Maria Jiwa Yang Terkurung

Maria Jiwa Yang Terkurung
Hadirnya sebuah luka


__ADS_3

...Maria ...


...(Jiwa yang terkurung)...


...#11...


...*****...


Aku masih disini menanti kehadiranmu,


Aku hanya bisa menuliskan beberapa aksara


Menggumpal dalam kalimat menyapa


Tentang rindu, cinta, dan airmata


Entahlah, hingga kapan aku akan bertahan


Bayanganmu tak pernah hilang


Menyapaku dalam tenang malam


Lembut, hangat menyatu dalam perasaan


Aku ingin menutup senja di depan jendela


Harapanku pudar dalam penantian sia-sia


Bersama malam yang tiba dalam kerudung hitam.


"Maria, begitu amat berarti akan hadirmu. Aku begitu rindu dan ingin sekali bertemu denganmu..." Aku mengucap lirih menatap danau dari kamarku, yang tak lagi indah.


Ternyata, keindahan danau itu hanya ada disaat kau menemaniku. Sepuluh malam ku lewati tanpa hadirmu, apa salahku?


Kreeett!


Pintu kamarku terbuka, sontak aku pun menoleh ke arah pintu.

__ADS_1


Sesosok bayang itu muncul disana, sesosok bayang yang teramat kurindukan beberapa hari ini.


"Maria?" Hatiku bergejolak bahagia, ingin seketika melompat karna kegirangan.


"Dari mana saja Kau?" Aku memalingkan wajahku darinya, berpura-pura acuh agar menutupi rasa rindu.


"Tino..." Maria memanggilku pelan, ada sebuah getaran dalam dada saat suaranya memanggil namaku.


Aku hanya diam, tak tahu harus bertingkah seperti apa. Ya, aku sangat deg-degan terasa jantungku berdetak berlebihan. Ah, aku takut jika Maria mendengar degup jantungku.


"Apa Kau baik-baik saja, tanpa Aku?" tanyanya dengan suara lirih.


Seperti tersimpan banyak luka di hatiku, saat mendengar pertanyaannya.


"Tentu saja!" Aku masih berlagak cuek dan tetap memandangi danau dari ruangan ku, membelakangi Maria.


"Tino ... maafkan Aku ya, jika nantinya ... Aku akan pergi untuk waktu yang lama..." ucap Maria dengan terputus-putus.


Aku merasakan betapa berat beban yang sedang ia pikul, ada beribu luka yang tersimpan di dalam matanya...


"Apa yang terjadi? Kenapa Kau pergi begitu saja? Kenapa Kau tidak menjelaskan padaku apa yang sedang terjadi padamu, Hah? Kenapa Kau meninggalkan luka untukku? Kenapa Kau datang dan pergi sesuka hatimu!!" Aku pun lemas kontrol, ku luapkan emosi yang tertahan selama ini.


Sungguh, aku begitu takut kehilangannya.


"Tino..." suara Maria terdengar begitu serak, mungkin saja ia menahan tangisnya dari tadi.


"Ada apa lagi? Kenapa Kau datang lagi? Kau mengukir hari-hariku dengan indah oleh senyummu, Kau hiasi lentera hati oleh semangatmu, lentera yang sempat ingin aku padamkan sebelumnya, lalu Kau sendiri yang memadamkannya lagi! Apa Kau tak cukup puas menyiksaku beberapa Minggu ini, Hah!!" mataku terasa panas dan begitu perih, dadaku bergemuruh hebat seluruh emosiku seperti mendesak keluar.


Maria hanya terisak, tanpa menjelaskan apapun.


Kerongkonganku terasa amat tercekat, sakit sekali. Hatiku begitu sakit, sedih dan ingin marah sepuasnya. Ya, Maria telah berhasil memporak-porandakan hatiku menjadi tak terkendali, baru kali ini aku merasakan sesak seperti ini hanya karena nya.


"Maaf..." Maria berucap lirih, hatiku semakin sakit mendengar suaranya.


Seakan ia akan meninggalkan diriku untuk selamanya. Bagaimana mungkin aku akan menjalani hidupku. Bahkan untuk kembali tersadar pun aku sudah tak ada niat.


Suasana hening untuk waktu yang lama, Aku memalingkan wajahku kembali dan menata hatiku yang tak beraturan. Sesekali sempat kulirik Maria yang masih berdiri di ambang pintu.

__ADS_1


"Jika hadirmu hanya untuk meninggalkan jejak luka pada hatiku, sebaiknya kita tak usah lagi bertemu." Ucapku padanya tanpa menoleh.


Ada rasa sakit yang begitu terasa saat mengucapkan kata-kata itu, hatiku seperti tersayat sembilu. Telah membuatnya menangis seperti itu, sungguh aku tak pernah bermaksud untuk melukainya.


Ingin rasanya aku bercerita banyak tentang perkembangan ku, entahlah...


"Tino ... maafkan Aku, Aku tak bermaksud untuk menjadi luka dalam hatimu. Aku pun menyukaimu sejak pertama kali Kau mencoba menolongku..." jawabnya sambil terisak.


"Aku mencoba untuk menepis semua rasaku, saat ku tahu hanya aku yang akan tersakiti nantinya." sambungnya lagi.


"Aku pun menyukaimu, Maria ... bahkan mencintaimu, Aku ingin cepat kembali hidup, agar Aku dapat mendoakanmu dari duniaku. Agar kau dapat terlahir kembali tidak terkurung dalam dimensi ini. Tidak tahukah Kau, betapa terlukanya Aku, Maria? Betapa hancurnya hatiku saat Kau pergi begitu saja tanpa menjelaskan salahku?" Kataku dengan datar menahan beribu perih saat mengucapkan kata-kata itu.


Maria hanya terdiam, terdengar isak tangisnya yang kian menjadi.


"Maria, meski Aku hanya sesaat mengenalmu ... namun jejakmu telah tersimpan didalam hatiku, bahkan namamu telah terukir di dalamnya. Aku bahkan tak pernah merasakan sesakit ini ketika mencintai Metta, tapi denganmu..."


Kata demi kata yang ku ucapkan, terasa amat berat dan membuat kerongkonganku semakin sakit. Apakah Aku benar-benar mencintainya?


Kami larut dalam tangis masing-masing, mencoba mengatur ritme jantungku yang berdetak sangat berlebihan menurutku.


"Sesakit inikah mencintaimu, Maria? Jika dapat memilih, Aku ingin tetap berada disini denganmu, Maria." Ucapku semakin pelan.


Tak dapat lagi menahan aliran air di sudut netraku, dan merembes perlahan. Aku sangat mencintainya.


"Tidak, Kau harus kembali dan Kau harus cepat bangun dari tidur panjangmu. Jangan Kau sia-siakan hidupmu, Tino...!"


"Tahukah Kau, bagiku Kau adalah penyambung hidupku yang dirundung duka..." ucapku dan memandang wajah sendunya.


"Kini ... Kau melambungkanku di atas mega, lalu menjatuhkan ku bersama rintik air mata." Sungguh Aku tak mampu lagi untuk menyembunyikan semua perasaanku.


Untuk kesekian kalinya aku menumpahkan seluruh rasa, memaksa keluar air mataku seluruhnya. Agar tak ada lagi beban luka yang tersimpan didalamnya.


Menyakitkan, mengapa mencintainya sesakit ini? Aku ingin terus menangis dan menangis, tapi sepertinya tak pernah ada ujungnya aliran air di mataku, bak menganak sungai.


...*****...


Gimana nih, sampai disini kira-kira apa yang akan terjadi ya? Siapa dalang dibalik koma nya Tino ya? Komen dong Kak akak heheh.

__ADS_1


__ADS_2