Maria Jiwa Yang Terkurung

Maria Jiwa Yang Terkurung
Penunggu danau


__ADS_3

...Maria...


...(Jiwa yang terkurung)...


...#2...


...*****...


(Penunggu Danau)


*****


Seandainya saja aku dapat memutar kembali, waktu yang telah terbuang sia-sia ini.


Aku akan mendengarkan semua ucapan kakakku. Bukan malah mempercayai Metta sepenuhnya. Ah, andai saja penyesalan itu datang di awal. Aku menertawakan diriku sendiri.


Kini, kenyataanya yang menjadi pemenang. Berharap, Tuhan segera memberikanku kesempatan kedua, akan kugunakan dengan sebaik-baiknya. "Aku sungguh kecewa denganmu, Metta!" umpatku dalam hati.


Entah harus berapa lama lagi aku terjebak di dalam dimensi ini. Melihat raut kesedihan di wajah kakak perempuanku, Vania. Hati ini begitu terasa sakit, andai saja aku menuruti kata-katanya.


"Percayalah dengan kakak, Metta itu ingin membunuhmu!" ucapnya satu hari sebelum aku koma, Kak Vania terus menerus mengingatkanku.


Kak Vania memberitahuku sebelum kecelakaan itu terjadi. Entah siapa yang telah memukul kepalaku, hingga tak sadarkan diri seperti ini. Seseorang itu sepertinya sudah berpengalaman.


"Tino, dengar Kakak! Metta bukan perempuan baik-baik!"


"Apa maksud Kakak!"


"Metta! Dia ingin membunuhmu! Percayalah dengan Kakak kali ini!"


"Sudah! Aku tidak ingin mendengarnya lagi! Entah sudah ke berapa kalinya Kakak membahas soal ini!"


Tepukan pundak membuatku tersentak.


"Ngelamun mulu, sih?" sapa Sayang padaku. Dia perempuan yang sebelumnya memanggilku "Bodoh".


"Sudah kubilang, jangan pernah menggangguku!" Aku mendengus kasar.


Kemarin dia menghilang secepat angin, kini ia pun datang entah dari mana.


"Bergabunglah dengan kami, apakah kau selalu menyendiri?" tanyanya lagi.


Perempuan ini sungguh membuatku kesal.


"Kau ini seperti hantu saja, sih? Tiba-tiba datang dan pergi secepat kilat!"


Mendengar tawanya, membuatku bergidik ngeri.


"Apa kau belum bisa menerima kenyataan?" tanyanya padaku.


Bagaimana ia bisa tahu jika aku belum bisa menerima kenyataan?


"Masalahku berat, tak mungkin kau mengerti. Cepat pergi dari sini!"


"Ceritakan padaku, bagaimana kau bisa meninggal?" ia pun bertanya lagi.


"Sudah kubilang, aku ini masih hidup!" Ingin sekali aku menyumpal mulutnya itu.


Enak saja bertanya seolah aku ini sudah meninggal!

__ADS_1


"Sudahlah, katakan saja! Kau itu harus bisa menerima kenyataan! Jangan terus menerus larut dalam imajinasimu sendiri!" Perempuan itu berjalan ke arah danau, seperti malam sebelumnya.


Aku berjalan mengikutinya, aku tidak mau dia menganggapku hantu.


"Aku tak pernah kenal dengan kau sebelumnya, tapi kenapa sepertinya kau, sok, tahu?" Aku menarik lengannya, hingga membuat dia berbalik menghadapku.


Apa harus aku menceritakan semua yang terjadi? Dengan seseorang yang tak pernah aku kenal? Aku bukan tipe manusia seperti itu.


"Aku hanya ingin berteman saja, lagi pula aku kasihan denganmu."


"Kasihan? Cih! Memangnya siapa kau!"


"Aku tahu kisahmu, sudahlah untuk apa kau masih bertahan seperti ini? Terjebak di dalam dimensi sama sepertiku."


"Apa maksudmu?"


"Aku ini adalah hantu penunggu danau ini, apa yang tidak aku ketahui?" ucapnya lagi seperti mengejek.


"Kau ... hantu?" tanyaku dengan sedikit gemetar.


"Hahaha, ada apa denganmu? Apakah kau takut denganku? Kenapa wajahmu menjadi seperti itu?"


"Ti-tidak, siapa yang takut? Aku hanya terkejut saja,” ucapku berbohong, berusaha menutupi ketakutanku.


Memang benar aku takut dengan hantu sedari kecil.


"Tenang saja, aku bukan hantu jahat, kok," tawanya melengking bagaikan monster malam.


"Apa kemarin itu, teman-temanmu juga hantu?" tanyaku hati-hati.


Dia pun menganggukkan kepalanya, dan tersenyum. Bukan, bukan tersenyum tetapi menyeringai.


"Tidak!" jawabku secepat kilat.


"Hahaha, kau juga butuh makan suatu saat nanti. Biasakanlah makan dengan kami."


"Tidak akan pernah!" jawabku singkat.


Ya, aku tak akan pernah memakan makanan yang tak layak seperti itu! Dan aku bukan hantu!


"Apa kau juga sama dengan mereka? Em, maksudku memakan seperti mereka?"


"Semua yang sudah meninggal dan menjadi arwah pun sama, Tino." Dia pun kembali tersenyum kali ini tersenyum manis.


"Bukankah setiap yang meninggal itu akan langsung ke alam baka?"


"Tidak semua, bagi kami yang mati terbunuh sebelum ajal, akan terperangkap di suatu tempat," jelasnya.


Perempuan itu bernama Sayang, penunggu danau ini.


"Aku masih tidak mengerti, dengan semua yang kau ucapkan tadi."


Setahuku, orang yang sudah meninggal akan pergi ke alam baka.


"Nanti saja akan kujelaskan, sampai kau benar-benar mengerti."


"Lalu kenapa kau berada di sini? Apa kau mati dibunuh?" kulihat Sayang terdiam dan matanya seperti menerawang jauh entah ke mana.


Aku makin penasaran jadinya, kenapa arwah bisa gentayangan?

__ADS_1


"Nona, ada janin yang baru saja dibuang," ucap seseorang yang menghampiri Sayang, wajahnya tanpa air muka.


Jelas saja dia, kan, hantu. Aku sedikit gemetar melihatnya. Wajah pucat pasi itu memandangku, segera kualihkan pandanganku ke arah danau.


"Baiklah, kalian makan saja dulu,” jawab Sayang kepada hantu itu.


Dengan cepat hantu itu pun menghilang.


Deg!


Sepertinya jantungku akan terlatih seperti ini.


"Kenapa kau?" tanya Sayang mengagetkanku.


"Kenapa hanya wajahmu yang enak dilihat?" tanyaku penasaran.


Wajah Sayang sama sepertiku, seperti wajah manusia ada umumnya. Tidak pucat ataupun menyeramkan.


Sayang hanya tertawa saja mendengar pertanyaanku.


"Sudahlah, aku ingin kembali ke kamarku dulu," ucapku segera beranjak, tanpa menunggu jawaban darinya.


Aku berjalan meninggalkan Sayang sendiri, lama-lama berada di dekatnya akan semakin membuatku terkena serangan jantung mendadak.


Sejenak aku menoleh ke arahnya, dia duduk seorang diri menatap danau itu. Entah ada hubungan apa dengan danau tersebut. Tentu saja. Dia, kan, penunggu danau.


Danau itu terletak tak jauh dari bangunan rumah sakit, tempatku menghabiskan waktu selama ini.


****


"Mau sampai kapan kau terus seperti ini!" bentakan suara laki-laki dari dalam kamarku, begitu keras. Dia adalah Roni suami dari Kakakku, Vania.


Aku segera masuk ke dalam kamar, terlihat seonggok tubuh tengah berbaring. Ya, itu adalah diriku.


Kakakku hanya menangis pilu menatap tubuhku, aku tak tahan lagi melihatnya bersedih seperti itu.


"Sudahlah, kau terima nasib saja! Suntik mati adikmu itu!" Roni berbicara lagi, kali ini terlihat senyuman yang tak bisa di artikan. Sorot matanya seakan menyimpan banyak rencana.


"Diam kau! Adikku tidak akan mati secepat ini!" hardik Kak Vania


"Hahaha, mau sampai kapan? Bukankah Dokter mengatakan, jika hidup pun kemungkinannya sangat kecil?" ledeknya.


Dasar laki-laki tidak tahu diri! Dia hidup selama ini pun dari warisan papaku! Dasar pengangguran, benalu!


"Sudah tanda tangani saja surat ini!" Roni memberikan selembar kertas kepada Kak Vania.


Astaga! Roni pun ingin aku mati? Iya, lembaran itu adalah surat pernyataan agar pihak keluarga menyetujui tindakan penyuntikan.


"Jangan, Kak!" teriak pun percuma, tak akan ada yang mendengar.


"Tidak! Tidak akan pernah!" Kak Vania pun merobek lembaran kertas putih itu, lalu membuangnya ke segala arah.


"Terima kasih, Kak," ucapku lirih meskipun aku tahu, ia tak akan mendengar suaraku.


Roni geram dan meninggalkan ruangan kamarku. Harus kuberi pelajaran dia! Andai saja aku bisa!


*****


(Minta like, rate nya ya kak hehhe)

__ADS_1


__ADS_2