sih bu.lalu menurut ibu sebaiknya sekarang gimana ?"tanya ku.aku merasa ibu butuh teman ngobrol saat ini.dengan kondisi yang ada mungkin membuat nya sesak jika harus di simpan sendiri
"aku bingung mbak.apa ku telfon di belakang aja ya.biar bapak gak denger ?"ucapnya meminta pendapat padaku
aku pun mengangguk meyakinkan.melihat kondisi bapak sekarang sepertinya memerlukan perawatan dan jika bukan anaknya yang membawa ke rumah sakit mau siapa lagi
"Bu..." terdengar suara bapak memanggil ibu dari dalam kamar.aku segera mengekor di belakangnya.tiba -tiba perasaanku tidak enak
"Bu,panggil anak - anak kemari y "ucap bapak setelah ibu duduk di tepi ranjang di samping bapak terbaring lemah
"mbak Saras,ambilin hp ibu di depan tv ya "ucap ibu segera.
"enggeh Bu "jawabku sambil berlalu dan sesegera mungkin mengambil hp yang di maksud dan menyerahkannya pada ibu
lalu dengan cepat ibu menelfon ke dua anaknya mbak lani dan Mbak Susi untuk segera datang ke rumah karena bapak sakit.
"bapak butuh sesuatu pak,biar Saras ambilkan "aku menawarkan bantuan.melihat nafas bapak yang terasa berat dan seakan tersendat sendat aku jadi kasian
"tidak mbak.bautkan minum untuk anak - anaku saja nanti kalo sudah datang "ucapnya sambil tersengal - sengal.
"enggeh pak.saya tinggal ke toko dulu.kalo butuh apa - apa saya di toko nggeh Bu "?jawabku
__ADS_1
Bu Lastri hanya mengangguk lalu menatap khawatir lagi pada suaminya.aku pun keluar dari kamarenibggalkan sepasang majikanku itu dengan perasaan khawatir.
" kamu kenapa dek " tanya mas Krisna saat aku sudah duduk di toko.
"hah,oh enggak bapak sakit "jawabku terbata setengah berbisik.
mas Krisna memebulatkan mulutnya.kepalanya celingukan memandang ke arah halaman dan pintu gerbang seperti mencari sesuatu.
"anaknya gak ada yang datang gitu "tanyanya lagi juga setengah berbisik seperti ku tadi
"sudah di telfon sama ibu "jawabku.
"ya sudah kalo gitu.kasian orang tua tinggal berdua sendirian di rumah "ucapnya.mas Krisna memang sangat peka bila terhadap orang tua
kami pun larut dengan pekerjaan masing - masing.selang satu jam kemudian ada mobil datang.dua orang turun dariobil laki - laki dan perempuan.
"loh karyawan baru.sudah lama kerja di sini ?" tanya yang laki - laki menghampiri kami dulu sebelum masuk rumah.
"hampir dua bulan pak " jawab mas Krisna sopan.
"oh ya sudah kalo gitu.saya masuk ke dalam dulu ya." pamitnya langsung masuk ke dalam.sedangkan yang perempuan suda masuk dari tadi
selang lima belas kemudian ada mobil lagi datang.kali ini aku tau itu mobil siapa.mbak lani dan suaminya turun dari mobil.beda dengan yang tadi,mbak lani tak langsung masuk tapi menemui ku dulu.
"baru Lima belasan menit koq mbak."jawabku jujur
"oh ya sudah.bapak itu ya ras.aku hanya minta uang satu juta.sekarang jantungnya kambuh.tqpi kalo Mbak susi.di kasih hadiah mahal -mahal gak kenapa kenapa tuh "tiba - tiba mbak lani mengomel seakan mencibir sakitnya bapak.
aku hanya menanggapi dengan senyuman dan gelengan kepala.sekarang aku jadiemduga kedua kakak adik itu iri dengan kasih sayang bapak.dan itu membuat bapak sedih sehingga penyakitnya kambuh.aku menduga-duga sendiri.
tau aku tak begitu merespon kini mbak lani melangkah masuk rumah dengan langkah gontaitak bersemangat.sepertinyamasih dongkol dengan kejadian waktu itu.
kira - kira baru setengah jam mbak lani masuk terdengar teriakan seorang wanita dari dalam.
"kamu keterlaluan lani.bukannyainta maaf malah menyalahkan bapak.mulai sekarang jangan urusi lagi orang tua."pekik perempuan itu.mungkin itu suara Mbak Susi itu.bati
tak lama kemudian laki - laki yang menyapa ku tadi keluar rumah setengah berlari menuju mobil nya.di ikuti oleh bapak yang di papah oleh ibu dan perempuan yang ku taksir bernama Mbak Susi itu
aku dan mas Krisna segera menghampiri mereka.mas Krisna membukakan pintu gerbang sedangkan aku menghampiri mobil yang di tumpangi empat orang tadi
__ADS_1
" mbak kami mau ke rumah sakit.nitip rumah ya" ucap ibu lirih.ada gurat kesedihan dalam ekspresi wanita tua itu.
"enggeh Bu.semiga bapak segera pulih dan sehat kembali " jawabku
" makasih ya mbak " kata ibu dan Mbak Susi bersamaan.setelah itu mobil itu melesat pergi.entah ke rumah sakit mana aku sampai lupa menanyakan.
dari dalam rumah aku mendengar suara tangisan.aku yakin itu suara Mbak lani.dengan ragu ku hampiri dia yang tengah menangis sesenggukan di lantai depan kamar bapak.aku segera berlari menghampiri.
" mbak,jangan seperti ini.doakan saja bapak segera pulih.yakin bapak gak akan kenapa kenapa mbak " ujarku menenangkan.
"aku juga gak ingin bapak sakit mbak.aku hanya minta uang.itupun karena terpaksa.suamiku terlilit hutang.renternir itu setiap hari ke rumah mbak.aku takut " ceritanya di tengah Isak tangisnya
" bapak tau alasan Mbak Lina minta uang ?" tanyaku hati - hati.
dia hanya mengangguk memberi jawaban.kini aku paham kondisi Mbak Lina terpaksa minta uang pada sang ayah.karena ia takut dengan renternir itu.
" kalo mbak takut pulang,mbak istirahat di sini aja ya.kan ada kamar kosong di depan " ucapku memberi saran.
" tapi mbak..." tanya Mbak lani ragu
"mumpung gak ada bapak ibu " kataku lagi
kini ia pasrah hanya mengangguk menyetujui usulan ku.ku berikan ia minum air putih agar lebih tenang.setelah itu mengantarnya ke kamar tamu untuk beristirahat.
" istirahat di sini aja mbak.sambil menunggu perkembangan bapak.lagian kami tidak enak kalo di rumah sendirian " ucapku lagi
" makasih ya mbak.kamu baik dan mau mengerti dengan ku "ucapnya tulus
aku mengangguk sebentar lalu meninggalkannya di kamar.memberi nya waktu untuk beristirahat dan menenangkan pikiran.belum sampai di pintu mau ke toko telfon rumah berbunyi.aku masuk lagi untuk mengangkatnya.
"hallo kediaman pak Hasan..." ucapku menjawab telfon.
"mbak Saras,tolong siapkan rumah.bapak mbak...." terdengar suara ibu di seberang telfon menahan tangis.
"bapak kenapa Bu ?" tanyaku tiba - tiba panik mendengar suara ibu.mbak lani yang mendengar suaraku seketika keluar dari kamar.
" bapak meninggal mbak....." seketika tangis ibu pecah.laluenutup telfonnya.entah sengaja di tutup atau ibu pingsan aku juga tak tau.
"innalilahi wa innailaihi rojiun "gumamku lirih
__ADS_1
"ada apa mbak.katakan ..."mbak lani histeris mengguncang - guncangkan tubuhku.
"sabar ya mbak.bapak sudah tenag di sana.ikhlaskan saja "ucapku lirih sambil mengelus punggung mbak lani.namun mbak lani seketika membisu tak dapat bergerak.dan sedetik kemudian tubuhnya ambruk ke lantai