Maria Jiwa Yang Terkurung

Maria Jiwa Yang Terkurung
Teman Lama


__ADS_3

...Maria ...


...(Jiwa yang terkurung)...


...#5...


...******...


"Sudahlah jangan terus larut meratapi semua ini." Ucap Maria dengan kembali mengelus punggungku.


Kurasakan ada yang mengalir kedalam hatiku, rasa nyaman meski saat ini Aku begitu hancur dan rapuh.


"Kakakku, Aku kasihan dengannya."


"Kak Vania kuat kok, dia wanita yang kuat dan tegar."


Ya, Kakakku adalah wanita hebat dan kuat. Aku menyayanginya setelah Ibuku meninggal, dia yang merawatku sejak kecil.


Kami terpaut sepuluh tahun, itu sebabnya ia yang merawatku ketika Ibuku tiada. Kak Vania begitu tulus padaku, tak pernah mengeluh sedikitpun ketika masa remajanya ia habiskan hanya untuk menemaniku.


Kini, melihatnya terluka seperti itu hatiku begitu sesak...


Saat Ayahku meninggal pun, Kak Vania yang terlihat begitu menerima dan kuat. Tidak sepertiku yang terus larut dan tenggelam di dalam kesedihan.


Andai saja Aku dapat menyentuhnya saat ini, Aku ingin menguatkannya seperti ia menguatkanku.


Tok Tok Tok.


Suara ketukan pintu membuat Kak Vania segara menghapus air matanya, Aku dan Maria pun menoleh bersamaan kearah pintu.


"Siapa dia?" tanya Maria padaku.


"Tidak tahu." Aku pun menjawabnya dengan terus menatap wajah perempuan itu.


Perempuan itu seolah dapat melihatku, sambil berjalan ia terus menatapku juga menatap Maria secara bergantian.


"Hey, Kau sudah datang?" suara Kak Vania kembali terdengar begitu parau.


"Iya Kak, oh iya ini Aku bawakan makanan tadi Aku sengaja membelinya." Perempuan itu menyerahkan kotak styrofoam dan beberapa botol minuman pada Kak Vania.


"Terimakasih ya Del, Kau memang baik dari dulu." Ucap Kak Vania menerima bungkusan yang berisi kotak makanan itu.


Sepertinya Aku pernah melihatnya, tapi dimana ya? Ucapku dalam hati.


"Sepertinya perempuan itu bisa melihat kita." Bisik Maria kepadaku.


"Sepertinya begitu." Ucapku pelan dengan terus menatap mata perempuan itu.


Senyum... perempuan itu tersenyum kepada kami. Siapa dia?

__ADS_1


"Bagaimana keadaan Tino Kak?" tanyanya kepada Kakakku, tetap saja matanya tak lepas dari pandanganku.


Ia menatap begitu tajam ke arahku dan Maria, sepertinya ia begitu terkejut melihat kami.


"Belum ada perubahan..." Jawab Kak Vania lirih.


"Oh ya Kak, jangan pernah menandatangani surat penyuntikan itu ya." Ucapannya begitu terdengar tegas.


"Iya, tadi pun Roni tetap saja menyuruhku untuk menandatangani lembaran itu!"


"Terus??" tanyanya penasaran.


"Seperti biasa, Aku menolaknya. Jika Aku menandatanganinya, itu sama saja Aku membunuh Adikku sendiri." Suara Kak Vania kembali terdengar begitu sedih.


"Iya Kak, yakin lah jika Tino akan sembuh." Perempuan itu pun memeluk Kak Vania, yang kini sudah larut kembali dalam kesedihannya.


Ternyata, di balik tegar dan kuatnya ... Kak Vania begitu rapuh.


Aku dan Maria pun keluar dari ruangan itu, berlama-lama didalam membuatku semakin terasa tak berdaya.


"Aku penasaran dengan perempuan tadi." Ucap Maria setelah kami sampai di tepian danau.


"Iya, Aku pun merasa pernah mengenalnya tapi entah lah." Ucapku dengan ragu.


Ingatanku memang payah, sejak benturan lima tahun yang lalu itu Aku seperti kehilangan separuh data memory rasanya. Jika tidak benar-benar penting, tidak akan begitu dapat mengingat.


"Kamu ... Tino kan?" tanya perempuan itu yang kini sudah berada di dekat danau tempat kami duduk.


"Kau? Bisa melihatku?" Aku bertanya tanpa menjawab pertanyaannya.


"Iya, Aku bisa melihatmu ... juga temanmu itu." Jawabnya dengan memandang Maria dengan tersenyum.


"Siapa Kau?" tanyaku lagi penasaran dengannya.


Apa ini adalah jawaban dari Tuhan? Apakah dia adalah yang dikirim Tuhan untuk membantuku? Ah, pikiranku sudah jauh kemana-mana rupanya.


"Apa Kau lupa denganku?" tanyanya dengan nada sedikit kecewa.


"Maaf, ingatanku agak kurang bagus..." jawabku dengan malu.


"Aku Della,"


"Della?" Aku berusaha mengingat tapi tetap saja tidak bisa.


"Sudahlah lupakan saja siapa Aku, itu memang tidak penting." Senyum kecut itu terlihat sangat mengganggu hati ini.


Aku jadi tidak enak dengannya.


"Della, jadi Kau bisa melihat Kami?" Aku bertanya kembali meyakinkan.

__ADS_1


"Iya, Aku pun tadi sempat tak percaya ... Aku mengira tadi hanya halusinasi ku saja. Makanya Aku kesini untuk membuktikan bahwa Aku tidak sedang berhalusinasi."


"Apakah Kau benar-benar tidak mengenalku, Tino?" sambungnya lagi.


"Perasaanku mengatakan bahwa kita pernah bertemu, tapi entah dimana ya?" jawabku.


"Apa sebelumnya Kau bisa melihat arwah?" tanya Maria pada Della.


"Tidak, Aku hanya bisa melihat kalian saja saat ini, Aku pun tidak tahu kenapa Aku bisa melihat kalian..."


"Ah ya, Aku ingat sekarang ... kamu yang bekerja di kantorku, bukan?" Aku melihat sebuah senyuman di wajah Della.


"Iya, lebih tepatnya Aku adalah karyawan mu juga orang kepercayaan Kakakmu." Ucapnya dengan tersenyum.


"Bagaimana keadaan kantor saat Aku tidak ada?" Aku bertanya lagi padanya, sebenarnya ada banyak hal yang ingin Aku tanyakan pada Della.


"Semua baik-baik saja, jangan cemaskan. Hanya saja..." Della menghentikan bicaranya, terlihat ada kecemasan di dalamnya.


"Hanya saja apa?" tanyaku dengan rasa penasaran yang kian menjadi.


"Pak Roni yang memegang alih semuanya..." Della menjawab dengan ragu-ragu.


"Sudah kuduga, si brengs*k itu akan mengambil kesempatan dalam kesempitan!" Aku geram mendengar nama Roni, apalagi mendengar ia yang memegang perusahaanku!


"Apa Metta masih sering datang?" sempat kulirik Maria sebelum bertanya, entah kenapa Aku jadi menjaga perasaannya.


Padahal kami tidak ada hubungan apapun. Aneh.


"Itulah yang ingin Aku sampaikan padamu, tadinya Aku ingin berterus-terang kepada Kak Vania ... soal..."


"Soal apa?" Aku makin penasaran dibuatnya.


Della yang mulai ragu meneruskan ucapannya, terlihat ia amat gelisah saat ingin mengatakannya padaku.


"Soal apa!!" Aku membentaknya, ada rasa tidak enak dihatiku.


Apakah dugaan ku ini benar? Aku terus mendesak Della untuk meneruskan ucapannya, tapi ia bersikukuh untuk diam.


"Sudahlah nanti saja, Kau akan tahu dengan sendirinya. Aku takut." Jawabnya.


"Kau takut apa?" Maria pun bertanya.


"Tidak, anggap saja Aku tidak bicara apa pun. Aku pergi dulu ya, jika sempat Kau datang lah ke kantor dan melihat sendiri ... itu pun jika Kau bisa pergi jauh." Tatapan nanar penuh iba itu seperti ditujukan kepadaku.


Aku benci tatapan itu, tatapan yang seolah-olah memberikan rasa kasihan kepada ku.


...*****...


Terimakasih semuanya, sudah berkenan hadir 😚 minta like dan ulasannya yaak jika mampir. Semoga kita selalu diberkahi kesehatan juga rejeki yang lancar. Amin.

__ADS_1


__ADS_2