Maria Jiwa Yang Terkurung

Maria Jiwa Yang Terkurung
Maria


__ADS_3

...Maria...


...(Jiwa yang terkurung)...


...#1...


...*****...


Salam kenal untuk semua pembaca cerita ini. Sebenarnya, ini sudah jadi novel. Akan tetapi, setelah aku pikir-pikir, lebih baik lanjutin dan pastinya isi cerita berbeda dengan yang di novel. Tolong kasih like, komen, rate, dan vote juga gift yaa jika berkenan. Itu adalah amat berarti bagiku.


****


Sungguh kisah cinta yang amat menyedihkan, berakhir dalam kedukaan, terlena oleh salah satu ciptaan-Nya.


Itulah aku, kisah cintaku yang berakhir dengan penyesalan yang teramat menyakitkan. Menyesal karena telah memberikan seluruh hatiku pada seorang perempuan.


Ah, aku hanya dapat menyesali kebodohanku saja! Dan kini, hanya bisa melihat tubuhku sendiri, terbaring lemah tak berdaya di atas ranjang rumah sakit ini. Ya, aku kalah dalam cinta seorang gadis.


Adalah Metta, gadis pertama yang memasuki ruang dalam hatiku. Namun, ia juga lah yang telah membuatku seperti ini.


****


"Metta, betapa kau sangat menjijikan melakukan semua ini padaku!" Aku kembali bergumam dan mengumpat untuk kesekian kalinya di dalam hati.


Perih! Meski luka tak mengeluarkan darah. Namun, rasa sakit yang ia goreskan cukup untuk membuatku terluka parah.


Kenyataan ini, membuatku semakin membenci perempuan itu. Ya, tak bisa dipungkiri. Jika aku begitu mencintainya. Atau, aku hanya melihatnya sebagai cinta masa kecilku?


Ya, Metta begitu mirip dengan teman masa kecilku. Bukan! Bukan teman, bahkan aku tidak mengenalnya hingga detik ini. Aku hanya mengagumi dalam diam.


Rasa benci terlahir dalam benak, saat tahu, orang yang kucintai menginginkan kematianku.


*****


Aku berjalan tanpa arah, sepertinya danau dekat rumah sakit ini begitu indah.


"Hey, sini, ayo, makan ini!" teriak seseorang. Suara wanita itu menggema sekali, entah siapa yang ia panggil. Aku hanya menoleh sesaat, lalu berjalan kembali dengan pikiran tak tentu.


Ahh, betapa bodohnya aku. Selalu saja percaya akan setiap ucapan Metta. Wanita yang teramat kucintai dua tahun ini.


"Hey, Bodoh, apa kau tuli?" Tepukan pundak membuatku kaget dan menoleh kembali.


Aku menoleh ke arah belakang, ternyata suara wanita tadi yang kudengar. “Ada apa dengan wanita ini?” Aku bergumam dalam hati memandangnya penuh heran.


"Kau memanggilku? Siapa yang kau sebut si bodoh tadi?" tanyaku sambil mengernyitkan dahi. Tak suka jika ada yang berlagak sok akrab denganku.


Ya, apalagi sampai memanggilku dengan sebutan bodoh! Cuihhh, ada apa dengannya? Apa dia mengenalku?


"Apa kau penghuni baru di sini?" tanyanya lagi. Tanpa menjawab pertanyaanku tadi.


Aku pun malas menjawabnya, berjalan kembali ke arah danau tak jauh dari tempatku berdiri.


"Hey!" teriaknya kembali, entah kepada siapa? Atau mungkin kepadaku lagi.


"Hey, Bodoh, tunggu!" serunya kembali. Aku tetap melangkah mengabaikan panggilannya.


"Auuuuw!!" teriakku kesakitan. Dasar wanita sinting, seenaknya menjambak rambutku!


"Kenapa tidak menjawab pertanyaanku? Ayo, sini ikut denganku, ada makanan enak di sana!" tunjuk wanita itu.

__ADS_1


Lalu, ia pun meraih lenganku dan menariknya hingga membuatku berjalan mengikutinya. Entah apa yang ia mau.


"Kau kenal denganku?" tanyaku penasaran.


"Tidak!" jawabnya tanpa melihatku. Dasar tidak punya sopan!" Aku bergumam dalam hati.


"Siapa yang tidak sopan?" tanyanya lagi.


Seketika aku menjadi malu, bagaimana mungkin dia bisa mendengar bisikan hatiku? Seolah dia tau aku mengatainya tadi.


"Ke mana kamu akan membawaku?" Aku mencoba melepaskan genggaman tangannya.


Tak lama, kami pun sampai ditujuan.


Hoeekkk Hooeekk!


Tiba-tiba saja isi perutku berlomba keluar untuk menjadi pemenang.


"Menjijikan!" Aku memalingkan pandanganku ke arah mereka yang sedang berebut sesuatu.


Iya sesuatu, sesuatu yang menurutku amat tidak layak untuk dimakan!


Wanita sinting itu pun mentertawakan diriku, "Kenapa kau? Apa kau tidak suka?" tanyanya dan semakin tertawa, seakan mengejek.


Jelas saja aku tidak menyukainya! Apa-apaan mereka semua itu? Aku bermonolog.


"Tentu saja! Manusia mana pun tak akan ada yang menyukainya, kecuali ...." Wanita itu kembali tertawa, hingga ia mengeluarkan air mata. Sebahagia itukah ia mengejekku?


"Manusia katamu? Apa aku tidak salah mendengarnya?" ucapnya dengan nada sinis.


"Tentu saja! Apa kamu ini hantu?" Aku melempar tanya hanya bermaksud meledeknya saja sebenarnya.


"Lalu? Kenapa kau ada di sini?" tanyanya padaku.


"Bukankah kau yang memaksaku ke sini tadi?" jawabku kesal.


Apa dia lupa kalau dia yang menarik tanganku dengan kasar?


"Apa kau baru saja mati?" tanyanya lagi.


Wanita ini benar-benar membuatku kesal. Kenapa dia bertanya seolah aku ini adalah hantu? Aku berjalan meninggalkan dia serta teman-temannya. Tanpa menoleh, aku pun melambaikan tangan ke udara, semoga saja dia mengerti maksudku.


*****


Aku adalah laki-laki yang kurang beruntung di dalam percintaan, panggil saja aku Tino. Valentino alberthus.


Dua tahun lalu, aku mengenal seorang wanita cantik bernama Metta. Awalnya, aku mengira ia benar-benar mencintaiku apa adanya. Tanpa melihat penunjangku, ternyata aku begitu buta akan cantiknya.


Metta, wanita cantik itu telah merencanakan untuk menghilangkan nyawaku. Bersama dengan kekasihnya. Ya, dia berselingkuh di belakangku. Tidak! Bukan selingkuh, melainkan ia dengan sengaja mendekatiku. Dasar wanita ******, ternyata dari awal dia sudah merencanakan semua itu.


Menyesal, aku mengetahuinya saat telah mengalami ini semua!


Untung saja aku masih memiliki seorang Kakak bernama Vania, lengkapnya Vania oktavianus. Kak Vania lah yang berusaha membuatku bertahan di dunia ini.


Dengan bantuan alat medis, aku masih berada di dunia ini. Aku mengalami koma sudah 110 hari. Entah apa yang menyebabkan aku seperti ini. Sepertinya ada yang dengan sengaja memotong kabel rem mobilku.


Kejadiannya begitu cepat ketika itu, hanya saja aku mendengar setiap kalimat yang diucapkan Metta kepada selingkuhannya itu.


Aku seperti tersesat saat ini. Tanpa arah.

__ADS_1


Rasanya begitu sepi di sini, tak ada satu orang pun yang dapat kuajak bicara. Meskipun jiwaku terpisah dari raga, aku belumlah mati.


****


"Hey, Bodoh!" Suara yang sama, mungkinkah?


Dengan cepat aku pun mencari sumber suara itu. Dia di sampingku saat ini.


"Kau lagi? Untuk apa menggangguku?"


"Sudahlah, jangan malu denganku."


"Malu? Untuk apa aku malu? Kenal juga tidak!"


"Hahaha, kau lucu sekali. Sudah banyak yang kutemui selama ini, bersikap sama sepertimu."


"Apa maksudmu?" Aku menoleh dan menatap tajam ke arahnya.


Dia hanya memandang langit malam ini, aku pun hanya memandangi wajahnya yang sok tahu itu. Dia terlihat anggun dengan gaun putihnya.


"Siapa namamu?" tanyanya lagi, kali ini ia pun menatap wajahku dengan senyum manis.


"Tino," ucapku, memandang kosong ke arah danau tanpa menolehnya.


"Namaku Sayang," balasnya, padahal bertanya pun tidak.


"Di mana tempat tinggalmu? Kenapa kau ada di sini?"


"Apa urusannya deganmu?" jawabku dengan sewot.


‘Apa dia tidak tahu, jika hatiku sedang kesal? Dasar wanita sinting!’ umpatku dalam hati.


"Ya, gak ada, sih. Apa sikapmu selalu seperti ini ketika sedang berbicara dengan seseorang?" tanyanya lagi. Kali ini ia memandangku dengan sorot matanya yang begitu sendu.


"Sudahlah, pergi dari sini, moodku sedang tidak bagus saat ini!"


"Memang tidak mudah menerima takdir dari Tuhan. Tapi setidaknya, kau tak boleh bersikap seperti itu terhadapku!"


"Cuihh, siapa kau? Berani-beraninya berbicara padaku seperti itu! Apa kau tak mengenal siapa aku?" Perempuan semua sama, pandai merayu.


Ahh! Gara-gara Metta, aku jadi membenci perempuan. Ya, bagiku semua wanita sama saja pandai merayu dan sok tahu!


"Jangan sombong, nanti juga kau yang akan meminta bantuan dariku!" Perempuan itu pun pergi dengan mengancam.


Siapa juga yang akan meminta bantuannya!


Degh!


Tiba-tiba saja jantungku berdetak cepat, siapa dia? Kenapa bisa melihat dan berbicara denganku?


Ke mana perginya perempuan tadi? Secepat itukah ia pergi? Ahh, persetan dengan semua ini!


Siapa teman-temannya tadi, ya? Mengapa mereka memakan janin yang telah hancur? Juga berebut sesajen? Apakah mereka ....


Tiba-tiba saja bulu kudukku berdiri.


*****


(Terimakasih ya Kak, sudah mampir membaca dan memberikan like nya juga ulasan 😋 #ngarep)

__ADS_1


__ADS_2