
...Maria jiwa yang terkurung...
...#part17...
...******...
Nyatanya, Tuhan masih memberiku satu voucher kehidupan lagi kepadaku. Sudah entah berapa banyak bulan yang telah ku lewati selama aku tertidur pulas.
Ya, aku kini sudah pulih dan tersadar. Hanya saja, masih dalam masa pemulihan. Dan tentu saja itu bukanlah sesuatu yang amat mudah untuk dijalani.
Seperti memulai kehidupan dari awal lagi, belajar berjalan ... berbicara, dan mengingat. Semua itu kulakukan dengan bertahap pastinya.
Kecelakaan 2 tahun yang lalu, mengharuskan aku untuk lebih menyayangi dan menghargai arti kehidupan yang sebenarnya.
Ya, kecelakaan yang begitu hebat membuatku hampir kehilangan seluruh jiwa dan ragaku. Beruntungnya, aku masih memiliki kesempatan kedua.
*****
Sept, 17 dua tahun silam.
"Mau kemana kamu, Tino?" tanya kak Vania, ketika aku hendak berpamitan kepadanya.
"Mau jemput Metta sebentar kak." Aku meraih jemarinya, dan mencium punggung tangannya.
"Tino, tolong dengar kakak sekali ini saja. Kamu harus percaya sama kakak." Ucapnya lagi, dengan memasang wajah yang begitu cemas dan ketakutan.
Entah sudah berapa kali, kak Vania melarang ku untuk berhubungan dengan Metta.
"Kak, kenapa sih kakak selalu saja mencoba untuk menahanku? Aku sudah dewasa kak, dan sudah bisa menentukan pilihanku sendiri!" jawabku sedikit emosi.
"Metta bukanlah perempuan baik-baik! Dia ingin mencelakakan kamu, Tino!" nada suara kak Vania tak kalah meninggi.
"Sudahlah kak, aku tak pernah tahu mengapa kakak begitu amat membenci Metta." Aku tetap berlalu meninggalkan kakakku, sempat kulihat dari raut wajahnya, ia terlihat ketakutan dan begitu khawatir.
"Tino! Dengar kakak, kakak mohon jangan pergi!" sungguh aneh, kenapa kak Vania malah bersujud memohon?
__ADS_1
"Kak, kakak ini kenapa sih? Apa yang kakak takut kan, hem?" Aku mencoba untuk membantunya berdiri.
Ya, aku mengalah. Aku sungguh tak sanggup melihat wanita pengganti Ibuku menangis.
"Metta ingin membunuh kamu, dia ingin mencelakakan kamu, Tino!" kak Vania berucap lirih, kurasakan ada sedikit getaran pada bahunya.
'Kenapa kak Vania begitu ketakutan seperti ini? Apa yang sebenarnya terjadi?'
"Sudah, kakak istirahat ya. Tino ambilkan minum dulu." Kak Vania menggelengkan kepalanya, menahan pergelangan tanganku agar tetap disampingnya.
"Tino, percaya sama kakak ... Metta ingin mencelakai kamu, kakak mendengarnya sendiri dia berbicara ditelpon." Ucap kak Vania dengan tatapan nanar kearah ku
Bagaimana mungkin? Metta dan aku begitu menyayangi, bahkan selama ini ia selalu bersikap sewajarnya kepadaku.
"Kak, tenanglah jangan memikirkan hal-hal yang tidak mungkin."
Dreett... Dreett...
"Sebentar kak, Tino angkat telpon dulu ya." Kak Vania terus saja memandangku, seperti ia akan berkata jangan menerima panggilan apapun.
"Iya, janji ... oke sayang, jangan ngambek ya cantik." Seraya menutup sambungan telepon, kulihat kak Vania masih menatapku.
"Apa dia akan memintamu kembali?" tanya kak Vania.
"Meminta apa?" Aku bertanya kembali.
"Kamu pakai mobil kakak saja, jika mau berpergian." Aku hanya dapat menganggukkan kepala dengan malas.
Aku tak tahu, kenapa kakakku begitu curiga kepada Metta.
*****
"Sial, kenapa harus tertunda sih!" Hardik perempuan itu kepada salah seorang diantaranya.
"Perempuan itu selalu saja merepotkan sedari dahulu. Lihat saja, akan kubuat lebih parah!" sambungnya lagi dengan melempar gelas ke sembarang tempat.
__ADS_1
Hening...
Tak ada satu orangpun yang berani menjawab atau sekedar bertanya padanya.
"Jadi kita harus bagaimana sekarang?" tanya Metta padanya, dengan sedikit terbata.
"Tunggu, kau saja belum bicara jujur kepada kami. Kenapa kau ingin sekali membunuh anak itu?" kini, pria yang sedari tadi memperhatikan mereka pun bertanya.
"Aku sudah menunggu waktu yang cukup lama untuk semua ini, mereka semua harus merasakan pahitnya kehilangan!" jawab perempuan itu dengan penuh penekanan disetiap katanya.
"Maksudmu?" tanya Metta penasaran.
"Ya, dahulu ibuku yang menahan semua rasa sakit itu. Pun denganku, yang harus menjalani masa kecil dengan sangat memperihatinkan!
"Mereka, membuatku merasakan sakitnya dibuang!" sambungnya lagi.
"Lalu, untung nya kami apa? Apa kamu bisa menjamin akan keselamatan kami?" lelaki itu tersenyum kecut.
Bahkan, Mereka berempat pun baru saja saling mengenal. Dan mereka sudah membahas hal gila seperti itu.
"Tenang saja, aku ini adalah adik dari mereka. Kelak, aku akan membayar jasa kalian, dan kamu Metta..." perempuan itu menghentikan ucapannya sesaat, melirik tajam ke arah Metta.
"Ada apa denganku?" tanya Metta dengan heran.
"Bukankah kamu menyukai Roni? Suami dari Vania itu?" tanya perempuan itu dengan penuh selidik.
Metta hanya tersenyum kecut dan memutar bola matanya dengan malas.
"Dan kau, bukankah ingin Vania? Bukankah dia cinta pertama mu?" kali ini, giliran si lelaki itu yang tak bisa menjawabnya.
"Semua sudah mempunyai misi masing-masing, bukan?" dan lagi, perempuan itu tersenyum menyeringai kepada mereka.
'Sial, bagaiman dia bisa tahu semua itu? Siapa dia sebenarnya?' gumam Metta.
'Siapa perempuan ini? Kenapa ia bisa tahu semua tentangku? Bahkan, kami pun baru saja saling menyapa.' Lelaki itu pun bergumam penuh tanda tanya.
__ADS_1
*****