Luka Tak Bertepi

Luka Tak Bertepi
pembelaan mertua bukan untuk ku


__ADS_3

entah berapa lama aku tertidur.ketika bangun hari sudah hampir gelap.aku bergegas ke dapur ingin melihat barang kali ada yang bisa ku tolong tolong.


di sana terlihat mertua sedang bikin dagangan untuk di jual esok hari.di aterlihat sibuk dan serius sehingga tak menyadari aku sudah berdiri di sampingnya.


"biar ku bantu Bu."pinta ku.agak enak juga karena aku tidur kelamaan tadi.aku gak mau di anggap sebagai wanita pemalas .


"sudah baikan perutmu ras,koq mau bantu ibu?"tanya Bu Tini meyakinkan


"sudah bu.ibu gak usah khawatir.aku akan kerjakan pelan pelan.nanti kalo terasa nyeri lagi aku akan istirahat nanti."


"ras,laki laki itu maunya di pahami dan di mengerti.ibu dulu juga pernah liat bapakmu boncengan pakek sepedah dengan wanita lain.bayangin di depan mata kepala ibu.ini kamu masih enak Krisna cuman lewat hp.dulu ibu didepan mata kepala sendiri."tutur Bu Tini panjang lebar.


oh jadi mas Krisna sudah mengadu lebih dulu batinku.dasar laki laki bisanya mengadu.tak bisakah ia menyelesaikan masalah nya sendiri?bukankah dia seorang laki laki.dia yang harus mengambil keputusan dalam hidup ku kelak.ini malah mengadu seperti anak kecil saja.


aku terus saja membatin mengutuki suami yang barusa ku nikahi itu.


"enggeh Bu."jawabku singkat.aku tak mau membuat panjang masalah.lagi pula dia kan lebih tua dari ku.tak baik mendebat orang yang lebih tua.setidaknya itu yang ku pelajari.


"bukannya apa.kita sebagai wanita memang harus nurut apa kata suami.kalo ibu sih dulu berfikir.kalo gak nurut mau tinggal di mana anak anak ku nanti."ibu masih menjelaskan panjang lebar.mungkin masih belum lega dengan jawaban ku yang singkat tadi.i7


"iya juga ya bu.semua demi anak."aku pura pura aja sependapat biar cepat kelar urusan nya.


" iy ras, memang kalo sudah menikah itu semua jadi tidak penting.yang terpenting adalah kebahagiaan anak."


"iya Bu betul itu bu.bagaimanapun juga demi kebahagiaan anak."kalo di pikir.benar juga semua yang kulakukan ini sekarang hanyalah Deni anak yang aku kandung.siapa tau kelak mas Krisna anak sangat sayang pada anaknya walaupun pada ku tidak.


"Bu,yang ini sudah selesai.mau di rapikan biar ku bantu merapikan."lanjut ku sambil bereskan rempeyek buatan mertua ku.yang akan di jual esok pagi buta.


"taruh situ aja ras.besok biar ibu tinggal bawa."ucapnya sambil menunjuk tas jinjing tempat Bu Tiniembawa hasil peyeknya.

__ADS_1


"baik Bu."secepatnya aku masuk kan peyek ke dalam tas dengan terampil hingga kemas semua.tinggal merapikan lilin juga sisa plastik yang ku gunakan tadi ke tempatnya semula.


"Bu,habis bubar acara apa aku tidak belikan apa apa?"tibak Tiba mbak Ningrum yang datang dari samping mengejutkan aku dan ibu.


"memang mau di belikan apa kamu?tak kasih uang aja ya.kamu beli sendiri.mau beli anting ta?" tanya Bu tini.ia tau menantu pertamanya itu kini tengah cemburu dengan Saras.


"itu lho bu.aku mau baby doll seperti ibu belikan buat Saras."jawab mbak Ningrum sambil melirik Saras malu malu.


Bu Tini memutar bola mata sambil meng iya kan permintaan menantunya.di sambut senyum merekah dari mbak ningrum.sambil berlalu dan tanpa berkata kata lagi.


"biarin aja ya ras.mbak mu memang seperti itu.kalo ibu beli apa juga dia iri dan minta di belikan juga.kamu yang sabar aja y.jangan di ambil hati."Bu Tini sedikit tidak enak dengan sikap Ningrum


"Halah biarin aja bu.gak papa koq.kan mbak Ningrum juga anak ibu.wajar lah kalo minta seperti apa yang ibu kasih ke aku.sama sama anak kan."ucapku sambil tersenyum.geli juga melihat tingkahnya yang seperti anak kecil.


"dia anak mantu bukan anak kandung.hufh tapi manjanya minta ampun.melebihi anak ku sendiri aja."aku hanya terkekeh menanggapi itu.


"nanti malam jangan tidur malam malam y.banyak istirahat biar kandungan kamu sehat."


ujar ibu selanjutnya.


"enggeh Bu"aku kaget karena setelah membela anaknya yang memang memang benar salah,kenapa sekarang perhatian pada ku?apa benar benar simpati padaku atau hanya khawatir pada calon cucunya saja?


ah biarlah yang penting masih ada perhatiannya buatku.dari pada tidak sama sekali.


setelah masuk kamar,aku melihat mas Krisna sedang mengetik wa.hp lagi batinku.


"mas,hp terus yang di urus.aku kapan dong di urus?"tanya ku manja.karena aku merasa kurang di perhatikan hari ini.


"masih sore.nanti aja kalo semua sudah tidur."jawabnya sambil mengerlingkan mata.dan itu sukses membuat aku tersipu malu.kalau berani ngaca mungkin pipi ini sudah merah seperti tomat.

__ADS_1


"ah kamu mas.aku kan gak gitu maksudnya."aku mencoba ngeles menutupi malu.


"teruuus."


"ya ngobrol kek apa kek.kamu curhat apa kek gitu.atau cerita apa gitu.atau mungkin kamu gak suka dari aku apanya gitu.jadi biar aku bisa berubah lebih baik."


"kamu yakin?aku takut kamu malah tersinggung nanti."


"lah kenapa tersinggung mas.sebagai istri hidup aku sekarang fokus pada kebahagiaan kamu dan calon anak kita.jadi gimana aku bisa membuat kamu bahagia kalau aku sendiri gak tau kelemahan aku."


"oke kalo gitu.ras,maaf ya.aku gak suka kalo cburu sita.gimana pun dia akan tetap jadi saudaraku.aku cuman pengen kalian berdua akur.hanya itu yang bisa membuatku bahagia."


deg.hatiku langsung mencelos.perih,sakit.mendengar apa yang di minta oleh suamiku.bahkan untuk mendengarnya saja aku seperti tak sanggup.lalu bagaimana bisa aku mengabulkan permintaannya.


"insyaallah mas.tapi kalo sekarang aku masih belum sanggup.jujur hatiku sakit mendengar permintaanmu mas."


"lah koq sewot.katanya kamu gak bakalan marah.sekarang koq malah ngambek sih dek?"kini malah mas Krisna malahan sewot.aku heran gimana sih orang ini apa gak ngerti dengan perasaan wanita?


"aku bukan sewot mas.hanya sebagai istri aku ingin memenuhi permintaanmu.tapi sebagai manusia biasa aku masih belum siap menerima sita sebagai maduku."


"dia bukan madumu dek.kita gak pacaran dia hanya saudara ku."kata kata mas Krisna mulai meninggi.


"iya aku tau.hanya saja perhatian kamu lebih dari saudara.dan sebagai wanita hatiku belum bisa menerima itu.tapi aku akan berusaha ikhlas."


tak terasa air mata ku jatuh sedari tadi.perih rasanya hati ini.aku sudah tak tau harus bilang apa.seakan itu sudah keputusan bulat yang di buat suamiku.dan itu pun mutlak.mau tak mau aku harus menerima.


"tuh kan marah lagi.kan yang terpenting kamu yang menang.aku sekarang jadi suami mu.bukan suami sita.sudahlah dek jangan berpikir negatif terus."


"iya mas.aku ngantuk,capek tadi habis bantuin ibu pula.aku mau istirahat dulu y."ucapku mengakhiri perdebatan.dari pada nanti malah jadi berantem.ya sudahlah aku tidur saja pikirku.

__ADS_1


__ADS_2