Luka Tak Bertepi

Luka Tak Bertepi
tangisan ibu


__ADS_3

sepulang dari rumah Mardi pak Usman melajukan sepeda motornya dengan gontai.sepanjang jalan dia hanya bisa menyesalkan dengan apa yang di perbuat putrinya.bagaimana bisa sebagai seorang ayah dia bisa kecolongan seperti itu.


sepanjang yang di ingat dia selalu mengantar dan putri sampai di tempat kerja tiap hari.pulang nya pun selalu di jemput dan pada jam yang sama seperti biasa dia jemput putrinya.hanya saja sudah beberapa bulan ini memang putrinya itu sering masuk full dari pada shif.


"ani gak masuk pak hari ini.biasa kan abangnya mau merid jadi butuh banyak persiapan."ucap Saras kala di tanya kenapa hari ini kerja full.


pak Usman hanya geleng geleng kepala kala mengingat semua alasan Saras saat harus masuk full di tempat kerjanya.


"dasar anak jaman sekarang.pandai betul beri alasan.sudah pandai berbohong rupanya."ocehnya sendiri sembari melajukan motornya pulang.


sesampainya dirumah pak Usman tidak langsung masuk rumah.diaenganbil nafas dalam setelah memarkir motornya di halaman rumah.


di pintu Yuli anak ke empat pak Usman sudah menanti dengan cemas."gimana pak,apa bener Saras...."


"hush pelankan suara mu.nanti ada tetangga dengar.ibu mu sudah tidur?tanya pak isman sembari masuk rumah dan meletak kan helm di tempatnya.


"belum nunggu bapak katanya.mau tau kabar saras.gimana ini pak?"tanya Yuli cemas suasa ini


"biar bapak yang bicara."jawab pak isman singkat.masuk perlahan ke kamar Bu muji pak Usman tak lupa memberikan senyuman terbaiknya.


"jangan senyum senyum pak.gimana dengan saras.apa yang terjadi.kenapa dia gak pulang sama bapak?"Bu muji langsung memberondong pak isman dengan banyak pertanyaan.

__ADS_1


"Bu,dengarkan aku.jangan banyak pikiran.semua di buat santai aja.saras gak kenapa kenapa koq.lagian dia kan sudah besar.jangan terlalu khawatir.kayak masih kecil aja."pak isman mencoba menenangkan.


"iya tapi kenapa gak pulang.dia berantem sama pacarnya?lha koq curhatnya sama kakaknya.koq gak sama ibu sih pak.?"


"ya mungkin karena Endang dan Saras hampir se umuran kali bu.jadi kalo ngomong lebih nyaman."pak isman berbohong.


"tapi saras gak kenapa kenapa kan pak?"


entah kenapa meskipun sudah di beri penjelasan Bu muji merasa ada sesuatu yang membuat risau beberapa hari ini terutama tentang anak bungsunya itu.dan lagi Bu muji seperti mencium ada yang di sembunyikan oleh suaminya itu.


"bapak gak bohong kan pak.gak ada yang lagi di sembunyikan dari ibu kan?"tanya Bu muji penuh selidik.


pak isman bergeming untuk beberapa saat.membiarkan Bu muji mengbil nafas dulu.dan lagi dia jugaenyiapkan diri untuk menyampaikan kabar yang kurang mengenakkan tersebut.


"bu.ibu jangan banyak pikiran y.walau apapun yang terjadi dengan Saras,pacarnya itu siap tanggung jawab koq.dan lagi Mardi juga sudah melacak di mana rumah krisna.jadi dia gak akan bisa kabur."pak isman menuturkan dengan penuh kehati hatian.


"maksudnya,kenapa Krisna harus tanggung jawab?kenapa pula Mardi sampai harus mencari rumah krisna.emang Krisna mau kabur kemana?"Bu muji makin bingung dengan arah pembicaraan pak isman.masih belum bisa berpikir apa yang sebenarnya terjadi.


"Saras hamil Bu."jawab pak isman lirih


seketika air mata keluar tanpa di sadari oleh Bu muji.pikirannya berkecamuk.banyak pertanyaan.dalam hatinya.kenapa Saras sampai seperti itu.apa dia di paksa?atau kah salah pergaulan?

__ADS_1


"apa kita sudah salah mendidik anak ya pak.?"hanya itu yang bisa Bu muji ungkapkan sambil terisak di dada pak isman.sungguh hatinya kini hancur.anak bungsu yang selama ini diharapkan akan menjunjung tinggi kehormatan keluarga malah terjerumus ke dalam pergaulan bebas anak muda jaman sekarang.


setelah lama terisak di dada suaminya dan mulai mengontrol emosi jiwanya.bu muji berkata dengan mantab dan tegas.


"besok bawa Saras pulang pak.ibu ingin bicara"


"iya Bu.bapak sudah bilang sama Mardi untuk mengantar pulang besok.sekarang ibu istirahat y.tenangin pikiran.gak usah mikir macam macam."


pak isman iba dengan keadaan Bu muji saat ini.di tatapkanya istri yang selama ini bersanding dengannya dalam suka dan duka.berkeluh kesah berdua tentang anak anaknya.kini pak isman harus memikirkan semua seorang diri.penyakit yang diderita istrinya tak membolehkan sang istri berpikir berat atau penyakitnya akan semakin parah.penyempitan saraf di bagian leher membuat Bu muji tak berdaya saat ini.


di satu sisi Bu muji meratapi nasibnya kini yang sedang menderita penyakit.saat ada masalah dengan anak anaknya biasanya pak isman akan berdiskusi dengan Bu muji hingga larut malam.kini sang suami banyak diam dan sering mengatakan bahwa semua akan baik baik saja.


Bu muji tau itu di lakukan suaminya hanya agar sang istri tak banyak pikiran dan fokus dengan kesembuhan nya saja.tapi justru itu yang membuat Bu muji merasa bersalah dengan kondisinya saat ini.ia tak bisa sepenuhnya membantu suaminya mencari jalan keluar untuk solusi yang mereka hadapi.


"sudah ibu tidur dulu sekarang.istirahat tenagin pikiran.besok kita bicara sama sama dengan saras."ucapan pak isman membuyarkan lamunan Bu muji


"iy pak."jawab Bu muji singkat.kini ia beringsut bersiap untuk istirahat.walaupun ia sendiri ragu apakah malam ini ia bisa tidur dengan nyenyak setelah apa yang di dengar malam ini.


"sudah minum obat kan?"tanya pak isman memastikan kesehatan sang istri.


"sudah pak tadi Yuli tadi yang siapkan."jawab Bu muji.memang selama Bu muji sakit sebenarny Saras lah yang setia menemani Bu muji tidur di kamarnya.saras pula yang sering ingatkan sang ibu minum obat.

__ADS_1


"setelah ini Yuli yang akan selalu menyiapkan obat ku.ketika Saras sudah di bawa suaminya."gumam Bu muji sebelum terlelap.ada rasa kehilangan akan kasih sayang yang selama ini di berikan oleh anak bungsunya itu.


tak di pungkiri sebagai anak bungsu Saras tak hanya pandai bermanja ria dengan kedua orang tua namun juga pandai mengambil hati serta yang paling suka menunjukkan perhatian pada kedua orang tuanya.kini setelah anak gadisnya menikah.suami istri itu akan kehilangan itu.seketika rasa sedih menyelimuti hati kedua orang tua itu.hingga keduanya terlelap dalam kesedihan.lelah karena banyak kecewa juga air mata yang seharian ini keluar dari mata kedua pasangan suami istri itu.


__ADS_2