
"Embun selalu membasahi dedaunan, seperti halnya rindu yang selalu mengisi benakku."
~AmoyShanghai~
****
Mengapa hatiku bersedih? Bukankah ini yang aku harapkan? Ah, rasanya seperti ada yang menghilang.
"Tino, bisa kita bicara sebentar?" Dela menghampiriku, wajahnya tidak seperti biasanya. Terlihat serius dan ... penuh dendam.
"Ada apa?" tanyaku padanya, tanpa melepaskan pandangan dari tatapannya.
Mata kami saling beradu pandang, tanpa berkedip sekalipun. Aneh. Aku merasakan seperti ada sesuatu dari dirinya.
"Keluarlah sekarang!" Della menatap dalam dan tersenyum sinis.
"Ada apa? Katakanlah!" ucapku dengan penuh penekanan.
"Keluar, atau ...," ucapnya terputus. Bukan terputus, melainkan sengaja tak melanjutkan ucapannya.
"Atau apa!" bentakku.
" ... atau Vania akan MATI!" Della membalikkan badannya lalu ke luar kantor begitu saja.
Tanpa dikomando, aku segera mengikutinya. "Tunggu! Ada apa dengan Kakakku? Della!" Bahkan teriakan dariku pun tak mampu menghentikannya.
Aku berlari mengejarnya, lalu ...
****
Dua jam sebelumnya.
[Vania, lekas ke alamat yang kuberikan tadi. Jika tidak, adik kesayanganmu itu akan ku pastikan dalam bahaya!]
Sebuah pesan masuk dari seseorang ke ponsel Kakakku; Vania, tak sengaja kubaca. Ketika aku sedang berada di dalam kamar Kak Vania.
Tanpa nunggu waktu, aku berniat untuk menelepon si pemilik nomer tersebut. Nihil. Tidak aktif, sepertinya dia telah mematikan ponsel. Geram! Rasa takut seketika menjalar dalam benak. Tak lama kemudian, pesan masuk kembali terbaca olehku.
[Cepat datang! Waktumu tidak banyak lagi, apa kau lebih menginginkan adikmu terbaring kembali?] Dari nomer yang berbeda. Aku segera menelepon nomer tersebut. Tersambung.
Tut! Tut! Tut! "Maaf, nomer telepon yang Anda tuju, sedang tidak dapat menerima panggilan." Tanpa sadar, aku menonjok dinding.
"Siapa mereka? Kenapa menginginkan kematianku?" Aku bertanya dalam hati.
Tut! Tut! Tut!
"Halo?" Seseorang menjawab panggilanku.
"Della? Di mana Kakakku?" tanyaku dengan emosi yang tak bisa ku tahan lagi.
"Kemarilah!" ucapnya dan mematikan sambungan telepon kami.
"Sudah kuduga semua ini!" Aku segera menuju di mana Della berada. Aku menyusul Della ke luar dari kantorku dan ...,
Bugh! Aku merasakan sakit yang luar biasa, seseorang telah menghantam punggungku. Gelap seketika memenuhi benakku.
****
"Dasar bodoh!" Suara perempuan begitu terdengar jelas di telinga.
"Harusnya kau mati, biar semua dendam masa lalu terbalaskan!" ucapnya kembali. Aku merasakan nyeri di sekujur tubuhku, terutama di bagian punggung.
__ADS_1
"Mataku. Kenapa mataku sulit sekali dibuka?" Apakah aku sudah mati?" Aku bergumam dalam hati.
"Bangun!" Dia menampar keras sekali. Tetap saja aku tak dapat membuka mataku.
"Si-ssi-siapa kau?" Aku mencoba mengeluarkan suara, tapi tak dapat terdengar. Ada apa denganku?
"Apa kau baik-baik saja?" Suara lain terdengar seperti tak asing lagi bagiku. Aku mencoba mengingat siapa pemilik suara itu, ya! Aku ingat sekarang, suara itu milik Maria!
"Maria! Apa kau Maria?" tanyaku dengan ragu. Ingatanku akan Maria, perlahan terbuka sedikit demi sedikit.
"Tino, tenanglah! Bicara dalam hati, agar mereka tak mendengar suaramu," ucap Maria.
"Aku di mana? Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Rani dan teman-temannya telah membuatmu seperti ini, Tino." Maria menjelaskan tetap saja aku tak mengerti.
"Rani? Siapa dia?" tanyaku dengan penasaran. Sebab, aku tak mengenal nama itu.
"Dia anak angkat ayahmu, sepertinya Rani salah paham dengan takdirnya," jelasnya kembali.
"Anak angkat ayah? Aku bahkan tak mengetahuinya," balasku.
"Ini semua salah paham, Rani mengira dia adalah anak ayahmu. Karena hal itu, ia dendam pada kalian anak-anak ayahmu," terangnya kembali.
"Bagaimana kau bisa tahu semua itu?"
"Tentu saja. Aku ini, kan, hantu?"
Ada rasa bahagia di hatiku, saat mendengar suara Maria. Dia yang kurindukan selama ini, bahkan di saat seperti ini pun ia tetap berada di sampingku.
"Siapa yang kau maksud Rani? Aku tak mengenalnya."
"AUWW!" Aku menjerit seketika. Maria mencoba membantu, tetapi ia menjerit dan tak bersuara lagi.
"MARIA!" jeritku hingga membuat suaraku semakin parau. Ikatan pada mataku semakin perih.
Tanpa sadar, aku menikmati sensasi perih dari kepala dan pelipis. Perlahan mengeluarkan tetes darah segar, mengalir begitu hangat dan amis yang begitu menyengat.
"Sudah bangun kau?" seru laki-laki yang menjambak rambutku, semakin kuat dan membuatku berteriak lebih kencang dari sebelumnya.
"Sudah, habisi saja dia dan kakaknya!" Perempuan itu membentak dan menertawakan diriku.
"B*ngs*t kalian! Berani sentuh Kak Vania, akan MATI di tanganku!" Mereka menampar lebih kuat. Rupanya mereka membiusku. Entah sejak kapan melakukannya.
"Hahaha, sudah mau mati pun masih sok pahlawan!" Laki-laki itu menendang keras tubuhku.
"Maria, kau kemana? Apakah aku akan berakhir seperti ini?" ucapku dalam hati, khawatir akan keselamatan Maria. Kenapa tadi ia menjerit?
Memori masa kecil berlarian dalam benakku, berusaha mengingat siapa yang dimaksud oleh Maria, tentang anak yang bernama Rani itu. Tak mungkin ayahku memiliki anak angkat, kalaupun benar ... kenapa aku tak pernah mengetahuinya?
"Bagaimana? Apakah dia sudah bangun?" Terdengar suara seseorang yang baru saja tiba.
"Sudah, Bos," ucap laki-laki itu.
"Sepertinya dia tak ingin mati cepat-cepat," ledek perempuan tadi.
"Apa kabar, Tino?" tanya seseorang yang baru saja datang.
"Apa kau baik-baik saja? Bagaimana rasanya? Sakit?" Seraya memegang wajahku, ia mencerca banyak pertanyaan.
"Siapa kau sebenarnya? Ada dendam apa dengan keluargaku!"
__ADS_1
"Hahaha, tanyakan dengan ayahmu, si Tua Bangka itu!"
"Jangan sebut ayahku seperti itu! Cuih! Menjijikan sekali sikapmu ini!"
"Ya, karena dia! Ibuku meninggalkanku! Karena dia jugalah aku harus menderita di panti asuhan seorang diri!"
"Bukankah kau hanya anak angkat ayahku? Kenapa sikapmu seolah anak kandung yang terbuang?" celetukku mengejeknya.
Plak! Dia menamparku begitu keras.
"Hahaha, kenapa? Apa aku salah bicara?" ledekku. Meski menahan sakit yang teramat perih.
"Kau tau apa tentangku, hah!" bentaknya.
"Yang aku tau, kau hanyalah anak angkat dari ayahku! Kenapa kau tak bisa menerima takdirmu sebagai anak angkat?"
"Aku adalah anak kandung dari ayahmu!"
Deg! Ada rasa sakit yang menjalar, benarkah kalau ayah seperti itu? Aku harus percaya dengan siapa?
"Bagaimana mungkin? Ayah tak mungkin mengkhianati ibuku!"
"Hahaha, tau apa kau tentang semua itu? Aku membaca sendiri dari dokumen yang ada di panti asuhan itu, siapa ayah dan ibuku!"
Gubrak! Pintu di dobrak hingga terbuka paksa.
"Tidak! Itu tidak benar, Rani!" Della datang bersama dengan Kak Vania dan juga Roni.
"Tino!" jerit Kak Vania dan Della yang hampir bersamaan.
"Metta?" seru Kak Vania.
"Metta?" ucapku mencoba bergerak, tapi tetap saja tak bisa. Sakit sekali mendengar nama wanita yang pernah menjadi belahan hatiku.
"Sejak kapan dia ada di sini?" Aku bergumam dalam hati. Apakah Rani adalah Metta? Tapi, kenapa aku tak dapat mengenali suaranya?
"Tino, Sayang. Kamu gak apa-apa, kan?" Kak Vania mencoba membuka pengikat tangan serta tubuhku. Della pun membantu membukakan penutup mataku.
"Metta ...," ujarku lirih menyaksikan apa yang tengah kulihat.
Ya, perempuan yang menjambak tadi adalah Metta. Mengapa aku bisa menyukai wanita seperti itu ...?
"Kau, kau siapa? Apakah kau Rani?" tanyaku pada perempuan yang mengaku anak ayahku.
"Sudah, hentikan Rani!" ucap Kak Vania.
"Hentikan? Apa kau takut?"
"Sadar, Rani. Meskipun aku bukan kakak kandungmu, aku menyayangimu seperti adikku sendiri." Kak Vania seperti menahan kesedihan, terlihat saat ia memandang Rani begitu nanar.
"Ayah membuangku selama ini, ibu pergi bersama kakakku, sedangkan aku?" Rani bersiap untuk menyayat kulitku. Namun, Della dengan cepat menghentikannya.
"Hey!" serunya saat Della menendang pisau dari tangannya.
"SUDAH CUKUP!" Roni berteriak dan menampar Rani.
"Bodoh! Aku tak ada urusan denganmu, PERGI!" Rani tak kalah, ia menelepon seseorang entah siapa. Metta dan laki-laki itu hanya diam memandangi kami semua.
"Siapa laki-laki itu?" Aku mencoba mengingat-ingat, sepertinya aku pernah bertemu dengannya.
*****
__ADS_1