
hari ini hari pertama Saras sah menjadi seorang istri.setelah kemaren ijab kabul dengan acara sederhana yang di hadiri keluarga.kini Saras siap dengan status barunya.
namun ia juga sadar kini ia juga harus siap dengan setiap Luka yang akan ia hadapi lantaran cinta suaminya di bagi dengan wanita lain.
seperti pagi ini sambil menyuci motor,terlihat Krisna memegang telfon genggamnya di telinga sambil bicara bisik bisik.sesekali ia tersenyum merona di pipi.seolah menahan malu.entah dengan siapa ia telfon sampai seperti itu.
"telfonan sama siapa sih,pakek senyum senyum segala.kayak anak ABG aja."goda ku pagi pagi geli juga lihat laki laki harus senyum senyum sendiri seperti itu
"eee,sama sita dek.cu-cuman iseng aja telfon di kira.. aku belum bangun."jawab Krisna terbata.agak gak enak karena harus menjawab secara jujur.
"oooo.jadi kalo belum bangun mau di bangunin.romantis amat."jawab ku sewot seketika.perih rasanya hati ini.baru juga sehari jadi istri pagi pagi sudah harus mendengar nama wanita lain dari mulut suaminya.
"ya kamu gak bangunin aku.jadi gak papa lah sita yang bangunin."jawab Krisna santai.seperti tanpa merasa bersalah.
heran ini orang apa gak peka apa emang hatinya terbuat dari batu sehingga gak paham kalo aku lagi cemburu?
"aku kan gak bangunin karena kerja di belakang mas.bikinin kamu kopi sama sarapan."jawabku lirih sembari pergi lagi ke belakang.
sudahlah dari pada nanti jadi berantem mending aku mengalah.kulangkah kan kaki menuju kamar mandi untuk cuci baju.dari pada mikirin hati yang sakit.bisa bisa mati muda aku kalo terlalu ku pikir.
"augh..."tiba tiba perut ku sakit.mulas.keringat dingin keluar.pusing berkubang.entah apa ini masih efek dari hamil muda .
dengan tertatih aku kembali ke kamar memilih berbaring sebentar barang kali segera reda sakitnya.barusa setelah mendinga kau lanjutkan mencuci lagi nanti
"lah,Saras,kamu kenapa? sakit?apanya yang sakit?" mas Krisna terlihat panik.
"gak tau mas.perut ku tiba tiba sakit.seperti mulas."jawab Saras.
"ya sudah kita ke bidan aja ya."
rumah Bu bidan memang tak jauh dari rumah suamiku.jadi tidak sulit untuk mencapai ke sana.
__ADS_1
sesampainya di sana aku langsung di periksa dan di tanya macam oleh bidan.
"apa ada flek nya Bu?"tanya Bu bidan sambil terus memeriksa keadaanku
"tidak Bu.hanya saja perut saya seperti mulas Bu."
"ada pusing Bu?"
"iya Bu sedikit.terlebih kalo pagi bangun tidur suka sakit kepala saya."
Bu bidan hanya manggut manggut dan kembali memeriksa menggunakan USG
"jadi gini pak.ada yang ingin saya sampaikan pada ibu juga bapaak."ucap Bu bidan setelah selesai memeriksa dan sudah berada di balik meja.
"ada yang serius Bu bidan?"
"bisa dibilang begitu.tekanan darah Bu Saras cenderung tinggi kan kandungannya pun lemah.saya minta Bu Saras untuk banyak istirahat dan jangan banyak pikiran dulu ya.biar janin yang ada di perut ibu sehat."panjang lebar Bu bidan menjelaskan.
"saya kasih obat ya bu.tapi jangan lupa banyak istirahat dan usahakan pikiran ibu se relaxs mungkin"imbuh Bu bidan memastikan apa yang harus di perbuat Saras sesampainya di rumah.
setelah sampai rumah,Bu Tini sudah menunggu di ruang tamu.
"gimana keadaan Saras Kris?gak ada yang serius kan?ibu dengar Saras sakit perut tadi."memang kegiatan Bu Tini berdagang di pasar membuat ia sudah ada di luar rumah ketika subuh dan baru pulang siang hari.
"kandungannya sedikit lemah bu.tapi gak papa bisa di obati koq."jawabku menutupi agar Bu Tini tidak khawatir.
"di suruh banyak istirahat dan gak boleh pikiran katanya."sambung mas Krisna.
"ya tapi kalo sekedar bersih bersih dan nuci piring masih boleh kan?"
aku tertegun mendengar respon ibu mertuaku.bukannya mengkhawatirkan cucu yang sedang aku kandung,malah takut kalo aku gak bisa mengerjakan pekerjaan rumah.
__ADS_1
"bisa koq bu.nanti aku kerjakan pelan pelan."jawabku singkat.
"Saras, ayo istirahat di kamar.lagian ada yang aku bicarakan."mas Krisna menatap tajam ke arahku.ada apa lagi ini?
"ras,aku mau bicara denganmu."mas Krisna memulai pembicaraan dengan serius.
"ada apa mas?"tanyaku penuh selidik berusaha memahami apa yang di inginkan pria di sampingnya ini.
"gini,aku tau ini berat.karena kamu harus menerima aku yang juga mencintai wanita lain.tapi tolonglah,jangan jadikan ini beban pikiranmu.jangan sampai mengganggu kandungan kamu gitu lho.kan kasian anak kita nantinya."
refleks aku mengerutkan dahi.ini aku lagi sakit bukannya di beri dukungan malah di marahi.gimana sih ini.
"emangnya aku mau seperti ini mas.aku juga gak mau sakit mas."jawabku sewot.enak aja udah ngerasain sakit eh malah marah marah ke aku.
"lah,kamu malah marah sama aku gimana to.aku kan ngasih tau buat kebaikan bersama.jangan kayak anak kecil dong dek."
mas Krisna mulai kesal nadanya.mungkin karena nada ku tadi juga sewot kali.
"loh maksudnya kayak anak kecil gimana sih mas?emang bener kan.kalo juga gak mau sakit sebenarnya.lagian kalo di pikir pikir lagi yang buat aku setres juga siapa sebenarnya.giliran aku sakit kenapa malah di marahi?"tuturku panjang lebar.sebel juga dengan sikapnya kenapa sekarang jadi berubah?
"itu karena kamu terlalu cemburu dengan sita dek.makanya jangan cemburuan.kayak anak kecil aja."
"oh jadi aku kayak anak kecil.sekarang aku tanya.wanita mana yang gak cemburu ketika suaminya mencintai wanita lain lain?"jawabku penuh penekanan.
"iy aku tau.tapi kamu juga harus bisa berpikiran realistis.aku kan gak ke surabaya.gak menemui sita.lagian komunikasi kita cuman lewat hp koq."
"tapi perhatian dan kasih sayangmu jadi terbagi mas.tidak sepenuhnya buat aku.aku istrimu.istri sah kamu."
"dek,yang penting aku pulang ke istri aku.kalo aku dapat rejeki juga kamu yang aku beri nafkah bukan sita.hidup di dunia gak akan kenyang hanya dengan cinta dan lasih sayang dek."
tapi apa gunanya harta benda tanpa cinta mas.batinku dalam hati.tapi tak ku ucapkan.aku memiringkan saja tubuh ini.pura pura tidur untuk meredam pertikaian yang sepertinya akan muncul.lagi pula aku gak mau jadi istri durhakan yang terus membantah dan mendebat suami.biarlah aku yang mengalah.akan pendam sendiri rasa hati ini.
__ADS_1