
...Maria Jiwa Yang Terkurung...
...#19...
...*****...
"Ada apa?" ketika aku sedang menatap danau dari jendela kamar, tiba-tiba saja perempuan yang bernama Della itu bertanya padaku.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanyaku padanya, tanpa menjawab pertanyaan darinya.
"Tentu saja, apa kau tidak mengingatku?"
Aku hanya menggelengkan kepala, sakit sekali rasanya jika harus mengingat apapun. Sejak kecelakaan itu, aku seperti kehilangan separuh ingatanku.
"Aku Della, aku adalah karyawan di kantor mu." Tatapan matanya sungguh mengusikku.
"Oh, bagaimana keadaan kantor selama aku tidak ada?"
Sepertinya, aku pernah mengucapkan kata-kata ini? Tapi kapan dan dimana ya?
"Semua lancar, kakak iparmu yang mengambil alih semua kerjaan mu. Oh ya, apa kau baik-baik saja?"
"Entahlah, oh ya ... apa kau mengenal Maria?"
"Maria? Siapa dia?"
Aku kembali menatap danau dari jendela kamarku, rasanya seperti ada sesuatu disana.
"Hey! Malah bengong?" Della menepuk kedua tangannya, sungguh membuatku terkejut.
"Apa kau bisa menemaniku jalan-jalan?"
Della duduk disisi ranjang pasien ini. "Kemana?"
Seraya menunjuk ke arah jendela kamar. "Kesana!"
"Danau? Untuk apa?"
"Hanya ingin kesana saja, sepertinya danau itu tidak asing buatku?"
"Oke, baiklah. Apa kau sudah bisa berjalan? Tunggu sebentar, ku ambilkan kursi roda dulu."
Kenapa perasaanku tidak karuan seperti ini? Ada apa dengan danau itu? Kenapa hatiku sedih?
"Untuk apa kesini?" tanya Della saat sudah sampai di tepian danau.
"Entahlah, aku merasa nyaman saja berada disini. Kau kembali lah, terimakasih sudah mengantarku kesini." Aku berucap padanya, tanpa menoleh dan terus menatap danau.
"Baiklah, apa kau bisa kembali ke kamar seorang diri?" Della bertanya lagi.
"Tentu."
Ada rasa sesak, menyeruak dalam hatiku. Baru kali ini, aku merasakan rasa seperti ini. Rasa rindu akan seseorang, namun entah dengan siapa. Airmata seakan ingin terjatuh, namun ... aku tak punya alasan untuk menangis, tapi hati ini seakan menyuruh pasukan airmata keluar dari tempat persembunyiannya.
Aku rindu seseorang, tapi kepada siapa? Siapa pemilik rindu ini? Maria ... entah mengapa nama itu selalu hadir dalam benakku. Siapa dia?
__ADS_1
Pluuunggg!
Seperti suara batu yang terlempar ke danau.
'Aneh, seperti ada yang melempar batu.' Aku bergumam dalam hati.
Tepukan pundak, membuyarkan lamunanku.
"Loh, kamu kenapa disini?" rupanya kak Vania.
"Oh, aku hanya menatap danau saja kak." Ucapku tetap bergeming menatap danau.
"Ayo kita kembali ke kamar, tidak baik udara seperti ini untukmu."
Aku hanya menganggukkan kepalaku, mencoba mengingat kembali siapa sosok wanita bernama Maria itu.
*****
"Lakukan tugas kalian dengan sebaik mungkin, jangan membuatku semakin kesal!" Ucapnya.
"Bagaimana kalau dia menolak ku? Disampingnya, ada Vania yang selalu menggagalkan rencana kita."
"Itu bukan urusanku, lakukan tugas kalian dengan baik! Semua bukti kejahatan kalian, ada di tangan ku. Bertindaklah sewajarnya!!!" teriaknya kepada kedua orang itu.
"Biadab kau! Sungguh luar biasa licikmu! Kau yang menyuruh kami melakukan itu semua, 'kan!!" seorang pria membalas dengan emosi.
"Hahahah, kalian lah yang teramat bodoh. Tenang saja, sepertiga kekayaan mereka, adalah hak ku juga." Perempuan itu berlalu meninggalkan kedua orang itu.
"Dasar perempuan licik, berhati iblis. Nyesel banget gue ngikutin semua kemauan dia!"
"Apa kau begitu mencintainya? Atau ... kau hanya menginginkan hartanya?"
"Aku tidak seperti kau, perempuan matre!"
...*****...
"Tino, ayo cepat kesini. Kenapa kau lamban sekali sih?" teriak Maria kepadaku.
"Tunggu, aku lelah istirahat lah meski sebentar!" titah ku padanya.
Perlahan, aku pun mengatur kembali ritme nafasku.
"Payah kau, aku sudah menunggumu disini." Balasnya lagi.
"Hah!!!" Aku terpekik dan terbangun dari tidurku.
Mimpi yang selalu sama, siapa Maria? Kenapa wajahnya tak dapat ku lihat?
Sreekkk ... Sreekkk ...
Suara tirai seperti ada yang memainkan.
Degup jantung tak mampu lagi ku sembunyikan, aku benci situasi seperti ini.
"Si-ssi-siapa disana?" Aku mulai gugup, ku sapu ruangan dengan pandanganku.
__ADS_1
Hening.
Tak ada jawaban.
"To-tolong!" teriakku.
"Ada apa, Pak?" tanya perawat yang datang seketika.
"Tolong, Sus. Ada hantu disini!"
"Hahahah, Bapak ini ada-ada saja." Ucapnya seraya merapikan selimutku.
"Disini memang tempatnya hantu berkeliaran, Pak." Sambung suster itu kembali, tanpa memperdulikan perasaanku yang tengah ketakutan.
"Loh kok, malah di perjelas sih? Tolong Sus, temani saya sampai tertidur ya." Ucapku memelas padanya.
Suster itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya, duduk dekat jendela.
'Sepertinya ada yang aneh dengan suster itu ... ah, biarlah. Asalkan ada teman malam ini.'
"Kenapa? Apa kau takut denganku?" Suster itu bertanya, dan membuatku sedikit tersentak.
"Ah, ti-tidak. Kenapa bertanya seperti itu?"
Suster itu tertawa dan bertanya. "Bagaimana jika aku seperti yang kau bayangkan?"
"A-a-ak-aku, aku tidak membayangkan apapun."
"Hahaha, sudahlah. Kau cepat tidur, aku akan berjaga disini untukmu!"
"Siapa namamu?"
"Maria."
Deg! Jantungku seperti berhenti saat mendengar nama itu.
"Maria? Apa selama ini, kita pernah bertemu?"
"Apa kau sudah lupa denganku, Tino?"
"Ma-maaf ... sungguh, aku benar-benar lupa. Emm, maksudku bukan lupa." Entah apa yang sedang ku bicarakan, aku gugup.
Apa benar, dia adalah Maria yang selama ini hadir di mimpiku? Sungguh, aku tak mampu mengingat wajah Maria.
"Sudahlah, jangan berpikiran macam-macam. Sepertinya, kau memang sedang mencari tahu sesuatu?"
'Bagaimana mungkin, ia dapat membaca pikiranku?'
"Hahaha, sudahlah. Cepat tidur, atau aku akan pergi!"
"Jangan, kau disini saja sampai aku tertidur, please!"
Suster Maria hanya tersenyum, senyuman yang manis. 'Kenapa seperti Dejavu ya? Sepertinya aku pernah merasakan perasaan ini sebelumnya....'
...*****...
__ADS_1